SPIRIT AL QUR’AN DAN PEMBRANTASAN MAFIA PERADILAN

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional digelar kembali. Festival seni baca al-Qur’an nasional ke 22 yang menelan biaya milyaran rupiah ini digelar di Serang Banten dan telah dibuka secara resmi oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono Selasa (17/6) malam. Secara kuantitas MTQN kali ini cukup meriah, selain dananya yang cukup gede, juga diikuti oleh banyak peserta dari santero nusantara. Kurang lebih 3.186 qori’ dan qori’ah dari 33 provinsi siap bertanding dalam arena musabaqah ini.
Dalam sambutan pembukaannya, presiden SBY berpesan kepada seluruh umat Islam agar meletakkan al-Qur’an sebagai pegangan dalam prilaku dan bertata cara untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat (Kompas, 18/6/2008). Pesan presiden SBY tersebut patut kta renungkan. Sebab, dalam praktik kehidupan sehari-hari kita sebagai umat Islam, sadar atau tidak, memang sering tidak sinkron dengan apa yang menjadi pesan moral al-Qur’an sendiri atau ratio ethic al-Qur’an —dalam bahasanya Fazlurrahman. Apa yang kita baca dari yang tersurat hampir selalu bertabrakan dengan yang tersirat.

Al-Qur’an versus mafia peradilan
Fenomena paradoksal itu sangat nyata , terutama, dengan kondisi bangsa kita yang sekarang ini sering dilanda kekalutan, baik yang disebabkan oleh kekerasan, ketidakadilan maupun penyelewengan. Belum lama kita dihebohkan kenaikan BBM, kemudian disusul aksi anarkhisme FPI, sekarang kita diramaikan lagi dengan maraknya mafia peradilan. Hal ini seiring dengan terkuaknya sekandal para pejabat Kejaksaan Agung, antara lain Kemas Yahya Rahman (KYR)—ketika masih menjadi JAM pidsus, JAM datun Untung Uji Santoso (UUS) dan Urip Tri Gunawan, yang bersekongkol dengan tersangka Artalyta Suryani (Ayin). Sekandal itu jelas menampar wajah lembaga penegakan hukum itu.
Fenomena buruk itu, jelas bertentangan dengan pesan moral al-Qur’an. Bagaimana tidak? al-Qur’an sendiri menyerukan tegaknya keadilan. Kejakgung sebenarnya mempunyai tugas mulia seperti yang diserukan al-Qur’an ini namun sayang dalam praktiknya lembaga ini justru menjadi sarang para pecundang dan penelikung hukum.
Wahai orang-orang yag beriman, begitulah kata al-Qur’an (QS 4:135), jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, emnjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah akan lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.
Jelas bahwa al-Qur’an sangat mengecam segala macam penyelewengan. Karena penyelewengan merupakan salah satu bentuk perlawanan terhadap nilai keadilan. Mafia peradilan adalah salah satu bentuk penyelewengan yang dikutuk al-Qur’an di atas. Sekandal kejaksaan Agung yang melibatkan beberapa oknum pejabat kejaksaan adalah cermin dari hilangnya spirit keadilan dalam dunia peradilan kita. Ciri prilaku adil adalah menindak prilaku kejahatan sesuai dengan hukum yang berlaku. Apa yang dilakukan oleh oknum kejaksaan justru sebaliknya. Mereka bukannya menindak dengan tegas pihak yang bermasalah, melainkan justru diajak sebagai partner untuk berkomplot demi mengeruk keuntungan pribadi .
Sebagaimana kata Laode Ida (Jawa Pos, 18/6/2008) pelaku penyimpangan uang negara merupakan target operasi, bahkan sebagai proyek basah yang diskenariokan segelintir pejabat dalam upaya saling mengamankan sehingga seolah-olah masalahnya bersih dan tidak merugikan uang negara. Praktik semacam ini sudah merupakan tindakan kafir karena secara terang-terangan telah mengkhianati hati nuani dan nilai-nilai kemanusiaan. Inilah atheisme yang telanjang. Jadi kafir atau atheis bukan semata-mata karena seseorang tidak sholat, puasa atau tidak percaya kepada tuhan secara konvensional. Kafir, dalam akar kata bahasa Arab mempunyai arti menutupi. Ia bisa diartikan dengan tertutupnya hati nurani dari cahaya kebenaran ilahi.
Jadi orang kafir adalah orang yang kehilangan kesadarannya akan yang ilahi. Dalam kerangka makna ini, menutupi hati nurani dengan materi hingga menyebabkan tercampaknya nilai-nilai kemanusiaan adalah kafir. Karena spirit kemanusiaan pada hakekatnya adalah pengejawantahan atau aktualisasi nilai-nilai keilahian. Mental kafir ini menurut Nurcholis Madjid (1995) hanya memiliki sikap hidup yang bersifat jangka pendek:mudah tertipu oleh kenikmatan hidup segera yang sementara dan lalaidari hidup masa depan yang lebih abadi, khususnya hidup sesudah mati.
Sungguh ironi dan naif para oknum JAM yang seharusnya menjunjung tinggi nilai-niai kejujuran dan keadilan malah terjebak dengan uang dan kekayaan material yang sifatnya instan sehingga nekat menerabas ketentuan-ketentuan moral yang ditetapkan oleh Kejakgung sendiri. Seluruh dimensi kemanusiaan, etika dan moralitas Kejakgung akhirnya tersingkirkan, kalah dengan nalar kafir para oknumnya yang rakus dengan uang dan materi tersebut.
Memang susah apabila sebuah institusi kejaksaan, dipegang oleh orang-orang yang kafir. Orang-orang seperti ini hatinya benar-benar buta tertutup uang sehingga tidak bisa melihat masalah secara benar dan jernih akhirnya mudah nabrak sana nabrak sini.

Kembali ke spirit al-Qur’an
Melihat bobroknya mentalitas para aparat penegak hukum di atas, maka MTQ nasional ke 22 harus menjadi pelecut bagi kita semua untuk membrantas keculasan dan penyelewengan hukum tersebut. Spirit al-Qur’an yang menggaungkan tegaknya keadilan harus kita tanamkan dalam diri kita masing-masing dan kita olah menjadi energi untuk melawan mafia peradilan yang sudah menggurita di lembaga kejaksaan tersebut.
Secara struktural, ini merupakan tanggung jawab Hendarmaan Supandji untuk segera menindak dengan tegas para anak buahnya yang menyeleweng tersebut dan menggantikan dengan orang-orang yang kapabel dan kredibel. Sementara secara kultural adalah tanggung jawab kita semua untuk senantiasa mentradisikan pola kehidupan yang berorientasi pada cinta keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan . Untuk menempuh itu, maka budaya “kafir” yang berkembang dalam kehidupan kita, terutama di lingkungan kejaksaan, harus kita minimalisir dan kalau bisa kita bunuh. Pola kehidupan dan budaya kafir tersebut nampaknya memang sudah berurat dan berakar di lingkungan kejaksaan, oknumnya banyak yang terjebak dengan persoalan pragmatis, instan dan aji mumpung. Maka lahirlah mafia peradilan yang bergentayangan di lembaga peradilan itu.
Karena itu, dalam spirit al-Qur’an, untuk membrantas mafia peradilan tersebut, tidak cukup dengan merevolusi oknumnya, tetapi juga merevolusi kultur dan tradisi “kafir” yang selama ini sudah terbangun kuat dalam sistem budaya dan lembaga peradilan tersebut.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06”Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: