Catatan hari KNPI, 23 Juli

SAATNYA DIBUTUHKAN KEPEMIMPINAN PARA BUNG
Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

23 Juli adalah hari lahir KNPI, sebuh wadah arek-arek muda Indonesia. Momen ini penting kita refleksikan sebagai dasar pertimbangan untuk melaksanakan agenda nasional yang mendesak yakni regenerasi kepemimpinan. Sebab, sampai sekarang ini kita telah dilanda krisis kepemimpinan nasional yang cukup serius. Berkali-kali kita ganti kepemimpinan, namun kondisi Indonesia bukannya menunjukkan tanda-tanda kesembuhannya, melainkan justru semakin kejet-kejet menuju sakaratul maut. Hal ini mengindikasikan bahwa di Indonesia belum ditemukan sosok pemimpin ideal yang benar-benar mampu mengangkat Indonesia dari keterpurukannya. Sekarang tipikal pemimpin seperti apakah yang sebenarnya kita butuhkan ?
Secara historis, berdirinya negara kemerdekaan Indonesia adalah berkat kepeloporan oleh para Bung. Kita tidak asing lagi dengan deretan sejumlah nama pemimpin Indonesia yang akrab dengan panggilan Bung. Seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Bung Syahrir dan seterusnya. Generasi para Bung ini, seperti kata budayawan Mudji Sutrisno, berjuang dengan visi keIndonesiaan yang merdeka, bersatu dan berdaulat.
Fakta sejarah itu bermakna bahwa barisan kepemimpinan nasional Indonesia adalah dipenuhi oleh kaum muda. Mereka kebanyakan para intelektual muda berumur rata-rata 25-45 tahun. Usia setingkat ini adalah masa-masa produktif dan segar-segarnya pemikiran mupun gerakan seseorang. Dalam rentang sejarah regenerasi kepemimpinan kaum muda Indonesia itu, Roeslan Abdoel Ghani (1987) membaginya menjadi tiga lapis generasi. Lapis pertama, generasi yang lahir sekitar pergantian abad ke 19 ke abad 20. mereka ini adalah Bung Thamrin, Bung Karno, Bung Hatta, Ali Sastroamijoyo, Mr. Sartono, Mr.Ahmad Subardjo dan lain-lain. Mayoritas usia mereka ini adalah 45 tahun pada tahun 1945.
Lapis kedua, generasi yang lahir sekitar 1915-1920. Pada tahun 1945 mereka ini rata-rata berusia 25-30 tahunan. Pada saat proklamasi dan revolusi mereka merupakan “angkatan pendobrak”nya yang terkenal dengan angkatan ’45. generasi ini memandang angkatan Bung Karno dan kawan-kawan sebagai generasi “Pembangunan Candi Kemerdekaan”. Yang termasuk lapis generasi ini adalah Chairul Saleh, Sukarni, B.M. Diah, Adam Malik, Tri Murti dan seterusnya.Sementara lapis ketiga adalah generasi yang pada waktu proklamasi dan revolusi masih berusia remaja sekitar 15-20 tahun. Mereka ini masih berada dalam pertumbuhan dan perkembangan, penuh daya cipta, energi dan dinamika. Dengan didominasi oleh awak-awak muda yang penuh semangat dan heroisme, kemerdekaan Indonesia akhirnya berhasil diraih dan dipertahankan. Ini merupakan sebuah momen yang sungguh produktif.

Kepemimpinan sekarang
Kalau dilihat dari segi produktifitas, kepemimpinan sekarang ini merupakan sebuah degradasi. Sebab, dari Orba sampai reformasi kepemimpinan Indonesia rata-rata didominasi oleh generasi tua. Mereka rata-rata sudah berumur 50 tahun ke atas. Secara fisik maupun mental, jelas ini sebuah kemunduran. Karena usia 50 tahun ke atas merupakan usia yang sudah lanjut. Pada usia lanjut ini rata-rata manusia sudah terlalu capek dan kekurangan pasokan energi.
Seperti setiap kali pada musim pemilu, masing-masing partai selalu lebih mempercayakan kepemimpinan nasional kepada generasi tuanya. Kalau di PDI-P lebih ke Megawati Soekarnoputri, di PKB lebih ke Gus Dur, di PAN lebih ke Amin Rais, PD lebih ke SBY dan sebagainya. Dari masing-masing partai ini jarang yang menawarkan figur-figur muda yang lebih energik dan produktif.
Kecenderungan para partai politik lebih menjagokan para generasi tuanya ini sebenarnya lebih disebabkan oleh kultur politik paternalistik. Kultur paternalistik masih begitu kuat menjadi langgam politik kita, sehingga integritas kepemimpinan nasional masih dibangun di atas bayang-bayang kebesaran seorang tokoh dan bukan atas kecakapan dan kepiwaian seorang kader. Ini tentu sangat berdampak negatif terhadap masa depan kepemimpinan nasional. Di samping tidak efektif, juga mnejadikan Indonesia terus terkungkung dalam krisis kepemimpinan nasional.

Yang muda maju, yang tua support dari belakang
Melalui hari ulang tahun KNPI ini, semangat muda harus dihidupakan lagi. Apalagi sebentar lagi Indonesia akan melakukan suksesi nasional 2009. Momen ini harus memberi kesempatan kepada kaum muda untuk tampil. Selama ini anak muda hanya diposisikan sebagai figuran atau sekedar kekuatan pendukung generasi tua. Sekarang secara radikal harus dirubah. Indonesia yang akan datang harus dipimpin oleh para Bung dan bukan lagi oleh kakek-kakek ataupun nenek-nenek.Generasi tua seharusnya bersikap lebih bijak untuk bersedia mundur ke belakang dengan cukup mensupport generasi muda yang ada di garis depan. Sudah saatnya sekarang para generasi tua Indonesia meniru jejak mantan presiden kulit hitam Nelson Mandela yang cukup memimpin Afsel satu peroide. Setelah mengubah negaranya dengan begitu mendalam selama pemerintahannya, Mandela meninggalkan panggung itu, memberi kesempatan bagi pemimpin yang lebih muda (Kompas, 18/7/2008)
Indonesia yang sekarang masih berada dalam timbunan masalah dan krisis multidimensional ini membutuhkan tenaga-tenaga yang lebih fresh secara fisik, mental dan pemikiran. Memang secara konstitusional tidak ada larangan bagi generasi tua untuk tampil lagi. Namun dalam konteks kepemimpinan nasional tidak cukup berpegang pada aspek yuridis. Aspek lain seperti efektifitas dan efesiensi kepemimpinan juga merupakan faktor substansial yang harus diperhatikan secara serius. Lebih dari itu, para generasi tua ini merupakan lapisan generasi yang sudah ketahuan pernah tampil di hadapan publik. Mereka rata-rata kurang berhasil membawa Indonesia lepas dari kungkungan krisis. Sehingga mayoritas publik sudah tidak begitu percaya dan simpati kepada generasi tua. Ini harus menjadi pertimbangan para generasi tua supaya tidak ngotot tampil lagi ke tampuk kepemimpinan nasional.
Hanya persoalannya, kaum muda Indonesia ini siap atau tidak? Sebab, untuk menjadi pemimpin nasional seorang tokoh muda, di samping harus populer di mata rakyat, ia harus kapabel dan kredibel. Ada banyak kualifikasi yang harus dipenuhi oleh tokoh muda untuk tampil menjadi pemimpin nasional. Di antaranya adalah pandai bermain strategi politik dan juga mempunyai etika politik yang luhur. Artinya seorang Bung dituntut tidak hanya piwai bermain politik dalam artikulasi siasat untuk mencapai kekuasaan, tetapi juga harus mempunyai kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Keputusan politik adalah keputusan untuk orang banyak, untuk kemaslahatan umum. Tentu, tanpa berbekal pada etika politk, seseorang akan terjerumus pada kepentingan indifidu. Kekuasaan yang diraihnya bukan digunakan untuk memperjuangkan hak-hak orang banyak, melainkan untuk memenuhi ambisi diri dan keluarga. Hal semacam inilah yang sekarang marak terjadi. Sekandal korupsi, perselingkuhan, penyelewengan wewenang ternyata banyak dilakukan oleh politisi muda.
Hal –hal kriminal semacam itulah yang harus dihindari oleh para Bung sebelum memasuki arena politik. Politik adalah taman yang jalannya sungguh licin bung! Sudah semestinya etika dan profesionalitas menjadi modal masuk ke dalamnya untuk menjaga agar tidak tergelincir ke dalam jurang pragmatisme dan hedonisme. Sebab, dua hal inilah yang menjadi penyakit para Bung, termasuk para Bung yang menjadi politisi.
*Muhammad Muhibbuddin adalah aktifis pemuda di Yogyakarta dan Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: