MODERNISME

A. Pendahuluan

Dalam konteks tertentu, memang benar apa yang dikatakan oleh Heraklitos[1] bahwa segalanya berubah. Begitu juga dengan peradaban manusia di dunia. Dalam sejarahnya yang panjang peradaban manusia selalu mengalami perubahan, selalu berada dalam denyut nadi dinamika dan dialektika yang terus menerus. Dan justru perubahan inilah yang menjadikan peradaban manusia di dunia bisa terus eksis.Munculnya peradaban modern adalah manifestasi dan sekaligus bukti dari eksisnya ruh perubahan di atas. Modern sendiri muncul adalah sebagai akibat reaksi terhadap paham lama yang dianggap sudah kedalu warsa yakni paham tradisional yang berkembang di era kegelapan. Dan untuk sekarang pakem modern sudah mulai dipertanyakan dan diguga oleh postmodern. Hadirnya postmodern sekarang ini adalah sebagai martir yang mulai mempertanyakan kembali asumsi-asumsi dasar yang dibangun oleh paham modern. Wordview modern yang dualistik, mekanistik, individualistik, beserta gambaran tentang Tuhan yang deistik, misalnya,mmereka ganti dengan worldview yang monistik, organistik, relasionistik, beserta gambaran Tuhan yang panenteistik.[2]Munculnya era kegelapan yang kemudian diantitesis era modern dan kemudian diantitesis lagi era postmodern adalah serangkaian perubahan atau proses perkembangan dan dinamika peradaban manusia yang tak bisa dihindari. Oleh karena itu, manusia selalu dituntut untuk lebih jeli dan antisipatif terhadap proses kehidupan di dunia yang selalu dalam perubahan di atas.

Dari fenomena perubahan yang saling terkait dan berantai itulah maka munculnya abad modern bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan selalu berjalin kelindan dengan abad-abad sebelumnya. Untuk itu, sebelum mengkaji tentang era modern seseorang harus lebih dahulu mengetahui kondisi peradaban yang tumbuh berkembang sebelum modern. Namun untuk menyingkat pembicaraan dalam makalah ini tidak mengkaji secara luas potret peradaban pra-modern, melainkan hanya sebagai sisipan dan batu loncatan untuk mengcover fenomena modern.

B. Modernisme.

Untuk memahami konsep modern akan lebih mudah kalau kita lacak dari akar katanya. Secara etimologis term modern berasal dari bahasa latin “moderna” yang berarti sekarang, baru atau saat ini (Jerman: Jetztzeit).[3] Atas dasar tersebut manusia dikatakan modern sejauh kekinian menjadi pola kesadarannya. Secara historis pakar sejarah menyepakati bahwa era modern muncul pada tahun 1500 M.[4]. Namun yang perlu diketahui bahwa modernitas tidak hanya menyangkut soal waktu melainkan juga tentang pembaharuan. Artinya selain seseorang menjadikan kekinian sebagai basis kesadarannya, ia juga harus mempunyai pola-pola pembaharuan dalam kehidupannya. Karena modernisasi secara implikatif, cenderung merupakan proses yang di dalamnya komitmen pola-pola lama dikikis dan dihancurkan, yang kemudian menyuguhkan pola-pola baru, dan pola-pola baru inilah yang diberi status modern.[5] Pembaharuan ini merupakan indikasi bahwa hidup seseorang sudah tidak bergantung lagi pada pakem lama. Maka meskipun seseorang hidup di era sekarang tidak namun apabila kesadaran dan pola hidupnya yang dipakai adalah kesadaran dan pola hidup abad pertengahan, maka orang tersebut tidak tergolong modern. Dengan kesadaran demikian itulah maka pembaruan, kemajuan revolusi dan seterusnya merupakan kata-kata kunci kesadaran modern.[6]

Sementara itu, dalam bahasa Indonesia istilah modern sendiri adalah adjective (kata sifat). Dalam gramatikal Indonesia, sebuah adjektif apabila ditambahi dengan isasi adalah mempunyai makna proses. Sehingga modernisasi merupakan sebuah proses modern. kata sifat ini akan mempunyai arti lain lagi kalau ditambahi dengan isme (paham). Karena menunjukkan paham , kredo atau aliran maka modernisme mempunyai makna paham tentang modenitas. Kalau sudah mengkerucut menjadi paham (modernisme), maka unsur-unsur nilai di dalamnya sudah cenderung idiologis. Idiologi modern inilah yang nantinya menjadikan sebuah gerakan modernisasi.

Adapun gerakan modernisasi pertama kali berlangsung di Barat adalah terutama melalui proses industrialisasi.[7] Di Barat, modernisasi lahir karena adanya revolusi industri, sementara di negara-negara berkembang industrialisasi lahir justru karena modernisasi. Proses modernisasi utama dimulai di Inggris pada abad ke -18. sejak itu gejala ini melaus ke seluruh negara-negara Eropa dan Amerika Utara yang sekarang terkenal dengan negara-negara maju.[8]

- Ciri-Ciri modernitas

Modernitas sendiri dicirikan oleh tiga hal[9], yaitu:subyektifitas, kritik dan kemajuan. Dengan konsep subyektifitas memaksudkan bahwa manusia harus menyadari dirinya sebagai subjectum, yaitu sebagai pusat realitas. Dengan paham inilah maka abad modern ditandai oleh menyeruaknya paham-paham antroposentrisme. Nilai-nilai yang sifatnya antroposentris ini tidak lain adalah antitesis dari nilai-nilai lama yang sifatnya teosentris. Dalam ranah sosial, salah satu implikasi yang nyata kuatnya unsur subyektifitas dalam kehidupan modern adalah munculnya individualisme. Individualisme akhirnya juga sekaligus menjadi ciri khsusus dari kehidupan modern. Sebuah masyarakat apabila sudah menginjak atau memasuki rimba raya modernitas maka pola kehidupannya cenderung individualistik. Ini tentu berbeda dengan pola kehidupan tradisional-teosentris yang di dalamnya, unsur-unsur sosialis, masih sangat kental. Jadi dalam konteks ini, modernitas bisa berarti lahirnya otonomi dan independensi manusia dari sesamanya dalam kehidupan.

Bahkan lebih jauh, secara filosofis, pakar postmodernisme, David Griffin, mengatakan bahwa individualisme sebenarnya berarti suatu penolakan bahwa diri pribadi manusia secara internal berhubungan hal-hal lain, bahwa setiap individu manusia sangat ditentukan oleh hubungannya dengan orang lain, dengan lembaga, dengan alam, dan dengan masa lalunya atau mungkin dengan suatu pencipta ilahi.[10]

Subyektifisme atau indifidualisme ini menjadi ciri khas modern, secara simbolik ditandai dengan digaungkannya semboyan cogito ergo sum oleh Descartes. Descartes sendiri dinobatkan sebagai bapak filsafat modern. Dalam hal ini eksistensi manusia ditentukan unsur aku. Ada tidaknya manusia sangat ditentukan dan dipengaruhi oleh eksisnya aku sebagai sebagai subyek berpikir. Cogito (aku berpikir) sendiri ini tidak ditemukan dengan deduksi dari prinsip-prinsip umum atau dengan intuisi. Tetapi Cogito ditemukan lewat pikiran kita sendiri, sesuatu yang dikenali melalui dirinya sendiri, tidak melalui kitab suci, dongeng, pendapat orang, prasangka dan seterusnya.[11] Hal ini menandakan bahwa modernitas sangat mengagung-agungkan konsep subyektifisme dan indifidualisme. Subyek telah menjadi sedemikian sentralnya dalam kehidupan, sehingga menjadi basis kesadaran seseorang tentang keberadaanya.

Selanjutnya aspek lainnya adalah kritik. Kritik ini juga masih dalam pengertian subyektifitas tersebut, sejauh dihadapkan pada otoritas.[12] Asumsi dasar modernisme rasionalitas. Dimensi rasionalitas dalam kerangka kritis ini secara konkrit terreflkesi dalam kemajuan ilmu pengetahuan. Modernitas berasumsi bahwa knowledge is power. Dengan semangat kritis ini modernitas mempunyai ambisi untuk mendekonstruksi paham-paham tradisional yang dianggapnya menyesatkan, penuh dengan takhayul, mitos, kejumudan dan keterbelakangan. Oleh karena itu, misi utama modernisme adalah mendobrak tradisi lama yang penuh mitologi dan takhayyul tersebut untuk digantikan dengan tradisi baru yang berbasis rasionalitas dan ilmu pengetahuan ilmiah, menggantikan mitos dengan logos. Dalam rangka demitologisasi inilah, akal secara penuh difungsikan sebagai panglima untuk mendobrak paham lama yang berada di bawah rezim agama (gereja) dan mencoba bereksperimen menemukan tradisi-tradisi baru lewat metode ilmiah. Dari sini, munculnya Galileo, yang menemukan kebenaran lewat sains, adalah kemenangan akal atas wahyu, maka selanjutnya akal yang diterapkan dalam masalah manusia ini adalah landasan modernitas.[13]

Sebelumnya otoritas agama (gereja) dalam menentukan kebenaran di setiap sektor kehidupan sedemikian kuatnya sehingga rasionalitas menjadi terbonsai. Maka lahirnya modernitas, dalam semangat kritik ini adalah upaya untuk melepaskan rasio dari cengkraman agama (gereja), dan merekonstruksi peradaban dunia baru berdasarkan rasionalitas murni. Dengan demikian modernitas dalam konteks ini adalah upaya untuk membersihakan debu-debu spiritual dan mistisisme era kegelapan dari panggung sejarah peradaban manusia.

Pada akhirnya kedua unsur di atas tujuannya adalah satu yakni untuk menciptakan kemajuan. Kemajuan dalam modernitas ditandai dengan megahnya ilmu mpengetahuan dan teknologi. Dampak rasionalitas secara langsung adalah maraknya penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dan IPTEK. Sains-postivistik, sebagai dampak dari semangat rasionalitas, telah menjadi pedoman hidup (wellstanchaung) baru masarakat modern. Di era modern sains telah menjelma menjadi “agama” baru yang dijadikan sebagai standar utama untuk mengukur absah tidaknya kebenaran. Bahwa sebuah kebenaran baru bisa dainggap sebagai kebenaran manakala ia memenuhi kualifikasi-kualifikasi yang digariskan oleh sains. Maka saintisme dan positivisme berarti bahwa metode ilmu pengetahuan alam modern, yang membatasi diri hanya sampai menetapkan fakta-fakta (bukannya nilai-nilai), adalah satu-satunya cara untuk memastikan kebenaran.[14]

Selanjutnya, dengan paradigmanya yang rasional-positivistik itu, sains menimbulkan berbagai implikasi dalam kehidupan modern. Diantaranya adalah munculnya dualisme subyek-obyek. Dengan berpusat pada rasionalitas maka peradaban modern menjadikan manusia sebagai subyek kehidupan dan alam sekitar sebagai obyek kehidupan. Dengan dualisme subyek-obyek ini, maka manusia dengan dunianya sendiri bukannya berada dalam keterlibatan (sorge), melainkan justru berada dalam keberjarakan. Hubungan manusia modern dengan dunianya hanya sebatas sebagai pengamat yang terpisah, dan bukan sebagai bagian dari dunia itu sendiri yang bergelut secara intim di dalamnya. Di mana manusia diposisikan sebagai subyek aktif yang bebas mengamati, meneliti, mengeksploitasi dan menguasai. Sementara alam sekitar hanya terbatas sebagai obyek pasif yang bebas diamati, diteliti dan dieksploitasi yang seolah-olah tidak mempunyai keterkaitan dengan eksistensi sang pengamat itu sendiri. Inilah yang menjadikan manusia modern justru teralienasi dengan dunianya sendiri.

Selain itu, implikasi lain dari modernisme ini adalah terjadinya mekanisasi kehidupan. Ini merupakan konsekuensi logis dari teknologi sebagai dampak majunya sains modern. Karakter utama tekonologi adalah sifatnya yang mekanistik dan instrumentalistik. Hal ini tercermin dalam dunia industri modern yang sarat dengan teknologi sebagai alat produksinya. Namun semangat mekanisasi ini bukan hanya terdapat dalam dunia industri, melainkan sudah merambah di hampir setiap sektor kehidupan. Salah satu contohnya adalah metode dunia kedokteran modern yang hanya menggunakan pendekatan fisik dan mekanik dalam mengobati pasien. Oleh karena itu, hakekat abad modern, sebagaimana yang dijelaskan oleh Marshal Hodgson adalah teknikalis terhadap semua bidang kehidupan. Teknikalisme an sich itu melatar belakangi timbulnya revolusi industri, sedangkan implikasi kemanusiaannya menyembul dalam bentuk revolusi Perancis.[15]

Dengan kehidupan yang mekanistik-instrumentalistik tersebut, maka kehidupan manusia menjadi terreduksi. Aspek kehidupan yang sebenarnya sangat kompolek , dalam kehidupan modern, hanya dibatasi pada hal-hal yang sifatnya pragmatis dan bisa berfungsi secara mekanis.

Kesimpulan

Oleh karena itu modernisme yang pada awal kemunculannya difungsikan untuk menggugat mitos, sekarang justru menjadi mitos baru. Mitologisasi itu terjadi karena sistem paradigmatik modern oleh para pemeluknya dijadikan sebagai satu-satunya kebenaran dan menafikan kebenaran dari sudut pandang lain. Paham modern telah menjadi sebuah singularitas dan menegasikan pluralitas. Dalam konteks metodologisnya, sains modern, seperti dikatakan oleh Ziauddin Sardar, pada dasarnya hanya mengenal satu metode ilmiah yang disebut observasi atau eksperimen[16]. Ini artinya masih banyak kemungkinan-kemungkinan lain di atas sains modern yang juga mempunyai nilai kebenaran.

C. Sekulerisme

Terkait dengan modernisme, nilai atau paham yang sangat berhunungan erat dengan modernisme adalah sekulerisme. Secara kebahasaan kata sekuler juga berasal dari bahasa latin yang berarti saeculum, yang berarti ganda, ruang dan waktu. ruang menunjuk pada pengertian duniawi, sedangkan waktu menunjuk pada pengertian sekarang atau zaman sekarang.[17].

Dalam konteks pengertian yang berdasarkan pada waktu, sekulerisme sangat berkaitan dengan modernisme, yakni sama-sama menunjuk pada kekinian. Bahkan menurut Donald eugine Smith proses sekulerisasi ini mutlak diperlukan sebagai prasyarat modernisasi. Ini menunjukkan bahwa antara sekulerisasi dan modernisasi mempunyai hubungan kausalitas yang saling mempengaruhi. Begitu juga secara historis, munculnya sekulerisme tidak jauh beda dengan modernisme. Paham ini juga muncul dari barat pada abad pertengahan. Turner mengatakan bahwa Barat merupakan pusat timbulnya sekulerisasi, yaitu terutama mempunyai akar-akarnya pada masyarakat Kristen Barat.Pada abad pertengahan ini, telah terjadi langkah-langkah pemisahan antara hal-hal yang menyangkut masalah agama dan non-agama (bidang sekuler).[18] Dalam hal ini unsur-unsur kehidupan dan sosial yang asalnya terkait dengan gereja sedikit-demi sedikit terlepas dari pengaruh gereja. Masalah-masalah politik, ekonomi, sosial damn budaya, yang asalnya merupakan bagian dari otoritas gereja, menjadi sesuatu yang sekuler atau duniawi, dalam arti terlepas dari dogmatisme gereja (agama).

Maka pada perkembangan selanjutnya, pengertian sekuler pada abad ke 19 diartikan sebagai kekuasaan gereja tidak berhak campur tangan dalam bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan.[19] Dalam pengertian ini, sekuler diartikan sebagai pemisahan anatara unsur –unsur akhirat (agama) dengan duniawi (non agama), antara sakral dan yang profan, antara yang suci dan yang tidak suci, antara yang absolut dan yang temporal dan seterusnya. Pemahaman semacam ini, dalam wilayah politik, terjadinya institusi negara dengan agama. Dalam negara sekuler negara di[ahami sebagai wilayah publik yang segala sesuatunya harus dilaksanakan dengan jalan musyawarah atau konsesnus bersama, sementara agama dipahami hanya sebatas urusan indifidu yang tak ada hubungannya secara formal dengan institusi negara.

-Sekulerisasi

Seperti yang telah disinggung di atas prihal modernisasi, begitu juga dengan sekulerisasi. Kalau sekuler diartikan sebagai pemisahan antara wilayah duniawi dengan ukhrowi, maka sekulerisasi adalah sebuah proses terjadinya pemisahan tersebut. Jadi ia merupakan sebuah arah perubahan dan penggantian hal-hal yang bersifat adi kodrati dan teologis menjadi hal-hal yangyang bersifat alamiah, dalam dunia ilmu pengetahuan yang menjadi serba ilmiah dan argumentattif. Dalam arti lain seorang penulis barat mengatakan kecenderungan mengenai cara melakukan interpretasi yang bersifat sekuler dan rasional itulah yang dikenal dengan sekulerisasi[20]. Atas dasar itulah maka sekulrisasi dapat didefinisikan sebagai pembebasan manusia dari agama dan metafisika.[21]

Lain halnya dengan konsep yang diintrodusir oleh Nurcholis Madjid. Sekulerisasi tidak dimaksudkan sebagai penerapan sekulerisme. Sebab sekulerisme adalah istilah untuk sebuah idiologi, sebuah pandangan baru yang tertutup, yang berfungsi mirip agama. Dalam hal ini yang dimaksudkan adalah setiap bentulk perkembangan yang bersifat membebaskan. Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islami itu, mana yang transendental dan mana yang temporal.[22] Dengan demikian apa yang dimaksud oleh Cak Nur-sapaan akrab Nurcholis Madjid ini- adalah bukan upaya untuk menajuhkan seseorang dari agama, melainkan untuk bisa mengidentifikasi unsur-unsur keagamaan yang bersifat profan-temporal dan absolut –transendental.

Karena tanpa pembedaan ini akan menjadikan seseorang cenderung mensakralkan segala sesuatu dalam agama. Padahal unsur-unsur keagamaan yang bersifat temporal tidak mesti dan tidak harus kita sakralkan karena ia bersifat relatif dan selalu berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Masalah politik, ekonomi, sosial, budaya dan sejenisnya adalah masalah agama yang sifatnya profan, maka sikap kita adalah tidak perlu mensakarlakan atau mengabsolutkannya, melainkan cukup kita sikapi secara wajar dan rasional. Ini sesuai dengan hadits nabi bahwa kamu semia kebih tahu dengan urusan dunia kamu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam masalah-masalah agama yang sifatnya duniawi, kita masih dibseri ruang kebebasan oleh Allah untuk memilih metode dan cara yang kita pergunakan dalam rangka perbaikan di dunia. Dalam sekulerisasi ini, Muhammad al-Naquib al-Attas menyebutnya sebagai perkembangan pembebasan, dan hasil akhir dari sekulerisasi ini ini disebutnya sebagai relativisme historis.[23] Oleh karena itu, sekulerisasi ini sifatnya masih open-minded, dalam arti menunjukkan sifat-sifat keterbukaan dan kebebasan manusia untuk proses sejarah.

-Sekulerisme

Berbeda dengan sekulerisasi yang masih bersifat terbuka, sekulerisme justru bersifat tertutup. Karena konsep sekulerisme ini memang sudah mengkristal menjadi gerakan idiologis. Seperti yanga disinggung oleh Cak Nur di atas bahwa sekulerisme sudah hampir mendekati seperti agama. Paham sekulerisme ini pertama kali diperkenalkan oleh George Jacob Holyoake pada tahun 1846. meurut pendapatnya sekulerisme adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama-agama-wahyu atau supernaturalisme.[24] Jadi sekulerisme tidak lain adalah penolakan terhadap transendensi. Dalam paham sekulerisme, orang melihat agama sebagai suatu yang asing dan Tuhan dipandang sebagai penghalang.[25]

International missionary Council, dal;am peretemuannya di yerussalem tahun 1982, mendefinisikan sekulerisme sebagai cara hidup dan interpretasi kehidupan yang hanya mengakui susuanan alamiah semua materi, dan tidak mengenal tuhan atau dunia realitas rohani, yang merupakan keharusan bagi kehidupan dan pemikiran.[26]

Dengan pemahaman seperti ini, seseorang yang ,menganut paham sekulerisme akan cenderung menolak Tuhan, dan hanya mempercayai segala sesuati harus berdasarkan ukuran-ukuran ilmiah.

D. Kesimpulan

Jadi antara modernisme dan sekulerisme adalah sesuatu yang berkaitan namun kedua paham ini juga mempunayi perbedaan orientasi. Secara sederhana, kalau oprientasi modernisme adalah upaya mendekonstruksi paham-paham lama dan menawarkan paham-paham baru. Sementara orientasi sekulerisme lebih cenderung mengunggulkan hal-hal yang rasional-materialistik dan menolak hal-hal yang sifatnya transendental atau ruhani. Jadi masalah modernisme adalah masalah antara yang lama dan yang baru, sementara masalah sekulerisme adalah masalah antara yang sakral dengan yang profan.

DAFTAR PUSTAKA:

-Hardiman, F.Budi, Filsafat Modern, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004.

-Pardoyo, Sekulerisasi dalam polemik, PT.Pustaka Utama Grafiti, Jakarta 1993.

-Ray Griffin, David, Visi-Visi Post-modernisme, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2005.

-Madjid, Nurcholis, Khazanah Intelektual Islam, PT.Bulan Bintang, Jakarta 1984.

-A.Apter, David, Modernisasi Politik, 1987


*Makalah ini direpresentasikan dalam sebuah diskusi di UAD tanggal 11 Maret 2008

[1] Konsep Heraklitos ini merupakan antitesis dari pendapatnya Permanides yang mengatakan bahwa segalanya adalah tetap.

[2] Lih. Pengantar Bambang Sugiharto dalam Visi-Visi Postmodernisme, Kanisisus 2005.

[3] Lih.F.Budi Hardiman dalam filsafat modern, 2007 Hlm.2

[4] Lih. ibid

[5] Lih. Pardoyo, Sekulerisasi dalam polemik, hlm. 40.

[6] Lih.Ibid Hlm.3

[7] Lih.Pardoyo, Sekulerisasi dalam polemik, 1993,hlm.39.

[8] Lih. Ibid. Hlm. 40

[9] Lih.Ibid

[10] Lih. Dalam visi-visi postmodernisme hlm.17

[11] Lih. F. Budi Hardiman, dalam filsafat modern, Hlm.39.

[12] Lih. Ibid. Hlm. 4

[13] Lih. David. A.Apter, politik modernisasi, 1987. hlm.46

[14] Lih. David Griffin dalam Visi-visi postmodernisne, Hlm.21.

[15] Lih.Nurcholis Madjid dalam kahasanah intelektual Islam1985. Hlm.50.

[16] seperti yang dikutip oleh Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya integrasi Ilmu 2005 bab I.hlm.28

[17] Lih. Pardoyo, Sekulerisasi dalam polemik, 1993, hlm.18

[18] Lih. Ibid. Hlm. 19

[19] Lih. Ibid hlm.19

[20] Lih.Paul.H.Landis, social policies in the making, 1952, hlm.82.

[21] .Lih. Pardoyo, sekulerisasi dalam polemik, hlm.20.

[22] Lih. Nurcholis Madjid, “perlunya pembaruan pemikiran Islam dan masalah integrasi umat”, dalam Islam kemoderenan dan keindonesiaan, 1987. hlm.207.

[23] Lih. Syed Muhammad al-Naquib al-Attas, op.cit. hlm.20

[24] .Grolier International, dalam the encyclopedia Americana Vol.24, 1980.

[25] Lih.Pardoyo, dalam sekulerisasi dalam polemik,1993.hlm.22

[26] lih. Faisal Ismail, Ioc.cit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: