FPI, KEKERASAN DAN KEKUASAAN

OLEH :Muhammad Muhibbuddin*
Munculnya aksi kekerasan yang telah dilakukan para aktifis FPI versus AKKBB kemarin hendaknya benar-benar menjadi bahan pelajaran berharga bagi segenap bangsa ini. Satu hal yang harus dicatat adalah mengapa aksi kekerasan dan premanisme yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras semacam FPI selalu terulang. Budaya kekerasan itu seakan-akan sudah menjadi hal yang lumrah.
Terulangnya aksi kekerasan FPI itu menyisakan pertanyaan, di manakah peran pemerintah selama ini dalam fungsinya sebagai pelindung rakyat? Di manakah peran ABRI, polisi atau satpol PP yang seringkali galak, mudah memukul dan menggusur para gelandangan dan pedagang kaki lima? Kenapa ketika di hadapan rakyat kecil tak berdaya para aparat keamanan ini selalu berwajah sangar bagai singa lapar, tapi kalau dihadapan FPI kok tiba-tiba mengkeret menjadi ayam sayur? Kekerasan FPI itu kini bahkan sudah mengkristal menjadi horor-cultur: sebuah kebudayaan yang di dalamnya nilai-nilai kekerasan dan ketakutan menjadi nilai-nilai strategis di dalam berbagi aktivitas dan produk kultural. Ia tidak dipandang sebagai perbuatan kriminal tetapi justru dianggap sebagai komoditas politik yang menguntungkan oleh para penguasa.
Inilah yang secara kultural, merubah wajah Indonesia di tingkat nasional maupun global. Indonesia yang dulu dikenal sebagai bangsa yang santun dan toleran terhadap orang lain, kini berubah menjadi bangsa monster yang setiap saat siap memangsa yang lain. Kalau sasaran yang dimangsa itu adalah bangsa asing yang selama ini menindas dan mengeksploitasi Indonesia tentu no problem, tetapi yang menjadi masalah adalah ketika sasaran atau obyek aksi bar-barisme itu adalah saudara sebangsa kita sendiri. Ini tentu sebuah tragedi. Karena budaya mangsa-memangsa saudara sendiri itu bisa mengakibatkan munculnya konflik horisontal yang mengarah pada disintegrasi bangsa.

Bumper kekuasaan
Meletusnya aksi kekerasan yang telah dilakukan oleh FPI memang perlu dilihat secara kritis. Ada banyak sinyalemen yang mengatakan bahwa munculnya aksi kekerasan FPI di silang Monas adalah upaya pemerintah untuk mengalihkan isu BBM. Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Anas Urbaningrum menyangkal keras tuduhan ini dengan mengatakan bahwa analisis dan tuduhan itu adalah buah dari jalan pikiran negatif (Kompas, 5/6/2008). Memang sangat mungkin dan rasional, kalau kekerasan FPI itu dikaitkan dengan upaya pemerintah untuk membungkam isu BBM. Sebab fakta menunjukkan bahwa isu BBM yang awalnya sangat umup, kini telah hilang seiring munculnya kasus FPI. Masyarakat sekarang sudah adem, anteng dan tidak melancarkan protes terkait dengan kenaikan BBM. Demo-demo perlawanan terhadap kenaikan BBM pun sekarang sudah tak terdengar lagi.
Terlepas dari perdebatan itu, satu hal yang harus digaris bawahi adalah keberadaan FPI sendiri. Keberadaan FPI bukanlah entitas tersendiri, melainkan sangat terkait dengan sistem kekuasaan yang ada. Hal ini terlihat jelas dalam hubungannya FPI dengan para bosnya yang berlatar belakang militer. FPI sangat dikenal dekat dengan sejumlah kalangan Angkatan Darat seperti Panglima Kostrad Letjen TNI Djadja Suparman (yang kemudian menghubungkannya dengan Jendral TNI Wiranto), Mayjen TNI Kivlan Zein,Mayjen TNI Zacky Anwar Makarim, Kasum TNI, Letjen TNI Suaidi M, Wakil Panglima TNI, Jendral TNI FachrulRozi dan lain-lain. FPI juga dekat dengan pejabat kepolisian Jakarta yakni mantan Kapolda Metrojaya, Mayjen Pol Noegroho Djajoesman. FPI juga dekat dengan orang-orang di seputar Jendral TNI (Purn) Soeharto. Di masa Letjen TNI (Purn) Prabowo Subianto masih aktif di TNI, FPI (begitu juga KISDI) adalah salah satu binaan menantu Soeharto itu (TNI Watch, 28/2/1006). Bahkan, menurut Gus Dur, empat dari para jendral di atas merupakan pendiri FPI, yaitu Panglima TNI Jendral Wiranto, Pangdam Jaya Letjen TNI Djaja Suparman, kapolda Metro Jaya Nugroho Jayusman dan Kapolri Sutanto.
Keberadaan FPI yang sangat dekat para jendral itu merupakan simbol konspirasi antara kekerasan dengan kekuasaan. Dalam konteks ini, FPI secara tidak langsung sudah menjadi, apa yang disebut Louis Althusser, dengan Aparatus Represif Negara (ARN) yang berada di jalur kultural. salah satu unsur dari ARN adalah militer itu sendiri. Sementara keberadaan FPI adalah diorentasikan untuk membeck up kepentingan politik para jendral tersebut. Atas adsar ini, maka bisa dikatakan bahwa FPI adalah salah satu unsur kekuasaan yang dalam hal ini adalah militer. Aksi kekerasan yang sering dilakukan oleh para anggota FPI tidak lain adalah hasil persengkongkolan jahat antara FPI dengan militer atau penguasa tersebut. Oleh karena itu, kalau selama ini FPI selalu mengklaim dirinya sebagai pembela Islam adalah bull shit. Kekerasan yang dilakukannya tidak lain adalah bukti penghambaannya terhadap para penguasa, khususnya para petinggi militer di atas. Kekerasan yang dilakukan oleh FPI memang sudah dirancang sedemikian rupa, sehinggga sebisa mungkin para otak, dalang atau tokoh yang menyeponsorinya tidak diketahui oleh publik.
Sutradara yang merancang aksi kekerasan FPI tersebut adalah para jendral dan pejabat yang berdiri di belakang layar. Mereka hanya berperan sebagai pengendali dan pengomando yang cukup merancang strategi dan memberikan instruksi kepada begundal-begundalnya itu. Para penguasa telah melakukan perbuatan lempar batu sembunyi tangan. Ia telah menempeleng orang, tetapi pinjam tangan orang lain supaya tidak diketahui. Tangan lain itu adalah FPI. Maka wajar, sepanjang FPI melakukan tindakan anarkis penyelesaian hukumnya selalu tidak jelas. Kekerasan yang dilakukan FPI adalah sudah berulang kali dan sudah melahirkan banyak korban. Sebenarnya kekerasan itu sudah masuk extra-ordinary crime. Namun pada kenyataannya pemerintah maupun aparat terkesan tidak pernah tegas menindak para anggota FPI itu, bahkan cenderung membiarkannya.
Kekerasan yang terrencana semacam FPI itulah, dalam pandangan Jean Baudrillard terkenal dengan istilah kriminalitas sempurna (the perfect crime). Artinya kejahatan telah melampoi realitas kejahatan itu sendiri, sehingga kini menemukan bentuknya yang baru, yaitu bentuk hiper kriminalitas. Kejahatan sempurna adalah kejahatan yang dengan jitu membunuh realitas. Menurut Yasraf Amir Pilliang (2006) kejahatan itu begitu rapi direncanakan, diorganisasi, dan dikontrol, sehingga ia bisa menyembunyikan dirinya dari jangkauan perangkat hukum; seolah-olah tidak ada barang bukti, tidak ada pelaku, tidak ada korban, tidak ada motif, tidak ada kejadian. Wajah kejahatan begitu sempurna disembunyikan.
Dalam perspektif ini kita tentu sangat sangsi apakah para pelaku FPI yang selama ini katanya sudah ada yang ditangkap oleh kepolisian apakah memang benar-benar anggota FPI yang suka bikin onar ataukah sekedar hanya aktor bentukan para penguasa. Begitu juga apakah mereka ini memang benar-benar dikasih hukuman yang setimpal atau hanya sekedar ditangkap sementara dan kemudian dilepaskan lagi.Untuk menjawab persoalan itu tentu sangat tergantung pada pejabat pemerintah dan petinggi militer yang berdiri di belakang FPI.
Oleh karena itu, kalau para pejabat dan penguasa militer itu masih mempunyai hati nurani dan akal sehat, seharusnya mereka secepatnya menghentikan praktik politiknya yang kotor itu. Penghentian praktik politik itu dibuktikan dengan pembubaran organisasi FPI itu sendiri. Jadi kalau pemerintah, seperti yang banyak diberitakan, sudah menangkap para aktifis FPI yang terbukti melakukan kekerasan di Monas dan menjadikan Habib Rizieq sebagai tersangka, itu belum cukup. Langkah pemerintah harus dilanjutkan pada pembubaran FPI.Sebab percuma, kalau pemerintah sekarang menangkap para aktifis FPI, kalau organisasi ini tetap dibiarkan hidup. Sebab, suatu saat, organisasi ini pasti dimanfaatkan lagi oleh penguasa atau petinggi militer untuk berbuat anarkis demi kepentingan politiknya.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat Forum diskusi Filsafat ”Linkaran ’06” dan koordiantor Love and Peace Community (LPC) Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: