SAATNYA MENGHIDUPKAN HARAPAN MASYARAKAT

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Adanya berbagai masalah yang tak kunjung usai mendera bangsa Indonesia, secara psikologis itu sangat berpengaruh terhadap spirit hidup masyarakat dan bangsa Indonesia, terutama orang-orang kecil. Di samping itu, juga maraknya beragam sekandal yang terjadi di lingkungan pejabat negara misalnya KKN, perselingkuhan, penyelewengan dan sebagainya semakin menjadikan masyarakat patah arang hingga tidak menaruh kepercayaan lagi kepada pemerintah. Ada semacam kekecewaan struktural, di mana kehidupan para elit semakin menampakkan keglamoran dan kemewahannya secara telanjang, sementara kehidupan masyarakat kecil semakin jatuh terpuruk.

Dalam kondisi yang timpang semacam itulah, maka masyarakat bukan hanya kecewa terhadap para elit, bahkan secara umum terhadap sistem politik sekarang, tetapi lebih dari itu sudah memuncak menjadi keputus asaan massal. Artinya masyarakat sudah tidak mempunyai harapan lagi terhadap sistem pemerintahan yang berjalan. Adanya pemerintah dengan tidak adanya adalah sama saja. Mereka merasa tidak mendapatkan kemanfaatkan dengan adanya presiden, menetri, DPR, Kejaksaan, Pemilu dan lembaga-lembaga politik lainnya. Hal ini karena kehidupan mereka , baik secara ekonomi, sosial, politik dan budaya tetap tidak berubah. Mereka tetap terkungkung dengan kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.

Matinya harapan ,masyarakat ini secara riil ditunjukkan dengan banyaknya masyarakat yang tidak menyalurkan hak-haknya di dalam pesta demokrasi daerah (Pilkada). Sekarang ini, di mana ada pilkada yang sepenuh ya didukung oleh warga masyarakat. Angka justru golput terus merangkak naik di setiap Pilkada. Meskipun sepasang calon berhasil menembus batas minimal 30 %, namun suara golput masih menempati urutan tertinggi.

Contohnya Pilkada Jawa Tengah. Meskipun Pasangan Bibit-Rustriningsih mampu meraih angka 40 % namun jumlah itu masih diungguli oleh suara yang go;lput yang sekitar 41 % lebih. Kasusu Pilkada Jawa Timur lebih parah lagi. Dari masing-masing pasangan calon bahkan belum ada yang mampu menemubus target 30 %. Sehingga menjadikan Pilkada Jatim diprediksi akan diputar dua kali. Hal ini jelas tidak efektif dan efesien, sebab itu akan membuat anggaran Pilkada menjadi membengkak. Minimal , pada Pilkada putaran ke dua ini dibutuhkan biaya sebesar 225 miliar. Apabila digabungkan dengan biaya Pilkada putaran kedua yang besarnya 560 miliar, amka secara keseluruhan, Pilkada Jatim akan menghabiskan biaya sekitar Rp 785 miliar (Kompas, 24/7/2008)

Dari fenomena itu menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat sudah apatis dengan tetek bengek urusan politik. Sikap apatis ini tidak lain adalah wujud sudah tidak adanya harapan lagi dibenak hati mereka terhadap sistem politik yang ada, termasuk terhadap para calon. Berulangkali kita berganti pemilu, berganti presiden, berganti DPR dan sebagainya. Namun semuanya itu tidak membawa perubahan apa –apa selain hanya tetap meluasnya kemiskinan dan kesengsaraan.

 

Urgennya Harapan

 

Harapan, seperti yang dikatakan oleh Erich Fromm (1999) adalah unsur intrinsik struktur kehidupan, dinamika spirit manusia. Jika harapan sirna, maka secara faktual maupun potensial, kehidupanpun musnah. Salah satu hal yang paling prinsipil adalah bahwa yang namanya harapan itu sangat berkait erat dengan keyakinan (feith). Keyakinan ini merupakan pintu pembuka terhadap banyaknya kemungkinan. Artinya harapan akan selalu “membisikan’ keyakian terhadap seseorang bahwa kondisi realitas masih terbuka untuk berbagai kemungkinan:kemungkinan untuk hidup lebih baik, kemungkinan untuk sejahtera, kemungkinan untuk keluar dari krisis, kemungkinan untuk sekolah dan seterusnya. Kemungkina-kemungkinan semacam ini akan terancam sirna manakala harapan yang menjadi sumber keyakinan akan berbagai kemungkinan itu sudah tidak ada dalam diri seseorang.

Hal semacam itu jelas sangat penting dalam dunia politik. Karena itu akan menjadi basis terwujudnya iklim dinamika dan progresifitas dalam masyarakat. Ia merupakan sumber optimisme masyarakat untuk memperbaiki dan memajukan kehidupan bangsa. Sebuah negara atau bangsa tidak akan berubah dan maju apabila harapan masyarakat di dalamnya mengalami dekadensi.

Dengan kepercayaan semacam itu, secara otomatis ia akan selalu aktif mengikuti setiap perkembangan politik yang ada, bukannya malah lari darinya. Keaktifan itu, ditunjukkan, di antaranya adalah, melalui antusiasme masyarakat untuk memilih seorang pemimpin. Dengan antusiasme masyarakat untuk ikut menentukan siapa yang akan memimpin mereka, maka ini sekaligus sebuah dukungan aktif masyarakat terhadap proses politik yang sedang berlangsung. Hal ini jelas merupakan sumber legitimasi publik.

 

Harus dihidupkan lagi

 

Harapan masyarakat Indonesia yang sekarang mulai terancam sirna hendaknya menjadi perhatian serius oleh pemerintah maupun partai politik. Pemerintah dan Parpol harus mampu membangkitkan harapan masyarakat yang berada di ambang kemusnahan itu. Masyarakat sekarang, yang berada di puncak kegelisahan dan keterputusasaan itu, harus dihidupkan kembali harapannya untuk memperbaiki kehidupan bangsa. Tentu saja, harapan yang dimaksud adalah bukan harapan pasif yang hanya menadahkan tangan ke langit. Tetapi lebih dari itu adalah harapan aktif-postif , yaitu harapan yang disertai dengan usaha dan kerja keras. Hal ini, selain untuk mempermudah jalannya peneyelesaian problematika bangsa, juga untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah sendiri.

Sebab, pemerintah tidak akan ada artinya tanpa ada kepercayaan dari rakyat. Pemerintah tanpa kepercayaan rakyat hanya akan menimbulkan pembangkangan sipil yang berpotensi menimbulkan gejolak bahkan revolusi. Kepercayaan rakyat semacam ini bisa diraih manakala rakyat masih menaruh harapan terhadap pemerintah. Artinya pemerintah yang ada sekarang memang masih bisa diharapkan peranannya untuk mengatasi problekmatika masyarakat sekarang yang sedang menimpa.

Selanjutnya, bagaimana untuk menghidupkan harapan atau asa aktif masyarakat tersebut? Selama ini ada banyak kegiatan kerohanian atau keagamaan yang bisa menumbuhkan asa yang hilang itu. Misalnya dzikir, istigosah, mujahadah dan sebagainya. Tapi harus juga diingat bahwa penumbuhan asa atau harapan melalui ritual keagamaan itu saja belum cukup. Karena seperti yang dikatakan oleh Azymardi Azra, penumbuhan asa dengan sandaran kerohanian berlaku hanya dapat mendatangkan ketenangan psikologis sesaat. Oleh sebab itu harapan atau asa yang tidak pasif itu juga harus ditumbuhkan dengan upaya dan ikhtiar terencana dan terpadu yang dijalankan dalam semangat dan etik disiplin nasional baik oleh pemimpin masyarakat maupun individu.

Artinya, untuk menumbuhkan harapan masyarakat, pemerintah harus memperbaiki dirinya yang seringkali menyeleweng. Kemudian pemerintah harus memberi kontribusi konkrit terhadap masyarakat. Kontribusi verbal sekarang ini harus diminimlaisir dan diganti dengan kontribusi riil yang berupa action. Kalau pemerintah masih saja monoton, maka jangan kaget kalau masyarakat nantinya banyak yang apatis atau bahkan melakukan pembangkanagan sipil. Itu wajar karena masyarakat memang sudah tidak pemerintah.memang sudah tidak bisa diharapkan lagi oleh masyarakat.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: