KE MANA PARA INTELEKTUAL ITU ?

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Melihat kondisi bangsa kita yang masih terus menerus dalam kondisi carut marut sekarang ini, nampaknya kita perlu mempertanyakan eksistensi kaum intelektual Indonesia. Alasannya sederhana saja, kaum intelektual, para cerdik pandai adalah agent of social change, Agent of development betul!. Sekarang kemana orang-orang pinter itu? Kemana para cerdik pandai kita itu? Lari ke mana para Prof.Dr kita itu? Sembunyi di mana para sarjana kita itu? Ngumpet di mana para kaum akademisi kita itu?

Di Indonesia kaum cendekiawan bertebaran, sarjana, Ir, magister, Dr, dan profesor terus bermunculan, kampus-kampus menjamur, universitas-universitas mentereng dan gagah banyak tumbuh subur, idealnya Indonesia semakin maju dong. Namun yang muncul kok justru sebuah paradoks, keberadaan Indonesia sebagai negara sampai sekarang justru bernasib semakin sial. Masalah demi masalah terus bermunculan namun belum ada satupun yang sudah bisa diselesaikan secara tuntas.

Ambil contoh saja masalah pengangguran. Jumlah pengangguran di Indonesia bukannya menurun tetapi jutru merangkak naik. Bahkan karena daya naiknya lumayan tinggi, para intelektual pun—-yang semestinya tidak nganggur—-sekarang banyak yang ikut-ikutan nganggur. Jumlahnya pun tak cukup satu, dua, sepuluh atau seratus, melainkan menembus angka ribuan. Data statistik Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) Republik Indonesia tahun 2005, menyebutkan bahwa pengangguran lulusan diploma atau akademisi sekitar 322.836 jiwa. Sedangkan sarjana lulusan universitas selitar 385.418 jiwa. Bila ditotal, setidaknya ada sekitar 708.254 jiwa pengangguran dari klanagn sarjana (Benni Stiawan :2008). Di DIY saja, yang banyak berjejal kaum pelajar, angka pengangguran intelektual cukup tinggi. Dari 148.696 pengangguran, 21.000 di antaranya berpendidikan S1 dan S2 (Republika:23/6/2008).

Melihat fakta tersebut, lamat-lamat kitapun menjadi mafhum kenapa Indonesia terus berkalang kabut. Karena para intelektualnya, para cendekiawannya yang menjadi ujung tombak perubahan itu sendiri masih terperangkap kabut. Mereka sendiri masih terseok-seok, pontang-panting, terjungkal-junglal dalam memperjuangkan hidupnya. Logikanya, kalau kondisi mereka saja bernasib naas seperti itu, bagaimana mungkin mereka bisa merubah kondisi bangsa yang super naas ini. Jelasnya, kalau mereka sendiri saja menjadi problem bangsa, bagaimana mungkin mereka bisa merubah problematika bangsa?

Hidup sebagai intelektual di Indonesia memang sebuah tantangan bahkan ancaman. Sebab, status intelektual yang prestisuis itu, dengan berbagai stratifikasi gelar akademik yang wah, ternyata bukan sebuah jaminan untuk hidup enak dan mapan secara material. Meskipun gelar akademik seseorang tinggi nyundul langit, tidak serta merta yang bersangkutan laku di pasaran. Maka sungguh kasihan bagi mereka yang masuk kuliah mahal-mahal, kalau niatnya hanya sekedar ingin mencari kerja, menjadi CPNS, atau supaya bisa masuk staf ini dan itu pada sebuah perusahaan. Dijamin mereka pasti kecewa, frustasi atau malah gantung diri. Soalnya memang tidak ada jaminan seseorang yang kuliah tinggi, di kampus favorit, dengan biaya mahal ditambah prestasi cumlaude, setelah lulus langsung menjadi sekretaris Freeport atau pegawai negeri.

Tidak kualitaskah para intelektual kita? Kalau kita melihat tingginya angka pengangguran intelektual itu, ada benarnya bahwa para intelektual kita banyak yang tak bermutu. Sebab, menganggurnya para intelektual Indonesia itu menunjukkan kalau mereka tidak mampu berkompetisi di ares global. Kualitas keilmuan mereka masih sangat diragukan. Sebab, tidak mungkin, seseorang yang kualitas keilmuannya bagus hidupnya menjadi pengangguran. Asumsi ini juga dipertegas dengan pernyataan ekstreem seorang kepala Human Resource Departement (HRD) sebuah perusahaan minyak yang telah berpengalaman 27 tahun di bidang rekrutmen. Bapa kepala ini bilang: lulusan universitas saat ini ecek-ecek alias tidak bermutu. Mereka dianggap tidak cukup qualified mengisi berbagai posisi strategis akibat tidak memadainya etos akademis dan kewibawaan keilmuan yang mereka miliki (Agus Suwignyo:2008).

Dengan rendahnya mutu keilmuan para intelektual Indonesia itu, telah membawa implikasi yang lebih jauh, bukan sekedar penambah pengangguran bangsa, melainkan juga mempertinggi angka ketergantungan. Dengan kualitas keilmuan yang rendah, para intelektual itu akhirnya tidak bisa kreatif dan mandiri untuk berusaha mencari temuan-temuan baru, peluang-peluang baru untuk bisa mengurangi beban masalah yang sekarang menumpuk, minimal untuk mengatasi masalahnya sendiri. Bila dipandang dari segi prosesnya, ini jelas kesalahan universitas-universitas yang memproduksi para intelektual itu. Dengan produk yang berkualitas rendah ini menandakan bahwa universitas kita juga banyak yang tak beres.

Dan itu sungguh naif. Sebab, universitas-universitas di Indonesia sekarang banyak yang memasang tarif super tinggi. Lihat saja setiap kali masuk univeristas, para calon mahasiswa pasti diperas berjuta-juta rupiah. Sekali terlambat bayar atau bayarnya kurang, maka seorang mahasiswa wajib angkat kaki dari universitas. Dengan tarif yang mencekik leher dan nihilnya toleransi ini, perlu dipertanyakan kepada universitas-universitas di Indonesia: apa tanggung jawab universitas-universitas terhadap para alumninya yang tercampakkan itu?waalhua’lam.

 

Saatnya Berubah

 

Melihat kondisi sosial, ekonomi dan politik yang tidak bersahabat itu, saatnya sekarang para intelektual Indonesia mulai merubah dirinya. Kunci perubahan situasi bangsa yang serba bobrok ini adalah para agen sosialnya yaitu para intelektual sendiri. Salah satu mdzhab Framkfurt, Herbes Marcus (1927) menyatakan bahwa, agenda-agenda perubahan sosial hanya mungkin terlaksana, jika agen-agen perubahan sosial telah mengalami perubahan radikal di dalam diri mereka.

Perubahan itu diorientasikan kepada pola hidup yang mandiri, aktif, kreatif dan inofativ.sebab, selama ini kebanyakan intelektual yang menganggur itu disebabkan oleh kuatnya jiwa ketergantungan mereka kepada pihak lain. Mereka hanya menunggu operan bola dari institusi pemerintah maupun swasta, kalau tidak ada operan lantas mereka nganggur.

Dalam kondisi sekarang ini, seorang intelektual tidak bisa lagi menggantungkan lagi masa depannya kepada negara, atau lembaga sosial-ekonomi yang ada. Para intelektual harus berani melecut dirinya untuk “berijtihad” dan “berjihad”menciptakan peluang sendiri. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang intelektual, kalau memang mau dengan sungguh-sungguh menggali potensi yang ada di alam sekitar. Selama masih ada kemauan dan usaha keras, maka seribu pintu kesempatan pasti akan terbuka. Maka, dari pada mengemis-ngemis kepada berbagai lembaga yang tak jelas, lebih baik para intelektual itu berkarya dan berkreatifitas untuk menunjang eksistensinya.

Jadi, kunci perbaikan Indonesia ini adalah para intelektualnya sendiri. Kalau para intelektual Indonesia yang menjadi agent of change itu mampu merubah kondisinya yang absurd itu, maka kondisi bangsa yang terpuruk ini akan bisa segera berubah dan begitu sebaliknya. Dengan demikian, tidak adanya perubahan dalam permasalahan Indonesia ini karena memang intelektualnya tidak banyak yang berubah. Artinya paradigma yang dipakai masih paradigma lama yang bercirikan ketergantungan, kemalasan, miskin inisiatif, nihil kreatifitas dan sebagainya. Kalau memang kondisi para intelektual semacam ini, maka tidak perlu bicara soal kapan selesainya krisis ekonomi, krisis politik, hukum, kepercayaan dan sebagainya. Maka sekarang ke mana para intelektual Indonesia itu?

*Muhammad Muhibbuddin adalah santri Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim Asya’ari dan mahasiswa Aqidah-Filsafat UIN Sunan Kalijaga. Aktif di forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: