GELISAH ITU PERLU

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Seorang mahasiswa filsafat merasa gelisah. Alasannya, karena sampai sekarang ini pikirannya terganggu oleh sebuah pertanyaan yang kelihatan sederhana, namun cukup sulit untuk menemukan jawabannya. Pertanyaan yang menjadi hantu pikirannya itu adalah : “Bagaimana Muhammad bisa mempercayai kalau al-Qur’an itu wahyu?”

Pertanyaan itu secara verbal memang nampak remeh, namun cukup menjengkelkan. Karena memang sulit dijawab secara memuaskan.Untuk menjawab itu jelas butuh membaca beratus-ratus buku sirah nabawiyyah (sejarah nabi) dan juga perenungan dan diskusi berjam-jam untuk menelusuri hati dan pikiran Muhammad saat menerima wahyu.

Para tokoh hermeneutika konservatif, seperti Freidrich Schliermacher dkk , menegaskan bahwa kebenaran sebuah teks itu terdapat dalam maksud pengarangnya dan sesuai dengan pemahaman audien yang pertama yang dituju oleh teks. Atas dasar ini, idealnya pihak yang kompeten menjawab persoalan sahabat yang satu ini adalah Muhammad SAW dan para sahabtanya sendiri. Namun sayang, Muhammad yang menjadi sumber persoalan itu justru sudah meninggal dunia di tahun 632. Para sahabat lapis pertama beliau juga sudah meninggal semua. Jadi sangat malang calon filsof kita ini. Ia belum menemukan seorang yang bisa memuaskan hatinya untuk memberi jawaban atas persoalannya itu. Sehingga dia merasa gelisah. Di raut wajahnya terlihat seolah sedang mendapatkan musibah besar. Di sudut taman terlihat dirinya duduk membungkuk sambil merenung persis seperti lukisan patung hasil karya Auguste Rodin, The Thingker.

Dalam konteks kehidupan konvensional, apa yang dilakukan oleh sahabat itu bisa jadi sesuatu yang unik. Kok kober-kobernya orang gelisah hanya karena persoalan yang nampak remeh itu. Lantas apa hubungannya dengan eksistensinya dia di dunia. Apa makna penting dari perosalan itu terhadap dirinya.kalau nantinya ia sudah menemukan jawabannya?

Sekarang kira-kira dimana letak ketinggian nilai dari prilaku sahabat yang satu itu? Pada jawaban yang ditemukankah? Bagi orang yang berpikiran mendalam, keluhuran makna dan ketinggian nilai yang ada pada teman kita itu jelas bukan terletak pada kebenaran jawaban yang nanti dia temukan, melainkan justru terletak pada aspek kegelisahaannya itu sendiri. Kegelisahan semacam itu merupakan sesuatu yang meningfull karena untuk menjaga kelangsungan hidup. Hidup akan kehilangan vitalitasnya kalau, di dalamnya, sudah tidak dijumpai lagi kegelisahan. Kegelisahan adalah indikasi adanya dialog dan dialektika antara realitas dengan idealitas, antara kenyataannya (das sein) dengan yang seharusnya (dassollen).

Oleh karena itu orang yang gelisah adalah orang yang sadar atas realitas. Kegelisahan yang hinggap dalam pikiran seseorang, merupakan indikasi bahwa ia hidup tak hanya tenggelam dalam kebiasaan, tetapi juga kritis terhadap banalitas kehidupan. Tentu saja kegelisahan, dalam konteks ini adalah kegelisahan yang membuncah dari aspek-aspek dasar kebudayaan manusia, yaitu kegelisahan yang bersumber dari ketajaman logika, etika dan estetika. Kegelisahan yang semacam ini, konteksnya jelas bukan lagi materi, melainkan melampoi materi. Artinya, meskipun secara material, kegelisahan itu tidak menguntungkan, ia tetap merupakan sesuatu yang sangat berharga. Karena letak keunggulan dan keluhuran nilainya bukan terletak pada dimensi materialisme persoalan, melainkan terletak pada ketiga aspek dasar kemanusiaan di atas. Dengan demikian ia merupakan sesuatu yang fitri. Seperti kegelisahan sahabat di atas itu merupakan kegelisahan yang bersifta fitrah , karena secara materialis jelas ini sama sekali tidak menguntungkan. Namun meskipun demikian ia tetap membuka dirinya untuk menerima kegelisahan itu.

Oleh karena sifatnya yang fitrah itu, maka kegelisahan itu justru harus ditumbuh kembangkan. Seseorang harus pandai-pandai membuat sebanyak-banyaknya tentang kegelisahan tersebut. Seseorang harus menajamkan pisau logika, etika maupun estetikanya untuk membedah realitas yang berlangsung. Dengan kegelisahan yang semacam itu, akhirnya membuat seseorang tercambuk untuk mencari sesuatu yang riil. Ia tidak lekas puas dengan apa yang disodorkan oleh realitas secara apa adanya dalam kategori inderawi. Melainkan ia justru tertantang ingin menguak sisi-sisi terdalam sebuah realitas yang masih menjadi misteri dalam jagat pikiran manusia. Maka, konsekuensinya, kegelisahan ini akan membuat seseorang cenderung menerobos batas-batas budaya yang dipakemkan dan bahkan didogmakan oleh masyarakat umum.

Justru yang paling kita takuti adalah apabila kita lihat seseorang, dalam hidupnya, sudah tidak gelisah. Seseorang yang secara fitrah tidak lagi dihinggapi oleh kegelisahan merupakan bahaya besar. Karena dirinya tidak lagi bisa berdialog dengan realitas yang menyelimutinya, tetapi justru terkungkung olehnya. Ini menandakan bahwa nilia-nilia logika, etika dan estetikanya yang ada di dalam dirinya sudah mati.

Sekarang ini banyak sekali manusia yang sudah tidak gelisah karena kematian spirit kebudayaannya. Ini tercermin dalam berbagai peristiwa yang seharusnya tidak terjadi. Banyak orang menilap uang rakyat tanpa merasa gelisah, banyak orang yang menyalahgunakan wewenang tanpa merasa gelisah, banyak orang yang mengingkari janji tanpa merasa gelisah, banyak orang yang memangkas hak-hak masyarakat bawah tanpa merasa gelisah, banyak orang yang suka memperbanyak gundik secara illegal tanpa gelisah, banyak orang yang melihat anak-anak kecil yang hidupnya tergadaikan dipersimpangan jalan tanpa gelisah, banyak orang yang melihat maraknya kekerasan dan anarkisme tanpa gelisah, banyak orang yang melihat korupsi terstruktur tanpa merasa gelisah, banyak orang yang melihat penindasan tanpa gelisah dan seterusnya. Dengan tanpa kegelisahan itu, maka segala macam patologi sosial yang seharusnya tidak terjadi, akhirnya menjadi kebiasaan.

Inti dari kegelisahan yang bersumber pada dasar-dasar nilai kebudayaan tersebut adalah sebuah pertanyaan filsofis: apa, bagaimana dan mengapa semua itu terjadi. Pertanyaan filosofis ini akan membawa seseorang kepada perenungan yang mendalam untuk mencoba menemukan jawaban yang riil dan jernih.

Kegelisahan itulah yang dulu pernah melecut para nabi dan tokoh-tokoh besar dunia. Dengan bertitik tolak dari kegelisahan itu, mereka lahir sebagai tokoh yang membawa perubahan dan pencerahan bagi peradaban dunia. Seperti Ibrahim yang gelisah atas pencariannya terhadap Tuhan, Muhammad yang gelisah atas terjadinya dekadensi moral, tauhid dan rusaknya tatanan sosial masyarakat Arab, Musa yang gelisah atas terjadinya penindasan rezim Fir’aun atas orang-orang Israel, Karl Marx yang gelisah atas terjadinya eksploitasi kaum proletar oleh kaum borjuis, Nietzsche yang gelisah atas bobroknya peradaban modern, Nelson Mandela yang gelisah atas terjadinya rezim apertheid dan sebagainya. Tokoh-tokoh kaliber dunia itu, dalam berbagai variannya, tercatat sebagai manusia yang berhasil membawa perubahan besar terhadap arus peradaban dunia. Semua itu merupakan hasil dari kegelisahan mereka atas pembacaannya terhadap mikro kosmos dan makro kosmos yang melingkupi kehidupannya.

Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh teman kita yang sedang gelisah tentang kepercayaan Muhammad terhadap kewahyuan al-Qur’an itu patut kita contoh. Artinya saatnya kita harus gelisah. Apalagi, dalam konteks sosal-politik sekarang ini banyak fenomena yang berjalan di luar nilai logika, etika dan estetika. Semua itu butuh jawaban yang jernih. Maka bagi kita yang belum gelisah ayo kita gelisah bersama dan bagi anda yang sudah bisa gelisah, seperti sahabat kita di atas, jangan berhenti gelisah.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator studi filsafat “Sophos Alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: