Membangun Tradisi Kebebasan Berpikir Warga Pesantren

Secara ontologis mungkin kurang relevan apabila kita membandingkan atau menyandingkan filsafat dengan pesantren. Karena nyatanya dua entitas itu memang berbeda. Filsafat merupakan sebuah disiplin ilmu sementara pesantren adalah institusi keagamaan dan pendidikan.

Namun persoalannya bukan terletak pada perbedaan itu, melainkan pada hubungan pemahaman dan pandangan warga pesantren terhadap filsafat. Jujur saja filsafat, sebagai disiplin ilmu, sampai sekarang masih menjadi barang asing di kalangan warga pesantren. Bahkan mayorits pesantren salaf-konvensional masih menganggap disiplin ilmu filsafat sebagai barang tabu -kalau tidak boleh dikatakan haram. Lalu pesantren tidak menjadikan filsafat sebagai kegiatan keilmuan muqarrar (standart) dalam kurikulum atau minimal bahan diskusi pesantren. Yang terjadi justru sebaliknya, filsafat adalah “anak haram” yang tak boleh dijamah atau dibahas.

Sikap antipati terhadap filsafat tersebut merupakan sebuah akibat dari kesalahpahaman civitas pesantren sendiri terhadap filsafat. Salah satunya adalah karena salah-paham dengan kritik al-Gazali terhadap filsafat dalam tahafut al-falasifah yang sebenarnya tak lebih dari sikap ilmiah dari seorang intelektual. Namun sikap al-Gazali ini oleh warga pesantren justru dipahami sebagai pelarangan terhadap filsafat. Akibatnya yang terjadi bukanlah telaah kritis terhadap krtitik al-Gazali tersebut, tetapi kritik itu malah dijadikan sebagai alat justifikasi atas penghakiman terhadap filsafat itu sendiri. Apapun yang berbau filsafat akhirnya ditolak.

Dampak yang paling fatal dari pelarangan filsafat ini adalah matinya tradisi kebebasan berpikir kritis di kalangan ahlul bait (baca: warga) pesantren. Kenyataan ini menjadikan pesantren terjerembab dalam kejumudan intelektual yang akut. Dinamika dan dialektika intelektual di kalangan pesantren menjadi mandeg total: matinya usaha berpikir kreatif dalam kerangka penemuan kebaruan dalam ranah pemikiran. Dalam memamahmi teks-teks keagamaan, mereka cenderung dogmatis dan literalis-skripturalis. Pada gilirannya warga pesantren cukup mengkonsumsi teks-teks klasik yang sepi tanpa dinamika.

Teks-teks keagamaan itu, bagi kalangan pesantren, telah dianggap produk keilmuan yang sudah final dan tak boleh digugat apalagi diperbaharui (taken for granted). Padahal semboyan pesantren sendiri adalah menjaga tradisi lama yang masih baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik.(al-muhafazhatu ala qadiimis sholih wal akhdzu bil-jadiidil ashlah). Namun seperti yang dikatakan oleh Alm. Nurcholis Madjid bahwa pesantren hanya mampu menjaga yang lama, dan belum bisa mengambil atau apalagi menemukan yang baru yang lebih baik.

Ironis sekali. Sebab seperti dikatakan oleh Said Aqiel Siradj bahwa potensi pesantren sebenarnya luar biasa besarnya. Kalau pesantren itu melek, maka akan menjadi marcusuar peradaban dunia. Di samping itu, sebagai lembaga keilmuan, apa yang terjadi di pesantren sekarang adalah sesuatu yang paradoksal dengan yang terjadi di era keemasan Islam. Pada masa keemasan Islam, kebebasan berpikir begitu terbukanya. Sehingga para intelektual Islam tidak sungkan-sungkan menerjemahkan karya-karya Yunani klasik untuk pengembangan keilmuan Islam.

Oleh karena itu, di sinilah perlunya filsafat masuk dalam dunia pesantren. Kalau pesantren masih mengharapkan dirinya menjadi subyek garda depan dalam dunia keilmuan, ia harus berdialog dengan filsafat. Apa yang selama ini dipahami oleh kebanyakan warga pesantren tentang filsafat seharusnya ditinjau kembali. Harus disadari bahwa kunci kemajuan keilmuan Islam adalah terletak pada semangat kebebasan berpikir. Kalau tradisi dan spirit kebebasan berpikir sudah dipasung maka dinamika dan progresifitas keilmuan hanya akan menjadi mimpi di siang bolong.

Fungsi filsafat di sini nantinya adalah sebagai pemicu terbukanya ruang kebebasan berpikir tersebut. Karena ciri khas dari filsafat adalah sifatnya yang logis, radiks, objektif, mendalam, universal dan tak mengenal kata final. Maka sudah barang tentu hal ini akan menjadi pelecut warga pesantren untuk selalu mengkritisi, merefleksikan dan membaca ulang pakem pemikiran pesantren yang berlangsung sekarang.

Dalam semangat ini, warga pesantren hendaknya sadar bahwa filsafat bukanlah musuh. Kalau selama ini pesantren lebih menggunakan pendekatan teks atau wahyu dalam menemukan dan menggali kebenaran realitas, maka -seperti yang dikatakan oleh Ibnu Rusyd- bahwa filsafat tak lain hanyalah sebuah mitra atau partner wahyu untuk mencari kebenaran tersebut. Kalau wahyu dipersepsikan sebagai suatu kebenaran yang turun dari Tuhan ke manusia, dari langit ke bumi, maka filsafat adalah sebaliknya sebuah media pencari kebenaran dari manusia ke Tuhan, dari bumi ke langit, dari wilayah terestial ke wilayah transendental. Secara metodologis nampak berbeda antara wahyu dan filsafat, namun pada level aksiologinya keduanya merupakan hal yang sama-sama bertujuan untuk menemukan hakekat kebenaran. Jelasnya filsafat merupakan unsur penguat dari wahyu.

Pakem yang selama ini terjadi adalah bahwa wahyu merupakan kebenaran yang harus langsung diyakini tanpa melalui pemikiran. Sekarang perlu diubah bahwa sebelum kebenaran wahyu itu mengisi ruang keyakinan, ia harus diproses dulu dalam ruang pemikiran. Berkeyakinan tanpa melalui refleksi pemikiran tidaklah cukup. Sebelum orang itu yakin tentang sebuah kebenaran, ia harus tahu mengapa dia meyakini kebenaran tersebut. Artinya, keyakinan memerlukan landasan argumen yang kuat alias tidak asal. Karena berkeyakinan tanpa argumentasi, sama halnya dengan orang berjalan tanpa mengetahui maksud dan tujuan perjalanannya.

Sejarah sudah membuktikan bahwa lahirnya Modernisme Barat, yang sampai sekarang telah menjadi kiblat peradaban kontemporer, adalah berawal dari tradisi kebebasan berpikir. Sebelumnya, yakni ketika abad pertengahan, dunia Barat masih berada dalam kegelapan. Lalu muncullah filsuf-filsuf yang mendobrak awal pemikiran tradisional abad pertengahan. Ada yang menjebol pola-pola legitimasi kekuasaan tradisional, ada yang mempertanyakan ulang kemapanan ajaran-ajaran religius berikut alam pikir tradisionalnya (F.Budi Hardiman:2004).

Dengan munculnya para pemikir inilah, fajar modernitas Barat mulai menyingsing. Fenomena ini menemukan puncaknya tatkala Rene Descartes (1596-1650) menggaungkan rasionalisme dengan semboyan “aku berpikir maka aku ada” ( cogito ergo sum). Stetemen Descartes aku berpikir (cogito) ini merupakan simbol pembebasan berpikir yang asalnya berada dalam cengkraman teologi abad pertengahan. Dengan semboyan ini maka sinar pencerahan peradaban Barat semakin menyemburat.

Bercermin dari Barat tersebut, maka tersirat makna bahwa tradisi kebebasan berpikir merupakan sebuah keniscayaan untuk mendorong majunya sebuah peradaban. Maka dari itu spirit filsafat ini diharapkan bisa menggedor kesadaran warga pesantren untuk bangkit dari keterpurukannya. Usaha bangkit tersebut dimanifestasikan dengan semangat kebebasan berpikir dalam dunia ilmu pengetahuan.

Memang salah satu dampak atau konsekuensi dari munculnya kebebasan berpikir filosofis ini adalah tergoyangnya otoritas dan feodalisme pesantren, khususnya status quo para kiai. Karena dengan tradisi kebebasan berpikir ini hal-hal yang sifatnya mapan akan dipertanyakan, digugat atau bahkan diubah. Namun hal ini tak perlu dikhawatirkan, alasannya sederhana: bahwa pesantren bukanlah kerajaan, bukanlah imperium Tuhan.

Justru pesantren sekarang harus menjadi pelopor lahirnya pencerahan bagi masyarakat luas. Dengan spirit kebebasan berpikir ini, dalam atmosfer filsafat, pesantren ke depan bisa melahirkan pencerahan bagi peradaban dunia yang sekarang sedang mengalami gerhana: rancu dan ambigu, tanpa sadar melesat ke arah kehancuran baru. []

*Muhammad Muhibbuddin adalah santri PP. Mahasiswa Hasyim Asy’ari Yogyakarta dan mahasiswa Aqidah-Filsafat fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga. Aktif sebagai pegiat forum diskusi filsafat “Linkarana ’06” Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: