SAATNYA MENYELAMATKAN KEKAYAAN BANGSA

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

Senin yang lalu (28/7), di gedung DPR, Jakarta telah dideklarasikan Komite Penyalamat Kekayaan Negara (KPK-N). Deklarasi tersebut dihadiri tokoh-tokoh nasional, seperti mantan presiden ke 4 RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sastrawan WS. Rendra, Mantan ketua MPR RI Prof.Dr Amin Rais, ketua MPR RI Dr.Hidayat Nur Wahid dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Komite ini bertujuan menyelamatkan kekayaan negara dari kerusakan maupun pemanfaatan kekayaan negara bagi kepentingan kelompok, golongan atau segelintir orang. Pemanfaatan itu bisa secara sembunyi-sembunyi, melalui kebijakan menyimpang, dan melalui penyalahgunaan kekuasaan, yang berdampak menyengsarakan rakyat (Kompas, 29/7/2008)

Indonesia, negara penggalan surga

Benar apa yang dikatakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib bahwa Indonesia adalah penggalan surga. Hampir seluruh kekayaan alam ada di Indonesia.t.Tanahnya yang subur, samudranya yang kaya raya, hasil tambangnya yang melimpah ruah, hutannya yang hijau ranau hingga terkenal dengan sebutan zamrud khatulistiwa dan kekayaan-kekayaan lain yang masih belum tereksplorasi.

.

 

Pulaunya saja sudah mencapai ribuan. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau dan berbatasan dengan sepuluh negara tetangga yaitu India, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, Palau, Papua Nugini, Australia dan Timor Leste. Dengan kesepuluh negara tersebut, Indonesia berbatasan maritim dan sekaligus berbatasan darat dengan tiga diantaranya yaitu Malaysia (di Kalimantan), Papua Nugini dan Timor Leste.Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki banyak pulau kecil. Bahkan mantan menteri Lingungan hidp Emile Salim dalam sebuah seminar sehari tentang Dampak Pemanasan Global terhadap Lingkungan dan Kesehatan di Banda Aceh pernah mneyatakan bahwa kini Indonesia memiliki 17.560 pulau, sebagian dari pulau itu tidak berpenghuni.

Belum lagi kekayaan hayatinya baik yang ada di darat, laut maupun udara. Potensi dan kondisi kekayaan hayati Indonesia ini begitu besarnya, nomor dua di dunia setelah Brasil. Diperkirakan sebanyak 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17% satwa di dunia terdapat di Indonesia, walaupun luas Indonesia hanya 1,3% dari luas daratan dunia. Indonesia juga nomer satu dalam hal kekayaan mamalia (515 jenis) dan menjadi habitat dari sekitar 1539 jenis burung. Sebanyak 45% ikan di dunia, hidup di Indonesia. Kemudian hasil tambangnya yang juga melimpah. Mulai dari emas, perak, batubara, minyak bumi dan sejenisnya. Semua ada dalam kandungan alam Indonesia.ini belum menyangku hasil hutan dan perkebunan yang jumlahnya sangat besar. Ini menunjukkan bahwa betapa kaya dan besarnya potensi alam Indonesia.

Ancaman pemusnahan

Sumber daya alam yang kaya itu bukannya berkembang, namun semakin lama semakin terancam musnah. Salah satunya penyebabnya adalah perdagangan liar. Seperti Pulau-pulau kita, selain banyak yang hilang karena kerusakan alam, juga banyak yang diperdagangkan secara murah oleh beberapa oknum yang tak bertanggung jawab. Pada hal pulau-pulau yang tersebar di seluruh Indonesia, menurut pakar hukum internasional Hikmahanto Juwana, tidak boleh dijual ke negara lain atau warga asing. Orang asing hanya boleh mengelola dalam waktu yang terbatas dan tidak boleh memilikinya.

Kemudian di bidang satwa juga banyak ditemukan binatang-binatang langka yang diperjual belikan secara bebas. Saat ini jumlah jenis satwa liar Indonesia yang terancam punah adalah 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan dan 28 jenis invertebrata (IUCN, 2003). Namun satwa-satwa tersebut benar-benar akan punah. Perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia ini. Lebih dari 95% satwa yang dijual di pasar adalah hasil tangkapan dari alam, bukan hasil penangkaran. Lebih dari 20% satwa yang dijual di pasar mati akibat pengangkutan yang tidak layak. Berbagai jenis satwa dilindungi dan terancam punah masih diperdagangkan secara bebas di Indonesia. Semakin langka satwa tersebut semakin mahal pula harganya. Bahkan menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Endang Sukara kekayaan hayati kita berpotensi dieksplorasi pihak luar karena longgarnya peraturan dan pemantauan Indonesia atas lalu lintas tumbuhan dan hewan.

Belum lagi masalah pertambangan yang tidak proporsional yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinational corporation (MNC) semacam Freeport dan sejenisnya. Hal itu membuat potensi pertambangan di Indonesia terkuras habis oleh perusahaan-perusahaan asing itu. Sementara bangsa Indonesia, yang notabene sebagai tuan rumah, yang seharusnya bisa menikmati pertambangan itu, justru tersingkir dan banyak yang tidak bisa merasakan hasil pertambangan tersebut. Kemudian dari itu, di sisi lain kita mempunyAi hutan yang luas. Namun sampai sekarang masih terancam dengan budaya pembalakan liar. Hal ini membuat hutan kita terus mengalami deforestasi yang parah.

Hal ini belum lagi menyangkut hasil budaya dan kesenina kita yang beraneka ragam. Mulai dari tari, kerajinan tangan, mudik, upacara, kuliner dan sebagainya. Namun, hasil-hasil budaya itu kini juga mulai diserobot pihak asing. Batik, tempe, reog sudah hak patennya sudah dicuri oleh pihak asing. Ini menandakan bahwa kekayaan alam kita baik yang material maupun naonmaterial dalam keadaan ancaman serius. Budaya srobot-menyerobot, curi-mencuri dan sejenisnya pasti terus mengintai entah itu dari dalam maupun dari luar.

Ayo, kita selamatkan

Melihat kekayaan alam kita yang terancam hilang dan musnah itu hendaknya menjadikan warning bagi kita bahwa kita tidak boleh kecolongan lagi. Lahirnya KPK-N merupakan sebuah momentum yang efektif sejauh ini benar-benar difungsikan untuk melindungi dan menjaga aset kekayan bangsa untuk kesejahteraan rakyat banyak. Namun, meskipun KPK-N telah berdiri, bukan berarti tanggung jawab kita sebagai rakyat Indonesia untuk menyelamatkan aset bangsa menjadi gugur. Sebagai bangsa Indonesia, sispapaun orangnya, tetap harus berkewajiban aset-aset bangsa.

Terutama pemerintah, harus mempunyai komitemen yang sungguh-sungguh dalam masalah ini. Selama ini dari pemerintah justru terkesan memberi peluang dan kesempatan kepada pihak-pihak tertentu untuk mencuri kekayaan itu. Belum ada tindakan tegas dari pemerintah terkait dengan penyelamatan aset dan kekayaan bangsa. Hal ini terutama ketika pemerintah sudah dihadapkan pada kaum pemodal. Pemerintah seakan tersihir dan menggigil hingga tak sadarkan diri melakukan deregulasi dan privatisasi yang tanpa batas. Di sisi lain pemerintah sendiri justru yang menjadi predatornya. Dengan mengatasnamakan negara, para oknum pemerintah dengan seenaknya mengeksploitasi dan menguasai aset alam Indonesia untuk kepentingan mereka sendiri.

Seharusnya pemerintah bisa bertindak seperti Hugo Chavez yang berhasil melakukan nasionalisasi aset-aset bangsa untuk kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, melihat kekayaan kita yang tidak aman tersebut sehingga menjadikan kita terus hidup dalam kemiskinan dan keterbelakangan ini, maka sekarang ayo kita selamatkan kekayaan kita.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: