POPULARITAS

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Popularitas atau ketenaran adalah benda abstrak yang saat ini nampak sangat ber”harga”. Dikatakan abstrak karena ia memang tidak mewujud secara material seperti halnya uang, mobil, gedung dan sejenisnya. Ia hanya ada dalam dunia ide, eksis dalam alam imaginal yang hanya bisa dikenali lewat indikasi-indikasi yang melingkupinya atau lewat orang-orang yang ia domplengi. Tapi meskipun tak tampak, ia begitu sangat berharga, sejajar dengan benda-benda mewah yang sifatnya materialistik. Ia sebanding dengan uang milyaran, mobil mewah, rumah mewah dan sebagainya. Karena berharganya itu, maka ia menjadi bahan buruan orang. Setiap orang hampir semuanya tergila-gila dan terpikat dengan mahluk yang satu ini. Banyak masyarakat dari kalangan jet set yang rela menghambur-hamburkan milyaran rupiah hanya demi popularitas.
Misalnya para politisi kita yang rela merogoh koceknya hanya untuk bisa nongol di media massa baik cetak maupun elektronik. Seperti Ketua umum PAN, Sutrisno Bachir, yang wajahnya menyebar di mana-mana melalui sejumlah iklan di media massa. Ia muncul di TV, surat kabar, baliho dan papan iklan dengan mencuri momentum seabad kebangkitan nasional. Konon usaha Pengusaha asal Pekalongan Jawa Tengah untuk menggebere iklan di media massa itu menelan biaya sebesar 20 milyar (Tempo,18/5/2008). Tokoh dan politisi lain juga hampir sama seperti Wiranto dan Prabowo. Begitu juga dengan para politisi yang menyalonkan diri dalam pemilihan Pilkada. Mereka bak selebiritis yang wajahnya selalu nongol di berbagai media.
Di sisi lain, dan ini sudah menjadi hal yang biasa ada sejumlah orang yang berusaha mendongkrak popularitasnya melalui letupan isu kontroversial entah itu perselingkuhan, perceraian, pacaran , ganti pacar dan sebagainya. Umumnya mereka ini adalah para selebritis dan artis. Dan ada lagi yang terkadang lebih ekstrim atau lebih gila dengan melakukan tindakan yang aneh-aneh dan terkadang terlihat tidak wajar. Karena ketidak wajarannya itu, orang banyak yang memperhatikannya. Dalam konteks ini, maka benarlah kata kiai sekaligus budayawan asal Yogyakarta, almarhum KH. Zainal Arifin Toha yang pernah mengatakan: “kalau ingin terkenal, mulailah dari hal-hal yang tak wajar.”

Sebuah Misteri
Kegilaan terhadap popularitas ini barang kali sebuah misteri. Pertanyaan mendasarnya adalah mengapa orang begitu ingin dikenal banyak orang? Apa keuntungan bisa tenar di kalangan orang banyak, sehingga seseorang rela menebusnya dengan uang milyaran rupiah atau bahkan dengan harga diri? Apakah memang ya bahwa salah satu sifat dasar manusia adalah ingin dikenal orang banyak? Nampaknya nggak juga. Sebab, di antara sekian milyar manusia di muka bumi ini juga bnayak yang suka ngumpet, menyembunyikan diri dari sorotan publik. Umumnya, meskipun motifnya bertolak belakang, dilakukan para sufi, koruptor dan teroris. Para sufi abad pertengahan, untuk bermunajat kepada Tuhan, banyak yang menyepi ke gunung-gunung, hutan-hutan belantara, gua-gua dan tempat-tempat asing yang belum pernah dijamah oleh orang banyak. Tak jarang di antara para sufi suka menyamar untuk menutupi dirinya dari khalayak ramai. Sementara para koruptor dan teroris, sudah tak asing lagi, karena takut kalau ketehuan aparat. Maka mereka banyak yang juga sembunyi ke tempat-tempat asing dan berganti-ganti wajah.
Maka dari itu, lumayan sulit untuk menemukan jawaban secara univbersal tentang para penggila popularitas ini. Apakah untuk kenyamanan dan keselamayan? Kalau dipikir secara sederhana, bukankah orang itu lebih nyaman dan aman kalau tak kenal banyak orang. Sebab dengan tak dikenal orang banyak seseorang bebas berbuat. Saya berselingkuh, kalau orang lain tak kenal sama saya mau apa, aman kan? Heidegger bilang bahwa dengan adanya ranah publik segala sesuatu menjadi kabur, dan apa yang sesungguhnya misteri diperbincangkan seolah sesuatu yang akrab dan terakses oleh semua. Jadi jelas bahwa semakin orang dekat dengan ranah publik, ia semakin sulit untuk merahasiakan sesuatu. Seluruh rahasia pribadi berpotensi terbuka dan terakses oleh orang lain. Popularitas, bukan hanya dekat ranah publik, tetapi justru berupaya melebur menjadi satu dengan ranah publik tersebut. Maka orang yang semakin popular, ia akan semakin tidak aman. Rimba privasinya cepat atau lambat akan terjamah oleg individu lain.

Ortientasi Politis dan Ekonomis
Namun meskipun cukup sulit untuk ditemukan jawabanya mengenai motiv para penggila popularitas, dengan meraba-raba sisi behaviorismenya, bisa ditebak bahwa mereka yang menggandrungi popularitas tersebut mempunyai maksud yang rata-rata sama yaitu politis dan ekonomis. Secara politis, popularitas hanyalah sebuah strategi untuk menggaet simpati orang banyak untuk mendukung ambisi kekuasaannya. Para politikus rela blusukan ke kantong-kantong masyarakat kecil tidak lain adalah untuk menjilat simpati masyarakat supaya mau mendukung dirinya mapun parpolnya.
Selain orientasi politis, popularitas juga dipicu oleh orentasi ekonomis. Ini terlihat sangat jelas dalam berbagai karya seni dan buku-buku bacaan. Popularitas dalam konteks ini merupakan bentuk artikulasi pasar. Seorang seniman atau penulis, supaya karyanya disukai oleh masyarakat luas dan markateble ia harus popular, pandai-pandai memanfaatkan keinginan masyarakat banyak, meskipun selera massa itu tidak bermutu dan bermakna dangkal. Namun karena pasar mengehndaki demikian, maka harus tetap dipenuhi. Sebab, sekali kontraproduktif dengan nalar pasar maka sebuah karya terancam termarginalkan.

Ironisme
Dengan demikian haramkah popularitas? Secara hukum Jelas tidak. Karena memang tidak ada hukum positif, yang secara eksplisit, mengharamkan popularitas. Namun ini akan menjadi sebuah ironisme, manakala popularitas sudah menjadi sebuah idiologi atau basis ontologi. Popularitas menjadi tempat bergantung.
Konsekuensinya seseorang cenderung mendewa-deewakan popularitas sehingga mengorbankan nilai-nilai substansial yang lain. Seorang politisi yang meraih atau mempertahankan kekuasaanya dengan popularitas, maka cenderung bersikap pengecut. Mereka menggunakan masyarakat hanya sebagai alat untuk mencapai kekuasaan. Mereka cenderung penakut, tidak berani mengambil keputusan yang tak populer demi kesejahteraan rakyat. Seringkali nasib rakyat menjadi korban demi popularitas mereka.
Kondisi semacam ini dapat kita saksikan dalam sistem perpolitikan sekarang. Banyak para politisi, baik eksekutif maupun legislatif yang hanya bisa tebar senyum dan mempertahankan image demi demi popularitas. Bahkan demi popularitas itu, mereka sering membuat kebijakan yang tak populis. Padahal dalam kondisi yang mendesak semacam ini, dibutuhkan pemimpin yang berani tidak populer untuk mengambil keputusan penting demi kemaslahatan orang banyak.
Semakin ironis lagi, kalau popularitas itu begitu dipentingkan melebihi idealisme. Dengan mengedepankan popularitas atau selera masyarakat, maka idealitas menjadi tersingkirkan. Orang akhirnya cenderung membebek terhadap selera pop tanpa mau merubahnya ke arah yang lebih baik. Padahal upaya menegakkan idealisme atau, dalam bahasanya Rendra, standar nalar sehat kolektif adalah penting. Ini untuk menghadapi berbagai anomali-anomali yang terjadi di masyarakat. Dengan demikian para pemburu popularitas itu akan menjadi hal yang bernilai positif kalau ia tetap didasari dengan nilai-nilai idealisme. Popularitas tanpa idealitas adalah pisau berwajah dua membunuh hati nurani dan sekaligus menikam akal sehat.
* Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat Forum diskusi “Linkaran ‘06” dan Staf ahli pada Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: