POLITIK SEBAGAI KEKUATAN HOROR

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Radovan Karadzic akhirnya ditangkap. Otak genosida di Eropa yang membantai puluhan ribu warga selama perang Bosnia-Herzogovina itu telah menjadi buron selama 13 tahun, dan pada 22/7 ia diumumkan berhasil ditangkap oleh pemerintah Serbia di Belgrade. Kejahatana Karadzic paling keji yang menyebabkan dia dimasukkan dalam daftar buronan kelas atas adalah aksi pembunuhan masalnya terhadap 12.000 orang plus 8.000 pria dewasa dan anak-anak warga Muslim di Srebrenica (Kompas, 23/7/2008)

 

Horor politik dan citra kekerasan

 

Tindak kejahatan kemanusiaan yang telah dilakukan oleh Karadzic itu akhirnya mengingatkan kita pada politik horor. Horor adalah sebuah kesan atau jejak perasaan atas sebuah peristiwa atau dunia yang melahirkan ancaman sehingga menimbulkan rasa takut dan ketidakamanan ontologis. Hal semacam ini sering menjadi peristiwa yang terbiasa dalam dunia politik. Dalam sejarahnya yang panjang, dunia politik telah menjadi persemaian horor.

Hal itu ditunjukkan dengan terjadinya beragam peristiwa pembasmian massal dengan background politik. Selain Karadzic, banyak kita jumpai tokoh-tokoh politik tiran lain yang menjadikan dunia politik sebagai zona penuh horor seperti Hitler, Musholini, Idi Amin Dada, Pol Pot dan sebagainya. Kejahatan Karadzic di Sarajevo kali inipun merupakan bukan hal baru. Sebelumnya pasukan Nazi-Jerman sudah pernah menanamkan horor untuk memburu warga Yahudi di negara yang dirundung konflik itu.

Selanjutnya, pertanyaannya adalah apa sebenarnya yang melatarbelakangi terjadinya horor dalam dunia politik itu? Apa sebenarnya yang membangkitkan nafsu kanibalisme dan bar-barisme para penguasa tiran itu untuk membabat ribuan nyawa manusia ? Salah satunya adalah citra kekerasan. Citra kekerasan itu, seperti yang dikatakan oleh Yasraf Amir Pilliang (2005) adalah citra tentang kejayaan, kekuatan, kekayaan dan superioritas suatu suku, agama, ras dan bangsa yang untuk mencapainya diperlukan mesin-mesin kekerasan. Sejarah konflik politik dunia adalah sejarah perebutan tenrtang kekayaan (gold), kejayaan (glori) dan keagamaan (gospel) antara satu negara dengan negara yang lainnya. Citra kekerasan inilah yang akhirnya merubah wajah politik dunia. Dalam konteks ini, politik bukan lagi menjadi benteng keamaanan tetapi justru berubah tragedi yang memilukan dan teror yang membahayakan.

Dalam citra dan semangat superioritas dan kedigdayaan itu, berbagai tindakan kekerasan, pembunuhan dan kebrutalan mudah sekali meletus. Bahkan, dalam istilahnya Erich From, ia cenderung menjadi ekstasi penghancuran, yaitu sebuah penghancuran, kekerasan dan pembunuhan massal yang dilakukan dengan penuh kenikmatan, kegembiraan, kebanggaan dan kepuasan yang klimaks. Dalam hal ini horor akhirnya menjelma menjadi sumber kepuasan dan kegembiraan sendiri bagi sang pelakunya. Artinya, horor ini akhirnya menjadi basis eksistensi seseorang untuk mencapai kesenangan dan kepuasan. Sehingga seolah berlaku hukum aku membunuh, maka aku ada.

Dalam spirit ini, seseorang tidak merasa bahagia kalau tidak membunuh, tidak merasa puas tanpa membunuh, tidak merasa ada tanpa membunuh. Semua itu terjadi demi mimpi-mimpi indah tentang kehebatan dan superioritas sebuah imperium kekuasaan. Jadi, demi otoritas dan kejayaan kekuasaan, beragam horor (kekerasan , pembunuhan dan pembantaian) bukan hanya halal, tetapi menjadi kebahagiaan dan kepuasan tersendiri bagi pelakunya.

Sebagaimana yang dikatakan Nietzsche bahwa prinsip dasar hidup ini adalah kehendak untuk berkuasa. Kata-kata Nietzsche ini banyak dijadikan oleh para penguasa tiran untuk menciptakan horor politik. Bagi Nietzsche (2002) kehendak untuk berkuasa ini tidak lain adalah konsep daya yang menang. Ia merupakan sebuah pelengkap, nilai tambah atau penyempurna dari yang namanya daya. Karakter dasar daya adalah berambisi untuk menang. Karena hubungan daya dengan yang lainnya adalah hubungan kuasa menguasai. Apabila dua buah daya atau kekuatan menjalin sebuah relasi maka yang terjadi adalah usaha untuk saling mendominasi.

Namun yang harus diketahui adalah hubungan daya yang cenderung saling mendominasi itu sifatnya tidak menentu, tidak pasti hingga sebuah elemen dari daya-daya yang berhubungan itu bisa mampu menentukannya. Untuk itu dibutuhkan unsur pelengkap atau penyempurna yang berupa kehendak berkuasa. Karena daya sendiri tidak akan bisa menang tanpa adanya penambahan atau pelengkap tersebut. Maka, kalau memang konsep Nietzsche ini benar, berarti semakin menguatkan asumsi bahwa politik (kekuasaan) itu memang kejam dan tidak manusiawi. Karena atas dasar kekuasaan, ribuan nyawa manusia menjadi sia-sia.

 

Sesuatu yang tidak bisa menjadi biasa

 

Karena begitu intensifnya meledaknya kekerasan dalam panggung politik, maka horor dalam dunia politik menjadi hal yang lumrah. Membunuh ribuan manusia tak berdosa sebenarnya adalah pekerjaan hina yang seharusnya tidak terjadi. Ini merupakan sebuah kejadian yang sudah berada di luar batas akal sehat dan naluri kemanuisaan. Namun horor semacam ini menjadi hal yang biasa, menjadi budaya dan pemandangan yang mentradisi, menjadi sesuatu yang wajar dalam hidup, kalau hal semacam ini sudah menjadi sesuatu peristiwa yang sering terjadi.

Karena seringnya, tragedi yang tak lazim itu akhirnya menjadi lazim. Sebagaimana kata Julia Kristeva (1982) dalam Powers of Horor, bahwa kekejaman, kekerasan dan pembantaian massaal yang berulang kali terjadi, maka akan menjadi kebiasaaan, menjadi bagian dari suatu ritual, menjadi bagian dari kebudayaan—budaya kekerasan. Bahkan lebih dari itu, kekejaman atau horor yang tak manusiawi itu akan dianggap sebagai sesuatu yang heroik dan luhur, penuh kebangaan dan narsisme. Maka tidak heran, tertangkapnya Karizdic ini justru banyak disesalkan oleh warga Serbia, meskipun dunia internasional merasa lega dan senang. Hal ini karena, proses pembantaian 12.000 dan 8.000 orang yang dilakukan oleh Karadzic itu dalam pandangan mereka merupakan tindakan kepahlawanan sehingga dinilainya sebagai sebuah kebenaran.

Itulah tragedi kemanusiaan di pentas politik dunia. Peradaban politik adalah peradaban umat manusia yang agung, namun dalam sejarahnya ia justru diwarnai oleh horor yang mencekam dan teror yang mengancam. Entah sudah berapa juta nyawa yang mati sia-sia di gelanggang politik global. Hingga sekarang kitapun masih diliputi misteri, akankah manusia-manusia penebar horor politik seperti Karadzic ini akan bisa berakhir atau akan beringkarnasi dan hidup dari generasi ke generasi.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator studi filsafat “Sophos Alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: