JOMBANG BERDARAH

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Jombang berdarah. Itulah kesan pertama kali yang muncul ketika melihat dan mendengarkan kasusnya Ryan. Arek dusun Maijo, Jatiwates, Jombang Jawa Timur yang mempunyai nama lengkap Very Idham Henyansyah ini secara mengejutkan melakukan pembantaian berantai secara sadis. Sampai sekarang sekitar sebelas nyawa telah dia habisi. Salah satu korbannya bahkan anak yang masih berumur 3 tahun (Sylvia). Hingga kini korban pembunuhan Ryan diperkirakan masih akan bertambah.

Masih belum ada kepastian apa penyebabnya hingga Ryan tega melakukan tindakan yang masuk kategori horor itu. Akibat teror pembunuhan yang dilakukan Ryan itu secara langsung membuat kota santri ini menjadi mencekam. Para penduduk sekitar ketika diwawancarai merasa takut dan ngeri. Dugaan sementara menyatakan bahwa motif pembantaian berantai yang dilakukan Ryan ini minimal menyangkut dua hal yakni balas dendam dan perampasan harta benda. Hal ini terbukti, rata-rata orang yang dia jadikan sebagai korban pembantaian itu adalah orang-orang yang mempunyai masalah dengan Ryan di satu sisi, dan di sisi lain mempunyai uang atau perhiasan. Kalau dugaan ini memang benar maka pola pembantaian secara berantai ini masuk kategori agresi jahat.

Agresi jahat (Malignant agression) seperti kata Erich Fromm adalah kejahatan murni, kejahatan untuk kejahatan itu sendiri seperti perampokan, perusakan, pembakaran, pembunuhan dan sebagainya. Namun meskipun demikian, faktor kejahatan ini tidak selalu berdiri sendiri, melainkan sangat terkait dengan persoalan-persoalan lain terutama karena faktor sosial, keluarga dan ekonomi. Jadi, ketiga faktor inilah yang mudah sekali membuat orang berubah menjadi binatang sehingga mudah memangsa saudaranya sendiri. Orang bisa bertindak jahat karena bisa jadi dirinya terisolir dengan lingkungan sosialnya, atau karena memang salah asuhan maupun karena tekanan ekonomi. akibat tekana-tekanan di atas seseorang mudah mengidap psikopat. Termasuk Ryan, kemungkinan besar juga disebabkan oleh ketiga faktor tersebut di atas.

 

The perfect Crime

 

Satu hal yang membuat orang tercengang dan heran adalah modus operandi pembunuhan yang dilakukan Ryan. Ryan begitu rapi, terrencana dan terprogram dengan baik dalam melakukan tindak kriminalitas ini. Sehingga dengan modus operandinya yang tersusun sangat rapi itu, orang-orang dan tetangga dekatnya tidak menaruh curiga. Kejahatan Ryan ini sebenarnya sudah dilakukan pada tahun-tahun kemarin, tapi barus diketahui sekarang karena memang kejahatan ini dikemas sedemikian rapinya hingga tidak mudah diketahui. Hal ini terbukti misalnya 10 jenazah yang dikubur Ryan di belakang rumahnya. Lokasi penguburan itu sangat berpepetan dengan dapur tetangga Ryan yang hanya dibatasi oleh beberapa lembar gedek. Namun anehnya para tetangganya yang rumah dapurnya berpepetan dengan lokasi penguburan itu sama sekali tidak menaruh curiga. Kalaupun ada bau busuk, justru hanya dianggapnya sebagai bau bangkai ayam atau tikus. Padahal tak tahunya justru bangkai manusia.

Bentuk kejahatan Ryan yang terrencana dengan rapi inilah dalam istlahnya Jean Baudrillard, seperti yang dikutip oleh Yasraf Amir Pilliang (2006) dengan istilah kejahatan yang sempurna (The Perfect Crime). Kejahatan yang sempurna adalah kejahatan yang dengan jitu membunuh realitas. Kejahatan begitu rapi direncanakan, diorganisasi dan dikontrol, sehingga ia dapat menyembunyikan dirinya dengan sangat sempurna dari jangkauan perangkat hukum: seolah-olah tidak ada barang bukti, tidak ada pelaku, tidak ada korban, tidak ada motif, tidak ada kejadian. Jelasnya, wajah kejahatan nampak begitu sempurna ditutup-tutupi dan disembunyikan.

Dengan pola semacam itu, kejahatan Ryan akhirnya hampir kehilangan jejak. Peristiwanya akhirnya hampir menjadi kabur. Masyarakat dusun Maijo sendiri banyak yang tidak tahu. Para tetangga Ryan bahkan tidak menyangka atas terjadinya pembunuhan berantai itu. Mereka sebelumnya menganggap bahwa kampungnya yang penuh bangakai mayat manusia itu aman-aman saja. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun setelah terbongkar, kejahatan Ryan ini telah meninggalkan bekas yang melekat kuat dalam diri masyarakat dusun Maijo sendiri. Mereka yang sekarang melihat secara langsung peristiwa ini tentu akan terus terbayang-bayangi. Ini tentu saja menimbulkan ketidakamanan eksistensial terhadap masyarakat sekitar.

 

 

 

Sebagai pelajaran

Peristiwa Ryan ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita semua. Dengan berkaca pada peristiwa ini saatnya kita sekarang mulai mengevaluasi pola hidup kita. Bagimana cara kita bersosial, bertetangga, bergaul, berrumah tangga, mendidik anak dan sebagainya adalah hal-hal penting yang harus kita koreksi dan kita perbaiki. Sebab, faktor yang membentuk diri Ryan sehingga dia menjadi pembantai sadis adalah disebabkan oleh pola bersosial yang tidak beres dan asuhan keluarganya yang salah. Ini mengingatkan terhadap kita bahwa pola interaksi sosial yang baik, mendidik anak yang baik dan berkawan yang baik adalah faktor-faktor yang kita butuhkan untuk membangun psikologis kita. Ketika kita gagal membangun hal-hal di atas, maka efeknya adalah terjadinya alienasi diri yang apabila tak tertangani maka akan berubah menjadi bom waktu yang suatu saat akan meledak menjadi tindakan kriminal seperti yang menimpa Ryan.

Atas dasar itulah, maka menghilangkan kejahatan pembunuhan adalah hal yang mustahil. Karena ia juga sangat berkait dengan kualitas kejiwaan manusia. Artinya keinginan untuk membunuh itu sendiri merupakan bagian potensi setiap manusia secara alamiah. Bahwa manusia manapun yang diciptakan di dunia ini pada hakekatnya mempunyai naluri dan potensi untuk membunuh. Karena manusia tidak sepenuhnya akal (mind), tetapi sebagiannya adalah nafsu (desire). Kedua unsur kekuatan ini setiap saat bertarung dalam diri manusia. Dan dalam proses pertarungan itu, tidak ada jaminan bahwa akal bisa menang. Yang sering terjadi bahkan akal selalu terganggu dan takluk di hadapan nafsu. Keterjerembaban kita terhadap nafsu itu, seperti kata Michail Faucoult, akibat ketidakmampuan kita dalam mengontrol hawa nafsu kita. Ketidakmampuan mengontrol nafsu ini akhirnya membuat seseorang terjerumus dalam kegilaan. Apabila kegilaan sudah muncul akibat kemenangan nafsu tersebut, maka pintu kejahatan semakin terbuka lebar.

Oleh karena sulit dihilangkan, maka yang bisa kita lakukan untuk menekan angka kriminalitas pembunuhan ini adalah dengan melokalisir dan meminimalisir kejahatan itu sendiri. Hal ini bisa kita lakukan dengan menjinakkan nafsu kebinatangan kita. Pengendalian terhadap nafsu ini sebuah indikasi bahwa kondisi psikologis sesorang dalam keadaan sehat. Untuk mencapai kondisi psikologis yang demikian itu, sudah pasti dibutuhkan lingkngan sosial yang sehat juga. Kita membutuhkan keluarga yang sehat, teman yang sehat, pendidikan yang sehat dan sebagainya. Karena faktanya kita dan lingkungan sosial kita selalu saling mempengaruhi.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: