MENUJU EDUCATIONAL BUILDING

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Dalam konteks Indonesia, berbicara soal kemerdekaan secara implisit sebenarnya juga berbicara masalah pendidikan. Kenapa? Karena faktor utama yang menjadikan kemerdekaan Indonesia bisa diraih adalah pendidikan. Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia bisa diraih bukan karena revolusi fisik, melainkan melalui revolusi intelektual.

Dalam bahasanya sejarawan LIPI Anhar Gonggong (2003) kemerdekaan bangsa Indonesia adalah hasil strategi otak, bukan strategi otot. Ketika anak negeri jajahan Nederlandsch—Indie melakukan perlawanan perjuangannya dengan cara penggunaan fisik—perang, strategi otot, buahnya ialah justru kekalahan. Perjuangan dengan strategi otot inilah yang terjadi pada abad 17, 18 dan 19. Tetapi, ketika mereka menggunakan cara tanpa kekerasan, tetapi dengan kecerdasan-kecerdikan, dengan starategi otak—sejak berdirinya Boedi Otomo 1908— maka hasilnya ialah kemenangan!. Jadi perjuangan dalam waktu lama (strategi otot) yakni selama kurang lebih tiga abad: 17,18 dan 19, buahnya adalah kekalahan;tetapi berjuanga dalam waktu yang singkat (starategi otak), 1908-1945, buahnya ialah kemenangan

Dengan demikian bahwa faktor pendidikan (educational building) merupakan unsur penting dalam proses perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Para pendiri organisasi politik dan organisasi massa, sebagai alat baru perlawanan terhadap kaum kolonial, adalah kaum intelektual yang telah mempunyai kesempatan untuk bersentuhan dengan dunia pendidikan modern. Seperti organisasi Boedi Oetomo sendiri yang didirikan oleh para anak-anak pribumi yang terdidik dan tercerahkan di sekolah kedokteran Jawa (STOVIA).Maka tidak heran kalau para intelektual dijuluki sebagai agent of change. Karena sejarah Indonesia sendiri membuktikan tentang hal itu. Tokoh-tokoh semacam Soekarno, Hatta, Tan Malaka dan sederet intelektual lainnya adalah barisan intelektual yang mampu menorehkan perubahan dalam lembar sejarah Indonesia.

 

Gagalnya membangun Educational building

 

Sampai detik ini Indonesia sebenarnya telah melewati dua etape pembangunan sejarah dan tengah menjalani satu etape sejarah berikutnya. Tahap awal adalah era political building. Era political building adalah masa-masa awal Indonesia berdiri. Era ini ditandai dengan gemuruhnya Indonesia dalam menggalang solidaritas (solidarity makers) untuk mengukuhkan eksistensinya. Era ini diwakili oleh orde lama. Tahap kedua adalah economical building. Era ini diwakili oleh orde baru. Karena pada era Orba inilah pembangunan ekonomi menjadi panglima.

Tahap ketiga yakni era reformasi ini sebenarnya era educational building. Jadi setelah melewati dua etape sejarah di atas, Indonesia sekarang seharusnya jaya dalam bidang pembangunan pendidikan dan kebudayaan. Namun kenyataannya saat ini pendidikan Indonesia justru dalam keadaan terpuruk . Hal ini dikarenakan oleh gagalnya lembaga pendidikan dalam menghasilkan ineteltkual yang progresif dan mampu menghadirkan perubahan. Dalam konteks global, pendidikan Indonesia kalah bersaing dengan pendidikan negara-negara lain. Bahkan di dalam lingkup ASEAN saja, pendidikan Indonesia sekarang mulai tertinggal dengan negara-negara yang dulunya berguru kepada Indonesia seperti Malaysia.

Rendahnya mutu keilmuan para intelektual Indonesia tersebut secara riil dibuktikan dengan tingginya angka pengangguran di kalangan para intelektual sendiri.Tingginya pengangguran kaum intelektual jelas semakin menambah daftar panjang permasalahan kebangsaan. Maka, bagaimana mungkin para ineteltkual itu bisa diharapkan untuk bisa menyelesaikan problem kebangsaan, wong realitas empiriknya mereka justru menjadi problem kebangsaan. Selain produknya yang tidak berkualitas, rendahnya mutu pendidikan juga bisa dilihat dari sisi lembaga pendidikan itu sendiri. Rendahnya kualitas lembaga pendiidkan yang ada di Indonesia dibuktikan dengan rendahnya pengakuan internasioanl. Majalah Times November 2004 pernah mengeluarkan suplemen Pendidikan Tinggi yang memuat 200 universitas terbaik di dunia. Sementara dari Singapura dan Malaysia masing-masing ada dua, tak satupun universitas atau institusi pendidikan tinggi dari Indonesia masuk dalam daftar 200 universitas terbaik versi majalah ini (Agus Suwignyo:2007).

Baru pada tahun 2005 ada perubahan sedikit. Ketika majalah Times melakukan kualifkasi lagi, fakultas Ilmu Budaya dan Humaniora UGM Yogyakarta bisa menduduki peringkat ke 56 sedunia. Namun, harus diingat bahwa prestasi UGM ini belum bisa dijadikan sebagai standar meningkatnya kualitas pendidikan di Indonesia. Realitas menunjukkan bahwa samapi sekarang masih umbrukan lembaga pendidikan tinggi Indonesia yang masih belum bisa meningkatkan mutu akademiknya.

Bahkan lebih dari 30 % dari seluruh jumlah Perguruan Tinggi di Indonesia dewasa ini terancam gulung tikar (Harian Kompas, 14/10/2006). Banyaknya perguruan tinggi yang terancam gulung tikar tersebut jelas karena sepi alias krisis mahasiswa. Krisis mahasiswa ini dikarenakan oleh tingginya biaya pendidikan di berbagai lembaga pendidikan. Saat ini lembaga –lembaga pendidikan mulai dari yang SD sampai universitas banyak yang mematok tarif yang super tinggi. Tarif tinggi pendidikan itu sangat tidak seimbang dengan daya penghasilan masyarakat umum.

 

Revitalisasi educational building

 

Melihat kontek sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia yang sangat terkait dengan dunia pendidikan, maka di uisanya yang ke 63 ini program utama Indonesia adalah memperkuat dan merevitalisasi program educational building. Hal ini berarti pendidikan harus menjadi panglima, harus menjadi garda depan dalam proses pembangunan di Indonesia sekarang dan yang akan datang. Artinya pembangunan bangsa Indonesia sekarang harus lebih diorentasikan kepada pembarantasan kebodohan sebanyak-banyaknya. Sebab, faktor utama Indonesia yang sekarang terus menerus mengalami keterpurukan adalah karena mayoritas rakyatnya memang masih terbelenngu oleh kebodohan dan keterbelakangan yang disebabkan oleh buruknya dunia pendidikan Indonesia. Karena masih kuatnya belenggu kebodohan inilah, posisi Indonesia sekarang, dalam lingkup global, belum bisa menjadi subyek pembangunan bahkan sebaliknya selalu menjadi obyek pembangunan.

Demi tercapainya program educational building tersebut, maka seluruh sekolah dan universitas di Indonesia harus bisa diakes oleh seluruh rakyat Indonesia. Dengan demikian, ini mengandaikan terciptanya pendidikan murah. Sebab, faktor utama lemabag pendidikan di Indonesia hanya bisa dinikmati oleh kelas tertentu adalah karena faktor biaya. Selain dari itu, dalam implementasinya, sekolah dan perguruan tinggi harus bisa menjadi liberating power, liberal arts atau kekuatan pembebas bagi masyarakat Indonesia. Pendidikan sebagai alat liberating power atau liberal arts adalah pendidikan yang mencerahkan. Program pendidikan ini tidak memposisikan anak didik sebagai obyek tetapi sama-sama sebagai subyek pendidikan. Satu hal yang dipentingkan dalam pendidikan ini adalah mendorong anak didik untuk bersikap kritis, logis, mandiri dan melek realitas.

Oleh karena itu, kalau Indonesia masih diharapkan untuk bangkit dari keterjajahan, keterpurukan dan keterjatuhannya sehingga mampu bersaing dan bersanding dengan negara-negara maju di dunia, maka kuncinya adalah terletak pada pendidikan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: