POTRET BURAM DUNIA PENDIDIKAN

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Mungkin ini sebuah paradoks. Yogyakarta ternyata bukan hanya sebagai kota pelajar atau kota pendidikan tetapi juga menjadi kota pengangguran. Yogya bukan hanya menjadi daerah yang mencetak para akdemisi dan para sarjana, tetapi juga mulai menelurkan banyak pengangguran. Sebuah data menunjukkan, jumlah pengangguran di DIY tercatat 148.696 orang. 21.000 di antaranya berpendidikan S1 dan S2. Selebihnya lulusan SMA dan SMP (Republika, 23/6/2008).
Selanjutnya lebih ironis lagi, kepala dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, Hendarto Budiyono menyatakan bahwa pengangguran di DIY merupakan pengangguran tertelajar. Sebab, mereka berasal dari 120 perguruan tinggi negeri dan swasta  ytang mempunyai 550 program studi di Yogyakarta. Kalau direflekiskan secara mendalam, ini barangkali sebuah fenomena yang sangat mengherankan. Sebab, bagaiamana mungkin para sarjana, kaum intelektual, akademisi bisa menjadi pengangguran? Bukankah mereka adalah tenaga-tenaga profesional yang sedikit banyak mempunyai bekal pengetahuan, skil dan pengalaman yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang tidak bisa menginjakkan kakainya di kampus-kampus.
Memang kuliah atau belajar di perguruan tinggi bukanlah semata-mata untuk mencari kerja. Ada yang lebih penting dari sekedar kerja atau uang yaitu ilmu pengetahuan. Sebab ilmu pengetahuan ini merupakan perangkat (shoftware) kemanusiaan yang bisa mengantarkan seseorang kepada “kesempurnaan.” Namun persoalannya lagi-lagi adalah kok bisa para sarjana –S1 bahkan S2— itu nganggur. Kok bisa kaum intelektual, orang yang berilmu menganggur. Lantas untuk apa belajar tinggi-tinggi kalau akhirnya hanya menjadi pengangguran. Seharusnya yang berhak nganggur itu orang-orang yang tersingkirkan dari dunia pendidikan.
Jelas ini sebuah masalah yang menggelikan. Sebab di dalam kehidupan justru banyak orang yang tak pernah ngambah sekolah justru produktif. Thomas Alfa Edison misalnya, tidak lulus SD tapi menjadi ilmuwan besar. Bahkan tak jarang itu ditunjukkan oleh para penyandang cacat. Dalam sebuah acara Kejamnya Dunia yang merupakan sebuah acara salah satu stasiun TV swasta pernah menayangkan seorang yang tak mempunyai dua tangan. Tetapi ia tidak nganggur, justru sangat produktif. Setiap harinya dia bekerja keras untuk menghasilkan uang dan ternyata bisa.  Ini barangkali salah satu fenomena saja. Dan tentu masih banyak di dunia ini contoh atau fenonema yang seperti itu. Sekarang kalau penyandang cacat saja bisa berkarya, minimal bisa menghidupi dirinya sendiri, kenapa para intelektual, kaum sarjana itu tidak bisa? Kenapa harus menggantungkan diri pada perusahaan atau lowongan PNS.

Krisisnya Etos Kemandirian
Salah satu peneybab yang paling mendasar trerjadinya pengangguran kaum akademik itu adalah karena minimnya jiwa atau etos kemandirian dalam pribadi masing-masing sarjana. Kebanyakan para sarjana tidak bercita-cita mandiri, melainkan justru berharap untuk bisa bergantung dengan para pemilik modal atau pemerintah. Ide semacam ini justru terbangun ketika para sarjana itu mulai masuk perguruan tinggi.Etos utama para mahasiswa untuk belajar di perguruan tinggi adalah supaya bisa diterima diperusahaan ini, lembaga itu atau lolos menjadi CPNS. Intinya mereka bisa mudah diterima sebagai “pekerja”.
Inilah kesalahan utama lembaga pendidikan. Iming-iming atau motivasi yang ditawarkan oleh kebanyakan lembaga pendidikan adalah ketergantungan: baik ketergantungan terhadap lembaga swasta maupun negeri. Kampus atau perguruan tinggi jarang yang mau menawarkan kemandirian pada anak didiknya. Perguruan tinggi hanya bisa menawarkan semangat mencari kerja dan bukan menciptakan kerja. Para sarjana itu digembleng untuk diproyeksikan menjadi kuli. Karena motivasinya semacam itu, maka ketika para pemilik modal atau pemerintah tidak sanggup menampung meledaknya lulusan universitas atau perguruan tinggi, maka akhirnya banyak yang menganggur.
Karena motivasinya semacam itu, maka setiap perguruan tinggi, terlebih yang favorit, menerapkan sistem pendidikan yang lebih mengedepankan formalitas dari pada kualitas,  skor daripada skill, prestasi formal daripada substansial. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya universitas yang berlomba-lomba menerapkan pola pendidikan yang lebih menjunjung tinggi pola tehnik-operasional seperti presensi, berpakaian necis, bersepatu, tidak boleh memakai kaos, tidak boleh memakai jin dan sebagainya. Inilah yang disebut oleh Dramaningtys dengan pendidikan yang menyesatkan.
Anak didik hanya di dorong untuk melakukan aturan-aturan atau pola pembelajaran yang tehnikalis, namun tidak didorong untuk bisa mendayagunakan potensi kognitif, psikis dan psikomotoriknya yang berguna untuk pendayagunaan potensi tersebut. Sehingga di dalam diri peserta didik nantinya tertanam jiwa mandiri. Untuk mencapai etos ini jelas dibutuhkan sebuah komitmen kuat dari masing-masing lembaga pendidikan untuk bersedia memberi ruang gerak dan akses yang luas terhadap para peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya tersebut. Seperti kata Paulo Freire (2001) bahwa pendidikan harus mengedepankan kelembutan, kasih sayang dan memberikan ruang yang memungkinakkn anak tumbuh berkembang sesuai minat, bakat dan kemauannya. Pendidik harus menjauhkan diri dari cara-cara mendidik yang justru menindas, atau menanamkan paksa nilai-nilai yang tidak sejalan dengan fitrah kemanusiaan dan tidak sejalan dengan  realitas. Biarkan para peserta didik itu yang menemukan dirinya.
Ini merupakan tamparan keras terhadap seluruh institusi pendidikan baik yang negeri dan swasta. Ternyata apa yang ditawarkan oleh perguruan tinggi selama ini tidak terbukti. Perguruan tinggi masih gagal dalam fungsinya sebagai lembaga yang melahirkan tenaga-tenaga profesional dan merdeka. Sebab, kalau memang lembaga-lembaga perguruan tinggi itu bermutu, mestinya produk yang dihasilkan diburu oleh masyarakat, terbukti para lulusannya malah yang mengemis-ngemis ke sana kemari untuk mencari kerja. Seharusnya institusi-institusi pendidikan itu malu dan mulai berinstropeksi diri ketika melihat para lulusannya kalang kabut cari kerja. Sebab, sudah terlanjur banyak perguruan tinggi di Indonesia, khsusnya di Yogyakarta, yang memasang tarif tinggi dan mahal terhadap peserta didik. Ketika para peserta didik sudah mengeluarkan uang banyak dan ternyata malah menambah jumlah pengangguran di Indonesia, siapa yang bertanggung jawab?

Upaya Reparadigmatisasi
Untuk mengatasi jumlah melambungnya pengangguran intelektual tersebut, maka tidak cukup hanya diatasi dengan cara-cara konvensional seperti mengadakan Job Fair dari berbagai macam perusahaan. Melainkan lebih dari itu adalah merubah paradigma atau pola pikir yang selama ini tertanam di dalam diri para sarjana. Para sarjana sekarang harus bernai melakukan lompatan-lompatan pemikiran yang bisa melampoi pola-pola yang ada. Salah satunya: seorang sarjana harus berani mandiri, kreatif dan inovatif. Berani  melakukan trobosan –terobosan baru,  ide-ide baru dan tak kenal putus asa. Ia harus menanamkan cita-cita untuk mencipatakan kerja dan bukan hanya sekedar mencari kerja.
Dan itulah kewajiban perguruan tinggi sekarang ini. Bagaimana ia bisa berfungsi untuk membentuk jiwa-jiwa mahasiswa yang mandiri dan penuh kreatifitas sehingga tidak terlunta-lunta ketika sudah menjadi sarjana.  Dalam hal ini universitas harus bisa merubah paradigma pendidikannya. Bagaimana supaya para lulusannya itu tidak terlalu bergantung terhadap peluang kerja di lembaga-lembaga lain, tetapi mampu meciptakan peluang sendiri. Minimal  pihak perusahaanlah  yang harus mencari sarjana, bukan sarjana yang menawarkan diri ke perusahaan.
Selama perguruan tinggi hanya mampu mennjanjikan kepada para sarjananya untuk mencari kerja, maka pengangguran intelektual tidak akan pernah berkurang. Sebab, sampai sekarang job yang dijual instansi negeri maupun swasta sungguh sangat terbatas dan yang pasti:sangat mahal.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi “Linkaran ‘06” Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: