MENEGAKKAN KEDAULATAN PANGAN NASIONAL

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Dunia kini dilanda ancaman krisis pangan serius. Dan bagi dunia ketiga ini merupakan permasalahan akut yang tak kunjung usai bahkan tambah parah. Pemikir postmodernisme Joe Holland menyatakan bahwa problem utama negara-negara dunia ke tiga adalah masalah ekonomi. Ekonomi yang dimaksud adalah menyangkut persoalan kemiskinan dan kelaparan atau krisis pangan. Dalam proyeksi konservatif dari bank Dunia, lebih dari 100 juta orang lebih di dunia mengalami kelaparan karena krisis pangan (Kompas, 11/7/2008

Dalam konteks Indonesia, masalah kekurangan pangan ini memang ironis dan naif. Pertanyaan sederhanaya adalah Dimana kedaulatan pangan kita sekarang ini? Bukankah Indonesia adalah negara yang buminya subur dan sumber daya alamnya melimpah? Bukankah Indoneisa juga terkenal sebagai negara agraris. Kenapa tidak bisa memproduksi beras sebanyak-banyaknya Hilang ke mana potensi-potensi alam dan pertanian yang kita miliki? Benarkah kita memang sudah tak lagi mampu memproduksi beras yang banyak ?

 

Kesalahan distribusi

 

Kalau kita melihatnya secara makro, penyebab utama krisis pangan yang melanda negara-negara berkembang seperti Indonesia ini bukan karena produktivitas pangan menurun. Sejak akhir Perang Dunia II jumlah penduduk dunia telah bertambah dua kali lipat, dan produksi pangan dunia meningkat tiga kali lipat. Bahkan Indonesia tercatat pernah memberi bantuan pangan kepada India yang saat itu terancam kelaparan. Hal ini menujukkan bahwa dunia mampu memberi makan bagi semua penghuninya. Begitu juga dengan sekarang.

Di awal 2008 ketika harga pangan tinggi, produktifitas pangan dunia justru meningkat tajam. Produksi gandum dunia yang harganya naik pada awal 2008 ini ternyata mengalami peningkatan yang lebih besar lagi yaitu hingga 9,34 juta ton antara tahun 2006 dan 2007. Sementara produksi gula dunia juga meningkat sebesar 4,44 juta ton sepanjang tahun 2007 lalu. Suatu angka yang cukup mencengangkan ditunjukkan dalam produksi jagung dunia pada tahun 2007 lalu yang mencapai rekor produksi 781 juta ton atau meningkat 89,35 juta ton. Hanya kedelai yang mengalami penurunan produksi sebesar 17 persen, itu pun karena ada penuyusutan lahan di Amerika Serikat sebesar 15 persen untuk proyek biofuel .

Dengan demikian, penyebab terjadinya krisis pangan dunia ini adalah bukan karena faktor produksi. Produksi pangan masih lumayan stabil. Kalau begitu apa penyebab utamanya? Jelas:kesalahan distribusi. Ada ketidakadilan dalam hal distribusi pangan dunia. Satu sisi ada sebagian kecil negara yang sakit kekenyangan, namun pada saat yang sama ada banyak negara yang sakit kelaparan.

Karena distribusi pangan yang tak merata itulah mengakibatkan 100 juta orang lebih di dunia mengalami kelaparan karena krisis pangan, termasuk orang Indonesia. Beangkeroknya lagi-lagi adalah pasar global. Mereka yang terancam kelaparan itu tidak sanggup membeli harga pangan, karena harga pangan dunia saat ini dikendalikan perusahaan-perusahaan eksportir pangan multinasional. Di Indonesia harga bahan pangan melambung, karena pasar pangan nasional sudah tidak berdaya lagi akibat dihancurkan pasar global.

Akibat kerakusan pasar, negara-negara maju dengan perusahaan korporasi tansnasionalnya di bidang pangan melakukan over production pangan untuk diekspor .Produksi pangan yang berlebihan di negara maju itu mau tidak mau harus dialirkan ke negara-negara berkembang. Hal ini mengakibatkan negara-negara berkembang di belahan dunia kebanjiran produk-produk pangan ekspor. Kenyataan ini tentu sangat memukul para petani setempat. Karena produk mereka di dalam negeri sendiri dilibas oleh produk pangan ekspor. Inilah yang menyebabkan kedualtan pangan kita hancur.

Kehancuran pangan nasional itu bermula pada tahun 1998 yang mana pemerintah menyerahkan kebijakan pangannya kepada pasar. Kebijakan pemerintah ini sama halnya menggali liang kuburnya sendiri. Terbukti, setelah masuk pasar bebas dalam hal ini WTO, pemerintah Indonesia melakukan liberaslisasi dan privatisasi dalam perdagangan pangan sehingga sistem pangan lokal hancur luluh.Petani padi, jagung, kacang kedelai dan buah-buahan hancur semua.

 

Kembalikan kedaulatan pangan nasional

 

Dengan demikian untuk menanggulangi krisis pangan yang mengancam integritas bangsa ini jalan satu-satunya adalah mengembalikan kedaulatan pangan nasional. Kedaulatan pangan yang dimaksud itu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Henry Saragih, Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) yaitu memberikan hak kepada setiap negara untuk mengatur dan memproteksi tata pertanian di masing-masing negara. Negara harus memproteksi petani dari gempuran pasar bebas. Produksi pertanian harus ditujukkan kepada pemenuhan kebutuhan rakyat bukan pada kebutuhan pasar ekspor yang hanya menguntungkan perusahaan-perusahaan multinasional. Kedualatan pangan harus memprioritaskan pemenuhan pasar lokal dan nasional dan memberdayakan petani kecil di pedesaan.

Saat ini pemerintah jarang sekali melakukan keberpihakan kepada petani. Para petani dibuat hancur tak berdaya di hadapan rezim korporasi trannasional. Kerja keras mereka tergerus oleh kerakusan pasar global. Tidak adanya keberpihakan pemerintah terhadap para petani itu lebih nyata lagi ketika dituntut untuk membeli benih mahal, pupuk mahal dan sejenisnya karena subsidi untuk pertanian dicabut pemerintah. Tidak hanya itu, pemerintah lebih suka mengalokasikan anggaran ke sektor non produktif seperti properti. Sementara sektor produktif seperti pertanian justru dicampakkan oleh pemerintah.

Petani adalah tulang punggung pangan nasional, ia merupakan basis berjalannya sirkulasi ketahanan pangan dalam negeri. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana kacaunya kalau di negeri ini sudah ada petani yang mau menenam padi? Maka dari itu, semestinya, program anggaran pemerintah lebih berpihak kepada mereka. Jangan malah mereka sering dibuat sengsara dan frustasi terus menerus. Keberpihakan kepada petani itu semakin mendesak juga seiring adanya fakta bahwa sekarang ini sudah tidak begitu banyak orang yang mau berprofesi sebagai petani. Ini artinya sumber pangan kita mulai terkikis. Berkurangnya tenaga pertanian ini hendaknya menjadi perhatian pemerintah supaya unsur vital yang mulai berkurang ini tetap semangat bekerja untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Maka dari itu, kalau krisis pangan nasional ini tidak ingin menjadi mimpi buruk yang terus menerus, kedaulatan pangan harus segera ditegakkan. Kuncinya sederhana saja:bela dan lindungi para petani.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat diskusi filsafat “Linkaran ’06” dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: