Krisis Pangan

ANCAMAN KRISIS PANGAN DOMESTIK

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Indonesia kini tengah menghadapi problemtaika serius tentang masalah pangan. Memang benar apa yang dikatakan oleh Joe Holland, bahwa negara-negara dunia ketiga problem pokoknya adalah ekonomi. Begitu juga dengan Indonesia, sebagai negara yang masuk kategori dunia ketiga Indonesia hampir setiap saat dibuat jungkir walik dengan masalah ekonomi. Di negara-negara dunia pertama memang ada problem ekonomi, tetapi tidak separah yang ada di dunia ketiga. Rata-rata kehidupan warga masyarakat negara dunia pertama, secara ekonomi, adalah makmur. Persoalan-persoalan kemiskinan, kelaparan dan pengangguran tidak begitu menjadi problem besar. Ini berbeda dengan Indonesia yang setiap hari rakyatnya didera oleh kemiskinan, kelaparan dan pengangguran.

Seperti sekarang, krisis pangan tengah mengancam khidupan masyarakat Indonsia. Hal ini ditunjukkan dngan kenaikan harga pangan (beras) yang menjulang tinggi. Panen raya padi tidak membuat harga bras di pasar grosir menurun, tetapi justru sebaliknya harga stabil tinggi (Kompas, 2/4/2008).. Naiknya harga pangan ini terjadi, karena sekarang permintaan terhadap beras naik, sementara cadangan beras sangat minim. Maka di sinilah hukum ekonomi berlaku: disaat permintaan besar, dan produksi sedikit, maka harga barang akan cenderung naik.

Dampak Globalisasi liberal

Naiknya harga pangan di Indonesia ini bukan masalah yang berdiri sendiri, melainkan sangat terkait dengan perubahan dan perkembangan sistem ekonomi dunia. Dalam aras global, krisis pangan yang sekarang mengancam Indonsia ini, tidak alain adalah dampak dari globalisasi liberal. Globalisasi liberal yang dimaksud di sini adalah globalisasi ekonomi. Konsep globalisasi liberal ini secara jelas diuraikan oleh Martin Wolf-dengan mengutip pendapatnya Anne Krueger (2007)-bahwa Globalisasi liberal adalah suatu fenomena di mana agen-agen erkonomi di bagian manapun di dunia jauh lebih terkena dampak peristiwa yang terjadi di tempat lain di dunia. Sebagai sebuah fenomena global, dampak globalisasi mudah menyebar keseluruh penjuru dunia tanpa mengenal batas-batas wilayah teritorial. Negara manapun tidak akan bisa membendung dampak globalisasi ekonomi.

Atas dasar itu, maka tidak heran kalau Indonesia juga sering terkena dampaknya dari proses perkembangan ekonomi dunia, termasuk naiknya harga pangan seperti sekarang ini. Ini karena Indonesia sudah terlanjur masuk dalam sistem globalisasi dunia, sehingga apapun yang terjadi di dunia global, Indonesia sulit untuk menghindarinya.. Artinya, sedikit banyak Indonesia pasti terkena imbasnya. Maka dari itu, dalam konteks ini globalisasi liberal yang menjanjikan kemakmuran berdasarkan pada sistem open market, justru seringkali menimbulkan bencana terhadap negara-negara berkembang.

Pada prinsipnya, Kenaikan harga pangan semacam ini masih bisa ditolerin dan tidak menjadi prsoalan akut kalau memang didukung dengan daya beli masyarakat yang memadahi. Sekarang persoalannya adalah, ketika harga pangan itu melambung tinggi, daya beli masyarakat justru menurun, terutama para petani. Bahkan masalah petani ini, dalam konteks Indonsia, petani masih merupakan kelompok masyarakat yang termarjinalkan. Sudah begitu, mereka sering dikemplang oleh pemerintah. Mereka seringkali dibiarkan bertarung melawan imperialisme neolibral dan produk-produknya tidak pernah mendapatkan proteksi dari pemerintah. Perubahan ekonomi global yang sering tidak sebanding dengan pendapatan masyarakat ini semakin menyengsarakan masarakat. Dalam lintas negara dan bangsa, pihak yang menjadi korban dari naiknya harga pangan dunia adalah masyarakat yang ada di negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia. Hidup mereka semakin miskin dan tertindas. Maka meroketnya harga pangan dunia ini secara otomatis akan memperburuk kondisi kehidupan bangsa Indonesia. Kelaparan dan kemiskinan akan semakin menyeruak, sehingga makin sulit dibrantas.

Lebih dari itu, naiknya harga pangan dunia yang tidak diimbangi dengan daya beli masyarakat ini akan menimbulkan dampak negatif yang lebih luas dalam kehidupan masyarakat. Ia tidak hanya menimbulkan masalah pada sektor ekonomi, melainkan juga pada sektor-sektor kehidupan yang lain. Selain kelaparan yang mengancam, naiknya harga pangan ini nantinya juga menimbulkan maraknya kejahatan, kebodohan, keterbelakanga dan sejenisnya.

Upaya solutif

Untuk menanggulangi masalah krisis pangan ini mau tidak mau pemerintah harus bekerja keras untuk segera mengambil kebijakan yang sifatnya taktis dan strategis. Kebijakan itu, diantaranya adalah meningkatkan pendapatan masyarakat. Menurunkan harga pangan untuk sementara ini adalah tidak mungkin karena ini merupakan fenomena global. Kunci untuk menurunkan harga pangan ini adalah keberanian pemerintah untuk mengintervensi pasar. Tapi hal itu nampaknya sangat imposibel, karena sampai sekarang pemerintah sangat bergantung pada mekanisme pasar. Karena kemungkinannya ini sangat kecil, maka, kalau pemerintah masih ingin menyelematkan jutaan rakyatnya dari ancaman kelaparan ini jalan yang paling realistis adalah meningkatkan daya beli masyarakat. Untuk meningkatkan daya beli masyarakat ini, pemerintah harus membuka lapangan kerja yang seluas-luasnya, khususnya jenis lapangan kerja padat karya yang bisa menyerap lebih banyak tenaga kerja.

Untuk selanjutnya, dan ini sifatnya jangka panjang, adalah mulai dicanangkan diversivikasi pangan. Program diversifikasi pangan ini sebenarnya sudah pernah digaungkan oleh mantan presiden Soeharto pada 1991.Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan pokok beras. Negara kita sebenarnya kaya akan bahan makanan sperti sagu, jagung dan tela. Sumber-sumber makanan ini bisa dioah untuk menjadi makanan pokok pengganti beras. Salah satu kelemahan kita dalam masalah pangan adalah menjadikan beras sebagai satu-satunya bahan makanan pokok. Sehingga ketika beras naik, kita menjadi kelabakan. Seandainya makanan pokok kita tidak hanya beras tapi juga bisa sagu, jagung atau ketela , maka disaat kita dihadapkan pada naiknya harga beras kita bisa mempunyai alternatif lain untuk kita jadikan sebagai bahan makanan pokok.

Maka dari itu, ini merupakan tugas pokok pemerintah untuk segera mencari solusi konkrit dari ancaman krisis pangan domestik ini. jangan sampai rakyat Indonsia yang tanahnya subur makmur dan kaya sumber daya alamnya ini banyak yang mati justru karena kelaparan. Kalau hal ini sampai terus terjadi maka sungguh memalukan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pengamat sosial-budaya dan pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta. HP; 081578547955. No.rek: 0112529200 BNI Cab. UGM Yogyakarta

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: