PERLUNYA BERKESADARAN KRITIS

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Manusia boleh hidup tapi tidak boleh asal. Karena hidup yang asal bukanlah ciri mahluk yang bernama manusia. Kenapa? Karena manusia adalah mahluk yang berkesadaran, mahluk yang berakal dan berhati nurani. Manusia, seperti yang digambarkan oleh Heidegger adalah “Ada” yang unik. Karena keunikannya itu ia berbeda dengan benda-benda layaknya kursi, batu, meja dan sejenisnya. Karena keunikannya itu pula, ia satu-satunya mahluk yang mampu merefleksikan dan mempersoalkan tentang “Ada” itu sendiri. Meskipun pengetahuannya tentang Ada masih dalam batas kemungkinan yang tak terbatas. Sejak lahir manusia hidup sudah berada dalam kungkungan sistem nilai, moral, sosial dan budaya. Kita hidup, kata Frans Magnis Suseno berada dalam jaringan norma-norma.

Sekarang persoalannya, semua sistem nilai, moral, norma dan budaya yang kita geluti sehari-hari itu tidak 100% murni dan alami. Norma, moral, nilai dan budaya itu tidak lahir dari ruang kosong dan putih. Tetapi sebaliknya, ia justru lahir dari produk sebuah komunitas atau bahkan sistem kekuasaan yang sarat dengan kepentingan dan tujuan. Norma dan nilai sosial yang lahir itu bahkan disetting sedemikian rupa oleh sebuah kelas untuk melanggengkan kepentingannya atas kelas yang lain. Jelasnya tidak ada sistem nilai yang benar-benar netral, ia pasti diorientasikan untuk memihak kepentingan tertentu.

Karena ia merupakan representasi kepentingan (kelompok, ras, atau agama), maka dalam proses internalisasinya ke dalam diri manusia tidak sepenuhnya berjalan secara natural, melainkan terkadang dengan penuh rekayasa, tipu muslihat dan bahkan represi. Inilah yang termasuk menginspirasi Nietszche untuk membongkar bangunan moral yang sudah terpatri dan menjadi pakem masyarakat yang tak boleh digugat. Dengan lantang filsof pembunuh tuhan ini berteriak: “marilah kita ungkapkan tuntutan baru ini: kita membutuhkan suatu kritik nilai-nilai moral, dan nilai dari nilai-nilai ini harus selalu pertama-tama dipertanyakan—dan untuk itu perlu mengenali situasi dan lingkungan yang melahirkan nilai-nilai tersebut, di mana pengetahuan berkembang dan menjadi tidak karuan seperti sekarang ini, yang tak seorang pun mencarinya (moral sebagai simptom, topeng, kemunafikan, penyakit atau salah paham; tetapi moral juga sebagai sebab, obat, stimulan, penghalang dan racun)”. Gugatan Nietzsche ini menegaskan bahwa ternyata yang namanya moral, nilai, baik dan buruk bukanlah sesuatu yang given, mutlak dan taken for granted. Tetapi juga merupakan hasil rekayasa sosial (social engeeniring) yang sifatnya temporal dan ambisius.

Mencermati kondisi kehidupan yang rawan dengan tipu muslihat dan rekayasa tersebut, mau tidak mau kita harus menghidupkan kesadaran kritis. Kesadaran kritis ini tidak lain adalah sebuah kesadaran kita tentang kehidupan; bahwa ada ada yang tak beres di sana, ada kesenjangan yang akut antara idealitas dengan realitas, ada yang timpang, ada yang tak sealur dengan akal sehat dan hati nurani, ada yang tidak pas, ada yang melenceng jauh dari aturan main yang sebenarnya. Tugas nalar kritis adalah menyemprit atau menghentikan anomali-anomali dan ketidakberesan itu. Sebab, kalau sesuatu yang timpang dan tak beres tersebut kita biarkan, maka akan merusak dan merugikan orang banyak.

Jadi, kesadaran kritis inilah yang menjadikan hidup kita bisa terkontrol.Ia adalah vitalitas hidup. Dengan kesadaran kritis ini, kita bisa jauh dari mentalitas bebek ataupun burung beo, dengan kesadaran kritis ini laju kehidupan kita tidak hanya mengalir mengikuti arus massa. Kesadaran kritis inilah yang membuat kita menjadi, dalam istilahnya Kierkegaard, “aktor” kehidupan yang berani mengambil keputusan dasariah hidup sendiri. Bagi Kierkegaard, hanya individu yang menjadi aktor bagi hidupnya sendirilah yang bereksistensi, sedangkan individu yang hanyut dalam kerumunan tidak bisa dikatakan bereksistensi, sebab dia tidak aktif dalam mengarahkan hidupnya sendiri.

 

Nalar Kritis Versus Nalar politis

 

Meskipun nalar kritis itu merupakan vitalitas hidup, dalam sejarahnya ia sering diawasi, dibelenggu dan bahkan dibungkam oleh para penguasa. Dan memang ia adalah musuh para penguasa. Dalam ranah politik, nalar kritis merupakan hantu yang menakutkan bagi para penguasa itu sendiri. Maka antara nalar kritis dengan nalar politis selamanya jarang berdamai. Sebab, nalar kritis adalah representasi idea, sementara nalar politis (kekuasaan) adalah reprsentasi idiologi. Yang namanya idea hampir selalu bertentangan dengan idiologi.

Para penguasa, meski dalam sistem politik yang demokratis pun, selamanya tidak jenak dan tidak rela manakala ambisi politiknya diutak-atik atau dikritisi oleh sebuah ide.Yang diinginkan oleh para penguasa adalah sikap manut dan patuh terhadap apa yang diinstruksikan. Yang dikehendaki oleh penguasa adalah kata ya, sendiko dawuh atau yes bos. Melihat pola kehidupan yang diseragamkan semacam ini, bagi nalar kritis adalah sebuah siksaan dan ancaman yang mematikan. Maka ia pun selalu menawarkan idea-idea yang bersebrangan dengan idiologi para penguasa.

Selanjutnya, dalam posisi yang berhadap-hadapan itu, idiologi, yang dibelakanganya ditopang oleh senjata, birokrasi dan militer, dalam praktiknya, mudah sekali menaklukkan idea. Inilah yang menjadikan nalar kritis terancam masuk liang lahat tatkala berhadapan dengan nalar politis (penguasa). Sejarah menunjukkan, para aktivis, pers, dan civil society yang kritis terhadap para penguasa, selalu bernasib naas. Mereka ditangkap, dipenjara dan dibungkam gerakannya. Bahkan di era reformasi ini pun tragedi itu mulai bangkit kembali. Seperti yang sering terjadi, alasan yang digunakan cukup klise:mengganggu ketertiban umum.

 

Harus diperkuat

 

Untuk menjaga keseimbangan, cek and balance antara kekuatan kultural versus struktural, etis dan politis, maka kesadaran kritis ini harus terus diperkuat. Sebab sekali kesadaran kritis ini lenyap, maka yang muncul adalah kebenaran tunggal. Ini akan membuat kehidupan mati tanpa dinamika. Sejarah akan mandek dan dialektika pun terputus, sehingga hidup menjadi satu warna. Seperti kata Rendra dalam sebuah puisinya“……orang-orang bicara dalam kasak-kusuk/dan ungkapan diri ditekan menjadi penghiyaan……..apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi/maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam/lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan/tidak mengandung perdebatan/dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan”. Pola kehidupan semacam ini jelas tidak mencerdaskan dan tidak mencerahkan. Semuanya hanya disodori bentuk yang itu-itu saja yang sesuai dengan mereka yang berkepentingan atau berkuasa.

Untuk menumbuhkembangkan kesadaran kritis itu, maka harus diciptakan ruang publik yang sehat. Ruang publik yang sehat ini adalah sebuah sistem sosial dan budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai pluralisme, multkulturalisme dan egalitarianisme. Setiap individu maupun kelompok mempunyai posisi yang sama di dalamnya, tidak ada yang menguasai dan dikuasai, tidak ada juragan dan kacung, tidak ada tuan dan hamba, tidak ada superioritas dan inferioritas. Dengan sistem kehidupan yang semacam ini, maka masing-masing pihak dituntut bersikap toleran, demokratis dan siap menerima perbedaan pendapat, termasuk di dalamnya adalah menerima kritik yang konstruktif .

Ingat, kehidupan ini tidak sepenuhnya terang dan penuh kepastian, tidak senantiasa berada pada garis lurus. Tetapi penuh lika-liku, penuh misteri, penelikungan dan tipu muslihat. Maka kalau kesadaran kritis tidak diberi ruang untuk hidup, penyelewengan dan penindasan akan semakin merajalela. Di Indonesia fenomena seperti itu sudah sering terjadi.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: