MENCOBA MENDIALOGKAN ISLAM DAN SAINS

A.Pendahuluan

Dalam sejarahnya, Islam sebagai agama selalu dihadapkan pada ketegangan antara aspek ketetapan dan perubahan, antara teks dan konteks, antara komitmen orisinalitas dan tuntutan modernitas, antara ashlah dan ahdatsah—-menurut Ulil Abshar-Abdallah dalam meminjam istilah intelektual Arab mutakhir. Dengan diposisikannya sebagai agama, Islam lebih dipahami sebagai doktrin yang sakral. Dalam ketegangan tersebut, umat Islam dihadapkan pada persoalan yang cukup dilematis: diantara dua aspek di atas, mana yang harus disesuaikan? Apakah teks harus disesuaikan dengan konteks, ataukah sebaliknya, konteks yang harus disesuaikan dengan teks?. Untuk menjawab problematika di atas umat Islam umumnya terpecah ke dalam dua kubu yang berbeda. Kubu tekstualis tetap ngotot bahwa tekslah yang harus diutamakan. Apa yang dikatakan oleh teks secara literer itulah yang harus dijaga. Bahkan demi orisinalitas teks Islam itu sendiri, Islam tidak boleh berubah dan terpengaruh oleh perubahan realitas.

Islam adalah agama yang sempurna, maka idealnya realitaslah yang seharusnya menyesuaikan diri dengan Islam dan bukan sebaliknya. Kalau Islam yang harus menyesuaikan dengan realitas, sama saja mendistorsi nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam. Sementara sebaliknya, kubu Islam yang lebih mempunyai komitmen untuk kemajuan Islam lebih mengutamakan aspek kontek daripada teks. Mereka berargumen bahwa Islam adalah agama yang diproyeksikan untuk umat manusia, maka sudah sewajarnya Islam harus selalu berjalan kelindan dengan realitas yang selalu berubah. Ia harus bisa beradaptasi dengan perkembangan situasi dan kondisi dunia yang terus mengalami dinamika dan dialektika. Dengan alasan ini, maka Islam tak perlu disakralkan, melainkan justru harus direfleksikan, dikritik dan digugat terus menerus agar selalu kompatibel dengan perkembangan zaman. Karena dengan cara inilah Islam benar-benar memberi manfaat dan maslahah untuk umat manusia.

Salah satu ketegangan yang nyata, yang sekarang ini ditunjukkan oleh umat Islam adalah sikap umat Islam sendiri terhadap sains. Sikap umat Islam terhadap sains adalah wujud dilematis umat Islam dalam menjaga otentisitas ajaran Islam dengan tuntutan perubahan. Sebab sains sendiri adalah sebuah kenyataan yang harus dihadapi oleh umat Islam. Ia merupakan kenyataan sejarah sebagai konsekuensi dari berkembangnya alam berpikirnya umat manusia. Namun sebagai disiplin ilmu yang lebih mengedepankan nilai ilmiah, pandangan yang dikontruksi sains sering bertabrakan dengan pandangan yang dibangun agama. Dengan paradigmanya yang logis-psotivistik sains hanya membatasi dirinya pada hal-hal yang bisa diamati, diobservasi dan diukur secara fisik. Sains sendiri dinamakan sebagai pengetahuan yang sitematis tentang alam dan dunia fisik.[1].

Paradigma sains yang empiris dan positivistik tersebut membawa konsekuensi logis berupa dinegasikannya aspek ruhani atau spiritualitas dalam wilayah sains. Karena dimensi spiritualitas dan metafisik merupakan sesuatu yang sifatnya subyektif dan tidak bisa diobservasi secara obyektif, maka dimensi tersebut cenderung ditolak eksistensnya oleh sains. Pendepakan aspek spiritualitas ini mengakibatkan terdepaknya aspek-aspek eskatologis seperti Tuhan, malaikat, surga dan neraka dari dunia sains. Bahkan bapak positivime, August Comte membagi kualitas kebenaran ke tiga tingkat yaitu, teologi, metafiska dan positivistik. Menurutnya kebenaran postivistik adalah kebenaran yang paling absah dan valid dari keduanya. Dengan mengagungkan rasionalitas, maka segala sesuatu akhirnya dipertanyakan dan digugat oleh sains tak terkecuali Tuhan. Sehingga ujung-ujungnya Tuhan diputuskan tidak ada, karena secara emprik-logis tidak bisa dibuktikan.

Dengan diabsenkannya Tuhan dari wilayah sains itulah, kaum agamawan, termasuk Islam menjadi kebakaran jenggot. Dalam Islam, dan juga di dalam agama-agama lainnya, Tuhan adalah aspek yang paling prinsipil dan paling fundamental. Ia diyakini sebagai prima causa terjadinya alam semesta, sebagai unmoved mover dalam terminologi Aristoteles. Dengan kuatnya potensi terhadap penafian Tuhan (ateistik) inilah, maka Islam sering dikonfrontasikan dengan sains. Artinya apa yang digaungkan oleh sains selalu dikontraskan dengan apa yang diwartakan oleh Islam. Sampai saat ini umat Islam masih banyak yang menolak kehadiran sains. Sains dianggapnya sebagai unsur yang mendegradasi keimanan seorang muslim. Mengakui sains sama artinya mengakui ateistik. Maka jelas sains juga harus ditolak demi selamatnya iman.

Jelas, terjadinya perpecahan dua kubu di atas, yakni kubu Islam(agamawan) dan sains, justru hanya menghasilkan polemik yang tak menguntungkan. Dengan saling menafikan antara keduanya, kebenaran realitas menjadi terdistorsi dan terfragmentasi. Masing-masing kubu justru terjebak pada absolutisme kebenaran. Padahal, sepanjang itu masih terkait dengan dunia manusia yang profan ini, maka sebuah kebenaran tidak ada yang mutlak. Meskipun kebenaran sains diproduk melalui proses yang super ketat, namun hasilnyapun masih saja relative. Terbukti teori sains selalu berkembang setiap saat. Bahkan tak jarang antara ilmuwan satu dengan yang lain selalu berbeda pandangan. Begitu juga dengan agama (Islam). Meskipun Islam diyakini sebagai realitas yang berasal dari Tuhan, tapi ketika realitas itu direspon oleh berjuta-juta umat yang mempunyai kapasitas berpikir dan seting sosio-cultural yang berbeda-beda, maka kebenaran agama pun menjadi relative.

Ini menandakan bahwa kebenaran manusia manapun tidak ada yang mutlak. Ia akan selalu berkembang dan terus mengalami dialketika dengan sejarah. Maka sangat tidak ada gunanya mempsoisikan kebenaran Islam dan sains secara diametrial. Oleh karena itu, untuk lebih baiknya kalau antara Islam dan Sains itu diupayakan untuk didialogkan. Ini akan tentu mempunyai nilai dan urgensi yang tinggi. Dengan semangat dialog ini keduanya tidak jadi saling menafikan, melainkan saling menguatkan. Dalam konteks keimanan Islam, hadirnya sains ini akan menjadi daya topang yang kuat terhadap keimanan seseorang. Sehingga seorang muslim bisa berpikir ilmiah tanpa harus mengirbankan keimanannya. Dan inilah yang sudah pernah dicontohkan oleh ilmuwan-ilmuwan Islam di era kejayaan Islam. Pakar-pakar ilmu penegtahuan pada waktu itu seperti al-Khawarizmi, al-Biruni, Ibnu Shina dan yang lainnya mampu menemukan teori-teori baru dalam keilmuan, namun mereka tetap menjadi orang Islam yang kuat keimanannya.

Maka persoalannya di sini masih mungkinkah dialog sains dan agama Islam diupayakan? Bagaimanakah cara mendialogkan antara Islam sebagai agama dengan sains itu mungkin? Sejauhmana manfaat yang dicapai dari sistem dialog tersebut? Persoalan ini akhirnya juga menyangkut tentang islamisasi sains. Dalam konteks ini cukup mewakilikah islamisasi sains yang telah diusung oleh para ilmuwan Islam sekarang? Persoalan-persoalan inilah yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

B. Antara Islam (agama) dan sains

Untuk memulai pembahasan ini barangkali akan lebih efektifnya kalau kita lacak dahulu antara karakter Islam sebagai agama dengan sains. Karakter utama sains adalah keberaniannya untuk memasuki ruang falsifikasi.[2] Karlpoper sendiri bilang bahwa sains sejati harus sungguh-sungguh berusaha mengajukan petunjuk bukti yang bisa menunjukkan bahwa pemikiran-pemikirannya memang keliru. Artinya, berbagai macam klaim-klaim sains harus berani menjalani proses “falsifikasi” itu.[3] Dalam hal ini status keilmiahaan sebuah sains bisa lebih kuat apabila memang lolos dalam proses falsifikasi tersebut. Artinya apabila sebuah teori sains baru dikatakan benar kalau memang benar-benar bisa membuktikan bahwa kebersalahan yang dicari dalam fasifikasi tersebut memang tidak ada. Kesediaan sains untuk difalsifikasi ini justru akan memurnikan dan menguatkan kebenaran saint sendiri; hal ini pun merupakan cara bahwa sains merupakan cara belajar yang terbuka, jujur dan obyektif untuk mengungkap sebuah realitas atau hakekat.

Namun seperti kata John Haught, Guru besar teologi Universitas Georgetown, AS, bahwa dapatkah agama memperlihatkan sebuah keterbukaan yang sebanding? Kaum ilmiah skeptik menyatakan bahwa agama tidak mempunyai keberanian yang kuat untuk difalsifikasi seperti sains. Agama adalah sistem kepercayaan dan praktik yang sesuai dngan kepercayaan tersebut.[4] Secara konvensional, dalam sistem kepercayaan ersebut, agama sering diposisikan sebagai kebenaran yang taken for grented. Bahkan seringkali ajaran agama diyakini sebagai ajaran langit, wahyu dari Tuhan, sehingga mau tidak mau harus diytakini dan dilaksanakan. Oleh karena itu, karakter utama agama adalah justru kebalikannya, yakni tidak bersedia untuk difalsifikasi. Ia cenderung menjadi produk kebenaran yang absolut. Ini tentu berbeda dengan sains yang masih membuka ruang realtivisme. Absolutime inilah yang menjadikan agama lebih berorientasi pada usaha mempertahankan pakem-pakem kebenaran yang ada di dalamnya tanpa bersedia untuk diuji. Tuhan sebagai pusat pembicaraan dalam agama dianggap sebagai kennyataan mutlak yang tak perlu diragukan lagi. Sehingga keberadaan Tuhan merupakan aksioma yang melampoi falsifikasi itu sendiri.

Begitu juga dengan Islam, sebagai agama ia cenderung dijadikan—–dalam bahasa Arkoun—sebagai korpus tertutup tanpa mau membuka akses terhadap pemikiran-pemikiran lain yang lebih rasional dan kritis. Bahkan mayoritas umat Islam merespon Islam tidak secara realistis, melainkan secara normatif. Sehingga yang nampak adalah ideal-ideal Islam itu sendiri. Dan inilah, tanpa sadar, yang sering meninabobokan umat Islam sendiri. Seolah-olah Islam memang agama yang tertinggi dan tidak ada yang mengunggulinya. Umat Islam tidak melihat secara riel bagaimana negara-negara Islam yang sampai sekarang masih dalam cengkraman kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan. Dari sinilah umat Islam sendiri jarang sekali meninjau kembali pakem –pakem ajarannya yang telah dijadikan pegangan. Otokritik terhadap doktrin-doktrin Islam jarang sekali dilakukan oleh umat Islam. Pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap wacana Islam kurang mendapatkan tempat dalam Islam.

Memang absolut dan relativnya agama ini juga bukan semata-mata an sich dari langit. Tetapi juga hasil ciptaan penganutnya. Artinya kalau mau jujur, nilai-nilai agama itu sendiri sebenarnya tidak secara inheren bernilai relegius, tetapi juga tergantung para penganutnya dalam menyikapi nilai-nilai dan ajaran-ajaran agama tersebut. Khususnya di dunia timur. Banyak para penganut agama yang memperlakukan pemikiran timur sebagai agama.[5] Maka sangat wajar, Islam sebagai bagian dari sistem pemikiran Timur telah diperlakukan sebagai agama. Padahal kalau sebuah sistem pemikiran sudah mengkerucut menjadi sebuah sistem keprcayaan atau agama, maka pemikiran tersebut cenderung disakralkan dan didogmakan. Sehingga sulit sekali untuk melakukan perubahan atau pembaharuan.

Sementara itu karakter lainnya adalah bahwa sains, dengan paradigmanya yang rasionalis-positivistik tersebut, cenderung mengarah ke sekulerisme. Sekulerisme menurut George Jacob Holyoake adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama-agama-wahyu atau supernaturalisme.[6] Sementara Islam justru dikategorikan sebagai agama wahyu yang secara otomatis menolak sekulerisme. Oleh karena itu sains lebih memilih untuk mandiri dan tak mau berurusan dengan transendentalisme yang diusung Islam dan agama-agama wahyu lainnya, sementara Islam juga bersikeras untuk menolak sains sekuler tersebut. Inilah karakter-karakter mendasar yang sediit banyak mempengaruhi terjadinya ketidakakuran antara Islam dan sains.

-Arogansi sektoral

Sebenarnya munculnya ketegangan antara Islam dan Sains tersebut, bukan saja disebabkan oleh perbedaan karakternya di atas, tetapi juga oleh keangkuhannya masing-masing. Arogansi sektoral masing-masing, antara Islam dan sains sendirilah yang menyebabkan mereka sulit berkompromi. Arogansi sektoral ini tercermin dalam over confiden masing-masing sains dan agama dalam menggunakan metodologi dan paradigamanya dalam menemukan kebenaran ilmiah.

Seperti yang telah disinggung di atas bahwa, sains adalah pengetahuan yang obyeknya empiris, paradigmanya postivistik dan kebenarannya ditentukan oleh ukuran logis dan bukti empiris.[7] Dengan paradigma semacam ini sains hanya menganggap benar terhadap hal-hal yang bisa diobservasi dan diukur secara logis-positivistik. Obyek yang tidak memenuhi kualifikasi paradigma tersebut, oleh sains tidak dianggap ilmiah. Bagi para scientist satu-satunya sumber ilmu adalah pengalaman empiris melalui persepsi indrawi—-lebih khusus lagi melalui metode induksi. Metode deduksi yang ditempuh oleh akal atau nalar sering dicurigai sebagain apriori, yakni tidak melalui pengalaman atau aposteriori. Sementara pengalam intuitif sering dianggap sepi hanya sebagai sebuah halusinasi atau bahkan sebagai ilusi belaka.[8] Dengan arogansinya ini, maka sains tidak bersedia menerima hal-hal yang sifanya spiritual dan metafisik, karena dianggapnya tidak bisa diobservasi.

Begitu juga Islam. Sebagai agama, Islam oleh para pemeluknya diposisikan sebagai sistem ajaran yang kelewat sakaral dan doktrinal, sehingga ajaran-ajaran Islam sulit untuk disentuh apalagi dipermasalahkan. Akibatnya Islam menjadi sebuah paham yang tertutup dan tidak diperbolehkan untuk berdialog dan berdilektika dengan diskursus disiplin lain, termasuk dengan sains. Karena sains modern sudah terlanjur dianggap sekuler dan cenderung atheis, maka Islam mencoba melindungi diri untuk tidak terkontaminasi oleh pengaruh sains tersebut dan lebih mengutamakan keunggulan teks-teks kitab suci . Para ulama Islam lebih cenderung mengagungkan nalar bayani dari pada burhni. Mereka menganggap teks-teks ilahiah dalam kitab suci dan tradisi kenabian jauh lebih valid dari sains sehingga lebih mudah menolak sumber-sumber non-skriptural sebagai sumber otoritatif untuk menjelaskan kebenaran sejati.[9] Maka tidak heran kalau Nasr Hamid Abu Zaid sendiri mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban yang berputar-putar di sekitar teks.

Karena hanya mengutamakan teks-teks keagamaan itulah maka, umat Islam tidak mau lagi mengoptimalkan rasionya untuk menggali kebenaran-kebenaran yang jauh melebihi teks. Karena hanya merujuk pada teks, maka umat Islam sangat minim dalam melakukan eksplorasi dan eksperimentasi terhadap ayat-ayat kauniyah Tuhan yang tentu saja jauh lebih luas daripada wahyu Tuhan yang verbal. Kalau sains lebih banyak mengeksplorasi ayat-ayat Tuhan yang sifatnya kontekstual (kauniyyah), maka Islam justru menjadikan teks sebagai sentral dalam mencari kebenaran Tuhan. Dari sinilah, maka temuan-temuan teori baru sering ditemukan oleh sains daripada Islam. Para ilmuwan sudah banyak menghasilkan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan, namun umat Islam masih terus terperangkap dalam jaring-jaring teks kitab suci yang membuat dirinya justru terbelakang.

Fenomena di atas akhirnya menghasilkan kesenjangan yang akut. Sains positivistik yang cenderung sekuler tersebut akhirnya kehilangan landasan etisnya. Akibatnya sains hanya berfungsi untuk sains itu sendiri. Perkembangan sains tidak lagi mempertimbangkan nilai-nilai ilahiayah dan pertimbangan moralitas. Kosmologi yang diciptakan sainspun adalah kosmologi yang tak memperkenalkan unsur-unsur spiritual, seperti tuhan, malaikat, dan ruh[10]. Akhirnya sains jutru sering mengakibatkan banyak kerusakan di muka bumi. Aplikasi sains akhirnya tidak terkontrol, sehingga justru menjadi bumerang sendiri terhadap kehidupan manusia. Kita lihat bagaimana tragedi peledakan bom atom yang menghancurkan alam dan kehidupan manusia, hutan banyak yang gundul, pencemaran lingkungan atau seperti isu yang paling mutakhir yakni pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change). Semua ini adalah karena kemajuan sains yang tanpa dilandasi oleeh nilai-nilai etis yang bersumber dari dimensi spiritual-ilahiyah. Bahkan terhadap manusia sendiri pun sains bersikap tidak adil. Dalam kacamata sains modern, manusia dipandang semata-mata sebagai mahluk fisik dengan sistem saraf yang sangat rumit, tetapi yang tidak cukup menghasilkan jiwa sebagai sebuah substansi materiil.[11]

Sementara di sisi lain, Islam tak bisa berbicara apa-apa terhadap lingkungan sekitar dan seluruh alam semesta. Karena hanya terpaku pada teks, Islam yang seharusnya mampu melakukan transformasi terhadap realitas akhirnya justru beralih fungsi menjadi alat jaustifikasi terhadap realitas. Islam yang sejatinya diproyeksikan untuk kemaslahatan umat dan alam semesta (rahmatallilalamiin) akhirnya justru mandul. Bahkan seringkali demi membela sebuah teks, Islam seringkali dijadikan alasan pemeluknya untuk melakukan tindakan-tindakan yang destruktif.

-Upaya dialog

Dalam rangka mengakhiri kesenjangan antara Islam dan sains inilah maka harus segera diupayakan untuk mendialogkan antara keduanya. Memang harus diakui bahwa antara Islam dan sains terdapat sejumlah perbedaan yang prinsipil, namun bukan berarti keduanya tidak bisa berdialog. Satu hal yang harus digaris bawahi adalah bahwa baik Islam, sebagai agama, dan sains hanyalah paradigma atau pendekatan untuk memahami realitas. Karena hanya sebagai pendekatan, maka keduanya tak lepas dari pengaruh ruang dan waktu. Karena masih dalam pengaruh ruang dan waktu , maka baik Islam maupun sains sifatnya tentu realtiv. Karena sifatnya yang relativ itulah maka kedua-duanya tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan. Baik sains maupun “Islam” tetap mempunyai keterbatasan dalam memahami realitas. Oleh karena itu, supaya bisa mengarah ke pemahaman yang holistik dan komprehensif, keduanya harus dikonvergensikan.

Keterbatasan sains tersebut jelas nampak pada sifatnya yang sangat tergantung pada indera. Dalam konteks metodologisnya, sanis modern, seperti dikatakan oleh Ziauddin Sardar, pada dasarnya hanya mengenal satu metode ilmiah yang disebut observasi atau eksperimen[12]. Yang namanya observasi atau eksperimen, alat utamanya tentu indera, baik indera yang alami maupun yang sudah dibantu dengan kecanggihan teknologi. Padahal sekuat-kuatnya indra, pasti ada batasnya. Bahkan indera seringkali menipu kita. Misalnya bulan di angkasa yang terlihat kecil, padahal kalau kita dekati sebenarnya sangat besar. Ini menunjukkan bahwa sains, yang lebih mengandalkan observasi, masih sangat dangkal dan distorsif dalam mencerap realitas. Begitu juga dengan agama. Karena mencampakkan metode observasi dan penalaran rasional, maka Islam sebagai agama akhirnya menjadi dogma yang mati. Pengetahuan Islam hanya dipahami secara turun temurun dan tidak boleh diganggu gugat. Akhirnya Islam semakin lama bukan menjadi agama yang selalu up to date dan bisa menjawab tantangan zaman, melainkan justru menjadi dongeng dan takhayul pengantar tidur. Kalau sudah begini maka benar kata Marx bahwa agama adalah candu masyarakat. Oleh karena itu, mendialogkan Islam dan sains bukan hanya harus tetapi juga penting. Tujuan utama mendialogkan Islam dan sains tersebut adalah untuk menjembatani kedua tebing tersebut agar bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing. Dengan kesediaan untuk bertegur sapa, baik Islam maupun sains bisa saling memperbaiki diri dan menambal kekurangan masing-masing. Sehingga nantinya baik Islam maupun sains bisa melahirkan pemahaman yang utuh.

Dalam dialog ini ada beberapa metode yang sudah ditawarkan oleh para ilmuwan. Diantaranya adalah pendekatan yang ditawarkan oleh John F. Haught.[13] Dalam hal ini Haught mengintrodusir dua pendekatan yang bisa digunakan untuk mendialogkan agama dan sains yaitu pendekatan kontaks dan pendekatan konfirmasi. Pertama, pendekatan kontak, di dalam teori ini dikemukakan sebuah asumsi bahwa pengetahuan ilmiah dapat memperluas cakrawala keyakinan religius dan bahwa perpspektif religius dapat memperdalam pemahaman kita tentang alam semesta. Dalam pendekatan kontak ini seseorang memang tidak berusaha membuktikan keberadaan Tuhan berdasarkan sains, tetapi sudah cukup puas kalau menafsirkan penemuan-penemuan ilmiah di dalam kerangka makna keagamaan. Sudah tidak masanya lagi gagasan-gagasan ilmiah dapat digunakan untuk memperkuat argumen bagi eksistensi Tuhan. Tetapi toh masih diyakini juga bahwa, tanpa melakukan campur tangan ke dalam metode-metode yang khas bagi seorang ilmuwan, keyakinan keagamaan tumbuh subur di samping sains.

Dalam pendekatan ini masing-masing pihak sadar, bahwa baik Islam maupun sains mempunyai paradigmanya sendiri dan istilahnya sendiri, namun dalam dunia nyata ia tidak bisa dikotak-kotakkan secara mutlak. Keduanya, dalam wilayah masing-masing, tetap berdialog untuk bersama-sama menghasilkan makna bersama, suatu makna yang lebih sempurna daripada makna yang diproduksi dari salah satunya saja.

Sementara yang kedua, pendekatan konfirmasi. Mendialogkan Islam dan sains melalui pendekatan ini berlandaskan pada sumsi dasar bahwa agama dengan suatu cara yang sangat mendalam, mendukung seluruh kegiatan ilmiah. Sesuai dengan namanya, “konfirmasi”-istilah ini menurut Haught mempunyai padanan kata “memperkuat” atau mendukung”. Bahwa artinya agama, kalau dimurnikan secara hati-hati dari implikasi yang menyesatkan, bisa mendukung sepenuhnya dan bahkan melandasi upaya ilmiah dalam memberi makna kepada alam semesta. Namun yang harus digarisbawahi disini adalah bahwa istilah mendukung atau memperkuat di sini bukan berarti mendukung atau memperkuat segala upaya dan efek-efek destruktif yang dilakuakan oleh sains. Tetapi dengan penguatan aspek relegius ini dimaksudkan bahwa pada prinsipnya agama sangat mendukung upaya-upaya penyelidikan ilmiah atas kosmos.

Sains, menurut Haught adalah sebuah kerinduan yang rendah hati akan pengetahuan. Dan kerinduan yang netral akan pengetahuan ini dteguhkan dengan sangat kuat oleh penafsiran relegiusitas atas alam semesta. Jadi pada pendekatan ini, Islam berfungsi sebagai pendorong atau penarik munculnya usaha-usaha peneyelidikan ilmiah. Islam atau agama memberikan semacam tantangan atau “tambahan kerinduan” pada sains untuk segera melakukan peneyilidikan ilmiah terhadap alam semesta. Dorongan atau tantangan itu berupa keyakian a priori. Jadi tanpa mendasarkan keyakinan a priori bahwa alam semesta adalah sebuah totalitas benda-benda yang tertata secara rasional, sains tidak akan muncul.

Para ilmuwan selalu bersandar pada keyakinan tersekubung bahwa “di luar sana” ada suatu dunia yang nyata; bahwa dunia yang nyata ini tentu tetap bersatu; bahwa akal budi manusia mampu memahami paling tidak beberapa sifat yang masuk akal dari dunia ini; dan bahwa seberapa jauh pun kita melakukan peneyelidikan, kita toh masih ada saja segi-segi dari inteligibilitas yang dapat disingkapkan. Tanpa kepercayaan seperti ini, maka tidak mungkin ada dorongan untuk mencari tatanan yang ada dalam alam atau terus menggali lebih dalam lagi ke hal-hal spesifik dari tatanan ini.[14] Pendekatan ini hampir sama dengan konsep agamanya Einstein yang diartikan sebagai kepedulian tertinggi (ultimate concern) atau sebagai cita rasa akan misteri alam semesta sehingga membuat hati seseorang untuk selalu meneliti, menggali dan mengeksplorasi hukum-hukum alam sendiri.

Masalah Islamisasi sains

Berbicara seputar dialog Islam dan sains, mau tidak mau kita juga harus sedikit banyak menyinggung konsep islamisasi sains. Diskursus yang mencuat di era 70-an ini merupakan kritik para intelektual muslim modern terhadap perkembangan sains barat yang cenderung pada dehumanisasi dan robotisasi masnusia. Para intelektual Islam yang turut menjadi penggagas lahirnya islamisaisi sains diantaranya adalah Ismail Raji al-Faruqi, Sayyed Husain Nasr, Ziauddin sardar dan sebagainya. Menurut Armahedi Mahzar, isu islamisasi sains ini pertama kali muncul tahun ‘70 an yang dipicu oleh tulisan Seyyed Hosein Nasr tentang islamic science. Sains Islam yang diidealkan Nasr adalah sains yang bisa menjadi alternatif terhadap sains barat selama ini yang cenderung sekuler dan materialistik.

Masih manurut Mahzar,[15] pandangan Nasr ini dimungkinkan karena Thomas Khun berbicara tentang eksistensi revolusi paradigmatik dalam sejarah barat. Yang namamnya paradigma adalah filsafat aksara yang berada dibalik sains yang biasanya dipahami oleh para saintis. Namun sayang, sebagaimana yang dikatakan oleh Zainal Baqir bahwa meskipun Islamisasi sains pernah mencuat, namun tidak ada kesepakatan diantara para pendukungnya mengenaui maknanya. Tokoh-tokoh seperti Ismail Raji al-Faruqi, Naquib al-Attas, Seyyed Hosein Nasr, Ziauddin Sardar sering mengajukan gagasan tentang Islamisasi sains, namun beberapa tokoh tersebut mempunyai kekhasan masing-masing. Ini artinya bahwa Islamisasi sains belum terrumuskan dengan jelas. Dengan demikian isu Islamisasi sains ini belum representatif dan efektif untuk dijadikan sebagai upaya mendialogkan antara Islam dan sains.

Terlepas dari perbedaan konseptual dari para tokoh tersebut, yang jelas, Islamisasi sains ini akan menjadi terobosan baru manakala konsep ini tidak hanya menjadi praktik labelisasi terhadap sains. Islam di situ tidak sebagai alat Judgmen melainkan sebagai spirit atau ruh untuk mengkaji sains. Sebab kalau hanya sebatas labelisasi, maka justru akan memerosokkan Islam ke dalam kubangan ekskusivisme yang justru akan menyempitkan ruang gerak Islam itu sendiri dalam mengkaji sains. Barangkali, menurut Kuntowijoyo (2004) yang perlu dilakukan saat ini adalah pengilmuan Islam. Konsep pengilmuan Islam ini meletakkan Islam sebagai roh bagi kebebasan berpikir, karena di situ Islam menjadi substansi dan bukan label bagi suatu produk pemikiran[16].

C.Kesimpulan

Dari paparan di atas maka bisa ditarik kesimpulan bahwa meskipun terdapat beberapa perbeedaan mendasar antara Islam (agama) dan sains, tapi bukan berarti kedua hal tersebut tidak bisa didialogkan. Keduanya bisa tetap bisa didialogkan, dan ini sangat urgen karena untuk menciptakan pemahaman yang lebih baik tentang konsep dunia dan kehidupan. Masing-masing secara ontologis justru bisa saling menguatkan: Islam bisa lebih mantap dan berargumentatif karena dukungan ilmiah sains, sementara sains bisa lebih mendalam dan reflektif karena sentuhan relegius.

Bahkan Newton sendiri adalah seorang fisikawan (scientist) tapi ia juga seorang yang sangat religius yang percaya akan kepercayaan Tuhan, bahkan dalam edisi pertama buku principle Mathematic Philosophie naturalis, ia menuliskan bahwa ruang fisik tiga dimensi adalah mutlak yang tak berhingga itu sebagai sensorium Tuhan. Begitu juga dengan Einstein, bapak fisika dan penemu teori relativitas ini justru berkata bahwa agama tanpa sains akan lumpuh, dan sains tanpa agama akan buta. Ini menunjukkan bahwa tidak ada alasan untuk memposisikan sains dan agama secara diameteral, khususnya dengan Islam.

DAFTAR PUSTAKA:

-F.Haught, John, Perjumpaan sains dan agama, dari konflik ke dialog, PT. Mizan Pustaka, Bandung 2004.

-Kartanegara, Mulyadhi, Pengantar epistemologi Islam, Mizan Bandung 2003

-Tafsir, Ahmad.Prof.Dr, Filsafat Umum, PT.Remaja Rosdakarya, Bandung 2005

-Kartanegara, Mulyadhi. DR, Integrasi Ilmu, Arasy Mizan, Bandung 2005

-Ward, Keith, Dan Tuhan Tidak Bermain Dadu, Mizan, Bandung 2002

-Purwadi, Agus, Teologi Filsafat dan Sains, PT.UMM.press, Malang 2002


[1] Lih. Multadhi Kartanegara, Pengantar epistemologi Islam, 2003. Bab 2 hlm.8

[2] Teori falsifikasi merupakan teori yang dilontarkan oleh Karl Popper. Teori ini merupakan teori yang digunakan unutk menguji kevalidan sebuah kebenaran dengan mencari kebersalahan kebenaran tersebut.

[3] Lih.John.F.Haght, perjumpaan Sains dan agama, 2004. hlm.4

[4] Definisi agama ini Lih. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum,2005.hlm.9

[5] Lih. Bagus Takwin, dalam Filsafat Timur,2001

[6] Grolier International, dalam the encyclopedia Americana Vol.24, 1980

[7] Lih. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, 2005.hlm.18

[8] Lih.Mulyadhi Kartangera,Intehgrasi Ilmu, 2005.hlm.22

[9] Lih. Ibid

[10] Lih. Mulyadhi Kartanegara, Pengantar epistemologi Islam,2003.hlm.8

[11] Lih.Ibid.hlm.9

[12] seperti yang dikutip oleh Mulyadhi Kartanegara dalam bukunya integrasi Ilmu 2005 bab I.hlm.28

[13] Lih. John Haught, perjumpaan Sains dan agama, 2004. pada buku ini mengekplorasi empat pendekatan sains dan agama yaitu pendekatan konflik, pendekatan kontras, pendekatan kontak dan pendekatan konfirmasi. Untuk pendekatan konflik dan kontras bersepakat bahwa sains dan agama sudah tak mungkin disatukan lagi, tapi untuk pendekatan kontak dan konfirmasi masih optimis bahwa sains dan agama masih bisa berdialog.

[14] .Lih.Haught. hlm.27-28.

[15] Lih. Wawancara dengan Armahedi Mahzar dalam majalah humaniush tentang islamisasi sains edisi perdana 2005.

[16] Seperti yang dikutip oleh Muhammad Al-Fayyadl dalam esainya yang berjudul “Islamisasi” Skripsi VS kebebasan berpikir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: