Filsafat

DI BALIK KESADARAN KITA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Kehidupan kita ini sebenarnya penuh peristiwa-peristiwa besar, fenomena-fenomena yang sensasional dan misteri-misteri yang menakjubkan. Jatuhnya daun, sirkulasinya pernafasan, meletusnya gunung, beredarnya matahari, kerlap-kerlipnya bintang di langit adalah sebagian kecil dari banyaknya peristiwa yang luar biasa besarnya. Memang alam raya tercipta ini pebuh dengan ketakjuban dan misteri, sehingga dari kemisteriusan itu melahirkan sejumlah teka-teki dan segudang pertanyaan. Dari pertanyaan inilah muncul beragam teori dan konsep-konsep ilmu pengetahuan yang mencoba membuka kabut misteri itu sehingga mengantarkan manusia mengkonstruksi peradaban di muka bumi. Jadi peradaban manusia yang besar ini pada prinsipnya adalah berangkat dari rasa ingin tahu manusia di balik kemisteriusan alam ini. Andai saja manusia dulu tidak bertanya-tanya dan merasa takjub dengan fenomena alam raya, maka peradaban manusia di muka bumi tidak akan muncul. Maka inilah hebatnya takjub, luar biasanya tanya dan saktinya ragu.

Tradisi takjub, tanya dan ragu itu, dalam sejarah filsafat, konon dimulai oleh seorang filsof bernama Thales. Pada waktu itu Thales mulai terperangah dengan kompleksitas alam semesta ini. Keterperangahannya itu melecut logikanya untuk berlang-lang buana dan berselancar mengarungi samudra tanya. Dari berselancarnya itu ia sampai pada ceruk pertanyaan yang paling fundamental: apa yang paling mendasar dari jagat raya ini? Dengan cukup sederhana ia merumuskan jawaban itu bahwa unsur fundamental dari alam raya ini adalah air. Finalkah jawaban Thales itu? Ternyata tidak. Justru pertanyaan dan jawaban Thales itu berubah menjadi kran yang menumpahkan beragam pertanyaan dan jawaban yang beragam dari berbagai filsof setelahnya.

Kalau Thales mengatakan air sebagai dasar alam raya ini, maka Aneximander mempunyai pandangan lain bahwa dasar alam raya ini bukan air melainkan udara, dari udara berkembang lagi persoalan sampai ke Heraclitus. Menurutnya alam semesta ini selalu berubah. Jawaban Heraclitus ini sekaligus mengantitesis jawaban yang telah dirumuskan oleh filsof sebelumnya, bahwa yang mendasar dari alam ini bukanlah bahannya melainkan prosesnya. Pertanyaan-pertanyaan itu terus mengalami perkembangan sampai pada era Socrates, Plato, Aristoteles, Plotinus, Al-Kindi, El-Faraby, Ibnu Shina, Ibnu Rushd, Francis Bacon, Rene Descartes, Kant, Marx, Nietszche dan seterusnya. Kita lihat dari pertanyaan sederhana yang dipelopri oleh Thales ternyata bisa merangsang lahirnya filsof-filsof dan ilmuwan-ilmuwan besar dalam sejarah umat manusia. Teori-teori mereka dalam perkembangannya sampai sekarang ini masih menjadi dasar manusia dalam membangun peradaban.

Dengan demikian kalau dirunut ke wilayah yang lebih dalam lagi, maka peletak dasar peradaban umat manusia itu sebenarnya adalah rasa takjub dan penasaran. Dari penasaran ini lahirlah sikap tanya dan pertanyaan inilah yang menjadi stimulan manusia untuk membangun basis pengetahuannya. Ok, bisa disepakati bahwa takjub, ragu dan penasaran adalah peletak dasar peradaban. Namun persoalannya kapankah dan dalam posisi apakah manusia itu bisa takjub atau penasaran yang kemudian bisa membuat mereka bertanya- tanya? Sebab faktanya tidak semua orang bisa takjub dan penasaran. Tidak semua orang merasa ragu dan kemudian bertanya.

Kalau kita selami dan kita hayati secara mendalam jawabanya sebenarnya juga cukup sederhana yaitu :kesadaran. Bahwa takjub itu bisa lahir, penasaran bisa muncul dan keraguan terus bisa menggelayuti pikiran kita, sehingga menjadikan kita geleng-geleng kepala sambil bertanya-tanya, adalah karena kita sadar.

Dengan sadar maka seluruh peristiwa dan kejadian kehidupan tidak kita posisikan sebagai sesuatu yang biasa-biasa saja melainkan masalah yang luar biasa, bahwa yang ada di hadapan kita bukanlah barang sepele, melainkan sesuatu yang benar-benar serius. Maka dari itu, kalau kita hendak membangun pearadaban besar, faktor utama yang harus kita bangun adalah kecerdasan untuk sadar bahwa segala sesuatu yang ada disekeliling kita ini bukanlah peristiwa kecil dan biasa-biasa saja, melainkan peristiwa-peristiwa besar yang luar biasa. Dari kesadaran ini, muncullah ketakjuban, lahirlah penasaran dan timbullah keraguan sehingga melecut kita untuk bertanya tentang apa ini (ontologi), bagaimana ini (epistemologi) dan mengapa ini (aksiologi).

Kelemahan kita sekarang adalah kita sering dilanda ketidaksadaran diri. Setiap detik, menit, hari, bulan, tahun dan sampai akhir hayat, kita selalu terjerembab dalam ketidak sadaran diri. Sehingga apa yang terjadi disekeliling kita, fenomena apa yang kita hadapi selalu kita anggap sebagai fenomena yang biasa-biasa saja. Mulai dari terjadinya diri kita sendiri yang berasal dari air sperma, munculnya matahari di Timur dan terbenamnya di Barat, kuningnya daun, berjalannya manusia, berkedipnya mata, elastisnya tubuh, kaki dan tangan kita yang masing-masing berjumlah dua, kuping kita yang ada di samping, mata kita yang ada di depan, rambut kita yang setiap kita potong kita tidak merasa sakit padahal ia juga bagian dari tubuh kita dan seterusnya, semuanya kita anggap sebagai hal yang lumprah dan biasa. Sehingga apapun yang melekat dalam diri kita, yang muncul dihadapan kita, tidak menggugah hati kita sedikitpun untuk takjub apalagi ragu.

Akibatnya eksistensi kita menjadi hal yang mengalir begitu saja tanpa ada dinamika dan kesan yang berarti. Hidup hanya sekedar mengikuti arus dan tak tahu ke mana sebenarnya kita akan di bawa?. Ketidaksadaran eksistensi ini membawa implikasi yang lebih luas: berupa ketidak sanggupan kita untuk melahirkan pembaharuan-pembaharuan di bidang kehidupan sehingga kita sering terkerangkeng dalam statisme dan kejumudan sejarah kita sendiri. Kalau kita sadari, apa yang terkesan dari peristiwa pergantian siang dan malam, semilirnya angin, kerasnya petir, merahnya apel, segarnya air, nikmatnya bernapas hanya menjadi hampa dan mengalir begitu saja, seakan-akan memang sudah sewajarnya terjadi. Pada hal kalau kita benar-benar sadar, hal-hal yang kita anggap biasa itu sebenarnya adalah sesuatu yang luar biasa.

Bagaimana tidak? Coba kita ambil contoh yang paling dekat dengan diri kita yakni gerak tubuh kita. Tangan kita yang bisa memegang, kaki kita yang bisa berjalan, telinga kita yang bisa mendengar, mata kita yang bisa merem dan melek dan seterusnya. Kita tahu, semua itu berjalan sesuai dengan fungsinya secara otomatis, tanpa kita komando. Bukankah ini sebuah hal yang luar biasa. Bagaimana mungkin tulang-belulang kita ini bisa bekerja sedemikian disiplin dan efektif. Tapi itu kita tidak sadar, sehingga kita anggap sebagai hal yang biasa saja. Hal lainnya adalah perubahan warna daun yang asalnya hijau menjadi kuning. Bagaimana bisa daun itu berubah warna ketika memasuki usia tua? Dan kenapa harus kuning ketika tua dan hijau ketika masih muda? Semua ini sebenarnya peristiwa yang luar biasa kalau kita sadar. Termasuk kaki kita yang bisa bergantian dalam berjalan, lidah kita yang bisa merasakan aneka rasa dan sirkulasi pernafasan kita yang berjalan secara otomatis adalah hal-hal yang luar biasa dan patut kita takjubi. Namun hal itu tidak pernah terjadi, karena kita sudah terbiasa tidak sadar sehingga kita anggap hal-hal itu sebagai sesuatu yang biasa.

Dari ketidaksadaran itulah hidup kita banyak yang sia-sia. Kita tidak pernah mendapatkan makna hidup dari hijaunya daun, tidak pernah mendapat makna hidup dari gelapnya malam, tidak pernah mendapatkan makna hidup dari gemericiknya air, tidak pernah mendapatkan makna hidup dari terangnya bulan, tidak pernah mendapatkan arti hidup dari aktifitas jalan, lari, makan, belajar, berkeluarga, bermasarakat, berbangsa dan bernegara. Karena semua itu kita menganggapnya sebagai hal-hal yang lumprah dan biasa-biasa saja.

Ketidaksadaran itu akhirnya juga berimplikasi pada pola kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak hal-hal yang luar biasa tapi kita menganggapnya sebagai hal yang biasa saja. Seperti korupsi, kolusi dan nepotisme. Itu sebenarnya hal yang luar biasa jahatnya. Tapi karena kita sudah sering menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa, maka jangan heran kalau sekandal KKN terus mengalami eskalasi. Sebagai anggota dewan, hakim, menteri, presiden dan pejabat lainnya itu sangat luar biasa jahatnya kalau sampai berfoya-foya dan kekenyangan ketika melihat rakyatnya dalam keadaan teersiksa kemiskinan dan kelaparan. Namun itu sering terjadi dan tak ada yang menggugat karena dianggapnya sudah biasa.

Dari sini kita tahu bahwa, disadari atau tidak, kesadaran keluarbiasaan terhadap segala peristiwa yang ada di sekeliling kita ternyata sangat menentukan terhadap pola kehidupan dan peradaban yang kita bangun. Sekecil apapun sebuah peristiwa kalau kita respon dengan kesadaran bahwa itu adalah sesuatu yang luar biasa dan serius, maka ia akan menghasilkan hal yang besar. Kita mungkin perlu ingat, Newton bisa menemukan hukum gravitasi bumi adalah karena ia tertimpa satu buah apel ketika sedang beristirahat di bawah pohon apel. Jatuhnya apel itu mungkin tidak menghasilkan apa-apa kalau seandainya dulu Newton tidak sadar bahwa jatuhnya apel itu adalah peristiwa yang luar biasa. Begitu juga Einstein, pakar fisika ini tidak mungkin menemukan teori relativitas yang terkenal itu, kalau seandainya ia barada dalam ketidaksadaran sehingga menganggap bahwa waktu adalah fenomena yang lumrah dan wajar-wajar saja..

Maka, kalau kita masih mempunyai semangat untuk memberikan kontribusi yang tidak biasa-biasa saja terhadap kehidupan kita, maka sadarlah bahwa apa yang ada disekitar ini adalah hal yang luar biasa, meskipun itu hanya setetes air embun.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta. HP: 081578547955 No.Rek.0112529200 BNI Cab. UGM Yogyakarta

LOGOSENTRISME ISLAM DAN KEKERASAN SIMBOL

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Akhir-akhir ini kasus Ahmadiyyah mulai menyeruak lagi. Beberapa hari yang lalu, Forum Umat Islam (FUI) menuntut pemerintah, dengan unjuk rasa secara massif, untuk segera membubarkan kelompok Ahmadiyyah. Karena menurut mereka ini, Ahmadiyyah adalah kelompok sesat dan kafir. Asumsi para penentang Ahmadiyyah ini diperkuat oleh MUI sebelumnya, dengan sejumlah fatwanya yang intinya melarang Ahmadiyyah untuk hidup di Indonesia. Dasar tuduhan dan penghakiman para kelompok penentang Ahmadiyyah ini satu, yakni Ahamdiyyah sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Hadits.

Fenomena maraknya tuntutan dibubarkannya kelompok Ahmadiyyah oleh FUI dan MUI tersebut merupakan sebuah potret logisentrisme Islam. Logosentrisme, seperti yang dikatakan oleh Al-Fayyadl, (2005) adalah metafisika yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental di balik segala hal yang nampak di permukaan atau segala hal yang terjadi di dunia fenomenal. Pada akhirnya logosentrisme ini menjadi sebuah narasi besar (grand naratife) yang bersifat absolut dan menjadi sebuah satu-satunya rujukan atau ukuran kebenaran. Ia dianggap sebagai universalitas yang mengatasi segala macam partikularitas kebenaran.

Dalam metafisika Barat, logosentrisme ini berwujud rasionalisme. Ini bermula dari adagiumnya Descartes yang terkenal dengan Cogito Ergo Sum. Menurut Heidegger (1996), metafisika Barat selama ini cenderung berangkat cogito atau pikiran, ketika bertolak mempertanyakan Sum atau Ada. Akibatnya, metafisika cenderung menjadikan rasio sebagai pusat eksistensi kehidupan manusia. Sehingga apa-apa yang berada di luar rasio dianggap sebagai pancaran atau reprsentasi dari rasio. Dengan demikian rasio lantas menjadi logos, pusat, tolok ukur atas segela macam fenomena yang ada di luar manusia. Logosentrisme inilah yang konon hendak diruntuhkan oleh Derrida. Palu yang digunakan oleh Derrida untuk menghancurkan logosentrisme metafisika Barat itu adalah dekonstruksi. Dekonstruksi ini merupakan kelanjutan dari proyeknya Heidegger:destruksi. Destruksi yang dibangun Heidegger ini akhirnya diteruskan dan radilkalkan oleh Derrida, karena menurut Derrida, Heidegger masih terjerat oleh jaring-jaring logosentrisme, karena dalam pemikiran Heidegger masih dibayang-bayangi oleh metafisika kehadiran.

Kalau yang menjadi logos dalam metafisika Barat itu sendiri adalah rasio, maka persoalaanya apa yang menjadi logos dalam Islam, khususnya dalam paham –paham keagmaan semacam FUI dan MUI? Jawabnya : al-Qur’an dan Hadits. Dalam penafsiran mereka tentang teks-teks keagamaan, kehadiran logos ditampilkan dengan hadirnya teks al-Qur’an dan Hadits yang dianggapnya mempunyai otoritas penuh untuk menguak dan memproduksi makna kebenaran. Seluruh penafsiran dan pemahaman tentang Islam harus diukur dan dikembalikan terhadap tek-teks al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits, dalam semesta makna menjadi sedemikian sentralnya, sehingga menjadi sebuah pusat, subyek dan otoritas untuk menentukan kebenaran dalam Islam. Sehingga kalau ada realitas atau pemikiran yang sekilas nampak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits secara literal, maka realitas atau fenomena itu tidak dianggap sebagai sesuaitu yang Islami.

Kekerasan simbolik

Logosentrisme Islam yang dipraktikkan oleh institusi-institusi keagamaan semacam FUI dan MUI itu merupakan wujud kekerasan simbolik. Kekerasan Simbol ini, menurut Pierre Boudieu adalah sebuah bentuk kekerasan yang halus dan tak tampak yang menyembunyikan di baliknya pemaksaan dominasi. Jadi kekerasan simbol ini merupakan praktik kekerasan yang sangat tidak terasa secar fisik, namun sangat terasa secara mental dan psikis. Ia merupakan salah satu bentuk dominasi yang dilakukan oleh orang satu terhadap orang lain. Karena ia merupakan alat dominasi, maka sudah barang tentu kekerasan simbol ini sangat bertautan dengan relasi kekuasaan. Kaitannya dengan kekuasaan, kekerasan simbolik ini bertujuan untuk melanggengkan atau mempertahankan kebenaran tunggal atau dalam konteks bahasa , signifikansi tunggal (monosemy). Dalam kekerasan simbol ini, beberapa kebenaran atau makna lain ditekan dan disingkirkan dengan halus sehingga nampak tidak sebagai sebuah kebenaran.

Selain kekuasaan kekerasan simbol ini juga berjalin kelindan dengan aspek kebahasaan. Sehingga di dalam bentuknya, kekerasan simbol ini mencerminkan hubungan yang erat antara dua hal yakni bahasa dan kekuasaan. Dalam konteks ini, kekerasan simbol lebih bersandar kepada subjek atau orang yang dianggap mempuntai kompetensi untuk mencetak makna. Kompetensi ini biasanya dikaitakan dengan yang namayan modal simbolik seperti status sosial, gelar, kedudukan, jabatan dn sejenisnya.

Selanjutnya, kekerasan simbol ini terjadi, menurut Yasraf A. Pilliang(2005) ketika orang yang didominasi menerima sebuah simbol (konsep, gagasan, ide, kepercayaan, prinsip) dalam bentuknya yang distortif, akan tetapi memberikan pengakuan atas apa yang diterima secara distortif tersebut untuk kemudian menggiring mereka untuk menerapkan kriteria evaluasi kelas dominan—-yang telah terdistorsi tersbeut—dalam menilai diri dan kehidupan mereka sendiri.

Dalam kaitannya dengan logosentrisme keagamaan dalam Islam yang ditunjukkan oleh berbagai institusi kegamaan tersebut, kekerasan simbol ini terjadi dengan adanya pemaksaan secara halus tentang ebuah gagasan oleh ahli agama terhadap publik (masayarakat muslim) untuk menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai satu-satunya alat pegangan kebenaran. Pemakasaan ini terjadi secara halus ketika ide kembali kepada al-Qur’an dan Hadits itu dijadikan sebagai ajaran agama yang doktriner dan totalitas.

Ide untuk menjadikan al-Qur’an dan Hadits secara tekstual itu diterima begitu saja oleh mayoritas umat Islam. Bahwa ajaran untuk kembali ke al-Qur’an dan Hadits telah menjadi sebuah kebenaran umum yang mutlak atau common sense, yang apabila ada sebuah upaya untuk go beyond al-Qur’an dan Hadits secara tekstual, maka secara mental –psikologis terasa ada beban yang memberatkan. Seolah-olah, di dalam hati dan akal pikiran umat Islam dibayang-bayangi rasa berdosa apabila dirinya mencoba untuk menolak atau meninggalkan ajaran itu. Tentu saja ajaran semacam ini datang dari para tokoh dan elit Islam sendiri yang dianggap mempunyai otoritas untuk berbicara, menilai dan menafsirkan Islam. Mereka kebanyakan sepakat bahwa al-Qur’an dan Hadits, secara tekstual adalah sumber utama dan pegangan utama umat Islam. Secara kolektif dan kelembagaan, FUI atau MUI serta yang lainnya merepresentasikan dirinya sebagai pihak yang mempunyai otoritas untuk menentukan kebenaran Islam. Kedua lembaga itu juga menyerukan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Hadits secara tekstual dan doktriner.

Maka logosentrisme dalam Islam inilah yang sebenarnya menjadi pusat kekisruhan. Pusat atau sentral dan ukuran kebenaran inilah yang sering dijadikan sebagai alat kelompok Islam tertentu untuk menolak dan menghakimi adanya pandangan Islam yang lain. Sekarang persoalannya adalah, kalau seluruh umat Islam digiring untuk kembali ke satu pusat yakni teks al-Qur’an dan Hadits, maka al-Qur’an dan Hadits yang bagaimana yang harus diikuti? Karena al-Qur’an dan Hadits sendiri ajarnaya masih sangat universal. Kalau memang masih universal, bukankah yang ada adalah kemungkinan-kemungkinan kebenaran dan bukan kepastian-kepastian kebenaran.

Oleh karena itu, untuk menjadi Islami hendaknya ditegaskan bahwa setiap orang tidak harus kembali pada teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Artinya sumber pengetahuan atau epistemologi dalam Islam bukanlah teks al-Qur’an dan Hadits (qouliyyah) semata, tetapi juga kauniyyah. Mushaf al-Qur’an dan Hadits itu, yang menurut Arkoun sebagai korpus tertutup, bukanlah satu-satunya pusat atau tolok ukur tentang kebenaran Islam. Karena seperti kata Ahmad Wahib bahwa al-Qur’an dan Hadits adalah bagian saja dari sejarah Muhammad. Ini artinya masih banyak sumber dan rujukan kebenaran Islam. Ia tidak singular melainkan plural sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Oleh karena itu, untuk menjadi muslim yang benar secara obyektif murni, dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits secara tekstualis itu sebagai tolok ukur, adalah nonsense. Karena setiap orang tentu mempunyai pengalaman sejarah dan seting sosio kultural yang berbeda-beda.

Maka, kebenaran Islam itu akhirnya subyektif tergantung dengan unifikasi dan kekhasan subyek masing-masing. Maka yang paling baik adalah masing-masing muslim hendaknya saling menghormati dan mengapresiasi kekhasan dan keunifikasiannya masing-masing umat Islam itu, bukannya menghakimi dengan nada-nada yang anarkhis dan apalagi politis.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta. HP: 081578547955 No.Rek.0112529200 BNI Cab. UGM Yogyakarta

BERAGAMA DI ERA POSTMODERNISME

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Wacana postmodernisme menjadi sebuah diskursus yang debatable baik dalam kancah pemikiran akademik maupun sosial. Ia menjadi grand tema yang turut menjadi bagian di hampir semua disiplin ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sosial dan humaniora.

Secara singkat gerakan postmodernisme hanyalah sebuah reaksi terhadap modernisme. Ia merupakan semangat pemikiran yang mencoba menggugat asumsi-asumsi dasar modernisme. Bagi postmodernisme nalar dan paradigma modern adalah bangunan pemikiran yang telah usang dan oleh karena itu tidak berlaku kembali. Tapi meskipun demikian postmodernisme ini pada hakekatnya juga bagian dari modernisme.Ia bukanlah gerakan pemikiran independen yang seratus persen terlepas dengan modernisme. Menurut Lyotard, kata post dalam post modernisme bukan bermakna telah atau paska modernisme. Gerakan postmodernisme ini tidak bisa dianggap sebagai gerakan baru setelah modernisme atau strukturalisme. Ia tetap merupakan bagian yang integral dari modernisme. Bahkan Habermas menyebutnya sebagai proyek modernisme yang belum selesai.

Untuk memahami apa itu postmodernisme, yang lebih tepat adalah dengan cara mengidentifikasi ciri-ciri dan asumsi dasar pemikirannya yang membedakan dengan pola pemikiran modern. Lantas sekarang apa ciri khas pemikiran modern versus postmodern itu? Lebih tepatnya, corak pemikiran modernisme yang bagaimana yang menjadi sasaran dekonstruksi postmodernisme? Pemikiran modernisme yang menjadi sasaran kritik dan dekonstruksi postmodernisme adalah pola-pola pemikiran yang memposisikan manusia sebagai satu-satunya subyek dan dunia eksternal manusia sebagai obyek. Hal ini seperti yang tercermin dalam asumsi –asumsi modernisme yang menjadi dasar dari seluruh bangunan epistemologinya. Asumsi-asumsi itu diistilahkan oleh Lyotard dengan narasi-narasi besar (grand narratives) atau metanarasi (menurut Arandt). Asumsi-asumis itu misalnya berupa klaim rasionalisme, postivisme, materialisme dan humanisme. Sederetan paham ini mempertegas posisi manusia sebagai subyek dan rasio sebagai pusat.

Narasi besar tersebut merupakan sebuah klaim kebenaran universalisme yang ditotalitaskan menjadi dasar pegangan hidup yang pasti dan mengatasi seluruh realitas. Sehingga segala sesuatu yang tidak sesuai dengan narasi-narasi besar itu tidak dianggap sebagai kebenaran. Dengan demikian ia merupakan pemikiran yang tunggal, seragam dan serba pasti atau absolut. Asumsi-asumsi dasar yang metanaratif semacam inilah yang digugat oleh postmodernisme. Gugatan terhadap modernisme yang serba pasti, tunggal dan absolut tersebut diawali oleh Heidegger dan puncaknya pada Derrida. Dengan proyek destruksinya Heidegger mencoba melebur dualisme subyek dan obyek yang dikapling secara jelas dan pasti oleh modernisme.

Ia menegaskan bahwa manusia dan alam sekitarnya adalah interrelasi yang saling mempengaruhi, sehingga tidak mungkin manusia menjadi satu-satunya subyek dan pusat yang menentukan gerak sejarah. Leburnya dualisme tersebut semakin lumat seiring dengan tampilnya Derrida. Kalau destruksinya Heidegger terhadap modernisme—yang menurut Derrida masih dibayang-bayangi absolutisme— itu masih ada kemungkinan untuk dibangun kembali, maka Derrida membawa proyek Heidegger itu ke wilayah yang lebih radikal. Ia telah memecah, mengahncurkan dan memporak-porandakan bangunan pemikiran modernisme sedemikian rupa sehingga tidak ada kemungkinan lagi untuk direkonstruksi. Palu yang digunakan oleh Derrida untuk melululantahkan paradigama modernisme tersebut adalah dekonstruksi.

Dengan dekonstruksi, narasi-narasi besar, yang serba pasti, tunggal, seragam dan absolut tersebut dicoba oleh postmodernisme untuk diganti dengan paradigma yang serba mungkin, plural, warna-warni dan relativ bahkan nihilis. Sehingga dunia postmodernisme adalah dunia yang tanpa pusat dan standar baku secara universal. Pandangan dunia modern yang cenderung dipakemkan, didisiplinkan dan ditotalitaskan akhirnya menjadi puing-puing kebenaran yang berserakan dan tak teratur.

Praktik keberagamaan di era postmo

Selanjutnya, seiring dengan perkembangan sejarah peradaban manusia di atas, sekarang, bagaimanakah baiknya kita mengimplementasikan praktik keberagamaan kita? Pertanyaan semacam ini penting, karena untuk menjawab persoalan masalah keberagamaan di tanah air kita yang akhir-akhir ini dalam gejolak. Fenomena bergejolaknya praktik keberagamaan itu ditunjukkan dengan tragedi penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyyah yang dilakukan oleh kelompok Islam tertentu.

Apapun alasannya praktik penyerangan, teror dan ancaman terhadap kelompok Ahamadiyyah adalah tindakan kriminal yang tidak bisa dibenarkan baik secara hukum maupun moral. Landasannya jelas bahwa masalah keyakinan atau agama adalah masalah fitrah manusia, masalah hak pribadi yang paling asasi. Ia merupakan hasil internalisasi dari pencarian, penghayatan dan pengalaman seseorang terhadap realitas hakiki. Oleh karena itu seseorang tidak boleh memaksa atau melarang kepada orang lain untuk berkeyakinan lain . Karena ini merupakan penghayatan pribadi, maka sudah barang tentu hasil pencarian atau penghayatan antara satu dengan yang lainnya berbeda. Meskipun itu bertentangan dengan keyakinan atau agama mayoritas yang menjadi mainstream masyarakat tertentu, bukan berarti ia salah. Salah dan benarnya sebuah keyakinan tidak bisa ditentukan dengan standar mayoritas atau minoritas kelompok. Meskipun FUI atau MUI yang mengklaim diri sebagai mayoritas, ia tidak bisa menuduh Ahmadiyyah sebagai kelompok yang salah atau sesat. Atas dasar kebenaran apa FUI atau MUI berani menjamin dirinya sebagai kelompok Islam yang benar dan Ahamdiyyah sebagai kelompok agama yang sesat.Lebih dari itu, masalah perbedaan keyakinan dan agama di negara kita, mendapat perlindungan undang-undang.

Masalah penghakiman sepihak terhadap Ahamadiyyah tersebut adalah sebuah potret praktik agama yang sudah usang, yakni sistem dan pola beragama yang menawarkan kepastian, kejelasan dan cenderung mengabsolutkan serta mentotalitaskan ajaran-ajarannya. Nilai-nilai dalam agama itu lebih diposisikan sebagai pakem ilahi yang absolut dan final dari pada sebuah bangunan nilai yang relatif dan dinamis.

Maka kalau agama masih tetap ingin mendapatkan tempat dalam peradaban postmo, pola keberagamaan yang sudah kedaluwarso tersebut saatnya harus didekonstruksi. Dalam beragama seseorang tidak lagi menjadikan paham keagamaanya sebagai satu-satunya kebenaran tunggal, melainkan tetap mengapresiasi kemungkinan-kemungkinan kebenaran lain di laur dirinya. Agama jangan lagi menawarkan ajaran-ajaran yang serba baku, jelas, absolut dan pasti melainkan lebih memberikan gedoran, rangsangan dan tantangan dengan sejumlah kemungkinan kepada pemeluknya. Agama jangan lagi membuka ladang kepastian yang di dalamnya tertanam nilai-nilai yang sifatnya sudah jadi dan pasti dan kemudian ditotalitaskan, tetapi sebaliknya agama harus bisa membuka semesta kemungkinan yang di dalamnya bersemayam beragam relatifitas dan semangat pencarian. Biarlah pelaku agama itu sendiri nantinya yang menemukan bentuk-bentuk kebenaran, agama cukup memposisikan dirinya sebagai lading pencarian itu.

Jadi dengan demikian, beragama di era postmo bukan lagi untuk mengambil bentuk dan ajaran yang merupakan produk yang sudah jadi dan final, melainkan justru sebuah pelecut untuk terus mencari dan mencari kebenaran yang tak kenal batas dan kata selesai. Dengan demikian , dalam beragama sekarang ini, yang dibutuhkan adalah dialog dan saling membuka diri, bukannya saling menghakimi dan menutup diri.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta. HP: 081578547955 No.Rek.0112529200 BNI Cab. UGM Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: