PANCASILA DAN CITA-CITA SOSIALISME INDONESIA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
1 Juni adalah hari kelahiran Pancasila. Secara historis, ide Pancasila untuk pertama kalinya, dikenalkan oleh Bung Karno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal I Juni 1945. Ide itu merupakan jawaban Bung Karno atas pertanyaan yang dilontarkan oleh dr. K.R.T. Radjiman Wediodiningrat tentang apa dasar negara Indonesia merdeka. Dalam pidatonya itu Bung Karno menawarkan bahwa dasar negara Indonesia adalah Pancasila.
Namun meskipun demikian, Bung Karno sendiri mengaku bahwa dirinya bukanlah penemu Pancasila itu. Menurut Bung Karno, nilai-nilai yang ada pada Pancasila itu pada hakekatnya sudah hidup dan dipraktikkan selama bertahun-tahun oleh bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu sempat terkubur selama ratusan tahun oleh budaya kolonialisme di Indonesia. Maka, setelah penjajahan berhasil ditumpas dari bumi Indonesia,   Bung Karno telah menggali nilai-nilai yang tertimbun reruntuhan puing-puing kolonialisme itu dan berhasil memerasnya menjadi lima sila untuk menjadi pegangan dan dasar kehidupan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia.
Tujuan diciptakannya Pancasila sebagai idiologi kebangsaan ini selain secara geoplitik untuk mengikat dan mempersatukan seluruh teritorial Indonesia, di sisi lain juga untuk menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara, bukan semata-mata menjadi alat pengikat yang tanpa tujuan. Tetapi lebih dari itu adalah untuk menciptakan kemakmuran dan kebahagiaan bersama, menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur dan tanpa dominasi kelas, menciptakan tatanan masyarakat yang  aman dan sejahtera berdasarkan persaudaraan dan egalitarianisme.
Hal ini seperti yang tertuang dalam sila terakhir Pancasila yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ini artinya cita-cita Pancasila adalah tegaknya semangat sosialisme Indonesia, yaitu sistem kehidupan kebangsaan yang lebih mengutamakan kepentingan dan kebahagiaan bersama. Kehidupan sosialisme adalah kehidupan yang mau berbagi dan bersedia berkorban untuk orang lain.
Lawan dari sosialisme adalah egoisme, individualisme, liberalisme, kapitalisme, feodalisme, imperialisme dan sebangsanya. Karena pola-pola kehidupan semacam ini lebih mementingkan kepentingan pribadi dan golongan dan bahkan sering mengorbankan kepentingan umum untuk kepuasaan diri sendiri.
Matinya Sosialisme Indonesia
Kultur masyarakat Indonesia sendiri pada hakekatnya adalah sosialis. Namun tradisi sosialisme ini, di dalam masyarakat Indonesia, telah mengalami reduksi bahkan distorsi. Sosialisme lebih diidentikkan dengan gerakan sosialis internasional yang berada di bawah bendera Marxisme. Pada hal sosialisme Indonesia adalah sosialisme yang mempunyai beragam corak.
Hal itu seperti yang  dikatakan oleh  Mohammad Hatta dihadapan para mahasiswa Universitas Sun Yatsen, Kanton ketika beliau berkunjung ke Cina tahun 1957.  Menurut Hatta (1983) ada tiga varian gerakan sosialisme di Indonesia: pertama, sosialisme yang bercorak Marxisme. Sosialisme ini dikenalkan oleh para intelektual Indonesia dengan bertumpu pada pemikiran-pemikiran Marx. Gerakan sosialis-Marxis di Indonesia ini menemukan momentumnya seiring dengan pecahnya revolusi Rusia tahun 1917. Kala itu lahirlah partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai akibat dari revolusi tersebut. Namun PKI ini tetap mengusung sentimen nasionalisme dan sepak terjangnya lebih radikal dan revolusioner daripada komunis internasional. Hal ini ditandai dengan sering terjadinya ketegangan antara tokoh –tokoh PKI dengan tokoh-tokoh Belanda.
Kedua adalah sosialisme Islam. Gerakan sosialisme tipe ini bersumber dan terinspirasi dari ajaran-ajaran Islam. Dalam Islam banyak sekali nilai-nilai yang mengajarkan tentang sosialisme. Di antaranya adalah berasal dari pengakuan bahwa Tuhan dalam Islam adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang serta maha adil. Atas dasar ini, orang Islam mempunyai kewajiban untuk melaksanakan di atas dunia ini suatu masyarakat yang berdasarkan kasih sayang, rasa persaudaraan, tolong menolong serta keadilan sosial, agar semua manusia merasakan hidup sejahtera dan bahagia, merasakan damai dalam jiwanya.
Ketiga adalah sosialisme yang bersumber dari tradisi kolektivisme masyarakat Indonesia. Budaya masyarakat Indonesia adalah kolektivitas. Budaya kolektivitas ini tercermin dalam sistem pengelolaan tanah. Sebagaimana kata Hatta, di dalam masyarakat desa asli Indonesia, tanah bukanlah milik orang-seorang melainkan milik desa. Orang-orang dapat mempunyai hak seluas-luasnya untuk menggarap tanah itu sesuai kebutuhannya. Namun masyarakat tidak mempunyai hak milik atas tanah itu, sehingga tak seorang pun bisa menjual tanah tersebut. Apabila seseorang berhenti menggarapnya maka tanah itu dikembalikan ke desa dan diserahkan kepada warga lain yang ingin menggarapnya. Dengan demikian yang tampak adalah bahwa tanah adalah milik masyarakat dan bukan milik individu.
Semangat kolektivitas ini bahkan juga tercermin dalam kegiatan masyarakat sehari-hari yang lebih mengedepankan gotong royong, seperti membuat rumah, memanen padi, mengantar jenazah, membangun jembatan, kerja bhakti dan seterusnya. Dalam pola kehidupan sosial semacam ini nyaris tidak ada pembeda yang tegas antara kepentingan publik dan kepentingan privat. Semua seolah-olah melebur menjadi satu. Bahwa kepentingan mereka adalah juga kepentingan saya, masalah saya juga masalah mereka dan seterusnya.Dari sini jelas bahwa sosialisme pada hakektanya adalah  budaya yang genuin bangsa Indonesia. Ia beratus-ratus tahun menjadi pola hidup dan karakter yang khas bagi masyarakat Indonesia.
Terlepas dari perdebatan idiologis, sosialisme, yang merupakan budaya asli Indonesia dan menjadi cita-cita Pancasila itu, kini telah sirna. Hal ini disebabkan oleh kuatnya gempuran kapitalisme kaum kolonial Barat. Imperialisme di Indonesia adalah kepanjangan tangan dari kapitalisme Barat yang sekarang populer dengan istilah neoliberal. Bercokolnya neoliberalisme kaum imperialis di Indonesia ini telah menggerus budaya sosialis bangsa Indonesia itu. Akibatnya semangat persaudaraan, kebersamaan dan gotong royong menjadi hilang dan tergantikan dengan budaya individualisme, materialisme, egoisme dan imperialisme gaya baru.  Semboyan bangsa Indonesia yang terkenal: Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, kini tergantikan dengan semboyan Laissez faire, Laissez passer,  semboyan Sepi ing pamrih, Rame ing gawe kini berubah menjadi Sepi ing gawe, Rame ing pamrih.
Perubahan tersebut tercermin pada kehidupan para elit Indonesia yang berada di pusat kekuasaan. Mereka hanya sibuk memikirkan dirinya dan keluarganya sendiri, sementara lupa dengan nasib masyarakat kecil. Yang dipikir para elit sekarang hanya  bagaimana caranya supaya bisa terus menumpuk harta kekayaan, mengoleksi istri-istri cantik, mempertahankan kekuasaan, mendongkrak popularitas dan sebagainya.
Oleh karena itu, sangat wajar, kalau sekarang kita belum bisa mewujudkan kesejahteraan sosial dan ekonomi secara kongkrit dan merata. Karena sosialisme, yang merupakan cita-cita Pancasila sendiri telah kita telikung dan kita ganti dengan budaya kaum imperialis-kapitalis. Maka momentum lahirnya Pancasila ini harus menjadi spirit terhadap seluruh elemen bangsa untuk kembali menggali budaya sosialisme yang telah lama tertimbun oleh arogansi budaya kapitalisme-imperialisme tersebut. Tentu saja ketika sosialisme itu menjadi sebuah gerakan, harus kita sesuaikan dengan konteks dan kepribadian bangsa Indonesia. Sepanjang kita mengingkari semangat sosialisme itu, maka cita-cita Pancasila yang berupa keadilan seluruh bagi rakyat Indonesia selamanya akan menjadi mimpi.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat diskusi filsafat “Linkaran ’06 Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: