EPISOD KE TIGA GLOBALISASI DAN PERSAINGAN MASYARAKAT TERBUKA

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Globalisasi telah membawa perubahan yang radikal dan fantastis dalam pentas peradaban dunia. Batas-batas dunia yang asalnya sangat rigit dan ketat kini mulai dikaburkan, dimitoskan dan dideontologikan. Sehingga dunia kini nyaris eksis tanpa sekat, tanpa pusat, tanpa ontologi dan semakin menciut. Dunia global adalah dunia persaingan. Ia merupakan anak turunan dari sistem ekonomi-politik neoliberal. Thomas L. Friedman menyebutnya the world of fleet.

Dalam pandangan Friedman ada tiga episod periodesasi globalisasi. Periode pertama adalah era ekspansi (abad XVIII-IXX). Periode ini ditandai dengan semaraknya gairah ekspansi dan kolonialisasi satu negara ke negara yang lain. Fenomena sejarah pada tahap ini diawali dengan penjelajahan Copernicus ke penjuru dunia hingga ia menemukan teori bumi itu bulat. Logika yang masih berlaku dalam periode ini adalah logika penaklukkan. Masing-masing negara berkompetisi untuk menanamkan imperium kekuasaannya di negara-negara yang mereka jadikan sasaran penaklukkan. Periode ke dua adalah era Multinasional corporataion (abad XX). Era ini pada prinsipnya juga sama dengan periode pertama yakni hasrat untuk menaklukan atau menguasai. Bedanya, kalau era pertama lebih menggunakan pendekatan konfrontatif fisik dan kontak senjata, maka periode ini yang dijadikan senjata utama adalah modal atau kapital. Periode ini, logika dan regulasi yang berlaku adalah nalar pasar.

Hampir seluruh agenda politik, ekonomi dan pendidikan nasional dipaksa tunduk di bawah imperium market. Dan periode globalisasi yang ke tiga adalah era indifidualistik-liberalistik. Saat ini kita tengah memasuki pintu globalisasi lapis ke tiga tersebut. Artinya dalam konteks persaingan, subjek yang bersaing bukan lagi terrepresentasikan dalam bentuk kolektifitas semacam negara atau perusahaan multinasional, melainkan sudah mengkerucut menjadi persaingan indifidu. Persaingan dan pertempuran global bukan lagi dilakukan negara lawan negara, corporation lawan corporation, bangsa lawan bangsa, melainkan manusia lawan manusia, indifidu lawan indifidu. Negara dalam statusnya yang hakiki sudah tak berdaya apa-apa. Negara telah hilang ditelan raksasa globalisasi.

 

Imperium masyarakat terbuka

 

Pergeseran dunia global yang tanpa sekat, batas dan ikatan kolektifitas tersebut merupakan bentuk fenonema masyarakat terbuka (open society).Globalisasi ini merupakan zona kekuasaan masyarakat terbuka itu. Masyarakat terbuka, seperti yang diintrodusir Karl R.Popper, merupakan oposisi biner dari masyarakat tertutup. Masyarakat terbuka, menurut Popper (2002) adalah masyarakat yang dipersonalisasikan, sebuah masyarakat yang menjadi tempat terjadinya konfrontasi antara individu-individu dengan keputusan-keputusan personal.

Masyarakat terbuka ini merupakan bentuk antitesis dari masyarakat tribal dan primitif yang sifatnya masih tertutup (open society). Ciri masyarakat tertutup ini adalah masih kuatnya ikatan komunalitas dan kolektifitas, baik yang bertumpu pada ras, suku maupun agama. Dalam masyarakat tertutup ini, ikatan kolektifitas begitu kuatnya sehingga masing-masing indifidu hidup dalam ikatan organik. Mereka hidup dalam ikatan kebersamaan dan kekeluargaan yang kental, di mana masing-masing anggotanya berjuang bersama, suka-duka bersama, mengahadapi marabahaya yang sama dan seterusnya. Singkatnya masyarakat yang berjuang eksis dengan bertumpu pada loyalitas organik. Dalam sistem masyarakat komunalistik semacam ini persaingan antara indifidu tidak begitu nampak.

Tipikal masyarakat di atas sangat kontras dengan masyarakat terbuka. Untuk masyarakat terbuka ikatan kolektifitas, loyalitas organik dan fanataisme komunalitas sudah mulai luntur. Setiap indifidu sudah mulai tidak merasa memiliki dan terikat dengan loyalitas dan semangat kebersamaan. Kenapa demikian? Karena dalam masyarakat ini unsur yang menonjol adalah persaingan. Di mana, masing-masing indifidu dalam masyarakat mulai saling bersaing ketat untuk meningkatkan status sosialnya. Dalam konteks ini, sejarah yang terbangun dalam kehidupan manusia, seperti kata Marx, adalah sejarah perjuangan kelas. Masing-masing kelas berusaha untuk saling menaklukkan. Namun kelas dalam arti persaingan ini tetap dalam frame indifidualisme. Artinya bukan kelompok kelas satu melawan kelompk kelas yang lain, seperti kelompok buruh melawan kelompok borjuis, melainkan indifidu kelas satu melawan indifidu kelas lainnya. Dalam pola semacam ini, bisa jadi indifidu yang berasal dari satu kelas saling berkonfrontasi untuk memenangkan persaingan.

Karena budaya yang terbangun dalam masyarakat terbuka adalah indifidualisme, personalisasi dan subyektifisme, maka, Popper menyebutnya sebagai ‘masyarakat abstrak’. Karena, di dalam masyarakat semacam ini, semangat kolektifitas dan organisme hampir semuanya hilang dan digantikan dengan semangat personal. Ciri dasar masyarakat adalah adanya ikatan dan semangat kolektifitas, namun dalam masyarakat terbuka ini semangat yang menjadi ciri dasar itu justru hilang dan musnah. Dimensi society dan community yang ada di dalamnya nampak tidak jelas alias abstrak. Yang jelas kelihatan justru personalisasi dan indifidualisasi. Meskipun masing-masing anggota masyarakat, secara fisik hidup berdampingan, namun di antara indifidu itu tidak saling bersapaan. Hidup nampak sumpek dan sesak oleh manusia, namun masing-masing indifidu manusia tidak saling mengenal. Inilah bentuk absurditas masyarakat global.

 

Tantangan masyarakat Indonesia sebagai dunia ke tiga

 

Karena sistem persaingan indifidu sudah menjadi eksistensi dalam percaturan global, secara otomatis setiap indifidu, untuk bisa eksis, ia maun tidak mau harus menghadapi tantangan persaingan tersebut. Kalau seseorang tidak bisa memenuhi tuntutan global itu, maka ia akan tenggelam oleh derasnya arus sejarah. Praksisnya, sebagaimana kata A. Ferry T Indratno, setiap orang agar bisa bertahan harus menguasai internet, bahasa internasional dan informasi.

Dengan demikian secara eksplisit, globalisasi yang menjadi pemicu lahirnya masyarakat terbuka ini, merupakan tantangan terhadap manusia dunia ke tiga, termasuk di dalamnya adalah masyarakat Indonesia. Sebab, manusia dunia ketiga sampai sekarang masih mengalami problem serius yakni SDM. Di bandingkan masyarakat dunia pertama, SDM dunia ketiga masih tertinggal jauh.

Indonesia khsususnya sampai sekarang perkembangan SDM masyarakatnya justru semakin memprihatinkan. Akibat keterpuukan SDM ini Indonesia kini sulit untuk ikut bersaing dengan negara –negara lain di dunia. Untuk kawasan ASEAN saja, Indonesia sekarang tertinggal jauh. Dalam penjelasannya (Kompas, 20/5/2006), Yudi Latif menyatakan bahwa hasil survei “World Competitiveness Report” 2001 oleh Forum Ekonomi Dunia (WEF) menempatkan Indonesia ke level 64 dari 75 negara dalam Growt Competitiveness Index (GCI) dan urutan ke 55 dalam Current Competetitiveness Index (CCI) dibanding dengan negara ASEAN, Indonesia di peringkat ke 6 CGI dan 5 CCI. Sedangkan pada 19 negara APEC Indinesia di urutan ke 19 untuk CGI dan ke 16 untuk CCI.

Atas dasar data keterangann di atas, betapa lemah dan rendah kualitas bersaing Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Jangankan dengan negara-negara Eropa dan Amerika yang notabene negara-negara maju, untuk kawasan ASEAN saja Indonesia sekarang terlihat kalang kabut. Data yang ditunjukkan oleh Sri Adiningsih dan Sofian Affandi sungguh memprihatinkan. Pesaing kita tidak lagi Malaysia atau Thailand, melainkan Myanmar, Laos dan Kamboja. Sejak tahun 2005 Vietnam sudah mengungguli Indonesia dalam emmpersiapkan sumber daya manusia. Semua hanya Indonesia yang mundur (Kompas, 4/7/2008)

Melihat akselerasi dan pesatnya perkembangan SDM masyarakat di negara-negara dunia, maka mau tidak mau Indonesia harus cancut taliwondo, melecut dirinya untuk bangkit memperbaiki diri dan kualitas SDM nya. Kalau nyali untuk memperbaiki SDM itu tidak ada, maka pertanda Indonesia akan menempati halaman terakhir dari daftar kemajuan negara-negara di dunia.

Untuk menempuh itu, maka satu-satunya jalan adalah dengan memperbaiki kualitas pendidikan kita. Selama ini pendidikan di Indonesia kurang begitu mendapatkan perhatian serius. Yang ditampilkan dari pendidikan Indonesia justru aspek formalitas pendidikan dan bukan fungsi dan substansi pendidikan itu sendiri. Kualitas guru, biaya yang merakyat, perkembangan materi pelajaran, mutu penyusunan kurikulum, etos belajar, perbaikan infrastruktur dan sebagainya adalah masalah-masalah krusial yang harus diperhatikan dengan serius.

Sangat mustahil mempunyai SDM yang bisa berdaya saing global, tapi kita masih memandang sebelah mata dunia pendidikan. Dunia pendidikan adalah kawah candra dimuka untuk mencetak manusia-manusia unggul dan berdaya saing di ares global.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” dan staf ahli di Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: