SEABAD KEBANGKITAN VS HEGEMONI ASING

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Momentum seabad kebangkitan nasional ini harus menjadi momentum reflektif-konstruktif bagi bangsa Indonesia. Di momen inilah seharusnya bangsa Indoensia baik pemerintah maupun rakyatnya berhitung diri, berkaca dan instropeksi diri tentang kondisinya sekarang dan yang akan datang. Sebab antara cita-cita atau slogan yang kita usung dengan realitas yang kita hadapi sekarang nampak sangat paradok. Seratus tahun kita menyatakan bangkit, namun realitasnya kita justru ambruk dan terpuruk. Keterpurukan ini terjadi di hampir setiap sektor, khususnya ekonomi dan politik.
Fenomena paradoks itu, salah satunya nampak sangat jelas justru di saat kita memperingati 100 tahun kebangkitan yaitu naiknya harga BBM. Ini merupakan tamparan yang memalukan bagi kita sebagai bangsa. Bagaimana mungkin, menjelang seabad kebangkitan kita justru dihantam badai krisis BBM yang menimbulkan keresahan dan kesusahan masyarakat luas. Padahal sebagian orang menyebut bahwa 100 tahun adalah masa-masa keemasan. Masa keemasan idealnya adalah ditandai dengan kesejahteraan, kejayaan dan kemakmuraan di segala bidang. Namun di saat ini realitas yang terjadi justru kesuraman dan kekalutan. Dimana BBM naik, harga barang –barang pokok naik, kemiskinan dan pengangguran masih mengungkung dan seterusnya. Dengan demikian bukankah kita patut bertanya-tanya apanya yang bangkit dari bangsa kita selama 100 tahun ini? Bukankah yang terjadi justru kemrosotan?
hegemoni asing
Pada prinsipnya yang menjadikan kita sampai sekarang tidak bisa bangkit dari keterpurukan sehingga terus-menerus dirundung penderitaan ini adalah disebabkan oleh ketidakmampuan kita untuk lepas dari interfensi dan hegemoni asing. Kita punya negara, punya kekayaan, punya pemerintah tetapi semua itu dalam kunkungan dan determinasi bangsa asing. Selama bertahun-tahun kekayaan kita dikuras oleh bangsa asing sehingga menjadikan kita tidak bisa menikmati kekayaan kita sendiri. Kita akhirnya menjadi bangsa yang tidak bereksistensi. Mempunyai negara tapi tidak bisa mengelola sendiri. Segala apa yang kita lakukan dalam konteks kebangsaan dan kenegaraan terutama, soal kebijakan, seluruhnya hasil determinasi asing. Dalam berbagai bidang kita selalu berada dalam pengaruh dan interfensi bangsa asing. Kita selalu dituntut untuk melayani kepentingan mereka. Untuk melakukan itu kita korbankan kepentingan kita sendiri. Kita harus terpaksa menjadi miskin demi memuaskan hati para cukong-cukong kapitalisme global.
Memang dalam sejarahnya, jauh sebelum bangsa kita lahir, pengaruh asing atau para imperialis barat itu sudah menancapkan pengaruhnya di tanah air kita. Hal ini misalnya ditandai dengan berdiirnya VOC pada tahun 1602. Ini merupakan babak awal jatuhnya bangsa Indonesia ke tangan penjajah Belanda baik secara maupun politis. VOC yang awalnya persekutuan dagang akhirnya bermetamorfosis menjadi monster penjajah yang rakus dan serakah. Nusantara bukan hanya dikuasai dari aspek perdagangannya, melankan merambah ke aspek teritorialnya. Pada saat inilah barat mulai menanamkan pengaruhnya dan sekaligus mengendalikan kehidupan masyarakat nusantara.
Nama Indonesia sendiri dalam sejarahnya, adalah temuan dari seorang ilmuwan asing berkebangsaan Jerman yang bernama A. Bastian. Ini berarti bahwa hampir seluruh format dan sistem kebangsan kita adalah reprsentasi dari pengaruh dan interfansi asing. Artinya memang sejak dulunya kita ini hidup dalam cengkaraman orang asing. Dan itu nampaknya masih terus berlanjut, bahkan semakin kuat, sampai sekarang. Munculnya globalisasi dan pasar bebas kita semakin tidak berdaya menghadapi hegemoni asing. Menurut Hasyim Wahid (1999) Indonesia lantas tidak sekedar masuk dalam lingkaran wacana (Barat) yang menggerus dirinya, akan tetapi juga masuk dalam cengkraman imperialisme global yang sangat hegemonik. Indonesa dijajah dan dikendalikan, misalnya dalam aspek :sosial, politik, ekonomi, idiologi, kebudayaan da seterusnya.

Go beyond globalisme
Dengan demikian, kalau kita tidak ingin berlarut-larut dalam kesengsaraan akibat penindasan dan hegemoni asing, maka pada momen seabad kebangkitan ini harus kita jadikan sebagai titik tolak (turning point) untuk lepas dari intervensi asing. Sarana efektif bangsa-bangsa maju untuk bisa menancapkan kuku penjajahannya adalah globalisme. Dengan adagium ini kita dibuat mereka terlena untuk bersedia terus-menerus dijajah dan dihegemoni. Maka untuk bisa keluar dari kungkungan kaum imperialisme asing ini kita harus berusaha melawan dan meruntuhkan globalisme.
Saat ini sebagian masyarakat Indonesia sudah banyak yang terseret dalam sistem dan idiologi globalisme. Seoalah-olah globalisme merupakan sunnatullah yang tak bisa kita atasi. Melawan globalisme seolah-olah melawan hukum alam yang tidak mungkin dilakukan.
Bagaimanapun, lahirnya globalisasi, yang kemudian mengkerucut menjadi idiologi globalisme bukan seratus persen fenomena alamiah. Tapi ia juga merupakan strategi social engineering. Ia merupakan hasil rekayasa sosial yang di dalamnya tersimpan berbagai tendensi, ambisi, aspirasi dan bentuk –bentuk kepentingan lainnya, yang dalam konteks ini adalah kepentingan para agen kapitalisme global. Dengan demikian yang namanya globalisasi bukan sesuatu yang mutlak dan tak bisa digugat.
Meskipun dalam konteks kehidupan luas kita memang tidak bisa lepas dari pengaruh orang lain, tetap globalisme secara idiologis tetap bisa dipertanyakan bahkan diruntuhkan. Dalam bukunya yang berjudl Runtuhnya Globalisme dan Penemuan Dunia Baru (2008) John Ralston Saul memberi pernyataan menarik bahwa gagasan tentang globalisasi itu sendiri mulai menguap ke udara bebas. Banyak yang telah lenyap. Sebagiannya barangkali akan tetap bertahan. Tokoh-tokoh terkemuka yang pernah menyatakan bahwa negara-bangsa harus tunduk pada kekuatan ekonomi kini mengatakan bahwa negara –bangsa tersebut perlu diperkuat untuk menghadapi kekacauan militer global.
Atas dasar itu, maka mulai sekarang kita harus menabuh genderang perang terhadap globalisme sebagai representasi imperialisme asing mutakhir. Hal ini kita wujudkan dengan mulai membatasi segala bentuk privarisasi, swastanissi, deregulasi yang liar tanpa batas. Selain itu juga harus mulai diupayakan untuk menasionalisasikan aset-aset nasional. Maka konsekuensinya, pemerintah harus berani mendepak perusahaan-perusahaan asing Multinational Corporationl (MNC) dan Transnational Corporation (TNC) yang sudah lama mencengkramkan rezimnya di Indonesia. Misalnya Freepot, Exxon Mobil dan sejenisnya. Perusahaan-perusahaan besar lintas negara dengan pusat-pusat pengendalian di tangan para kapitalis dunia seperti itulah yang menjadikan kita terus dilanda kemiskinan, karena kekayaan kita telah dihisap dan dieksploitasi oleh mereka. Kalaupun perusahaan –perusahaan itu memberi kontribusi matrial kepada negara, itupun tidak seberapa jika dibanding dengan dampak yang ditimbulkannya. Misalnya saja Freeport yang kontribusinya hanya sekitar 14 triliun. Ini belum seberapa bila dibandingkan dengan berton-ton emas yang ia keruk setiap saat selama bertahun-tahun dari bumi Papua dan efek negatip yang ia timbulkannya seperti kerusakan lingkungan, sosial dan sebagainya.
Ini adalah sebuah pilihan, bukan sebuah taqdir. Artinya nasib kita dijajah atau lepas dari dari kekuasaan asing ini sepenuhnya tergantung pada itikad dan usaha kita. Kalau kita sekarang tetap seperti ini, artinya tidak ada itikad untuk keluar dari cengkraman imperialisme asing maka selamanya kita tetap menjadi budak dan kacungnya para imperialisme asing itu.
Oleh karena itu, seabad kebangkitan ini akan menemukan maknanya kalau momen ini bisa melecut kita untuk lepas dan independen dari hegemoni asing. Kalau kita tidak bisa lepas dari pengaruh asing ini, maka tidak ada ada yang namanya kebangkitan.
*Muhammad Muhibbudin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: