catatan seabad kebangkitan dan 10 tahun reformasi KAMPUS, MAHASISWA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Sejak kelahiranya hingga sekarang, perjalanan lika-liku sejarah bangsa ini banyak dipelopri oleh kaum terpelajar (mahasiswa). Kaum akademis, insan intelektual, masyarakat kampus atau mahasiswa Indonesia terbukti mampu menjadi mesin penggerak perubahan bangsa dan masyarakat. Dari era ke era, mahasiswa atau masyarakat kampus itu selalu berada di garda depan dan bahkan tak jarang menjadi martir dalam mengusung perubahan.

Kita tengok sejenak sejak era pra kemerdekaan yakni tahun 1908, tahun dimana oraganisasi Boedi Oetomo lahir. BO yang dikendalikan oleh kaum muda yang berhasil mengenyam pendidikan modern seperti dr. Sutomo, dr. Gunawan Mangunkusumo dan dr. Rajiman berhasil merumuskan dan menggelorakan kesadaran nasionalisme kebangsaan. Melalui para intelektual yang terhimpun dalam BO inilah ruh nasionalisme berhasil ditiupkan ke jiwa masyarakat Indonesia yang pada waktu masih Hindia-Belanda. Kemudian memasuki era kemerdekaan kita kenal ada Soekarno, Moh.Hatta, Syahrir dan kawan-kawan. Para intelektual ini berhasil mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia. Generasi selanjutnya yakni tahun 66 dengan tokohnya yang terkenal Arif Rahman Hakim, kemudian sampai pada periode 1998 kita kenal ada Elang Maulana Lesmana, Hafidlin Royan dan kawan-kawan yang telah menjadi martir lahirnya reformasi.

Dari lintasan generasi intelektual tersebut terlihat jelas bahwa mahasiswa atau insan akademis Indonesia benar-benar mampu menjadi agen perubahan (agen of change), pencetak sejarah dan pelopor transformasi sosial. Keberadaan kampus benar-benar menjadi rahim dan kawah candra dimuka lahirnya intelektual-intelektual organik: Sekelompok intelektual yang tidak hanya puas dengan segudang teori namun sepi transformasi, intelektual yang selalu peka dan melek dengan kondisi riil masyarakat, intelektual yang tidak hanya asyik berputar-putar dalam lingkaran teori ilmu pengetahuan (sciens to sciens) namun lebih dari itu juga mencita-citakan perubahan (sciens to action). Dengan demikian yang namanya kampus bukan hanya menjadi pusat ilmu pengetahuan, melainkan lebih dari itu juga menjadi pusat perubahan masyarakat. Karena perubahan apapun selalu datang dan “diwartakan” oleh orang-orang kampus. Kampus dan civitas akademika di dalamnya, khususnya mahasiswa, benar-benar mempunyai tanggung kawab sosial. Ia tidak abai dan cuek dengan kondisi masyarakat dan bangsa yang berada dalam himpitan masalah.

Degradasi intelektual

Namun sayangnya karakter kampus dan mahasiswa yang demikian itu kini mulai pudar. Kampus kini semakin kehilangan spirit transformasinya. Hal ini karena hampir semua perguruan tinggi di Indonesia sekarang tidak lagi membuka ruang kebebasan kepada mahasiswanya untuk beraktifitas dan bergerak di luar kampus. Kampus sekarang justru banyak membatasi dan memproteksi ruang gerak mahasiswa dengan berbagai aturan. Hampir semua aturan kampus umumnya menggiring mahasiswa untuk aktif di kelas dan tak mengijinkan mahasiswanya untuk berekplorasi dan bereksperimentasi di luar kelas. Dengan demikian, kampus justru menjauhkan mahasiswanya dengan realitas masyarakat.

Sekolah-sekolah kita, kata Firdaus M. Yunus (2007), selama ini hanya menerjemahkan pendidikan sebagai transfer of knowledge yang dimiliki guru kepada siswa. Model pendidikan demikian, hanya membebani mahasiswa dengan teori untuk menjawab soal ujian, tapi tak mampu menerjemahkan pada realitas sosial. Pendidikan akhirnya tercerabut dari problem riil di masyarakat yang seharusnya mereka jawab. Mahasiswa tidak lagi diajak untuk berpikir kritis dan pandai membaca realitas. Akibatnya banyak mahasiswa yang sudah lulus justru asing dan buta dengan lingkungan sekitarnya. Dengan keterasingan ini mereka akhirnya gagap dan gagal dalam merespon perkembangan yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

Kondisi semacam ini diperparah dengan kampus sekarang yang sudah bermetamorfosis menjadi pasar. Nalar dan paradigma yang dijadikan sebagai landasan untuk mengelola lembaga pendidikan bukan lagi nalar akademik, melainkan nalar pasar, kapital, material dan bisnis yang profit oriented. Seperti kata Eko Prasetyo bahwa desain dan format kehidupan kampus sekarang disesuaikan sedemikian rupa dengan pasar. Indikasinya adalah mahasiswa berifikirnya hanya mengejar nilai, IPK bagus, cepat lulus dan cepat mendapatkan kerja. Bahkan diskusi-diskusi kita kehilangan karakter dalam mengawal perubahan sosial.

Menuju kesadaran kritis

Kalau memang kampus sekarang masih bisa diharapkan untuk menjadi pusat lahirnya agen-agen intelektual yang bisa membawa transformasi sosial, maka harus ada perubahan dalam dunia kampus, baik perubahan secara kultural mapun struktural. Perubahan itu diarahkan untuk membangun kesadaran kritis (Critical Consciusness) mahasiswa. Kesadaran kritis menurut Paulo Freire adalah kesadaran yang lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural itu menghindari blamming the victims dan lebih menganalisis secara kritis struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi, budaya dan implikasi dalam masyarakat.

Sebuah problem yang terjadi dalam masyarakat bukanlah fenomena yang berdiri sendiri. Ia sangat terkait dan berjalin kelindan dengan aspek-aspek sosial lainnya. Naiknya harga BBM, naiknya barang-barang pokok, maraknya pelacuran, membludaknya kejahatan dan sebagainya adalah problem masyarakat yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya dalam sebuah sistem. Oleh karena itu, perbuatan mencuri misalnya, secara struktural, sangat berhubungan dengan unsur-unsur kejahatan lainnya. Ia bisa disebabkan oleh maraknya KKN, ketimpangan sosial dan ekonomi, tidak adanya keadilan, tidak adanya pemerataan dan sejenisnya.

Tugas kampus adalah mencoba melatih mahasiswa untuk mencermati dan mengidentifkasi masalah dalam sebuah sistem atau struktur tersebut. Bagaimana struktur itu terbentuk, siapa yang berada di balik struktur itu, apa tujuan dibalik struktur dan ke mana arah struktur itu beroperasi. Dengan demikian mahasiswa nantinya diharapkan bisa benar-benar jernih dalam melihat masalah, tajam dan tepat dalam menganalisis, mampu membongkar dan memperbaharui struktur tersebut.

Untuk membentuk pola kesadaran kritis tersebut, maka salah satu langkah awal yang harus dipenuhi oleh pihak kampus adalah menjadikan kampus sebagai ruang publik yang sehat. Ruang publik ini berfungsi untuk menciptakan iklim dialog yang sehat antar sesama civitas akademika. Untuk membangun ruang publik yang sehat ini maka pola hubungan yang terjalin di dalam kampus haruslah pola hubungan yang egaliter dan bukan yang otoriter. Di dalam sistem ini, pola komunikasi yang sifatnya sentralistik dan satu arah harus diubah menuju pola hubungan dan komunikasi yang desentralistik dan dialogis. Karena sifatnya adalah ruang publik, maka seluruh civitas akademika baik itu dosen, mahasiswa, karyawan dan sejenisnya mempunyai hak yang sama untuk ikut andil dalam membangun sistem di dalamnya. Jelasnya sistem atau aturan itu diciptakan oleh semua dan untuk semua.

Selain dari itu, untuk menghidupkan kesadaran kritis, maka mahasiswa harus dikenalkan seakrab mungkin dengan realitas masyarakat. Teori-teori yang ada dalam buku, dalam sistem pembelajarannya, harus dikorelasikan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Sehingga pendidikan benar-benar berbasis pada realitas dan tidak hanya bertumpu pada teori-teori kosong.

Maka, dengan seabad kebangkitan dan sepuluh tahun reformasi ini segenap insan akademis atau masyarakat kampus, harus merefleksikan eksistensi dirinya. Bahwa keberadaan kampus dan mahasiswa Indonesia, dalam sejarahnya, mempunyai tanggung jawab menciptakan perubahan di dalam masyarakat, bangsa dan negara. Maka sungguh sebuah pengkhianatan sejarah, kalau kampus dan insan akademik atau mahasiswa sekarang justru menjauhkan diri dan cuek dengan kondisi masyarakat.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: