RESUM FILSAFAT ISLAM

RESUM FILSAFAT ISLAM

A. Ibnu Rushd dan rasionalisme

Ibnu Rushd adalah filsof besar Islam. Ia lahir dan besar di Cordova. Cordova adalah salah satu kawasan Andalusia yang pernah menjadi pusat berkembanganya era keemasan Islam. Tokoh inilah, yang menurut Luthfi Assyaukani, telah banyak melahirkan pemikiran-pemikiran brilian yang bisa mendorong lahirnya pencerahan (renaissance) di barat. Bagaimana sebenarnya corak pemikiran Ibnu Rushd sehingga mampu memberikan isnpirasi lahirnya pencerahan di Barat?

Jawabnya singkat saja, yaitu logis-rasionalis. Jadi Ibnu Rush adalah salah satu filsof muslim yang sangat rasional. Artinya dalam menafsirkan nilai-nilai dan ajaran keislaman Ibnu Rushd lebih menggunakan pendekatan logis-rasionalistik. Metode berpikir logis-rasionalistik ini ia peroleh dari filsafatnya filsof Yunani klasik, Aristoteles. Jadi kalau mau memahami secara mendasar konsep filsafat rasionalistiknya Ibnu Rushd, lebih idealnya harus memahami dulu konsep filsafatnya Aristoteles. Karena rasionalismenya Ibnu Rushd itu bersumber dan berakar pada filsafatnya Aristoteles.

Dalam ranah keislaman, filsafat Ibnu Rushd adalah bertujuan mendamaikan agama dan filsafat, wahyu dan akal. Bagi Ibnu Rushd, sumber kebenaran bukan semata-semata dari wahyu, melainkan juga bisa didapat dari akal. Akal, sebagai anugrah Tuhan juga merupakan sumber kebenaran dan pengetahuan yang absah. Atas dasar inilah Ibnu Rushd tidak memposisikan wahyu dan akal secara hirarkhis apalagi secara diametris, melainkan secara fungsional dan saling melengkapi. Bahwa antara wahyu dan akal tidak ada kata mana yang lebih tinggi dan mana yang lebih rendah, melainkan keduanya adalah sama dan setara dalam fungsinya sebagai alat untuk mencari kebenaran. Dalam istilahnya yang khas, ibnu Rushd menganggap bahwa akal dan wahyu adalah saudara sekandung dan sepersusuan (Innal hikmah hiya Shoohibah assyarii’ah wal ukhtu al-radlii’ah).

Dua jalur kebenaran itulah yang , oleh para penganut Aveiroisme dusebut sebagai kebenaran ganda (double throuth). Istilah ini, seperti dijelaskan oleh Sten Ebbesen (1998), menyumbangkan salah-paham yang berlarut-larut terhadap Ibnu Rushd, karena sebenarnya Ibnu Rushd bukan mempromosikan tentang kebenaran ganda, tetapi tentang jalur-jalur kebenaran yang berbilang; adapun kebenaran itu sendiri adalah satu. Memang Ibnu Rushd sepakat bahwa bagi seseorang yang belum mempunyai kapasitas intelektual yang memadahi, ia harus meyakini dan mengikuti kebenaran yang ditawarkan oleh wahyu. Namun bagi seseorang yang mempunyai kapasitas intelektual yang memadahi dan kemampuan berpikir yang tinggi ia boleh menggapai kebenaran itu dengan akalnya.

Maka dari itu, Ibnu Rushd juga menyadari bahwa tingkatan akal manusia adalah berbeda-beda. Klasifikasi akal mansuia itu akan lebih jelas jika dilihat dalam metode ilmu penegtahuan yang dibuat Ibnu Rushd (yangsesungguhnya terinspirasi dari Aristoteles). Menurutnya, Ilmu pengetahuan itu bisa ditempuh lewat tiga cara. Yang pertama adalah lewat metode Burhani (demonstratif). Metode ini adalah metodenya para filsof dan ahli logika. Para filsof menggunakan berbagai perangkat logika, seperti sillogisme, analogi, induksi dan deduksi untuk mencapai pengetahuan demonstratif (Ma’rifah Burhaniyyah). Yang kedua adalah metode jadalli (dialketik). Metode ini banyak digunakan oleh ara teolog dan ahli kalam dan tingkatannya lebih rendah ari metode Burhani. Yang ketiga adalah metode Khitobi (retoris) yang banyak digunakan oleh parapenceramah dan kalangan awam. Metode ini adalah metode yang terlemah. Namun meskipun ini terispirasi dari arsitoteles, metode ini todak difungsikan sebagai alat untuk menjustifikasi stratifikasi sosial seperti yang telah dipraktikkan Aristoteles, melainkan tetap dalam koridor upaya penyatuan agama(wahyu) dan filsafat (akal)

Dengan demikian, secara universal dapat dikatakan bahwa semangat Averoisme adalah semangat rasionalis- liberalis namun tetap religius.

B.As-Syuhrawardi dan filsafat Isyraqiyyah

Syihab al-Din yahya bin Habasyi ibn Amrak Abu al-Futuh Suhrawardi adalah pencetus filsafat Isyraqiyyah atau yang lebih populer dengan nama iluminasi. Ia dilahirkan di suhrawad di Persia Barat laut pada 549 H/115 M. dan meninggal secara tragis melalui eksekusi di Alepo pada 587 H/1191 M dan karena itulah terkadang disebut Guru yang terbunuh (al-Maqtul).

Filsafat Isyraqiyyah (illuminisme) as-syurahwardi ini merupakan sebuah pengalaman pribadi. Karena filsafat ini lebih menekankan pada epistemologi irfani (spiritual). Titik tekan metode irfani adalah hati. Konsepnya sama seperti filsafat emanasi dalam paripatetisme yang lebih dulu lahir. Dalam Isyraqiyyah wujud mempunyai hirarki-hirarki, dari yang paling atas sampai yang paling bawah. Hanya saja kalau emanasi setiap tingkatan itu diidentikkan dengan intelek, maka kalau dalam iluminasi tingkatan-tingkatan tersebut diidentikkan dengan nur (cahaya).

Mengapa cahaya begitu penting dalam iluminasi? Karena Syuharawardi lebih suka menggunakan local wisdom (kearifan lokal) yang berasal dari nenek moyangnya, yaitu budaya zoroastereisme. Memang wilayah persi kuno adalah terkenal dengan tradisi zoroaster. Bagi Suhrawardi, Zoroasterianisme ini dianggapnya cocok untuk mengungkapkan pemikirannya. Karena, Zoroasterianisme mengembangkan suatu sistem pemikiran yang berbasispertentangan antara cahaya dan kegelapan, sementara filsafatwujud suhrawardi juga berbasis kepada hal yang sama yaitu pencerahan (iluminasi). Filsafat Isyroqiyyah ini lahir diproyeksikan untuk melakukan kritik atau antitesis terhadap filsafat paripatetik yang lebih cenderung rasional.

Pada pokoknya, Suhrawardi mengatakan bahwa prinsip filsafat Isyraqiyyah adalah mendapat kebenaran lewat pengalaman intuitif,kemudian mengelaborasikan dan memverivikasikannya secara logis rasional. Dengan kata lain prinsip dasar iluminasi adalah usaha untuk mmeperoleh kebenaran lewat hati atau intuitif secara total, kemudian menjelaskannya secara rasional atas segala pengalaman yang dicapainya itu.

Untuk mencapai kebenaran intuitif ini tidak semudah membalikkan tangan dan tidak bisasecara instan, namun harsu melalui tahapan-tahapan dalambentuk latihan (riyadloh) atau olah keruhanian. Olah keruhanian ini merupakan pembuka pintu (hijab) yang menghalangi hati dengan kebenaran itu sendiri. Maka kalau hijab ini sudah terbuka, hati akan melihat kelimpahan cahaya yang menjadikan seseorang tercerahkan.

Dalam isyraqiyyah ini minimal ada empat tahapan untuk untuk mencapai pencerahan:

1).dalam tahap ini seseorang harus bersedia menghilangkan nafsu pribadi yang lebih berorientasi pada kenikmatan duniawi. Menurut suhrawardi, sesungguhnya dalam diriseseorang itu terdapat potensi ilahiyyah yang disebutnya dengan kilatan ilahi (al-Barq al-ilah)

Kilatan ilahi akan bisa ditangkap apabila seseorang telah mebebaskan dirinya dari hal-hal yang sifatnya materialis atau jasmaniah. Tahapan ini secara praksis bisa dilakukan dengan cara mengasingkan diri (uzlah/kholwat) selama 40 hari.

2.)setelah lulus tahap pertama,seseorang baru bisa memasuki tahap kedua yaitu tahap iluminasi yang ditandai dengan kemampuan seseorang untuk menagkap akan sinar ketuhanan (an-Nur al-Ilah) serta mendapat apa yang disebut cahaya ilham (al-Anwar al-shahihah)

3.) Memasuki tahap ke tiga seseorang berada pada upaya rekonstruksi terhadap pengetahuan yang utuh dengan didsarkan pada logikadiskursif atas segaal apa yang dialaminya.

4.) bentuk pengungkapan atau penulisan pengalaman tersebut.

Filsafat Isyraqiyyah Suhrawardi yang demikian itu dipengaruhi oleh beberapa aliran filsafat lain seperti tasawuf khusunya al-Ghazali danal-Hallaj, paripatetisme khususnya Ibnu shina, Neoplatonisme dan Phytagorisme, hermetisme dan kepercayaan Zoroasterianisme. Namun perlu ditegaskan pula Hikmatul isyraqiyyah ini secara geografis-antropoligis, merupakan tradisi timur yang sudah lama eksis sebelum Suhrawardi lahir. Jadi filsafat Isyraqiyyah ini bisa dikatakan filsafat unik yang menggambarkan peradaban masyarakat tertentu. Karena sangat berakar kuat dengan local wisdom.

C. Mulla Shadra dan Filsafat Hikmah

Dalam sejarah peradaban filsafat Islam, Mulla Shadra adalah tokoh filsafat muslim yang diakui sebagai orang yang paling berjasa bagi lahirnya Filsafat Hikmah. Nama lengkap Mulla Shadra adalah Shadr Al-Din Syirazi. Ia dilahirkan di Syiraz pada 979 H/1571 M dari keluarga Qawam yang terkenal dan terhormat.

Filsafat Hikmah Mulla Shadra ini merupakan sintesa baru dalam ranah dialektika dan dinamika perkembangan filsafat Islam. Dalam dunia filsafat Islam memang telah terjadi semacam dialektika pemikiran yang cukup menggembirakan. Dan filsafat hikmahnya Mulla Shadra ini merupakan satu penggal rantai dialektis filsafat sebelumnya. Kalau sebelumnya Ibnu Rushd telah menggaungkan pemikiran rasional –Aristotalian, maka as-Syuhrawardi tampil sebagai filsof iluminsme yang lebih bersifat intuitif sebagai antitesis terhadap rasionalismenya Ibnu Rushd. Pada ketegangan dialektis inilah lahir Mulla Shadra yang mewartakan filsafat Hikmah sebagai sintesis keduanya.

Bahkan dengan filsafat hikmah ini, Mulla Shadra dikenal sebagai tokoh yang yang membangun aliran filsafat baru untuk mempertemukan berbagai aliran pemikiran yang berkembang di kalangan kaum muslim. Yakni tradisi Aristotelian cum neoplatonis yang diwakili al-Faraby dan ibnu Shina, filsafat iluministik, irfaninya Ibnu ‘Arabi serta tradisi kalam (teologi) yang pada waktu telah mencapai tahap filosofisnya melalui figur Nashiruddin Al-Thusi.

Secara epistemologis, filsafat hikmah atau yang lebih populer dikenal dengan Hikmatul Muta’aliyyah ini bertumpu pada tiga sumber pengetahuan yaitu intuisi intelektual (intuitif atau dzauq), pembuktian rasional (aql atau istidlal ) dan syari’at. Sehingga filsafat hikmah ini adalah kebijaksanaan yang diperoleh lewat pencerahan spiritual atau intuisi intelektual dan disajikan dalam bentuk yang rasional, yakni menggunakan rasional. Dalam kerangka ini, menurut Mulla Shadra, hikmah bukan hanya memberikan pencerahan kognitif, tetapi juga realisasi yang mengubah wujud penerimaan itu. Merealisasikan pengetahuan sehingga terjadi transformasi wujud hanya dapat dicapai bukan hanya proses rasionalisasi, melainkan juga dengan mengikuti syari’at.

Adapun secara ontologis, filsafat Hikmah ini berdasar pada tiga hal yaitu:realitas wujud (ashalah al-wujud), ambiguitas wujud (tasyqiqul wujud) dan gerak substansial (harakatul jauhariyyah). Dalam ketiga kerangka pokok inilah secara aksiologis, Shadra berusaha menjawab masalah realitas mahiyah (kuiditas atau esensi), dan wujud (eksistensi) yang menyusun setiap maujud. Obyek material yang menjadi dasar penguraian masalah tersebut adalah satu yakni wujud (Being). Puncak dari filsafat ini adalah bermuara pada persoalan yakni tentang substansi. Yang menjadi masalah adalah mana yang secara hakiki wujud, esensi atau eksistensi. Dalam hal ini Shadra berkesimpulan bahwa yang benar-benar ada adalah eksistensi dan bukan esensi. Esensi hanyalah kreasi imajinatif manusia, ia sebenarnya tidak ada. Oleh karena itu, filsafat hikmahnya Shadra ini populer disebut dengan eksistensialisme Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: