LOGOSENTRISME ISLAM DAN KEKERASAN SIMBOL

Akhir-akhir ini kasus Ahmadiyyah mulai menyeruak lagi. Beberapa hari yang lalu, Forum Umat Islam (FUI) menuntut pemerintah, dengan unjuk rasa secara massif, untuk segera membubarkan kelompok Ahmadiyyah. Karena menurut mereka ini, Ahmadiyyah adalah kelompok sesat dan kafir. Asumsi para penentang Ahmadiyyah ini diperkuat oleh MUI sebelumnya, dengan sejumlah fatwanya yang intinya melarang Ahmadiyyah untuk hidup di Indonesia. Dasar tuduhan dan penghakiman para kelompok penentang Ahmadiyyah ini satu, yakni Ahamdiyyah sudah menyimpang dari al-Qur’an dan Hadits.

Fenomena maraknya tuntutan dibubarkannya kelompok Ahmadiyyah oleh FUI dan MUI tersebut merupakan sebuah potret logisentrisme Islam. Logosentrisme, seperti yang dikatakan oleh Al-Fayyadl, (2005) adalah metafisika yang mengandaikan adanya logos atau kebenaran transendental di balik segala hal yang nampak di permukaan atau segala hal yang terjadi di dunia fenomenal. Pada akhirnya logosentrisme ini menjadi sebuah narasi besar (grand naratife) yang bersifat absolut dan menjadi sebuah satu-satunya rujukan atau ukuran kebenaran. Ia dianggap sebagai universalitas yang mengatasi segala macam partikularitas kebenaran.

Dalam metafisika Barat, logosentrisme ini berwujud rasionalisme. Ini bermula dari adagiumnya Descartes yang terkenal dengan Cogito Ergo Sum. Menurut Heidegger (1996), metafisika Barat selama ini cenderung berangkat cogito atau pikiran, ketika bertolak mempertanyakan Sum atau Ada. Akibatnya, metafisika cenderung menjadikan rasio sebagai pusat eksistensi kehidupan manusia. Sehingga apa-apa yang berada di luar rasio dianggap sebagai pancaran atau reprsentasi dari rasio. Dengan demikian rasio lantas menjadi logos, pusat, tolok ukur atas segela macam fenomena yang ada di luar manusia. Logosentrisme inilah yang konon hendak diruntuhkan oleh Derrida. Palu yang digunakan oleh Derrida untuk menghancurkan logosentrisme metafisika Barat itu adalah dekonstruksi. Dekonstruksi ini merupakan kelanjutan dari proyeknya Heidegger:destruksi. Destruksi yang dibangun Heidegger ini akhirnya diteruskan dan radilkalkan oleh Derrida, karena menurut Derrida, Heidegger masih terjerat oleh jaring-jaring logosentrisme, karena dalam pemikiran Heidegger masih dibayang-bayangi oleh metafisika kehadiran.

Kalau yang menjadi logos dalam metafisika Barat itu sendiri adalah rasio, maka persoalaanya apa yang menjadi logos dalam Islam, khususnya dalam paham –paham keagmaan semacam FUI dan MUI? Jawabnya : al-Qur’an dan Hadits. Dalam penafsiran mereka tentang teks-teks keagamaan, kehadiran logos ditampilkan dengan hadirnya teks al-Qur’an dan Hadits yang dianggapnya mempunyai otoritas penuh untuk menguak dan memproduksi makna kebenaran. Seluruh penafsiran dan pemahaman tentang Islam harus diukur dan dikembalikan terhadap tek-teks al-Qur’an dan Hadits. Al-Qur’an dan Hadits, dalam semesta makna menjadi sedemikian sentralnya, sehingga menjadi sebuah pusat, subyek dan otoritas untuk menentukan kebenaran dalam Islam. Sehingga kalau ada realitas atau pemikiran yang sekilas nampak bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadits secara literal, maka realitas atau fenomena itu tidak dianggap sebagai sesuaitu yang Islami.

Kekerasan simbolik

Logosentrisme Islam yang dipraktikkan oleh institusi-institusi keagamaan semacam FUI dan MUI itu merupakan wujud kekerasan simbolik. Kekerasan Simbol ini, menurut Pierre Boudieu adalah sebuah bentuk kekerasan yang halus dan tak tampak yang menyembunyikan di baliknya pemaksaan dominasi. Jadi kekerasan simbol ini merupakan praktik kekerasan yang sangat tidak terasa secar fisik, namun sangat terasa secara mental dan psikis. Ia merupakan salah satu bentuk dominasi yang dilakukan oleh orang satu terhadap orang lain. Karena ia merupakan alat dominasi, maka sudah barang tentu kekerasan simbol ini sangat bertautan dengan relasi kekuasaan. Kaitannya dengan kekuasaan, kekerasan simbolik ini bertujuan untuk melanggengkan atau mempertahankan kebenaran tunggal atau dalam konteks bahasa , signifikansi tunggal (monosemy). Dalam kekerasan simbol ini, beberapa kebenaran atau makna lain ditekan dan disingkirkan dengan halus sehingga nampak tidak sebagai sebuah kebenaran.

Selain kekuasaan kekerasan simbol ini juga berjalin kelindan dengan aspek kebahasaan. Sehingga di dalam bentuknya, kekerasan simbol ini mencerminkan hubungan yang erat antara dua hal yakni bahasa dan kekuasaan. Dalam konteks ini, kekerasan simbol lebih bersandar kepada subjek atau orang yang dianggap mempuntai kompetensi untuk mencetak makna. Kompetensi ini biasanya dikaitakan dengan yang namayan modal simbolik seperti status sosial, gelar, kedudukan, jabatan dn sejenisnya.

Selanjutnya, kekerasan simbol ini terjadi, menurut Yasraf A. Pilliang(2005) ketika orang yang didominasi menerima sebuah simbol (konsep, gagasan, ide, kepercayaan, prinsip) dalam bentuknya yang distortif, akan tetapi memberikan pengakuan atas apa yang diterima secara distortif tersebut untuk kemudian menggiring mereka untuk menerapkan kriteria evaluasi kelas dominan—-yang telah terdistorsi tersbeut—dalam menilai diri dan kehidupan mereka sendiri.

Dalam kaitannya dengan logosentrisme keagamaan dalam Islam yang ditunjukkan oleh berbagai institusi kegamaan tersebut, kekerasan simbol ini terjadi dengan adanya pemaksaan secara halus tentang ebuah gagasan oleh ahli agama terhadap publik (masayarakat muslim) untuk menjadikan al-Qur’an dan Hadits sebagai satu-satunya alat pegangan kebenaran. Pemakasaan ini terjadi secara halus ketika ide kembali kepada al-Qur’an dan Hadits itu dijadikan sebagai ajaran agama yang doktriner dan totalitas.

Ide untuk menjadikan al-Qur’an dan Hadits secara tekstual itu diterima begitu saja oleh mayoritas umat Islam. Bahwa ajaran untuk kembali ke al-Qur’an dan Hadits telah menjadi sebuah kebenaran umum yang mutlak atau common sense, yang apabila ada sebuah upaya untuk go beyond al-Qur’an dan Hadits secara tekstual, maka secara mental –psikologis terasa ada beban yang memberatkan. Seolah-olah, di dalam hati dan akal pikiran umat Islam dibayang-bayangi rasa berdosa apabila dirinya mencoba untuk menolak atau meninggalkan ajaran itu. Tentu saja ajaran semacam ini datang dari para tokoh dan elit Islam sendiri yang dianggap mempunyai otoritas untuk berbicara, menilai dan menafsirkan Islam. Mereka kebanyakan sepakat bahwa al-Qur’an dan Hadits, secara tekstual adalah sumber utama dan pegangan utama umat Islam. Secara kolektif dan kelembagaan, FUI atau MUI serta yang lainnya merepresentasikan dirinya sebagai pihak yang mempunyai otoritas untuk menentukan kebenaran Islam. Kedua lembaga itu juga menyerukan untuk kembali kepada al-Qur’an dan Hadits secara tekstual dan doktriner.

Maka logosentrisme dalam Islam inilah yang sebenarnya menjadi pusat kekisruhan. Pusat atau sentral dan ukuran kebenaran inilah yang sering dijadikan sebagai alat kelompok Islam tertentu untuk menolak dan menghakimi adanya pandangan Islam yang lain. Sekarang persoalannya adalah, kalau seluruh umat Islam digiring untuk kembali ke satu pusat yakni teks al-Qur’an dan Hadits, maka al-Qur’an dan Hadits yang bagaimana yang harus diikuti? Karena al-Qur’an dan Hadits sendiri ajarnaya masih sangat universal. Kalau memang masih universal, bukankah yang ada adalah kemungkinan-kemungkinan kebenaran dan bukan kepastian-kepastian kebenaran.

Oleh karena itu, untuk menjadi Islami hendaknya ditegaskan bahwa setiap orang tidak harus kembali pada teks-teks al-Qur’an dan Hadits. Artinya sumber pengetahuan atau epistemologi dalam Islam bukanlah teks al-Qur’an dan Hadits (qouliyyah) semata, tetapi juga kauniyyah. Mushaf al-Qur’an dan Hadits itu, yang menurut Arkoun sebagai korpus tertutup, bukanlah satu-satunya pusat atau tolok ukur tentang kebenaran Islam. Karena seperti kata Ahmad Wahib bahwa al-Qur’an dan Hadits adalah bagian saja dari sejarah Muhammad. Ini artinya masih banyak sumber dan rujukan kebenaran Islam. Ia tidak singular melainkan plural sesuai dengan konteks ruang dan waktu. Oleh karena itu, untuk menjadi muslim yang benar secara obyektif murni, dengan menjadikan al-Qur’an dan Hadits secara tekstualis itu sebagai tolok ukur, adalah nonsense. Karena setiap orang tentu mempunyai pengalaman sejarah dan seting sosio kultural yang berbeda-beda.

Maka, kebenaran Islam itu akhirnya subyektif tergantung dengan unifikasi dan kekhasan subyek masing-masing. Maka yang paling baik adalah masing-masing muslim hendaknya saling menghormati dan mengapresiasi kekhasan dan keunifikasiannya masing-masing umat Islam itu, bukannya menghakimi dengan nada-nada yang anarkhis dan apalagi politis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: