PLTGB:CARA CERDAS MASYARAKAT ATASI KRISIS LISTRIK

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Krisis energi sekarang memang benar-benar menjadi masalah krusial bagi kehidupan nasional. Pasca naiknya harga BBM, masyarakat sekarang dihadapkan pada persoalan listrik. Tingginya mobilitas dan aktivitas masyarakat yang membutuhkan listrik, menyebabkan pasokan listrik bertambah besar. Untuk memenuhi target kebutuhan itu pemerintah kini sedang membangun proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt yang diprediksikan akan selesai pada tahun 2010. Maka wakil presiden Yusuf Kalla, dalam dialog di hadapan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, (HIPMI) mengatakan bahwa krisis listrik di Indonesia diperkirakan baru akan berakhir dua tahun lagi. Bahkan dia sangat PD kalau kita sekarang kesulitan listrik ini, bukan karena listrik yang berkurang, tetapi ekonomi berkembang sehingga permintaan listrik bertambah (Kompas,7/7/2008).

Perkara itu karena peningkatan ekonomi atau tidak, itu tidak substansial. Yang jelas, masyarakat kini sedang resah dan susah oleh krisis listrik. Sebab, akibat krisis itu, PLN membuat kebijakan yang tidak populis: memadamkan listrik secara bergilir. Padahal listrik sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk aktifitas sehari-hari. Kebijakan PLN, yang merupakan upaya darurat untuk menghemat penggunaan listrik ini, jelas sangat mengganggu aktifitas masyarakat, terutama bagi pengusaha kecil dan menengah. Kalau penanganan semacam ini masih terus digunakan sampai menunggu rampungnya proyek pembangunan listrik sebesar 10.000 megawatt tersebut, kerugian yang diderita oleh masyarakat tentu semakin tinggi.

Kreativitas di tengah himpitan masalah

 

Pemerintah mestinya sangat berterima kasih kepada warga masyarakat yang kreativ dan mampu menemukan cara baru untuk mengatasi kekurangan listrik. Salah satu masyarakat yang sudah berhasil menemukan terobosan baru itu adalah warga masyarakat Langkat II Sumatra Barat. Seperti diketahui, warga masyarakat ini telah berhasil menemukan pembangkit listrik baru yang diberi nama dengan Pembangkit Listrik Tenaga Bandul (PLTGB). Pembangkit listrik ini terlihat cukup unik. Karena listrik dihasilkan dengan cara memutar bandul yang diselipkan di dalam roda. penemuan ini berangkat dari kegelisahan warga masyarakat Langkat II atas terjadinya krisis listrik yang sekarang sedang melanda.

Cara cerdas warga masyarakat Langkat II dalam mengatasi masalah listrik itu patut dicontoh oleh pemerintah dan juga warga masyarakat lain. Memang kondisi yang mendesak, mepet dan darurat (emergency) sering kali menjadi guru bagi mereka yang menghayatinya.”Guru kita adalah apa yang kita hadapi” begitulah kata Markesot—seorang tokoh nyentrik dalam bukunya Budayawan Emha Ainun Nadjib. Atas dasar itu, kondisi darurat dan serba sulit apapun, bagi orang kreativ seperti Markesot, justru dijadikan sebagai pelecut untuk menemukan ide-ide baru, gagasan-gagasan brilian dan temuan-temuan yang menakjubkan.Dengan kesulitan yang dihadapi itu, membaut dia mau bertanya, berdiskusi, merenung, berpikir, memeras otak dan sejenisnya.

Seorang yang kreativ, tidak hanya memandang sebuah kesulitasn sebagai kesulitan, tetapi ia lebih memandang makna dan fungsi kesulitan itu sendiri. Ketika sebuah kesulitan hanya dipandang sebagai kesulitan belaka, maka ia tidak akan menghasilkan apa-apa selain umpatan dan kemarahan atau keresahan. Namun sebaliknya, kalau sebuah kesulitan atau kedaruratan dipandang sebagai guru kehidupan, maka ia akan menghasilkan penemuan-penemuan baru yang sangat bermanfaat. Dalam hal ini warga masyarakat Langkat II terbukti masyarakat kreativ, karena ia tidak hanya memandang krisis listrik sebagai kesulitan saja, melainkan ia justru jadikan sebagai media penempaan dirinya untuk menemukan solusi cerdas dalam menangani krisis listrik di Indonesia. Dan berbuahlah hasil yang cemerlang yakni PLTGB

Kelemhan kita umumnya lebih memandang kesulitan sebagai masalah yang menjengkelkan. Hal itu akhirnya menjadikan diri kita mandek dan terkungkung dengan masalah itu sendiri tanpa bisa menemukan solusi untuk keluar darinya. Sehingga kita justru sering terjebak oleh emosi dan amarah kita sendiri. Padahal kalau kita menyadarinya itu sebenarnya sebuah pelampiasan perasaan yang sia-sia . Dendam, benci dan amarah, menurut Rendra, adalah hal yang merugikan kita sendiri. Karena itu hanya akan menghabiskan energi kita. Maka alangkah lebih baiknya, kalau kondisi sulit atau darurat itu kita pandang sebagai masalah positif yang harus kita hadapi. Positif dalam arti di sini adalah kita menyadari bahwa kondisi itu memang sebuah masalah tapi kita juga berusaha untuk mencari solusinya. Artinya masalah itu justru kita jadikan sebagai media eksplorasi dan kesperimentasi diri.

Pemerintah Jangan Tinggal Diam

 

Melihat masyarakatnya banyak yang kreatif dalam hal listrik di atas, pemerintah jangan sampai tidak peduli. Namun sebaliknya, ia justru mengapresiasi secara material maupun moril terhadap warga masyarakat yang terbukti bisa menemukan solusi listrik itu. Bagaimanapun juga, penemuan itu sangat berharga mahal. Karena tidak semua orang bisa menemukannya. Daripada SBY sibuk dengan blueenergi yang masih debateble dan belum jelas itu, alangkah baiknya kalau SBY menaruh perhatian dan apresiasi secara konkrit terhadap prestasi yang ditemukan oleh warga masyarakat Langkat, Sumut tersebut.

Apresiasi pemerintah itu dimanifestasikan dengan memberi bantuan modal atau dana untuk pengharagaan atas jasa mereka dan sekaligus biaya pengembangan operasional temuan PLTGB. Dengan adanya peran pemerintah ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat antusias dan apreciet terhadap karya anak bangsanya. Ini perlu, karena untuk menarik warga masyarakat lain untuk ikut berusaha memikirkan solusi krisis energi listrik ini. Kalau perlu penemuan warga Langkat II itu benar-benar difollow upi sehingga bisa menghasilkan energi listrik lebih besar. Sebab, karena terbatasnya mesin dan alat-alat pendukung, listrik yang dihasilkan oleh PLTGB masih relativ kecil.

Selanjutnya, dengan ditemukannya PLTGB sebagai pembangkit listrik alternatif ini, menandakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang kreatif dan penuh potensi. Namun sayang potensi semacam ini sering luput dari perhatian pemerintah sehingga jarang berkembang. Sekarang akankah pemerintah juga akan menyia-nyiakan begitu saja penemuan luar biasa tingginya yang telah dilakukan oleh warga masyarakat Langkat II itu?

*Muhammad Muhibbuuddin adalah Pegiat Forum Diskusi “Linkaran ‘06” dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: