Korban Banjir

KORBAN BANJIR: SAMPAI KAPAN MEREKA BISA BERTAHAN ?

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

Apabila kita melihat berita di TV atau membaca di koran-koran sungguh sangat menyayat hati ketika mata kita dipertontonkan nasib saudara-saudara kita di Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Sukoharjo dan daerah-daerah lain yang berada di dekat Bengawan Solo yang saat ini dilanda banjir. Bagaimana tidak? Nyaris kehidupan mereka dikepung air. Tidak main-main, rata-rata hampir sebagian rumah mereka terrendam banjir. Bahkan harta benda mereka raib. Sawah, ladang dan tambak mereka habis disapu banjir. Mereka tidak bisa panen.Aktifitas mereka pun menjadi lumpuh. Bagaimana beraktifitas , wong air sudah setinggi dada.

Bukan hanya itu, mereka, dan ini yang sangat memprihatinkan, terancam krisis pangan terutama air bersih. Untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari misalnya mereka tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menggunakan air banjir. Untuk mencuci, mandi, bahkan makan dan minum mereka menggunakan air banjir yang sudah barang tentu sudah bercampur dengan bermacam-macam kotoran, entah itu lumpur, limbah, air kencing, kotoran binatang dan sebagainya.

Belum lagi kebutuhan pokok yang lain seperti makan sehari-hari. Sungguh sebuah potret kehidupan yang maha susah dan di luar logika normal. Masalahnya fenomena semacam itu bukan satu dua hari tapi berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Sejak Desember 2007, wilayah tergenang banjir dan air surut silih berganti (Kompas, 23 Maret 2008). Bahkan tak ada jaminan kapan banjir itu akan surut, melihat cuaca sekarang yang terus hujan. Ini artinya saudara-saudara kita yang hidupnya dalam kesulitan itu, masih terus dipaksa untuk bergelut dengan banjir. Kalau hidup mereka itu seperti para konglomerat dan pejabat negeri ini barangkali mereka tidak sesusah itu. Habis mereka mau tidur tinggal pindah dari satu rumah ke rumah yang lain atau tinggal menyewa vila dan apartemen, mau makan tinggal milih restoran mana yang disukai.

Repotnya kebanyakan saudara-saudara kita yang terpaksa minum air banjir ini adalah tergolong masyarakat mustadh’afiin, masyarakat kurang bahkan tak mampu. Rumahnya pun sangat, sangat dan sangat sederhana. Garapan tanahnya pun tidak seluas tanhanya tuan tanah yang sampai mempunyai pulau, uangnya pun pas-pasan tidak seperti para pejabat yang mudah mengantongi bermiliar-miliar bahkan bertriliun-triliun rupiah. Dengan demikian jalan mereka untuk tetap survive cuma satu :nekat. Nekat mengungsi, nekat bertahan di zona banjir, nekat lapar, nekat makan batu, nekat minum air comberan nekat, nekat, dan nekat. Bagaimana tidak nekat, pemerintah yang mempunyai tanggung jawab baik secara moral maupun struktural nampak melihat nasib mereka bukan persoalan serius. Masak, untuk minta air bersih saja harus didemo. Di sisi lain sumbangan dari sesama sudah mulai seret. Bagaimana kalau ke LSM? Oh justru terkadang nasib mereka dijadikan sebagai ladang proyek bagi orang-orang lSM itu.

Menjadi korban bencana alam seperti mereka itu memang tak ubahnya seperti orang yang jatuh ketiban tangga. Sengasaranya numpuk-numpuk. Maju tak bisa, mundur kena. Maunya ingin menjerit tapi tak ada yang mendengarkan, mau membrontak tapi tak kuasa, bahkan mau bunuhn diri pun juga tak mentolo. Masak hidup dipaksa berhenti hanya gara-gara banjir. Jadi pokoknya sulit dan dan serba salah. Hidup tak layak, tapi mati susah.

Untung saudara-saudara kita itu tetap mempunyai daya juang yang kuat. Meskpun mereka hidupnya terlunta-lunta, susah dan serba sulit, mereka tetap bisa senyum, tidak banyak menuntut dan tidak suka rewel. Mereka tetap santai dan menghadapi realitas apa adanya. Mereka tetap mempunyai secercah harapan untuk meneruskan hidup. Sebenarnya kalau sadar, elit politik kita harus berterima kasih kepada rakyatnya yang mempunyai tipikal hidup semacam itu. Karena meskipun mereka dihantam bencana toh tidak membuat pusing kepala para elit, tidak mengganggu ngantornya para elit, tidak mengurangi gajinya para elit, tidak membuat para elit harus blusukan ke sudut-sudut kehidupan mereka seperti ketika menjelang pemilu, pokoknya tidak membuat para elit susah.

Namun cukupkah demikian? Ketika kita melihat saudara-saudara kita yang tertimpa bencana banjir itu tidak banyak rewel, tidak banyak menuntut, kuat dan tabah untuk hidup apa adanya, apakah lantas kita cukup diamkan saja. Cukupkah mereka kita jadikan sebagai bahan utama pemberitaan media massa, perdebatan di forum-forum diskusi, obrolan-obrolan di café, di warung kopi, di halte-halte, di tempat-tempat nongkrong? Cukupkah kita jadikan mereka sebagai tontonan sehari-hari? Cukupkah kita memandang mereka sebelah mata, bahwa seakan-akan mereka harus begitu.

Kalau memang jawaban kita YA. Maka pertanyaan selanjutnya adalah lantas buat apa kita mempunyai pemerintah, punya presiden, punya menteri, punya DPR, punya DPD, punya banyak partai politik, punya banyak LSM, punya bermacam-macam agama, punya beragam intelektual punya lembaga ini dan itu, punya hutan, punya laut, punya emas, batu bara, punya negara yang sumber daya alamnya melimpah ruah, sampai budayawan Emha Ainun Nadjib menyebutnya sebagai bocoran surga.

Memang meskipun kehidupan politik secara ideal dicita-citakan sebagai pola kehidupan yang adil dan saling berbagi kesejahteraan antar sesama, namun dalam praktik politik, yang terjadi justru semangat untuk menang sendiri, kaya sendiri, kuasa sendiri, makmur sendiri, sejahtera sendiri, seperti apa nasib orang lain cuek saja lah! Dan inilah langgam politik kita saat ini. Para pejabatnya sudah lupa terhadap rakyatnya, ulamanya lebih concern mengurusi partai, konglomeratnya sudah tidak mau berbagi lagi dengan kaum melarat. Maka wajar kalau krisis berkepanjangan terus mendera kehidupan kita.

Politik sebenarnya memang hal yang mulia. Bahkan Ibnu Khaldun menyebutnya sebagai peradaban manusia yang tertinggi. Hal ini karena dunia politik, pada prinsipnya adalah dunia yang sarat dengan spirit kolektifitas dan integralitas. Karena sebagai manusia kita tidak bisa menyelesaikan dan memenuhi kebutuhan kita secara indifidu, mesti butuh orang lain. Eksisnya pejabat adalah karena ada rakyat, eksisnya kiai karena adanya santri, eksisnya juragan karena adanya buruh, eksisnya kita karena adanya tukang becak, adanya tukang sayur, supir bus, tukang sapu, termasuk saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir dan unsur-unsur lain yang membentuk satu sistem kehidupan. Apabila salah satu unsur tidak aktif, maka semuanya akan kacau. Namun seringkali kita lupa dengan semangat kolektifitas dan integralitas itu. Seolah-olah kita ini hidup dengan sendiri tanpa terkait dengan yang lain. Dengan latar belakang ini, maka Plato mengatakan bahwa tujuan politik adalah untuk menggapai kesejahteraan bersama.

Maka dengan terjadinya banjir di mana-mana, yang membuat saudara-saudara kita dalam keadaan memprihatinkan itu sebenarnya penggedor kesadaran kita untuk menghidupkan kembali kesadaran kolektifitas dan integralitas kita sebagai bangsa. Maka sampai kapan saudara-saudara kita yang menjadi korban banjir itu bisa bertahan dari kondisinya yang serba menyusahkan itu? Jawabnya adalah sampai kita sadar dan peka terhadap mereka. Sampai kapan para korban banjir itu bisa berhenti dan tidak lagi minum air comberan? Yaitu sampai kita sadar bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari sistem kehidupan kita yang saat ini membutuhkan perhatian dan pertolongan kita.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pengamat masalah sosial-budaya dan pegiat forum diskusi “Linkaran ‘06” Yogyakarta. HP:081578547955 No.Rek. 0112529200 BNI Cab. UGM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: