BOM, TEROR DAN KETIDAKAMANAN ONTOLOGIS

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*
Detasemen khusus 88 anti teror menemukan 20 bom, 16 di antaranya siap ledak, serta puluhan kilogram bahan peledak yang disembunyikan di plafon rumah kontrakan di kota Palembang, Sumatera Selatan (Kompas, 3/7/2008). Di duga bom itu adalah milik jaringan teroris (JI) yang diburu polisi.
Fenomena itu tentu membuat kita merasa ngeri, bertanya-tanya dengan berseling ketakutan. Pertanyaan yang muncul barangkali adalah hendak digunakan menghabisi siapa bom-bom itu? Jangan-jangan kita yang berbeda dengan para teroris itu yang direncanakan menjadi target operasinya. Maka fenomena bom itu, meskipun masih dalam keadaan spekulatif dan misterius, membuat kita selalu diliputi ketakutan dan kekhawatiran. Hidup kita akhirnya berada di bawah bayang-bayang teror, kematian, kekerasan. Ketidakamanan ontologis mulai menggelayuti keadaan kita. Siapa yang menjamin kalau kita yang ada di sini bukan salah satu korbannya?
Hidup manusia memang dalam keadaan bahaya. Kehidupan ini digambarkan oleh Nietzsche sebagai sesuatu yang tragis, menyedihkan, tidak jelas dan tak punya arti, tetapi menuntut banyak manusia. Intinya hidup selalu diliputi dan dilingkupi oleh beragam bahaya. Bahaya kehidupan itu, selain berasal dari ancamana bencana alam yang ganas juga berasal dari manusia sendiri. Sebab seperti kata Thomas Hobbes bahwa salah satu karakter manusia adalah: homo homini lupus. Ditemukannya bom para teroris itu merupakan salah satu wujud karakter manusia yang suka memangsa manusia lain itu.

Teror ontologis
Dalam perjalanannnya, sejarah manusia adalah sejarah ketidakamanan ontologis. Ke-ada-an manusia di dunia, dari dulu hingga sekarang selalu diwarnai oleh beragam teror, horor dan perang antara suku, agama dan negara. Teror ontologis selalu menghiasi di setiap jengkal kehidupan manusia. Fenomena terbongkarnya bom sekarang ini adalah juga salah satu bentuk teror ontologis ini. Karena fenomena ini jelas membuat keberadaan kita tidak aman. Memang, perjalanan hidup manusia, sebagaimana kata Heidegger adalah menuju kematian. Meskipun menurut Eisntein sendiri menyangkal bahwa kematian pada hakekatnya adalah tidak ada melainkan hanya berubah ke bentuk kehidupan yang lain.
Namun dalam proses menuju kematian atau bentuk kehidupan yang lain itu, jalan yang ditempuh manusia bukanlah jalan tol yang mulus, nyaman dan aman. Tetapi sebaliknya, perjalanan eksistensi menuju titik kematian itu, seperti kata Yasraf Amir Pilliang (2005) menjadi perjalanan yang tidak nyaman, ketika durasi kehidupan dan temporalitas yang membentuknya dijajah oleh ontologi citra kekerasan yang dibangun oleh manusia sendiri (oleh kelompok, suku, agama, ras dan bangsa), sehingga ada sesunnguhnya adalah ada menuju kematian di bawah kuasa cita-cita kekerasan dan horor itu.
Ada banyak faktor yang membuat manusia bersikap tidak ramah dan ganas terhadap manusia lain sehingga menimbulkan teror ontologis. Faktor utamanya adalah sifat atau karakter manusia alamiah sendiri. Kita secara sosial, sebenarnya sepakat membentuk kehidupan yang damai, namun celakanya, sejak lahir, di dalam otaknya, manusia sudah mempunyai naluri keinginan untuk membunuh. Hal ini karena insting manusia bukan hanya terdiri dari insting malaikat, tetapi di dalamnya juga ada insting hewani. Kenapa manusia bisa menjadi teroris? Karena, seperti kata Anand Krishna (2004), insting-insting di dalam dirinya dipertahankan. Tidak ada upaya untuk membersihkannya. Kisah-kisah yang disuguhkan lebih banyak berkisar tentang permusuhan, pertengkaran dan kebencian antara kelompok.
Entah sadar atau tidak, di sekitar lingkungan kita mempertahankan kehidupan ini, kita lebih banyak dosodori beragama peristwia yang berbau teror dan kebencian. Bahkan terkadang kebencian antara kelompk itu sengaja dikampanyekan, didoktrinkan dan ditanamakan oleh berbagai kelompok atau indifidu terhadap anak-anaknya, sahabat-sahabatnya dan saudara-saudaranya sendiri. Terhadap kelompk yang berbeda idiologi, suku, ras dan agama kita lebih membisikkan kepada anak cucu kita kejahatan dan kebencian daripada perdamaian dan kasih sayang. Semangat menanamkan atau indoktrinasi kebencian terhadap kelompok lain ini bahkan terkadang begitu telanjang dan massif. Bahkan tidak jarang aksi terorisme dan kekerasan itu berlatar belakang perbedaan agama. Inilah ironisnya, agama, yang di tangan para nabi, para rahib dan para sufi menjadi sumber kedamaian dan untuk menebar kasih sayang, di tangan arus besar massanya justu menjadi sumber pertumpahan darah. Hal ini lebih disebabkan oleh kepicikan para pemeluk agama yang memandang perbedaan paham dan tafsir kebenaran sebagai ancaman. Dengan demikian sangat wajar, kalau lingkungan kita menjadi medan mewabahnya energi negatif yang berupa tindak kekerasan dan teror.

Menciptakan perdamaian dalam keberagaman
Aksi terorisme yang sering mengancam dan menimbulkan ketidakamanan ontologis, seperti fenomena beredarnya bom ini, harus segera dihentikan. Sudah saatnya kita sekarang menjadi mnausia yang semakin dewasa. Ciri khas manusia dewasa adalah manakala kita mampu menpis insting kebinatanagn kita yang sering menyeret kita ke dalam jurang bar-barisme. Manusia sejak lahirnya memang sudah membawa siaft untuk membunuh, namun di sisi lain manusia juga dibekali hati nurani dan akal sehat. Selama ini dua kekuatan positif ini jarang difungsikan. Manusia yang suka menciptakan akis teror lebih menggunakan naluri kebinatangannya. Kecenderungan hewani ini memang tidak bisa kita hilangkan, namun bisa kita minimalisir. Fungsi akal sehat dan hati nurani kita adalah untuk meminimalisir kecenderungan itu.
Potensi positif yang ada di dalam diri masing-masing indifidu tersebut, dalam konteks kehidupan sosial, kita jadikan sebagai media untuk menciptakan ikatan-ikatan sosial yang positif. Ikatan sosial positif ini misalnya cinta, kasih sayang, persahabatan, persaudaraan dan sejenisnya. Sebab melalui ikatan sosial yang positif inilah kehidupan kita bisa terhindar dari ancaman terorisme dan perang antar manusia.
Dalam bukunya yang berjudul Violence in Human Society John Gunn mengatakan bahwa bencana krisis kemanusiaan di dalam sebuah masyarakat terjadi bila ikatan positif atau perekat (sosial, kultural, spiritual)—–dalam bentuk cinta, persahabatan, kasih sayang, saling pengertian—telah hancur. Tercabik-cabiknya ikatan dan perekat sosial yang positif itu menggiring manusia ke gelanngang peperangan dan tindakan bar-bar, termasuk teror bom seperti sekarang ini.Mari kita ciptakan keamanan ontologis.
*Muhammd Muhibbuddin adalah Pegiat Forum diskusi “Linkaran ‘06” dan staf ahli pada Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: