MEMPERTAHANKAN “MAHKOTA” YOGYAKARTA SEBAGAI KOTA PENDIDIKAN

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

Yogyakarta adalah kota yang paling representatif untuk konteks Indonesia sebagai kota pelajar maupun kota budaya. Alasannya jelas, di kota gudeg ini telah berjejal-jeal berbagai universitas dan lembaga pendidikan lainnya dan juga masih kuatnya khasanha tradisi dan budaya yang secara simbolik direpresentasikan oleh eksisnya keraton Yogyakarta Hadiningrat. Suasana kota Yogyakarta yang menyediakan berbagai fasilitas pendidikan dan pembelajaran seperti : Perguruan Tinggi dengan bidang ilmu yang beraneka ragam, nara sumber, tenaga ahli dan ilmuwan, biaya pendidikan yang rendah seperti buku, personal komputer, warung internet dan dukungan biaya hidup yang murah seperti biaya pondokan/kost, pangan dan sandang, memang pantas menyandang prediket itu. Namun seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan struktur masyarakat global, Yogya kini dihadapkan pada ancaman besar.

Mahkota kota pelajar yang sejak dahulu disandangnya kini terancam tumbang oleh masiifnya gempuran budaya asing yang masuk melalui arus liberalisasi dan globalisasi. Maraknya budaya assing yang masuk, menjadikan Yogya kini menjadi tempat berkecambahnya beragam tradisi, idiologi dan produksi yang tak jarang sangat kontraproduktif dengan spirit Yogya sebagai kota pelajar tersebut.Ibarat tubuh, Yogya kini tengah dirasuki oleh virus global yang mengancam sistem kekebalan tubuhnya. Karena kuatnya hantaman virus global, Yogya kini terancam ambruk. Citra Yogyakarta sebagai basis pendidikan mulai tergerus. Hal itu semakin tambah parah kondisinya, menurut ketua Forum Rektor Indonesia, Edy Suandi Hamid, setelah dunia pendidikan Yogyakarta terguncang banyak hal negatif, seperti pergaulan bebas, narkoba hingga prilaku konsumtif (Kompas, 14/8/2008)

Meneyeruaknya konsumerisme

Salah satu virus yangn paling ganas menyerang sistem ketahanan Yogya sebagai kota pelajar adalah konsumerisme. Konsumerisme —yang merupakan jantung dari kapitalisme—, menurut Yasraf A. Pilliang (2003) adalah sebuah budaya yang di dalamnya berbagai bentuk dusta, ilusi, halusinasi,mimpi kesemuan, artifisialitas,kedangkalan, permukaan dikemas dalam wuuud komoditi, lewat strategi hipersmiotika dan imagologi yang kemudian dikontruksi secara sosial—-lewat komunikasi ekonomi(iklan, show dan sebagainya) sebagai kekuatan tanda (smiotic power) kapitlisme—sehingga pada akhirnya membentuk kesadaran diri (self consiusness) yang sesungguhnya adalah palsu.

Konsumerisme itu kini bahkan menjadi trend, life style dan idiologi yang merasuk ke dalam kesadaran masyarakat Yogyakarta. Virus inilah yang menngerus dan merubah wajah kota Yogyakarta yang asalnya sebagai kota pendidikan menjadi kota belanja. Kondisi ini jelas terbalik dengan Singapura. Singapura yang dulu hanya terkenal sebagai kota shopping, sekarang justru berkembang menjadi kota research. Dengan demikian Singapura tengah mengalami perubahan positif. Kota yang awalnya sebagai lumbung budaya konsumtif, kini mulai beranjak menuju kedewasaan dengan menjadikan dirinya sebagai kota pendidkan.

Berubahnya wajah Yogyakarta yang sangat radikal itu ditandai dengan maraknya pusat-pusat perbelanjaan dan membanjirnya beragam produksi kapitalisme yang sulit dibendung. Sementara pada saat yang sama, aktifitas intelektual seperti diskusi, seminar, simposium dan sejenisnya mengalami mati suri. Yogya yang dulu, mampu melahirkan tokoh-tokoh intelektual seperti Mansour Fakih, Ahmad Wahib, Johan Effendi, Mukti Ali dan sederetan intelektual lainnya melalui forum-forum diskusinya yang banyak menghiasi di setiap kampus dan sudut-sudut kota Yogya,kini justru berubah menjadi kota yang semarak dengan aktifitas-aktifitas konsumerisme yang cenderung hedonis dan materialis. Kuatnya shawat konsumerisme ini akhirnya menjadikan Yogya sebagai kota yang sepi bahkan mati dari gairah intelektual dan denyut nadi akademis. Acara-cara yang mengarah kepada semangat intelektual seperti diskusi, bedah buku, seminar dan sejenisnya, meskipun tanpa dipungut biaya, selalu nihil peserta. Tetapi sebaliknya ketika ada acara-acara hiburan (entertainment), meskipun harus mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah, selalu dipadati massa.

Rezim konsumerisme itu sekarang bahkan melampoi realitasnya sebagai kepanjangan tangan dari kapitalisme. Nafsu konsumerisme itu kini sering dikemas dalam bungkus yang menarik, bahkan seolah-olah sesuatu yang ilmiah atau religius.Budaya itu kini menjelma menjadi sistem tanda yang dalam pengemasannya sering menghipnotis kesadaran masyarakat sehingga sering menggiring massa pada penampilan luarnya tanpa bersedia untuk mengethaui maknanya. Inilah yang disebut leh Marshal McLuhan dengan medium is the massege yang berarti bahwa seseorang tenggelam dan hanyut dalam pengemasan dan penampilan tanda itu sendiri, lewat kecanggihan teknologi citraan (imagologi), sehingga sebuah tanda tercerabut dari refrensi asalnya yakni realitas.

Geliat konsumerisme sebagai sistem smiotik atau tanda yang bersifat imagologis, penuh citraan dan permukaan, itu tidak hanya terjadi pada dunia industri, tetapi juga menggejala dalam dunia pendidikan. Diakui atau tidak, dunia pendidikan kini sudah mulai terseret arus konsumerisme. Spirit lembaga pendidikan kini tidak lagi untuk mencerdaskan bangsa tetapi untuk mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Pendidikan bukan menjadi ladang keilmuan tetapi sudah menjadi ladang bisnis. Selain mahalnya biaya pendidikan, hal ini juga ditandai dengan pola dan sistem pendidikan yang lebih menampilkan sisi legal-formalistiknya dan nihil substansi. Kampus bukan lagi menjadi ajang pergulatan intelektual, tetapi sudah berubah menjadi “istana birokrat” yang penuh dengan protokoler dan aturan-aturan picisan. Akhirnya suasan kampus menjadi rapi, sunyi, lengang dan kaku, penuh lalu lalang mahasiswa namun sepi dari refleksi kritis. Fasilitas kampus seperti hotspot pun hanya difungsikan sebagai aktifitas hiburan dan tidak difungsikan secara total untuk aktifitas akademik.

Menyelamatkan Mahkota Yogya

Sebagai aset bangsa, maka mahklota Yogya sebagai kota pendidikan ini harus dipertahankan. Yogya harus dihidupkan kembali menjadi kota yang penuh dengan gairah intelektual, bukan kota yang dilalu-lalangi gelita konsumerisme. Untuk menuju cita-cita ini, maka kuncinya, terutama adalah ada pada dunia pendidikan sendiri. Dalam hal ini dunia pendidikan harus mempu menjadi cek and balance terhadap dunia industrialisme-kapitalisme. Lembaga-lembaga pendidikan, kampus-kampus harus mampu menciptakan budaya akademis sebagai penyeimbang dan penetralisir terhadap racun-racun konsumerisme, hedonisme dan materialisme yang sedang mewabah.

Dengan demikian, jelas, bahwa dunia pendidikan sendiri todak boleh ikut terseret dalam arus budaya tersebut. Di samping menjunjung tinngi nilai-nilai idealisme, kampus juga harus menjadi ruang publik akademis yang mensetting dirinya sebagai wahana tumbuh suburnya gairah inetelektual. Sehingga ketika diinjak, dunia kampus itu sudah menampakkan auranya sebagai dunia intelektual.

Bukan seperti sekarang ini, yang mana, kampus justru terseret gairah kapitalisme yang lebih menampakkan aura konsumerisme, hedonisme dan materialisme. Maka dari itu, untuk mempertahankan Yogya sebagai kota pendidikan ini, pada hakektanya tidak cukup hanya meningkatkan pembangunan infrastruktur pendidikan fisik seperti ruang publik terbuka seperti taman maupun ruang pubklik tertutup seperti perpustakaan. Tetapi yang lebih penting juga adalah meningkatkan ruh pendidikan itu sendiri. Jadi di samping membangun hardware pendidikan, shoftware pendidikan juga harus ditingkatkan. Dengan pendidikan yang holistik inilah mahkota Yogyakarta sebagai kota pendidikan masioh ada harapan untukl diselamatkan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator Studi Filsafat “Sophos Alaikum” Fak. Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: