KERAKUSAN: SUMBER KEHANCURAN BUMI

Oleh :Muhammad Muhibbuddin

Sejarah bumi adalah sejarah kehidupan manusia. Maka memperingati hari bumi pada hakekatnya adalah memperingati kehidupan umat manusia itu sendiri. Sebab hanya bumilah yang sampai sekarang bisa dijadikan tempat manusia untuk mempertahankan kehidupannya.

Lalu apa masalahnya ketika bumi ini menjadi satu-satunya lokus kehidupan manusia? Jawabnya jelas: bahwa sampai sekarang umat manusia tidak sadar tentang arti bumi. Manusia masih memandang sebelah mata terhadap bumi. Sering kali bumi dirusak, dikotori, dicemari dan dieksploitasi secara liar oleh umat manusia sendiri. Prilaku manusia yang destruktif terhadap bumi itulah yang mengilhami seorang senator Amerika Serikat, Gaylord Nelson menetapkan tanggal 22 April 1970 sebagai Hari Bumi (Earth Day). Nelson menyaksikan betapa kotor dan cemarnya bumi oleh ulah manusia, maka ia mengambil prakarsa bersama dengan LSM untuk mencurahkan satu hari bagi usaha penyelamatan bumi dari kerusakan.

Pada umumnya Hari Bumi tidak begitu populer di kalangan masyarakat luas bila dibandingkan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Memang secara historis hari bumi berbeda dengan hari Lingkungan Hidup. Hari Bumi diprakarsai oleh masyarakat dan diperingati terutama oleh LSM maupun organisasi yang berorientasi kepada pelestarian lingkungan hidup, sedangkan tanggal 5 Juni ditetapkan sebagai Hari Lingkungan Sedunia oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan resolusinya nomor 2994 pada tanggal 15 Desember 1972. Tujuannya untuk membuka kesadaran publik untuk memelihara dan meelestarikan lingkungan demi terciptanya keselamatan dan kesejahteraan hidup di muka bumi. Tanggal tersebut dipilih karena bertepatan dengan pembukaan Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hudup di Stockholm pada tahun 1972, yang selanjutnya mendorong terbentuknya Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau dikenal sebagai United Nations Environment Programme (UNEP). Indonesia juga ikut terlibat dalam konferensi tersebut dengan hadirnya Prof. Emil Salim yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Bappenas. Jadi perbedaanya hanya terletak pada formalitasnya saja bahwa Hari Lingkungan Hidup Sedunia sifatnya lebih resmi dan diperingati oleh masyarakat dan pemerintah di seluruh dunia dari Hari Bumi. Namun, secara prinsip, keduanya mempunyai tujuan yang sama yaitu menggedor kesadaran umat manusia untuk senantiasa peduli terhadap keselamatan bumi dan seluruh isinya.

Kritik Terhadap Kerakusan Manusia

Karena orientasi Hari Bumi adalah untuk mengetuk kepedulian umat manusia dalam melestarikan bumi, maka secara implisit, hari bumi ini merupakan kritik terhadap salah satu sifat manusia yang terburuk yakni rakus atau serakah. Kenapa? Karena berawal dari sifat inilah, bumi menjadi rusak dan terancam punah. Memang salah satu karakteristik manusia adalah tidak pernah puas. Manusia bukanlah malaikat atau batu yang ambisi dan pemikirannya statis. Tetapi ia merupakan mahluk yang terus berkembang dan mengurai tak pernah ada habisnya.

Sifat tak pernah puas semacam ini sebenarnya bagus dalam konteks untuk mendinamisir kehidupan dan memajukan peradaban yang sifatnya produktif, namun akan menjadi masalah besar kalau sifat itu digunakan untuk gairah konsumtif yang tak terkontrol. Selama ini yang paling menonjol dari manusia terhadap bumi adalah sifat konsumtifnya yang tak terkontrol tersebut.. Manusia selalu bernafsu mendapatkan berbagai kekayaan dalam isi bumi tapi tanpa mau berusaha untuk memperbaharuinya atau memperbaikinya. Bumi dikeruk dan dikuras sedemikian rupa oleh manusia hanya sekedar untuk memenuhi hasrat ketidakpuasannya.

Sifat kerakusan terhadap alam semesta ini semakin mendapatkan klimaksnya seiring dengan bercokolnya sistem kapitalisme ekonomi. Penggunaan sumber daya alam bukan didasarkan pada kebutuhan manusia secara wajar, melainkan sudah berorientasi pada profite oriented. Pada tahap ini kerakusan manusia diimplementasikan dalam semangat kapitalisasi dan industrialisasi. Ketika kerakusan manusia sudah berwujud monster kapital atau industri, maka sudah bisa dipastikan kerusakan bumi terus mengalami eskalasi. Karena bumi dan kekayaan di dalamnya hanya difungsikan sebagai media menumpuk-numpuk keuntungan materil.

Dalam faktanya banyak industri-industri besar yang hanya mengutamakan keuntungan ekonomi dengan menjadikan lingkungan sebagai korbanya. Sebut saja Lapindo, Freeport, Newmont dan sebagainya. Maka dari itu, sebuah negara yang semakin maju pertumbuhan industrialisasinya, lingkungannya akan semakin rusak. Dan kalau sudah begini maka yang beruntung adalah segelintir orang, yakni para pemilik modal, tapi kalau bencana-bencana alam besar datang, yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan oleh aktifitas industrialisasi, seperti banjir bandang, tsunami, pemanasan global, kekeringan dan sejenisnya, maka yang terkena langsung jelas masyarakat kecil secara luas. Semua ini, secara fundamental adalah akibat dari kerakusan dan keserakahan manusia.

Oleh karena itu, di hari bumi ini hal yang harus kita camkan adalah bagaimana masing-masing diri kita bisa mengendalikan kerakusan kita sendiri. Untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran ini tidak cukup dengan menciptakan sistem tentang penyelamatan lingkungan, tetapi yang paling fundamental adalah mengendalikan sifat kerakusan dan keserakahan manusia. Karena percuma ada sistem atau regulasi yang mengatur tentang kelestarian lingkungan kalau mental dan jiwa manusia sang pembuat sistem masih dikuasai sifat rakus dan tamak. Secara kolektif dan sistemik, pengendalian terhadap nafsu keserakahan itu kita wujudkan dalam bentuk menciptakan regulasi untuk mendeterminasi sistem kapitalisme-neoliberal. Harus ditegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan lingkungan. Bahkan industri manapun yang cenderung mengabaikan keselamatan lingkungan harus segera dituntut dan dilikuidasi. Paradigmanya sekarang harus dibalik, bahwa keselamatan lingkungan lebih urgen daripada profite ekonomi.

Akhirnya, kita harus merefleksikan kembali pernyataan pejuang kemerdekaan India, Mahatma Gandhi, bahwa ”Bumi ini mengandung cukup SDA untuk seluruh umat manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi kerakusan dan keserakahan segelintir manusia.” Kritikan tajam ini menjadi refleksi atas sikap manusia yang rakus dan tamak yang kerap dibungkus dalam jubah pembangunan ekonomi. Maka semangat penyelamatan terhadap bumi ini harus kita wujudkan dengan pengendalian terhadap hawa nafsu kita yang rakus dan tak kenal puas. Kalau masing-masing manusia di dunia ini bisa mengendalikan nafsu keserakahannya itu, maka bisa dipastikan bumi akan selamat. Dengan selamatnya bumi berarti selamatlah kehidupan. Dan begitu sebaliknya.

Muhammad Muhibbuddin adalah Pecinta Lingkungan dan Pegiat forum diskusi “Linkaran “06 Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: