Catatan HUT RI 17 ke 63

MEMBANGUN KEMBALI SPIRIT KEBANGSAAN INDONESIA

Oleh :Muhammad Muhibbudin*

 

Seperti kata Benedict Anderson bahwa bangsa (nation) merupakan komunitas yang dibayangkan (imajined community). Dikatakan demikian, karena para anggota bangsa terkecil sekalipun tidak bakal tahu dan takkan kenal sebagian besar anggota lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka itu, bahkan mungkin tidak pula pernah mendengar tentang mereka.

Grand reality

sebuah bangsa adalah sebuah entitas budaya, antropoligical in nature. Entitas budaya alamiah ini baru akan menjadi komunitas politik ketika konsep antropolosgis itu ditiupkan sebuah ruh berupa bayangan tentang kebersamaan, solidaritas dan kesetiakawanan. Dengan demikian artinya bahwa sebuah nation, komunitas politik, digerakkan oleh sebuah imajinasi, cita-cita dan bayang-bayang akan persamaan identitas. Dalam gerak bayang-bayang imajinatif itu, segala unsur kebudayaan yang masuk dalam kategorisasi persamaan, masuk dalam kualifikasi dan batas-batas kesamaan, berusaha untuk disatukan.

Dalam konteks Indonesia, kategorisasi atau batas-batas kesamaan ini dibangun berdasarkan kesamaan nasib dan sejarah:kolonialisme. Ketika imperailisme mulai mencengkramkan kukunya di seluruh bumi nusantara, maka pada saat itulah para ana-anak bangsa merasa berada dalam satu sejarah dan satu nasib yang sama yakni nasib sebagai pihak yang terjajah. Kesamaan sejarah ini akhirnya menjadi unsur bangunan bayang-bayang citra sebagai komunitas politik Indonesia. Maka dari itu, seluruh daerah Indonesia yang masuk dalam daftar persamaan sejarah penjajahan ini dibayangkan sebagai bangsa Indonesia.

 

Runtuhnya Imajinasi Kebangsaan

 

Di usianya yang ke 63 ini, Indonesia mengalami problem kebangsaan yang serius. Komunitas politik yang awalnya sudah berhasil dibayangkan sebagai spirit kebangsaan Indonesia kini mulai pudar. Dalam orasi budayanya di Kanisius Yogyakarta (29/7/2008), Prof. Dr Komaruddin Hidayat memberikan ilustrasi yang menarik masalah kebangsaan tersebut. Bentuk kebangsaan Indonesia adalah sebuah rumah yang di dalamnya sekarang mengalami kerusakan berat, atapnya bocor, dindingnya jebol, pintunya pecah dan sebagainya. Dalam kondisi yang compang-camping itu, rumah tersebut justru dihantam kekuatan dari luar berupa badai globalisasi yang dahsyat.

Oleh karena itu, rumah yang sudah kropos itu sekarang akhirnya ambyar berkeping-keping. Hal ini menjadikan rakyat Indonesia tidak mempunyai rumah kebangsaan sebagai tempat berteduh. Sebagai gantinya, lanjut Komaruddin, rakyat Indonesia sekarang membuat kamar-kamar kecil dan rumah-rumah kardus yang berupa partai politik, organisasi massa dan bentuk-bentuk kolektifitas lainnya. Kamar-kamar kecil atau rumah –rumah kardus itu, oleh para penghuninya, saat ini tengah digambarkan atau dianggap sebagai rumah kebangsaan Indonesia.

Hal itu menujukkan bahwa Indoensisa , dalam konteks pembayangan kebangsaan, tengah mengalami fragmentarisme ke dalam bentuk –bentuk primordialisme dan komunalisme. Bentuk-bentuk komunalisme ini ada yang berlatar belakang suku, agama maupun budaya. Dalam kondisi demikian, maka imajinasi kebangsaan Indonesia, yang pernah menjadi payung atau rumah bersama, sekarang tengah runtuh. Dalam hal ini, mayoritas orang Indonesia lebih fanatik menjadi anggota komunitas, lebih bangga menjadi anggota suku dan lebih PD menjadi anggota kelompok dari pada menjadi rakyat Indonesia. Akibatnya Indonesia sekarang dilanda krisis toleransi, tenggang rasa yang lemah dan kekerasan antar kelompok.

Memang, sebagai bentuk kolektifitas politik yang terbayangkan (imagined political community), nama bangsa Indonesia bukanlah bentuk final yang sudah terpatok oleh batas-batas kepastian. Indonesia sebagai grand reality sebuah negara, yang batas wilayahnya membentang dari Sabang sampai Merauke, memang sudah menjadi dalam realitas, tetapi sebagai spirit , sebagai konsep, sebagai nation Indonesia nampaknya terus berada dalam proses, masih berada dalam pergulatan yang terus-menerus dan idealisasi untuk mencapai target tertentu. Ia merupakan suatu Entwurf, proyeksi, baik dalam dimesni ruang dan waktu. Kalau Martin Heidgger boleh dipakai di sini, dan dalam bahasa manajemen modern bangsa menjadi proyek untuk dikerjakan, diolah, sehingga bangsa menjadi suatu mode of existence (Daniel Dakhidae:2001).

Oleh karena itu, dalam bahasanya Goenawan Muhammad (2002) sebuah bangsa pada akhirnya memang sebuah upaya. “Indonesia adalah sebuah ikhtiar dari jutaan orang yang berbeda-beda yang mencoba hidup bersama dalam satu komunitas. Dalam proses perjalanannya menempouh cita-cita yang diihtiarkan, dalam proses aktifitas pengolahan proyek menjadi mode of existence itu, seringkali Indonesia tersandung batu karang sehingga membuatnya jatuh bangun dan menyebabkan dirinya retak. Retaknya bangunan nation ini ditandai oleh lunturnya spirit nasionalisme oleh masing-masing penghuninya.

 

Saatnya dibangun kembali

 

Oleh karena itu, saatnya sekarang kita membangun kembali imajinasi kebangsaan Indonesia. Imajinasi kebangsaan itu kita yang sekarang terperangkap dalam kelompok-kelompok kecil itu saatnya kita sambungkan dengan kelompk-kelompok lain menuju kesatuan yang holistik. Kita harus sadar bahwa saatnya kita kelaur dari kamar-kamar kecil atau rumah-rumah kardus yang sekarang kita anggap sebagai bangsa itu dan kemudian kita upayakan untuk menyatukan rumah-rumah dan kamar-kamar itu kembali dengan ikatan nasionalisme.

Oleh karena itu, spirit nasionalisme yang sekarang mulai luntur harus kita kencangkan kembali untuk mengikat dan mebangun spirit kebangsaan Indonesia. Untuk menghidupakn spirit nasionalisme ini, maka kita perlu merevitalisasi budaya multikulturalisme dan pluralisme dalam kehidupan bangsa Indonesia. Dalam semangat ini, maka setiap unsur kebangsaan: suku, ras, agama, kelompok, partai politik dan sejenisnya, harus menekan emosi chauvinismenya atau semangat primordialismenya, dan rela “mewakafkan” semangat itu untuk membangun rumah kebangsaan nasional.

Hal inilah yang dicontohkan oleh para founding fathers kita ketika pertama kali membangun rumah kebangsaan Indonesia melalui upcara sumpah pemuda 1928. Pada waktu itu, masing-masing pihak saling berjabat tangan meminimalisir spirit kedaerahannya demi terwujudnya cita-cita imagined political community yang kuat. Seytiap subyek yang terlibat dalam pengerjaan proyek itu saling membuka diri dan menerima terhadap yang lain (the Others).

Oleh karena itu, demi terbangunnya kembali banguna kebangsaan kita, spirit 17 Agustus ini harus kita jadikan sebagai momentum untuk membangun keterbukaan dan budaya inklusif. Masing-masing “aku”suku, agama, ras dan kelompok harus menjunjung tinggi dan mengikuti apa yang disebut Derrida dengan differance.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator studi filsafat “Sophos Alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: