FPI HARUS BUBAR, KENAPA TIDAK?

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Prilaku barbarisme kembali dipertontonkan kembali oleh gerombolan Front Pembela Islam (FPI). Kali ini yang menjadi sasaran amukan massa para preman berkedok Islam ini adalah anggota masyarakat yang tergabung dalam Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Alasan utama mereka melakukan tindak kekerasan itu adalah tuduhan bahwa para masa yang tergabung dalam AKKBB disinyalir mendukung gerakan Ahmadiyyah yang telah diklaimnya sebagai kriminal. Ini tentu sebuah logika terbalik. Sebab bukankah selama ini FPI yang sering menggebuki orang? Kalau begitu, siapa sebenarnya yang kriminal?
FPI selama ini memang tidak sadar kalau dirinya sendiri merupakan sumber kejahatan. FPI lah yang sering membuat onar. Kisruhnya bangsa ini, salah satu penyebabnya adalah karena adanya mahluk seperti FPI itu— sekelompok preman yang sering memvonis orang lain kriminal namun sejatinya justru dirnya sendiri. Ada pepatah mengatakan, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, tapi kuman disebrang lautan kelihatan. Inilah potret FPI. FPI sebenarnya penuh dengan dosa dan noda, tangan-tangan mereka berlumuran darah orang lain, namun mereka tidak sadar dengan itu semua. Yang dilihat justru bahwa dirinya benar dan orang lain selalu salah.
Penyebabnya adalah karena FPI merasa sebagai representasi umat Islam sejagad, sehingga pandangannya mutlak menjadi ukuran. Bahkan tanpa disadari, FPI telah memplokalmirkan diri menjadi Tuhan sehingga merasa sangat berhak menentukan standar moral, merasa berhak menentukan baik – buruk, benar-salah, mu’min-kafir, sesat-tidak sesat dan seterusnya. Berani-berani berbeda dengan FPI maka akan diklaim sebagai kafir yang harus dimuncratkan darahnya.

Kegilaan masal
Tindakan barbarisme, kekerasan dan teror yang dilakuakn oleh kelompok FPI tersebut adalah potret kegilaan masal. Gila dalam arti di sini adalah sebuah kondisi di mana seseorang terhanyut oleh hasrat, emosi dan amarah. Sebuah kondisi di mana akal sehat benar-benar lenyap sehingga menjadikan seseorang tidak mampu mengontrol emosinya.
Memang sungguh berbahaya kalau seseorang sudah terjangkiti kegilaan. Sebab, kegilaan, menurut Julia Kristeva (1982), telah memerangkap manusia di dalam sikap kebinatangan, berkubang dengan muntahnya sendiri, mengembara melampoi segala fantasi:kekrasan, darah, kematian. Manusia berkubang di dalam lembah kekjaman dengan tidak menyisakan sedikit pun rasa kepuasan, ilusi atau harapan. Inilah, sebuah horor neraka yang tanpa Tuhan:tidak ada jalan keselamatan, tidak ada optimisme, tidak ada kemanusiaan, tidak ada tempat bagi rasa memaafkan. Tingkat bahaya kegilaan semacam ini semakin mencapai klimaks kalau yang terjangkiti itu bukan hanya satu orang tetapi massal seperti FPI. Masyarakat akhirnya berada dalam bayang-bayang teror yang menimbulkan ketidakamanan eksistensi.
Ke mana-mana kita selalu tidak bebas dan tidak jenak karena khawatir jangan-jangan apa yang kita lakukan bertentangan dengan kelompok si gila itu dan akhirnya kita digayang. Hidup yang di bawah ancaman teror kegilaan semacam ini sungguh merupakan siksaan. Hati dan pikiran akhirnya menjadi tidak nyaman dan terbelenggu. Inilah kehidupan yang paradoks. Tubuh kita hidup di alam bebas, tidak dalam penjara dan sangkar besi, tapi hati dan pikiran justru terbelenggu oleh ancaman ketakutan dan kekuatan-kekuatan horor. Hidup semacam inilah yang menimbulkan tekanan dan depresi dalam masyarakat.
Kalau orang-orang FPI itu akalnya waras, seharusnya mereka tidak melakukan tindakan-tindakan bodoh semacam itu. Karena saat ini masyarakat kita benar-benar berada dalam puncak kebingungan akibat karut-marutnya kondisi ekonomi. Naiknya BBM naik, biaya transport, harga barang-barang pokok dan sejenisnya adalah serangkaian masalah yang telah mendera kehidupan bangsa kita. Dalam keadaan semacam ini seharusnya setiap orang justru saling menciptakan keamanan, kenyamanan dan kasih sayang. Namun tidak bagi FPI. Dalam kondisi masyarakat yang dihantam depresi berat ini mereka justru menciptakan kekisruhan yang menambah beban kesengsaraan masyarakat.

Bubar saja, titik!
Demi terciptanya kehidupan yang sehat, aman dan damai maka mau tidak mau FPI harus bubar. Bukan berarti tidak menghargai dan mengormati kebebasan berserikat, berkumpul dan berorganisasi, tapi ini justru untuk menguatkan tradisi kebebasan itu. Karena organisasi semacam FPI itulah yang menutup ruang-ruang kebebasan itu. Ruang kebebasan dan toleransi itu bisa eksisi, kalau semua pihak atau elemen masyarakat yang ada bersedia hidup berdampingan bersama tanpa ada niat untuk menggencet yang lain, tetapi sebaliknya justru saling menguatkan dan menjaga eksistensi masing-masing. FPI selama ini bersikap arogan dan hendak menjadi predator bagi yang lain.
Selain dari itu, orang-orang FPI yang terjangkiti sakit jiwa itu, kalau masih terus dibiarkan hidup, maka cepat atau lambat akan menular kepada kelompok masyarakat lain yang masih sehat jiwanya. Kalau hal ini sampai menjadi kenyataan, maka ini merupakan sebuah tragedi. Masyarakat dan bangsa kita akan set back menjadi bangsa bar-bar, sebuah bangsa yang antara indifidu satu dengan yang lainnya bersiap untuk saling memangsa. Kalau sudah begini maka negara kita akan menjadi negara rimba. Bahwa yang kuatlah yang menang.
Menurut Erich From, kesehatan jiwa di dalam suatu masyarakat bisa tercapai bila anggota masyarakat tersebut berkembang ke arah kedewasaan yang utuh, sesuai dengan karakteristik hukum dan sifat-sifat alamiah manusia. Selama ini FPI tidak pernah dewasa dalam menghadapi persoalan. Sikap dewasa adalah sikap mengedepankan akal sehat dan hati nurani di setiap permasalahan. Salah satu bentuknya adalah bersikap toleransi dan mau musyawarah dalam memutuskan sesuatu. FPI selamanya tidak pernah toelransi terhadap pihak lain yang berbeda bahkan maunya menang sendiri.. Maka, inilah trac record preman yang dibungkus dengan baju agama. Mau kita jadikan apa negara ini kalau setiap perbedaan pandangan selalu kita hadapi dengan kekerasan dan aksi premanisme.
Memang sungguh sial nasib negara ini. Selama beratus-ratus tahun secara struktural telah berada di bawah kungkungan kolonialisme, kemudian berpuluh-puluh tahun berada di bawah rezim otoriter, kini, secara kultural berada di bawah arogansi para preman yang berkedok agama. Maka sebelum negara ini hancur di tangan para preman itu, FPI harus segera dibubarkan. Sudah menjadi kesepakatan bahwa Indonesia adalah rumah bersama bagi kelompok-kelompok yang berbeda. Semangat itu tercermin dalam semboyan kebangsaan kita :Bhinika Tunggal Ika. Maka kalau ada satu kelompok yang tidak mau menerima perbedaan itu, lebih baik minggir dari bumi Indonesia, termasuk FPI. Bubar FPI, kenapa tidak?
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat Forum diskusi filsafat “Linkaran ’06 dan koordinator Love and Peach Community (LPC) Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: