Konsep ontologi Mulla Shadra

KONSEP ONTOLOGI DALAM FILSAFAT SHADRA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin

Filsafat Shadra juga terkenal dengan sebutan Filsafat Hikmah. Filsafat Hikmah adalah kebijaksanaan yang diperoleh lewat pencerahan spiritual atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk rasional dengan menggunakan argument rasional[1]. Dalam kaitannya dengan ini, ontologi atau wujud merupakan kata kunci dalam memahami filsafat Shadra. Karena seluruh bangunan epistemologi filsafat Shadra (filsafat hikmah) bertumpu pada wujud. Setiap paparan tentang Filsafat Hikmah pastilah diawali dari kata kuncinya: wujud (Being). Begitu sentralnya gagasan tentang wujud dalam filsafat ini sehingga sebagian orang tak segan-segan menyebut Hikmah sebagai semacam eksistensialisme Islam[2]. Wujud bagi Shadra adalah mencakup seluruh yang ada. Dalam hal ini muncul dua konsep yakni eksistensi (ada/wujud) dan esensi (mahiyah). Bagi Shadra yang benar-benar ada itu adalah eksistensi(ada) dan bukan esensi (mahiyah). Artinya ada (eksistensi) mendahului esensi. Esensi tidak akan bersarti tanpa eksistensi. Oleh karena itu, filsafat Shadra ini popular dengan sebutan eksistensi Islam. Bedanya eksistensi (ada/wujud)dengan esensi (mahiyah), yang paling substansial adalah bahwa eksistensi atau wujud merupakan keniscayaan, ia tidak terbatas dan tidak bermateri. Ia (wujud) mencakup segala hal, mulai dari dzat kudus ilahi, realitas-realitas abstrak dan material, baik substansi maupun kasiden dan baik esensi maupun keadaan.[3] Sebaliknya yang namanya esensi (mahiyah) merupakan ketidakniscayaan, terbatas (partikularistik) dan mempunyai materi.

Dalam konteks ontologi Shadra, seluruh realitas yang ada di dalam kehidupan ini merupakan refleksi wujud. Bahwa wujudlah yang memberikan realitas kepada segala sesuatu dan bahwa mahiyah secara literal bukan apa-apa dalam dirinya sendiri, melainkan diabstraksikan oleh akal dari keterbatasan-keterbatasan suatu tindakan tertentu wujud.[4] Pada tataran ontologis apa yang disebut dengan manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, tuhan, planet-planet dan sejenisnya adalah hal yang sama, yakni wujud. Artinya wujud yang ada pada manusia secara ontologis, adalah wujud yang ada pada binatang, wujud yang ada binatang adalah wujud yang juga ada pada tumbuh-tumbuhan dan seterusnya. Oleh karena itu pada ares eksisistensi atau ontologis ini segala macam perbedaan mahiyyah atau esensi menjadi meaningless. Karena semuanya adalah wujud yang satu. Segala keragaman dan partikularitas hanya ada pada tataran esensi.

Kesatuan ontologis ini secara fungsional merupakan starting poin untuk mengantarkan kepada ilmu hudluri yang merupakan sebagian prinsip-prinsip filsafat hikmah itu sendiri. Ilmu hudluri ini merupakan pola relasi antara subyek dan obyek yang pada level ontologis telah lebur menjadi satu. Secara tehnis, sebuah subyek yang berrelasi dengan obyek ini sama halnya hubungan antara ada dengan ada (sewasubyek). Baik subyek maupun obyek adalah ada itu sendiri. Maka ketika subyek berrelasi dengan obyek sama halnya ia (sang subyek) menegaskan dirinya sendiri. Dengan demikian tentu saja ia hadir, dan ketika ia hadir maka sejatinya terjadilah peleburan antara subyek dan obyek.

Dalam filsafat hikmah ini juga terdapat berabagai prinsip. Karena, prinsip-prinsip utama filsafat hikmah semuanya bersifat hudhuri (swabukti atau self-evident), sehingga pengukuhan filsafat ini dapat dilakukan secara introspektif.

Musa Kazim[5] dalam hal ini meyebutkan prinsip-prinsip utama filsafat hikmah: Pertama, para pendukung filsafat ini menyatakan bahwa wujud atau ada merupakan konsep sederhana yang secara langsung bisa dimengerti tanpa perantara konsep lain (badihah mafhum al-wujud).Kedua, wujud merupakan konsep yang berlaku secara umum atas segala sesuatu dengan pengertian tunggal (mafhum al-wujud musytarakun ma’nawi). Ketiga, prinsip yang disebut dengan ashalah al-wujud yang berintikan bahwa wujud adalah ungkapan bagi realitas secara mutlak yang mau tak mau pasti kita akui keberadaannya. Di luar itu, yakni segenap ungkapan dan konsep lain yang terdapat dalam perbendaharaan bahasa manusia yang dalam istilah para filosof disebut dengan mahiyah adalah rekaan manusia (i’tibariyah). Semua konsep selain wujud hanyalah batasan konseptual atau ilustrasi dari wujud.

Keempat, untuk menjelaskan keberagaman wujud yang kita saksikan secara langsung di alam raya ini, filsafat hikmah mengajukan prinsip yang disebut dengan tasykik al-wujud. Intinya, wujud yang mutlak itu merupakan kenyataan atau realitas yang bertingkat-tingkat.11 Contoh yang lazim digunakan untuk menggambarkan kebertingkatan itu adalah cahaya sebagai realitas yang bergradasi. Kelima, setiap titik dalam wujud yang bertingkat-tingkat itu mengalami proses evolusi yang terus-menerus dalam suatu gerakan substansial. Perlu dicatat bahwa dalam wacana filsafat, gerak (harakah) diartikan sebagai proses aktualisasi potensi (khuruj al-quwwah ila al-fi’li). Inilah prinsip yang disebut dengan al-harakah al-jauhariyyah. Keenam, gerakan substansial dalam konteks manusia terjadi melalui hubungan subjek dengan objek. Subjek di sini adalah ruh, jiwa atau akal, sementara objek adalah pengetahuan yang dicerapnya.

Dalam pembahasan wujud Shadra ini ada tiga kata kunci yang biusa digunakan untuk pisau analisis yaitu, Ashaltul Wujud Wahdatul, Tasykiqul wujud, dan al-Harakatul al-Jauhariyyah[6]. Untuk ashalatul wujud ini pada prinsipnya sudah disinggung di atasini merupakan konsep yang menyatakan bahwa wujud itu adalah tunggal, yakni antara wujud Tuhan yang transendental dengan manusia dan alam semesta yang imanen ini merupakan realitas yang satu.. Untuk memahami doktrin ini, pertama-tama kita perlu beralih ke perbedaan klasik dalam filsafat antara eksistensi dan esensi (mahiyyah). Pada perbedaan ini yang dipersoalkan adalah manakah yang penting antara dua hal tersebut yakni eksistensi dan esensi? Sebagaimana gurunya, Mir Damad. Mulla Shadra menyatakan bahwa wujud atau eksistensilah yang penting. Karena seperti yang sudah disinggung di atas, bahwa wujudlah (eksistensi) yang memberikan keber-Ada-an pada esensi.

Sementara Tasykiqul Wujud atau lebih dikenal dengan gradasi wujud atau ambiguitas wujud. Dalam hal ini ditegaskan bahwa wujud tidak hanya satu atau tunggal, tetapi juga beragam atau plural, merentang dalam suatu gradasi atau hirarki, dari wujud Tuhan hingga eksistensi pasir di pantai. Setiap tingkat wujud yang lebih tinggi mengandung semua realitas yang termanifestasi pada tingkat di bawahnya.[7] Bagi Mulla Shadra, wujud adalah realitas tunggal yang muncul dalam gradasi atau tahap yang berbeda.[8] Jadi yang perlu digraisbawahi dalam konsep ini adalah bahwa wujud adalah satu sementara tahapan-tahapan wujudlah yang berbeda. Tapi sekali lagi, tahapan-tahapan wujud ini hanya ada dalam level esensi atau mahiyyah dan bukan pada level eksistensi karena pada level eksistensi selain semua wujud satu, ia tak mempunyai jarak atau sekat apapun.

Konsep ketiga adalah al-harakatul Jauhariyyah (Gerak substansial). Gerak sendiri definisinya adalah perpindahan dari satu titik ke titik yang lain. Karewna yang sifatnya yang demikian itu, maka sudah jelkas bahwa gerak ini sifatnya tergantung, ia ada dalam alam esensi dan oleh karena itu ia tidak niscaya atau serba mungkin. Karena sifatnya yang serba mungkin itu maka gerak mempunyai berbagai kemungkinan. Artinya gerak mempunyai kemungkinan pindah atau perubahan yang tak terbatas. Sebagai contoh batu. Batu ini kalau dipecah terus menerus maka, secara aqal ia akan terus terurai sampai tak terbatas, meskipun secara materi ia bisa habis. Karena ketakterbatsannya inilah maka gerak tentu mengandung substansi, karena substansi itu sendiri adalah eksistensi yang tak terbatas. Kalau memang gerak itu tidak mengandung substansi maka sudah barang tentu gerak itu akan berhenti pada satu titik. Padahal secara aqal itu tidak mungkin. Dari sini bisa ditarik benang merak, ternyata yang namanya materi itu kembali pada yang satu yakni Ada itu sendiri.

Gerak substansial ini merupakan sanggahan Mulla Shadra terhadap filsafat Ibnu Shina yang mengikuti filsafat Aristoteles dengan menerima gerak hanya dalam kategori-kategori kuantitas, kualitas, situasi, dan ruuang atau tempat, yang semuanya adalah aksiden dan tak memungkinkan adanya gerak dalam kategori substansi. Dalam hal ini Mulla Shadra menegaskan bahwa setiap perubahan aksiden suatu obyek sebenarnya mensyaratkan perubahan substansinya karena aksiden tidak mempunyai eksistensi yang bebas dari substansi. Ia menegaskan bahwa selalu ada “beberapa subjek” (maudhu’un) bagi gerak sekalipun kita tidak menetapkan dan menentnukannya berdasarkan logika..[9]

Kesimpulan

Dari uraian di atas bisa ditarik benang merah bahwa Ada selamanya ada, karena itu tidak berasal dari ketiadaan. Karena ketiadaan tidak mempunyai keberadaan maka secara otomatis ia tidak mungkin ada dan mengadakan. Maka dari itu wujud adalah keniscayaan, tak terbatas dan universal. Perkara dualisme dan pluralisme itu merupakan sebatas esensi belaka.

Oleh karena itu, filsafat wujud Mulla Shadra ini merupakan konsep yang berusaha menjembatani berbagai perbedaan dan oposisi biner yang diciptakan oleh manusia di dunia. Oposisi biner itu seperti surga -neraka, dunia -kahirat, khaliq-mahluq tuhan-alam semesta, materi-nonmateri, transenden-imanen dan sejenisnya. Semuanya itu luruh dalam filsafat Shadra.

DAFTAR PUSTAKA:

-Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Buku Darras Filsafat Islam, Mizan Bandung, 1999

-Nasr, Sayyed Hosen, Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, Mizan Bandung, 2003

http://musakazhim.wordpress.com/2007/04/28/filsafat-hikmah-dan-agama-masa-depan

-Baqir, Haidar, Buku Saku Filsafat Islam, Mizan Bandung, 2006

FILSAFAT MULLA SHADRA

Oleh:Misbah

Filsafat Mulla Shadra merupakan tahap filsafat Islam yang paling komprehensif. Ia merupakan sintesis antara filasafat paripatetik dan iluminatif. Shadra menyebut filsafatnya dengan hikmatul muta’aliyyah atau filsafat hikmah. Hikmah adalah suatu system filsafat yang koheren, meskipun menggabungkan berbagai madzhab filosofis sebelumnya (Zainal Baqir:2006).

Intelektula Islam asal Pakistan, Fazlurrahman menyatakan, “nilai penting Shadra terletak tidak hanya dalam kenyataan bahwa dia mengkaji seluruh pemikiran Islam dan menggabungkan semua arus pemikiran pentingnya tetapi pada kenyataan bahwa dia menghasilkan suatu sintetis tulen dari semua arus itu. Sintesis ini dihasilkan tidak semata-mata oleh rekonsiliasi dan kompromi dangkal, tetapi atas dasar suatu prinsip filosofis.

Mulla shadra , yang nama lengkapnya adalah Muhammad Ibn Ibrahim Yahya Qawami Syirazi, yang dikenal dengan nama Shadr Al-Din Syirazi, dilahirkan di Syiraz pada 979 H/1571 M dari keluarga Qawam yang terkenal dan terhormat. Ia merupakan murid Mir Damad, seorang filsof Islam paling besar dan orisinil. Kepada gurunya ini Mulla Shadra mengakji tentang apa yang lazim disebut dengan ilmu-ilmu intelektual (al-ulumul alqliyyah)


[1] Lih. Haidar Baqir, dalam Buku Saku Filsafat Islam, 2006.

[2] Lih. Ibid.

[3] Lih. Muhammad Taqi Misbah Yazdi,Buku Darras Filsafat Islam, 2003 Halm:177.

[4] Lih.Sayyed Hosen Nasr , Mulla Shadra:Ajaran-Ajarannya dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam halm:902-910.

[5] Lih. http://musakazhim.wordpress.com/2007/04/28/filsafat-hikmah-dan-agama-masa-depan/

[6] Lih. Haidar Baqir, dalam Buku Saku Filsafat Islam, Bab Prinsip-Prinsip Filsafat Hikmah, 2006 Hlm.173

[7] Lih. Sayyed Hossein Nasr, Dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, 2003 Hlm.916-917.

[8] Lih.Haidar Baqir Dalam Buku Saku Filsafata Islam, tentang Prinsip-Prinsipp Filsafat Hikmah (I), 2006 Hlm.177

[9] Lih. Sayyed Hosen Nasr, Dalam Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, 2003.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: