HARKITNAS: MENUJU POLA PIKIR AKTIF-PROGRESIF

Entah apakah ini sebuah kekurangan atau kelebihan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang terkenal tabah, sabar, kuat dan tahan terhadap penderitaan. Bertahun-tahun dilindas krisis multidimensional, dihantam beragam bencana dan ditimpa kesengsaraan dan berbagai himpitan hidup, terutama himpitan ekonomi, namun faktanya, masyarakat Indonesia sendiri sampai detik ini masih terkesan santai, tidak banyak menuntut, tidak banyak protes, tidak banyak rewel dan sebagainya. Penderitaan dan kesengsaraan yang mendera bangsa Indonesia sedemikian beratnya ini nampak tidak begitu melecut girrahnya untuk melakukan perubahan. Sebagaimana kata Frans Magnis Suseno (Kompas, 11/5/2008) seratus tahun setelah kebangkitan nasional tahun 1908, Indonesia dinilai belum bangkit dari keterpurukan. Ini terbukti dengan kegagalan bangsa Indonesia menegakkan keadilan dan demokrasi. Ini barangkali dampak yang kurang menguntungkan.
Dalam kondisi bangsa yang tingkat kebobrokannya sudah mencapai klimak ini, dimana korupsi, kolusi dan nepotisme sudah sangat berurat dan berakar, krisis pangan yang terus mengalami eskalasi, BBM yang terus naik, harga bahan-bahan pokok membumbung tinggi, cari makan susah, angka kemiskinan semakin meningkat, pengangguran merajalela, masih ditambah dengan maraknya fenomena penggusuran, tindakan anarkisme dan kekerasan dan sejumlah patologi sosial lainnya, seharusnya menjadi pelecut bagi masyarakat untuk melakukan transformasi sosial. Tapi sampai detik ini belum ada indikasi kongkrit untuk mengarah ke sana.
Kondisi semacam itu barangkali berbeda dengan di luar negeri, terutama di negara-negara barat yang notabene negara maju baik secara ekonomi maupun politik.. Yang mana masyarakatnya sering suka menuntut kepada pemerintah setempat apabila ditimpa berbagai penderitaan. Barangkali karena sudah terbiasa hidup enak, apa-apa serba tercukupi dan sebagainya sehingga mereka merasa sangat tersiksa apabila tertimpa penderitaan, meskipun tingkat penderitaannya tidak seberapa bila dibandingkan dengan penderitaan yang dialami oleh masyarakat negara-negara ke tiga yang notabene negara miskin.
Sampai sekarang belum diketahui secara pasti, apa sebenarnya yeng menjadikan bangsa Indonesia sedemikian sangat tahan terhadap penderitaan. Bangsa ini hidupnya sudah megap-megap namun masih bisa tertawa. Entah karena ini merupakan hukum alam, atau karena sudah muak dan bosan dengan pemerintah— merasa tidak ada perhatian yang serius dari pemerintah sehingga cukup mengambil sikap yang apatis, atau memang karena pengaruh filosofi dan pandangan hidupnya sendiri seperti yang tercermin dalam salah satu semboyannya alon-alon waton kelakon atau karena memang bangsa Indonesia sudah sering menderita sehingga sudah terlatih dan cukup kebal menghadapi berbagai penderitaan dan kesengsaraan. Yang jelas sampai sekarang ini belum ada pihak yang meneliti soal ini secara serius.
Pemerintah Indonesia barangkali yang banyak diuntungkan dengan realitas masyarakatnya yang defensif dan tahan menderita itu. Sehingga karena masyarakatnya sendiri kurang begitu peduli, maka pemerintah pun nampak begitu sangat santai dalam menangani berbagai problematika bangsa yang demikian kompleksnya.

Harapan dan kebangkitan
Mungkin yang membuat masyarakat Indonesia sampai sekarang ini masih bisa bertahan adalah harapan atau asa. Memang dalam kondisi yang semakin lama semakin kacau balau, silang sengkarut seperti sekarang ini, tidak ada cara lain untuk survive kecuali dengan asa atau harapan . Namun persoalannya, sampai sejauh mana harapan atau asa itu bisa mempengaruhi pola kehidupan riil. Sebab kalau harapan hanya bisa membuat orang defensif, maka harapan itu kurang begitu signifikan. Karena yang dibutuhkan sekarang bukan hanya bertahan tetapi juga perubahan. Dengan demikian harapan yang bisa memenuhi tuntutan tersebut adalah bukan harapan pasif, melainkan harapan atau asa aktif-progresif. Harapan atau asa yang tidak pasif ini, menurut Azyumardi Azra, harus ditumbuhkan dengan upaya dan ihtiar terencana dan terpadu yang dijalankan dengan semangat dan etik disiplin nasional baik oleh pemimpin, masyrakat maupun individu.
Harapan atau asa yang tidak pasif semacam itu bisa muncul kalau ditopang dengan pola pikir yang aktif-progresif. Dalam kontek kebangkitan ini pola pikir aktif-progresif bisa diwujudkan dengan kerja sama yang sinergis oleh masyarakat untuk bersama-sama membangun kekuatan kultural yang bisa mendorong terciptanya iklim demokrasi dan keadilan sosial. Hal ini diwujudkan dengan ketegasan masyarakat kepada pemerintah untuk bisa menciptakan dan menjalankan kebijakan yang populis dan pro dengan rakyat.
Keadilan ekonomi, supremasi hukum, clean governence, kesejahteraan sosial dan isu-isu lainnya harus sering disuarakan masyarakat kepada pemerintah untuk benar-benar direalisasikan. Masyarakat sekarang harus berani bersuara lantang kepada pemerintah untuk menyuarakan kebenaran dan keadilan. Hak dan kewajiban antara pemerintah dan rakyat harus benar-benar ditegakkan. Kalau pemerintah selalu gagal menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan terhadap rakyatnya, maka masyarakat berhak melakukan pembangkangan sipil. Masyarakat harus kritis dan tegas terhadap pemerintah, supaya pemerintah juga bisa bersikap tegas.
Selama ini kelemahan utama dalam sistem politik kita adalah karena tidak adanya pemerintahan yang tegas dan berani mengambil keputusan untuk kesejahteraan rakyatnya. Yang ada adalah pemerintah selalu menjaga image dan lebih sibuk menciptakan politik citra dihadapan masyarakat untuk mempertahankan popularitasnya. Sehingga demi popularitas itu, pemerintah sering mengorbankan kepentingan rakyat. Seharusnya, kalau pemerintah ingin membangun popularitas di hadapan rakyatnya, ia tidak membangunnya berdasarkan pencitraan, melainkan dengan kerja keras yang memberikan perbaikan secara kongkrit terhadap kehidupan rakyat.
Oleh karena itu, kalau kita tidak ingin terus-menerus dalam keterpurukan semacam ini, sekarang juga kita harus bangkit melawan ketidakkonsistenan pemerintah dalam menjalankan amanat rakyat. Sekarang kita tidak boleh diam seribu bahasa, tidak boleh terus-menerus toleran terhadap berbagai penelikungan, tetapi lebih dari itu harus aktif dan progresif. Kita, seperti kata Bung Karno, harus mengguntur dan menggeledek untuk menuju perubahan. Kita tidak boleh setengah-setengah dalam bekerja, melainkan harus total. Kalau target kita hanya sekedar bertahan dan semangat kita hanya setengah-setengah, santai dan tidak serius, maka kita akan terus-menerus dalam keterpurukan.
Dengan demikian, satu abad kebangkitan ini, harus kita maknai sebagai perubahan pola pikir kita yang defensif, ke arah pola pikir yang aktif- progresif bahkan revolusioner demi terciptanya perubahan bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: