MAFIA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Bila kita nonton film-film action Hongkong, biasanya kita melihat segerombolan orang-orang berpakaian rapi, berdasi dan pekerjaannya selalu bikin kekerasan dan transaksi bisnis gelap. Merekalah yang biasa disebut Mafia. Mafia atau gengster adalah kelompok para penjahat, mereka adalah gerombolan para manusia yang paling brangasan dan mempunyai daerah kekuasaan secara illegal. Mereka bukan hanya sekedar menguasai bar, casino ataupun diskotik, tetapi sudah turut menancapkan kekuasaannya di lembaga-lembaga formal politik.
Dunia para mafia adalah dunia yang penuh intrik, keculasan, penipuan dan kekurangan. Hal itu tercermin pada bagaimana para mafia itu beroperasi begitu kuatnya untuk menjalin binis gelap. Akses kekuasaannya begitu luas dan terkontrol, bukan hanya antar sesama anggota gang yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan, tetapi juga melibatkan banyak pejabat tinggi negara baik sipil mapun militer. Strategi yang dirinacang untuk menaklukkan lawan atau memuluskan target operasionalnya pun tak kalah canggih dengan dunia inteljen. Oragnisasinya begitu teratur rapi dan elegent, permainan politiknya juga sangat cantik. Mereka pun tak kurang terhormatnya di mata masyarakat. Sebagai sindikat kejahatan yang berkuasa, mereka bahkan ditakuti oleh banyak orang.
Dunia mafia yang demikian itu kini sedang tumbuh dan mewarnai gelanggang politik kita. Dunia politik kita selama ini sering diwarnai penipuan,kecurangan dan pembohongan. Maka, apa yang selama ini kita sebut dengan politik, sebenarnya tak jauh beda dengan dunia mafia itu. Munculnya beragam sekandal buruk dalam strukutr politik kita adalah bukti empiriknya. Taruhlah misalnya banyaknya kasus penyuapan, kasus illegal logging, kasus kecurangan impor Bahan Bakar Minyak dan sebagainya. Apa nama semua ini kalau bukan perbuatan para mafia. Maka tidak heran kalau sekarang mulai marak beragam nama mafia yang disematkan dalam sistem birokrasi kita: Ada mafia peradilan, mafia anggaran, mafia hutan, mafia perminyakan bahkan mafia agama.
Nama-nama mafia itu bukan semata-mata muncul dengan sendirinya, melainkan tinggal sekedar legitimasi atas sekandal yang terjadi dalam sistem pemerintahan kita. Saat ini negara kita hampir selalu dihebohkan dengan ulah para mafia lintas sektoral tersebut. Mafia peradilan misalnya, ditunjukkan dengan banyaknya para JAM yang terkena suap, para mafia hutan yang ditunjukkan dengan banyaknya para pembalak liar, mafia perminyakan ditunjukkan dengan adanya indifidu yang mempermainkan perdaganagan minyak sehingga menjadikan biaya produksi dan distribusi naik. Sementara untuk mafia agama ditunjukkan dengan banyaknya para preman berjubah yang suka bikin onar dan tindak kekerasan. Kerjanya selalu bikin teror, menciderai dan memukuli orang lain yang tak berdosa. Mereka ini bahkan menjadi hambanya para jendral. Siapa mereka ini? Sudah tahu sendiri
Bertameng kekuasaan
Unsur utama eksisnya mafia adalah kekuasaan (power). Tanpa adanya kekuasaan tak mungkin mereka bisa hidup. Begitu juga dengan para mafia yang menggurita di dalam tubuh politik kita. Mereka rata-rata adalah para pejabat pemerintah sendiri. Mereka sebenarnya orang-orang yang telah membangun akses politik di struktur pemerintahan. Politik, seperti kata budayawan Emha Ainun Nadjib (1998) terbagi menjadi dua, pertama adalah politik universal yaitu upaya untuk menyejahterakan rakyat, yang kedua, politik untuk mencari peluang. Para mafia ini umumnya adalah orang-orang yang suka mencari peluang dan kesemapatan (oportunis) dalam lingkaran kekuasaan demi kepentingan dirinya sendiri. Maka dari itu, ketika mereka sudah berhasil menembus tembok kekuassaan akhirnya mereka berprinsip aji mumpung, memuaskan apa yang awalnya sudah menjadi target pribadi: nyolong, menelikung, menjilat, mengkorupsi, merekayasa dan sebagainya.
Seperti halnya para mafia lain, para mafia politik ini juga bergerak secara cantik dan halus. Gerakan mereka hampir jarang tersentuh oleh hukum. Maklum mereka sebenarnya adalah bagian dari dunia gengster. Dunia gengster, menurut Rolland Barthes (2007) adalah dunia yang tenang. Sementara gerak-gerik “tenang’ sang gengster, memiliki seluruh kekuatan suatu penghentian; tanpa kegairahan, gesit dalam pencarian yang pasti terhadap titik akhirnya. Mereka menjual hukum, membalak hutan, merekayasa perdagangan minyak, melibas orang dan sebagainya semua itu ia lakukan dengan penuh perencanaan yang matang dan cerdik dalam menghapus bekas.
Kekuasaan, seperti, kata Amin Rais, memang sesuatu yang ajaib. Ia bisa menyulap seseorang untuk bisa lupa diri dan lepas kontrol. Sehingg tak jarang orang yang sudah berkuasa akhirnya menyalahgunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Dengan baju kekuasaan yang mereka sandang, banyak yang menutupi jiwa kemafiaan mereka. Dalam kondisi berkuasa, mereka ini sebenarnya adalah srigala namun kelihatan berbulu domba.
Maka wajar kalau akhirnya dunia politik kita terus mengalami kisruh. Ternyata setiap sektor kita: ekonomi, hukum, pendidikan bahkan agama, banyak yang dikuasasi oleh para mafia. Kebijakan demi kebijakan akhirnya hanya menguntungkan kelompok tertentu dan jarang yang bisa menyentuh persoalan orang banyak. Peneyelewengan demi penyelewengan juga jarang yang bisa diungkap. Karena antara yang terkena masalah dengan yang menyidik masalah tak jarang sama-sama berprofesi sebagai mafia. Sehingga yang terjadi bukan lagi tindakan tegas terhadap mereka yang memang bermasalah, melainkan justru tawar menawar antar mereka. Inilah wujud sekandal para mafia politik yang kompleks menjadi lingkaran setan yang sulit diidentifikasi ujung pangkalnya.
Menuju clean governence
Untuk menyelamatkan negeri kita dari kehancuran, maka harus segera diselamatkan dari para gerombolan mafia ini. Subyek mafia ini bisa koruptor, pelanggar HAM, pembuat teror, pengkhianat hukum dan sebagainya. Segenap komponen bangsa harus bekerja keras untuk mewujudkan pemerintahan bersih (clean governence). Pemerintahan bersih di sini harus diartikan bersih dari jaringan para mafia tersebut. Tanpa adanya komitmen ini, maka selamanya negara kita hanya akan menjadi lahan permainan para penjahat yang berwajah pejuang. Kuatnya jaringan mafia yang menguasai struktur politik kita sekarang ini perlu segera diurai dan diselesaikan secara tuntas. Termasuk isu hendak digunakannya hak angket DPR. Ia harus diorentasikan untuk membongkar jaringan mafia perminyakan. Begitu juga jaringan mafia di sektor lain. Upaya pembongkaran itu tidak hanya meliputi anggota mafia kelas coro, tetapi harus bisa menyeret dedengkotnya.
Sebuah kekuasaan akan berfungsi secara efektif dan penuh manfaat, manakala dijalankan oleh orang-orang yang benar dan berbudi luhur, bukan oleh para mafia yang tidak bertanggung jawab itu. Negeri ini nampaknya sudah begitu lama dikendalikan oleh para mafia, maka wajar kalau perjalanannya semakin kacau.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat Forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” dan Staf Ahli dalam Hasyim Asy’ari Institut Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: