BELAJAR MEMANG TIDAK HARUS DI SEKOLAH

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Revitalisasi pendidikan non formal dan non profite sekarang memang harus digalakkan. Sebab, pendidikan berbentuk sekolah formal sekarang semakin menjadi beban masyarakat kecil. Alasannya sederhana, sekolah bermetamorfosisis menjadi ladang bisnis. Karena orientasinya bisnis, maka yang lebih ditekankan adalah kuntungan materi (profite oriented). Inilah yang melatarbelakangi mengapa sekolah-sekolah di Indonesia sekarang, mulai SD hingga perguruan tinggi, sering mematok biaya jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Sungguh sangat tidak realistis dan tak manusiawi melihat banyaknya masyarakat Indonesia yang penghasilkannya pas-pasan bahkan kurang.

Dengan biaya sekolah yang supermahal itu, orang-orang miskin harus mengubur dalam-dalam keinginanya untuk meraih haknya, yakni pendidikan. Pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Namun sampai sekarang pendidikan di Indonesia belum bisa mendasarkan dirinya pada aspek semangat kemanusiaan.. Bahkan semakin jauh dari nilai-nilai humanisme. Institusi pendidikan bahkan menjadi lembaga kekuasaan yang kerap kali menciptakan dehumanisasi. Dengan tarifnya yang mahal, sekolah, kampus dan sejenisnya akhirnya hanya boleh diinjak oleh masyarakat yang berkantong tebal, sekolah hanya bisa diakses oleh mereka yang berduit banyak. Kenyataan semacam ini akhirnya melahirkan diskriminasi di kalangan masyarakat.

 

Meruntuhkan mitos pendidikan

 

Di sadari atau tidak, lembaga pendidikan formal, sekolah dan kampus sering menawarkan mitos-mitos pragmatisme kepada masyarakat. Tanpa di sadari tawaran mitos ini, secara idiologis, telah menjajah masyarakat. Mitos itu misalnya masa depan yang cerah, mendapat kerja yang mudah, mudah masuk menjadi CPNS dan sebagainya. Mitos-mitos pragmatis ini seringkali menjerumuskan masyarakat sendiri. Banyak masyarakat yang rela mengorbankan segala sesuatunya hanya demi selembar ijasah, dengan asumsi bahwa ijasah itu akan memuluskan jalan untuk mencapai kesuksesan. Sementara faktanya, apa yang dikehendaki itu jarang terjadi. Kampus atau sekolah justru banyak mencetak pengangguran intelektual. Berdasarkan data statistik dari Departemen Tenaga Kerja (Depnakertrans) Republik Indonesia tahun 2005,menyebutkan bahwa pengangguran lulusan diploma atau akademisi sekitar 322.836 jiwa. Bila ditotal, setidaknya ada sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari kalangan sarjana muda (Benni Setiawan:2008).

Mitos demi mitos itu setiap tahun terus membius masyarakat. Dan masyarakat sekolah tidak berdaya menghadapi tawaran itu. Sehingga proses mitologisasi dunia pendidikan ini telah menjelma menjadi budaya yang mengakar kuat dalam kesadaran masyarakat. Masyarakat akhirnya hanya percaya satu pakem bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai kerir kesuksesan adalah lewat jalur sekolah formal. Lembaga non formal dianggapnya tidak menawarkan apa-apa sehingga dicampakkan. Ini pula yang menjadikan lembaga formal pendidikan menjadi lembaga yang elit dan kelihatan wah di masyarakat. Masyarakat akhirnya merasa prestisnya tinggi kalau bisa masuk sekolah formal. Padahal realitasnya banyak yang bobrok. Sudah bobrok mahal lagi.

Untuk membebaskan dari jerat mitos pragmatisme itu, maka masyarakat harus merubah paradigmanya. Bahwa sekolah bukanlah sesuatu yang elit, sekolah bukanlah satu-satunya jalan untuk meraih karir, sekolah bukanlah lembaga yang menjanjikan untuk menentukan masa depan.. Namun sebaliknya sekolah hanyalah lembaga pengahambur-hamburkan uang, sekolah adalah penindasan, sekolah hanyalah tempat untuk menanamkan nilai-nilkai borjuisme, kapitalisme, dan materialisme, sekolah hanya tempat hura-hura dan main-main belaka, sekolah hanyalah tempat pacaran, tempat ngrumpi, tempat pembodohan bahkan tempat untuk melanggengkan nilai-nilai kekuasaan. Hal ini bisa dibuktikan dengan gagalnya sekolah mencetak intelektual yang berkualitas. Meskipun lembaga pendidikan di Indonesia banyak yang sudah berorientasi pasar, namun realitasnya out putnya pun tidak laku di pasaran. Atas adsar ini, maka apa yang diajnjikan oleh lembaga pendidikan formal adalah omong kosong .

 

Lembaga non formal sebagai alternativ

 

Karena lembaga pendidikan yang sudah sedemikian busuk, laayamutu walaa yahya (tidak bermutu tapi menghabiskan biaya), maka ada baiknya kalau masyarakat mulai menciptakan dan mementingkan kelompok belajar sendiri diluar sekolah. Belajar secara non formal di luar sekolah ini merupakan jalan alternatif bagi masyarakat dalam menghadapi lembaga pendidikan formal yang sudah tidak memihak masyarakat kecil. Ini demi memeratakan pengetahuan seluruh masyarakat. Proses pembelajaran, menurut Paulo Freire (2007) adalah usaha untuk memperoleh pengetahuan.

Untuk memperoileh pengetahuan maka masyarakat tidak harus lbelajar lewat jalur sekolah formal. Untuk bisa meningkatlkan pengetahuan, masyarakat tidak harus membayar mahal-mahal di sekolah, tetapi bisa ditempuh dengan membuat atau mengikuti forum-forum kajian ataiu diskusi yang intensif dan tanpa terbebani oleh biaya. Prinsipnya adalah sederhana, bahwa pengetahuan di sekolah adalah pengetahuan yang sudah tersistematisasikan, berbentuk literer dan reduksionis. Dengan demikian ilmu pengetahuan yang ada di sekolah tentu lebih sempit. Sementara pengetahuan di luar sekolah adalah pengetahuan yang masih natural, non literer kaya dimensi dan luas jangkaunnya. Segala sesuatu yang berada di luar kampus atau sekolah bisa menjadi pelajaran, bisa menjadi guru dan bahkan bisa menjadi inspirasi untuk menemukan hal-hal besar.

Kita kenal Thomas Alfa Edison yang menjadi ilmuwan besar berkat ketekunannya di luar sekolah formal. Atau sang Budha Gautama yang mendapatkan kebijaksanaan hanya melalui air yang mengalir dan tokoh tokoh besar dunia lainnya.Ini artinya bahwa pengetahuan di luar kampus atau sekolah, kalau ditekuni dan diseriusi dengan seksama maka akan mengantarkan seseorang pada kemuliaan. Di samping itu, pola belajar semacam ini akan mengakrabkan seseoranmg dengan kehidupan. Karena belajar semacam ini ditempa dari realitas empirik yang terjadi di masyarakat. Kalau disadari belajar dengan pola seperti ini justru akan mengarah kepada inti dan substansi belajar itu sendiri. Belajar secara alamiah ini justru membuat seseorang mempunyai tingkat keilmuan yang sesungguhnya, dan bukan hanya sekedar formalitas. Ia akan lebih efektif dan produktif dan tanpa pengahamburan biaya.

Modalnya cukup mau dan semangat belajar. Artinya untuk menjalankan pembelajaran secara alamiah yang ada di luar sekolah formal, seseorang hanya dituntut untuk intensif berpikir, kreatif, banyak merenung, banyak membaca dan peka terhadap realitas. Tentu saja hal-hal semacam ini tidak perlu menggunakan dana jutaan rupiah, tetapi kuncinya cukup mau dan bersedia saja. Maka dari itu ayo kita semarakkan belajar di luar sekolah yang lebih murah dan membebaskan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: