KEMBALI KE YANG ADA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Dalam pertemuan antara Dewan Pertimbangan Presiden yang diwakili Adnan Buyung Nasution dan pejabat yang terkait penerbitan surat keputusan bersama atau SKB menyangkut keberadaan Ahmadiyyah, Selasa (6/5) di Jakarta, terungkap bahwa SKB belum keluar dalam waktu dekat (Kompas, 7/5/2008)
Munculnya polemik tentang SKB di atas yang diproyeksikan untuk meng”almarhumkan” organisasi keagamaan Ahmadiyah di Indonesia, adalah sebagian potret dari ketegangan pola keberagamaan masyarakat. Memang agama formal –institusional(organised religioun) adalah satu hal yang contradictio interminis. Satu sisi ia merupakan sumber kedamaian, kemaslahatan dan keselamatan namun pada sisi yang lain ia juga menjadi pemicu ketegangan, konflik dan bahkan pertumpahan darah. Satu sisi ia diklaim sebagai “juru selamat” bagi pemeluknya, namun satu sisi yang lain ia juga dijadikan alat judgmen untuk menghabisi kehidupan pemeluk agama lainnya.
Terlepas apakah SKB itu perlu atau tidak, yang jelas ini sangat berkaitan dengan masalah keyakinan ketuhanan yang sifatnya sangat prinsipil. Maka alangkah baiknya kalau kita bersedia merefleksikan kembali aspek yang prinsipil dari sebuah agama atau keyakinann. Karena aspek yang prinsipil ini merupakan dasar atau sumber dari seluruh sistem keagamaan konvensional. Dari situ kita bisa menilai secara jernih dan bijak apa yang paling penting dalam beragama atau berkeyakinan.
Pada prinsipnya segala sesuatu pasti mempunyai dua dimensi permasalahan yakni dimensi pokok dan cabang, keniscayaan dan kerelatifan, kemutlakan dan kesementaraan, substansi dan esensi, tujuan dan media dan seterusnya. Persoalannya yang naif dalam kehidupan beragama adalah dari masing-masing pemeluk agama institusional itu tidak lagi bisa membedakan di antara kategori-kategori di atas. Kelemahan para pemeluk agama adalah ketidakmampuan mereka mengaktegorisasikan mana aspek pokok dan mana aspek cabang, mana yang mutlak dan mana yang relatif, mana yang substansi dan mana esensi, mana isi dan mana bungkus, mana tujuan dan mana medium.
Wujud, Ada dan Being
Satu hal yang paling substansial dalam agama, bahkan dalam kehidupan yang luas adalah wujud atau Ada (Being). Konsep wujud ini, seperti kata M.T.Misbah Yazdi merupakan bagian dari konsep-konsep kefilsafatan yang kesatuannya hanya menunjukkan kesatuan sisi (wahdah al-haitsiyah/aspectival unity) yang ditinjau oleh akal sesaat melakukan abstraksi atas konsep wujud. Dan kesatuan sisi itu ialah sirnanya ketiadaan. Kesalahan mendasar yang dilakukan oleh para pemeluk agama atau keyakinan adalah dilupakannya Ada atau wujud. Secara prinsipil, Ada atau Wujud inilah yang justru merupakan pokok, sumber, tujuan dan substansi dari agama, tapi sering tidak begitu diperhatikan secara serius dalam pola kehidupan beragama. Dalam filsafat Shadra, Ada diartikan sebagai keseluruhan, ia mencakup segala sesuatu dan tak terbatas. dengan demikian segala apa yang terjadi baik itu nampak atau abstrak, materi maupun nonmateri pada hakkekatnya adalah Ada itu sendiri. Wujud atau Ada atau Being ini dalam studi metafisika merupakan realitas yang universal. Ia mengatasi seluruh partikularitas ada.
Karena semuanya ini adalah Ada, maka di luar Ada adalah ketiadaan mutlak(nothingness). Ketiadaan sendiri adalah hal yang tidak mempunyai eksistensi. Tidak mungkin ketiadaan mempunyai keberadaan. Bagaimana ia mempunyai keberadaan sementara dirinya sendiri tidak ada. Artinya bahwa yang ada itu tidak lain dala Ada itu sendiri, selain itu tidak.
Sementara itu, dalam pemikiran Islam, wujud, Ada (Being) sering dibedakan dengan mahiyyah. Wujud adalah realitas obyektif. Dikatakan obyektif karena ia memang ada. Sedangkan mahiyyah adalah gagasan tentang realitas obyektif partikular. Mahiyyah inilah yang dalam bahasa Shadra disebut esensi atau dalam bahasa Heidegger disebut dengan adaan (beings). Yaitu sesuatu yang mempunyai batasan, materi dan relatif. Adaan, mahiyyah atau esensi ini adalah benda-benda deskriptif yang sifatnya beragam. Ia bisa berupa rumah, manusia, agama, binatang dan seterusnya. Sementara yang namanya wujud atau Being atau Ada bukanlah wujud material-partikular tersebut, melainkan sesuatu yang melampoi sekaligus menyelubungi adaan atau mahiyyah itu sendiri.
Karena yang ada adalah Ada maka ia (Ada) adalah realitas mutlak dan sempurna, tunggal dan sederhana. Ia tidak berbilang dan tidak berjarak. Ia nirwaktu, dan nirtempat. Ukuran, kuantitas dan potensi apapun yang terkait dengan waktu dan ruang tidak berlaku dalam Ada. Jadi dalam wilayah ontologis atau Ada, yang namanya keragaman, dualisme dan pluralisme itu kosong alias tidak ada. Keragaman, dualitas dan pluralitas hanya ada pada wilayah epistemologi dan aksiologi yakni pada wilayah nilai dan pengetahuan. Yang mana seluruh keragaman dan kemajmukan yang ada pada level epistemologi dan aksiologi ini pada dasarnya sepenuhnya berada dalam pelukan sang Ada.
Kalau memang Ada itu mutlak dan tunggal, ia tidak bisa dibagi-bagi, maka pertanyaan selanjutnya darimanakah munculnya keragaman atau kejamakan ini, termasuk keragaman agama? Kalau memang ia muncul dari Ada yang satu maka itu tidak mungkin, karena itu akan kontradiktif. Sebab, bagaimana mungkin Ada yang tunggal dan sederhana ini bisa melahirkan yang banyak. Dengan demikian, lahirnya keragaman dan kemajmukan itu, bukanlah secara an sich lahir dari Ada yang satu tersebut, melainkan berasal dari sudut pandang manusia saja, yakni sudut pandang manusia dalam memandang wujud yang tunggal.
Munculnya sudut pandang inilah, yang akhirnya menghasilkan keragaman dalam kehidupan sehingga pada titik tertentu ia menghasilkan konsep yang namanya agama. Sudut pandang ini merupakan bagian dari hubungan kewujudan ciptaan. Hubungan kewujudan ciptaan ini, menurut Musa Kazhim merupakan hubungan atau relasi dengan pewujud atau penciptanya. Maka bentuk-bentuk kemaujudan (mahiyyah, esensi, atau adaan) adalah hal yang relatif dan nisbi. Ia sangat bergantung pada hubungan (robith) kemaujudan tersebut. Kalau hubungan itu hilang, maka bentuk kemaujudan (mahiyyah, esensi atau adaan) tersebut juga akan hilang.
Agama institusional adalah salah satu bentuk kemaujudan. Ia merupakan esensi, adaan atau mahiyyah. Dengan demikian agama-agama institusional itu adalah sesuatu yang nisbi, ia tidak benar-benar ada. Ia hanyalah bias-bias dari sang Ada tersebut yang dihasilkan dari relasi kewujudan. Dalam proses relasi ini, ia statusnya hanyalah sudut pandang saja. Karena hanya sebatas sudut pandang maka ia (agama institusional) kelihatan beragam, namun dalam konteks ontologi (wujud) ia sebenarnya satu. Artinya, secara ontologis, yang namanya keragaman, kemajmukan dan kebertingkatan dalam agama itu sendiri tidak ada. Karena ia hanya hasil dari sudut pandang saja, maka kalau sudut pandang itu kita rubah, yakni kita arahkan ke Ada yang tunggal tersebut, maka partikularitas dan keragaman agama atau keyakinan itu akan sirna. Yang ada ialah yang tunggal itu yakni Ada itu sendiri.
Pada level aksiologis kehidupan beragama, kita memang tidak seharusnya meleburkan entitas-entitas yang berbeda-beda itu menjadi satu. Namun yang harus kita tekankan adalah bahwa perbedaan –perbedaan itu adalah bukan hal yang prinsipil karena ia tidak berdiri sendiri. Semuanya itu adalah bias-bias wujud yang dicerap oleh beragam sudut pandang saja. Maka, yang paling penting kita pegang adalah wujud mutlak atau Ada itu sendiri. Wujud mutlak yang tunggal dan menyeluruh inilah yang oleh para sufi disebut cahaya, oleh ahli kalam atau teologi disebut Allah, oleh para filsof disebut sebagai unmoved mover dan seterusnya.
Dengan demikian sangat konyol dan tidak ada artinya kalau setiap pemeluk agama atau keyakinan bacok-bacokan, saling membunuh, saling menuduh kafir, saling memurtadkan, saling menegasikan, konflik dan seterusnya.Karena apa yang mereka bela dan pertentangkan pada dasarnya adalah fakta esensial atau hasil sudut pandang saja yang sifatnya nisbi dan relatif.
Maka alangkah baiknya kalau setiap pemeluk agama atau keyakinan itu, mengakui keterbatasan dan kerelatifitasannya masing-masing dan menghubungkan semua itu pada yang mutlak yakni Ada atau wujud itu sendiri. Satu hal yang kerap membuat kisruh adalah karena para pemeluk agama atau keyakinan terus berkutat pada esensi dan keragaman masing-masing tanpa mau meneruskan untuk menghubungkan sampai pada tingkatan wujud atau Ada itu sendiri. Sehingga Ada atau wujud (Being) yang riil itu seolah-olah justru sirna. Dan ketika mandek pada tingkat esensi atau maujud yang serba beragam, masing-masing agama atau keyakinan saling mengaku mempunyai klaim kebenaran (claim of truth) dan klaim keselamatan (claim of salfation), dalam keadaan semacam inilah maka clash tidak bisa dihindarkan.
Dengan demikian upaya para kelompok Islam yang menghendaki dibubarkannya Ahamdiyyah melalui SKB itu sebenarnya usaha yang sia-sia dan tak ada manfaatnya saja. Karena itu hanya akan mempersoalkan masalah fakta esensial atau mahiyyah yang sifatnya tidak substansial. Baik Ahamdiyyah maupun FUI, MUI dan kelompok-kelompok Islam yang menuntut pembubaran Ahamdiyyah, bahkan seluruh kelompok agama atau keyakinan institusional apapun di dunia ini, adalah sama-sama mahiyyah dan bukan wujud mutlak. Karena sebatas mahiyyah atau fakta esensial, maka pada hekekatnya mereka itu tidak ada. Kalau memang sama-sama tidak mempunyai status keberadaan, mengapa harus menafikan yang lain. Pada akhirnya yang ada toh Ada itu sendiri. Kenapa tidak kembali ke yang Ada?
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat diskusi filsafat “Linkaran ’06 “ Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: