ANCAMAN FLOATING MASS KONSTITUEN PKB JATIM

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Pemilihan kepala daerah Jatim, yang rencananya akan diselenggarakan pada 23 Juli merupakan tantangan berat bagi kandidat yang diusung PKB. Sebab, basis utama konstituen PKB Jatim adalah warga NU. Sementara, seperti diketahui, di antara para kandidiat itu, ada yang berlatar belakang dari tokoh NU. Masing-masing kandidat itu adalah Ali Maschan Moesa ( ketua umum PWNU-Cawagub dari Golkar), Syaifullah Yusuf ( ketua GP. Anshor pusat-Cawagub dari PAN dan PD), Khofifah Indra Parawansa ( ketua muslimat pusat-Cagub dari partai koalisi).

Banyak pihak menilai bahwa, terjunnya para tokoh NU untuk turut serta mencalonkan diri sebagai Cagub dan Cawagub merupakan faktor penghalang utama bagi PKB untuk sukses merebut kursi nomer satu di Jatim itu. Memang PKB merupakan partai terkuat di Jatim. Dalam dua kali pemilu, ia berhasil memposisikan diri sebagai partai dominan di Jatim. Hal ini, karena Jatim, yang merupakan basis utama warga NU telah menjadi lahan subur bagi PKB. Ini artinya, kekuatan politik utama PKB adalah warga NU sendiri. Maka, terjunnya para tokoh NU tersebut, jelas mengancam posisi Achmady-Suhartono—-pasangan calon dari PKB.

Penilaian tersebut tentu sangat rasional. Namun, meskIpun demikian, ancaman utama PKB dari kandidat partai lain yang mengusung tokoh-tokoh NU tersebut, pada hakekatnya bukan terletak pada aspek perebutan suara warga NU—yang sampai sekarang menjadi basis PKB— tetapi justru munculnya ancaman masa mengambang (floating mass) dari warga PKB itu sendiri. Floating mass warga PKB ini terjadi apabila warga NU Jatim yang menjadi pendulang utama suara PKB itu menjadi, dalam istilahnya Baudrillard, simulacra. Ia nampak massa besar tapi hanya sebatas imajiner dan tak terbukti pada ranah empirisnya.

Faktor pemicu yang memungkinkan terjadinya floating mass konstituen PKB ini, pertama adalah masalah popularitas. Bagaimanapun juga harus diakui bahwa para kandidat dari struktur NU di atas mempunyai tingkat popularitas lebih tinggi di kalangan warga Nahdliyyin Jatim, daripada kandidiat dari PKB. Karena mereka adalah tokoh teras NU yang mempunyai basis masa yang jelas. Tentu mereka sudah sangat dikenal oleh warga NU, minimal warga dari struktur organisasi yang mereka pimpin. Sementara calon PKB sendiri tidak begitu populer di kalangan warga nahdliyyin Jatim. Achmady sendiri lebih terkenal sebagai birokrat daripada tokoh NU (Kompas, 7/7/2008). Ini artinya, dalam konteks popularitas calon, PKB sudah kalah satu langkah dengan para tokoh NU di atas. Tidak menutup kemungkinan, warga NU yang menjadi lumbung utama konstituen PKB itu, secara emosional, nantinya berubah mendukung pimpinannnya masing-masing.

Faktor kedua adalah tingginya golput. Selain masalah popularitas, pemicu utama munculnya floating mass masa PKB adalah meningkatnya golput. Patut diingat, bahwa golput sekarang mulai marak di setiap pilkada. Jumlahnya di setiap daerah pun tak tanggung-tanggung. Ia bisa melebihi angka 50 % lebih dari total suara yang sah. Fenomena semacam ini tentu sangat berpengaruh terhadap perolehan suara. Seperti kasus pilkada yang terjadi di Jawa Tengah. Angka golput di sini sangat tinggi sehingga melebihi suara yang diraih oleh calon pemenang pilkada Jateng :Bibit –Rustriningsih. Pasangan yang memenangkan Pilkada Jateng ini hanya mampu meraup 40 % suara. Sementara angka golput mencapai 41,5 %.

Ini menandakan bahwa banyak warga yang sudah apatis dengan Pilkada. Fenomena apatisme warga ini tentu tak terduga dan akan nampak ketika momen pencoblosan. Dengan demikian banyaknya warga yang mendukung sebuah parpol, tidak menjamin calonnya mendapat dukungan konstituennya seratus persen. Dan ketidakmungkinan ini merupakan salah satu indikasi terjadinya foating mass. Tingginya angka golput ini, merupakan wujud rasa frustasi dan muak masyarakat terhadap persoalan politik. Sebab, memang harus diakui, pilkada demi pilkada telah dilakukan, namun belum bisa membuat kehidupan warga masyarakat lebih baik. Bahkan sebaliknya, dengan pergantian pemimpin itu, kondisi kehidupan masyarakat semakin terpuruk. Karena tidak menghasilkan perbaikan apa-apa, maka warga banyak yang memilih sikap cuek terhadap pilkada.

Tidak menutup kemungkinan mayoritas warga Jatim ini nantinya juga banyak yang frustasi sehingga lebih memilih golput. Dan kalau warga Jatim banyak golput, itu artinya warga NU Jatim, yang merupakan basis utama masa PKB, banyak yang golput. Hal ini karena mayoritas umat Islam Jatim adalah warga NU. Sehingga, jelas golputnya warga NU Jatim ini akan menjadikan massa PKB terancam mengambang. Sikap frustasi warga yang menjadikan golput ini semakin mendapatkan justifikasinya ketika didasarkan pada masalah lumpur Lapindo yang sampai sekarang belum sepenuhnya tuntas. Hal ini semakin meneguhkan masyarakat Jatim tidak percayalagi dengan pilkada.

Sementara faktor ketiga adalah konflik internal PKB. Konflik internal PKB ini sudah pasti menjadi pemicu akan terjadinya floating mass warga PKB. Sebab terjadinya konflik dan perpecahan di tubuh PKB yang terus intens dan tak terkonytrol seperti sekarang ini, menjadikan warga PKB jengah dan bosan. Meskipun mereka asalnya terkenal fanatik, namun yang namanya kesabaran manusia tentu ada batasnya. Sebab, konflik yang melanda PKB ini memang sudah mencapai pada tingkat yang menjenuhkan. Berulangkali selalu kisruh, dan kalau sudah kisruh sulit sekali untuk islah, sehingga ujung-ujungnya ke pengadilan. Hal semacam ini tentu membuat konstituen bingung, sakit hati dan muak. Mereka tentu kecewa karena ternyata para elit partai yang mereka dukung tidak pecus memenej konflik yang melanda. Sehingga akhirnya mereka tidak bersimpati lagi dengan PKB. Ketidaksimaptian warga PKB ini jelas bisa menimbulkan floating mass.

Oleh karena itu, dengan adanya masalah di atas, maka yang massa besar bukan sebuah jaminan bagi partai berlambang jagad itu bisa secara otomatis merebut kursi gubernur Jatim.Sebab massa besarnya yang awalnya riel, itu tidak menutup kemungkinan sekarang menjadi massa mengambang yang absurd. Justru inilah ancaman rielnya.

*Muhammad Muhibbuddin adalah staf ahli pada Hasyim Asya’ari Institute.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: