PERANG OBOR

TRADISI MENGHIDUPKAN OBOR SEJARAH NENEK MOYANG
Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Masyarakat Jepara adalah masyarakat yang juga kaya akan tradisi. Hal ini terutama yang menyangkut dengan tradisi masa lampau. Tradisi-tradisi masa lampau ini sebagiannya masih dipertahankan sebagai sejarah untuk mengenang persitiwanya dan mengambil spirit nilainya yang masih relefan dengan era sekarang. Salah satu tradisi masyarakat Jepara yang masih terus dipertahankan adalah upacara Perang Obor.
Upacara Perang Obor ini diadakan setiap tahun sekali di desa Tegal Sambi, kecamatan Tahunan kebaupaten Jepara Jawa Tengah. Hal ini atas dasar kepercayaan masyarakat setempat terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang terjadi di desa tersebut. Upacara tradisional “Obor –oboran”(begitulah sebagian orang menyebut) adalah perang yang bersenjatakan obor. Ini termasuk tradisi unik dan penuh tantangan yang ada di Jepara, Jawa Tengah dan mungkin di seluruh Indonesia.
Obor yang digunakan sebagai senjata ini terbuat dari gulungan atau bendelan 2 (dua) atau 3 (tiga) pelepah kelapa yang sudah kering dan bagian dalamnya diisi dengan daun pisang kering (jawa : Klaras ).
Pola dan aturan mainnya pun cukup menghidupkan adrenalin. Karena seorang pemain harus berhadapan dengan api yang menjilat-jilat. Obor yang telah tersedia tersebut dinyalakan dengan api yang alat untuk saling menyerang ehingga sering terjadi benturan–benturan obor yang dapat mengakibatkan pijaran–pijaran api yang besar, yang akhirnya masyarakat menyebutnya dengan istilah “ Perang Obor “.

Latar historis
Tradisi perang Obor tersebut berawal dari sebuah  cerita yang terjadi pada abad XVI Masehi. Pada waktu  di desa Tegal Sambi ada seorang petani yang sangat kaya raya dengan sebutan “Mbah Kyai Babadan” Beliau mempunyai banyak binatang piaraan terutama kerbau dan sapi. Untuk mengembalakannya sendiri jelas tak mungkin, sehingga beliau mencari dan mendapatkan pengembala dengan sebuatan KI GEMBLONG. Ki Gomblong ini sangat tekun dalam memelihara binatang – binatang tersebut, setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikanya di sungai, sehingga binatang peliharaannya tersebut tampak gemuk – gemuk dan sehat.
Tentu saja kyai Babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong, atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang tersebut. Konon suatu ketika, Ki Gemblong menggembala di tepi sungai kembangan sambil asyik menyaksikan banyak ikan dan udang yang ada di sungai tersebut, dan tanpa menyianyiakan waktu ia langsung menangkap ikan dan udang tersebut yang hasil tangkapannya lalu di bakar dan dimakan dikandang. Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang, sehingga ia lupa akan tugas / kewajibannya sebagai penggembala.
Dan akhirnya kerbau dan sapinya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit bahkan mulai ada yang mati. Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung, tidak kurang –kurangnya dicarikan jampi – jampi demi kesembuhan binatang –binatang piaraannya tetap tidak sembuh juga. Akhirnya Kyai Babadan mengetahui penyebab binatang piaraannya menjadi kurus –kurus dan akhirnya jatuh sakit, tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus binatang – binatang tersebut namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya.
Melihat hal semacam itu Kyai Babadan marah besar, disaat ditemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah “ Perang Obor “ yang apinya berserakan kemana mana dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat disebelah kandang.
Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput di ladang. Kejadian yang tidak diduga dan sangat dramatis tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat desa Tegalsambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya perang obor segala jenis penyakit sembuh. Pada saat sekarang upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah serta taufikNya kepada warga Desa Tegal Sambi, dan event ini diadakan setiap tahun sekali.

Belajar pada sejarah
Peristiwa prang obor ini, secara umum, merupakan penegasan terhadap pentingnya makna sebuah sejarah. Manusia tak mungkin bisa menyambung rantai kehidupannya tanpa unsur sejarah. Ini menandakan bahwa betapa pentingnya sebuah sejarah.
Bahkan sebuah pepatah Yunani kuno mengatakan bahwa sejarah adalah guru kehidupan. Dengan ini menandakan bahwa sejarah bukanlah cerita masa lampau, tetapi juga pelajaran bagi umat manusia. Di dalamnya ada berbagai peristiwa yang maknanya akan selalu aktual untuk era sekarang dan yang akan datang. Bahkan untuk menapaki kehidupan masa kini, seseorang dituntut untuk mengetahui jejak-jejak peristiwa masa lampau.
Maka benar apa yang dikatakan oleh Nietzsche bahwa manusia hidup membutuhkan sejarah. Sebab, untuk hidup saat ini secara sehat, manusia membutuhkan pengetahuan masa lalu. Dalam konteks ini, sejarah menawarkan berbagai contoh peristiwa yang bisa menjadi pelajaran (i’tibar) untuk membangun peradaban manusia sekarang dan selanjutnya.Maka orang yang kehilangan sjarah sama halnya kehilangan obor khidupan. Karena ia tidak lagi mempunyai nilai yang bisa dijadikan acuan atau pedoman untuk kehidupannya.
Dalam tradisi Perang obor tersebut tentu banyak dimensi yang bisa dijadikan sebagai pelajaran. Sebagai bagian dari kebudayaan tentu ia  juga mengandung nilai logika,  etika dan  estetika. Selain aspek spiritual, ia juga penuh dengan aspek moral.

Pelajaran tentang tanggung jawab
Berdasarkan cerita di atas di antara semangat moral yang bisa kita petik dari peristiwa perang obor ini adalah etos tanggung jawab.  Tanggung Jawab adalah sikap moral yang penting kita tumbuhkan untuk membuat kehidupan kita ini berjalan baik. Hal ini terutama yang berhubungan dengan pelaksanaan sebuah amanah. Silang sengkarutnya khidupan kita baik dalam konteks rumh tangga, bangsa dan negara adalah karena terjadinya krisis tanggung jawab.
Sikap tanggung Jawab adalah sikap seorang satria. Lawan dari sikap ini adalah  pengecut atau pecundang yakni sikap yang suka melarikan diri dari tanggung jawab atau melempar tanggng jawab. Khususnya dalam kehidupan politk kita, kalau kita mencermati, betapa sulitnya mencari orang yang benar-benar mempunyai sikap tanggung jawab. Betapa sulitnya menemukan seorang satria. Yang banyak kita temukan adalah jutru para pengecut, pecundang dan bahkan pengkhianat.
Hal ini terbukti dengan banyaknya pristiwa yang menyesakkan dada dalam pentas perpolitikan kita. Lihat saja kasus Lapindo yang tak jelas,  maraknya mafia peradilan, tumbuh suburnya praktik KKN di jajaran eksekutif maupun legislatif, meningkatnya kemiskinan struktural dan sebagainya. Semua itu adalah cermin dari sikap tidak tanggung jawab para elit dalam mengurus negara. Mereka telah menyia-nyiakan amanah rakyat. Mereka bukannya bekerja melayani dan membela kepentingan rakyat, tetapi justru menjadi budak kapitalisme-neoliberal. Seluruh kebijakan yang diciptakan bukan untuk memperjuangkn rakyat, tetapi untuk membuka pintu selebar-lebarnya para cukong –cukong kapitalisme untuk menjajah dan menguasai aset-aset negara.
Maka melalui perang obor ini kita juga didorong untuk menjadi oposisi-kritis terhadap pemerintah. Ketika rakyat memberi amanah kepada pemerintah untuk mengembala, namun kenyataannya mereka malah sibuk mencari ikan secara illegal hingga mengakibatkan banyak penyakit sosial seperti kemiskinan, pengangguran, kelaparan dan keterbelakangan, maka sekarang saatnyalah rakyat bangkit mengobarkan api perlawanan.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pengamat masalah sosial-budaya dan Pegiat Forum Diskusi filsafat “Linkaran ‘06”Yogyakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: