PENDIDIKAN DAN PEMBENTUKAN PEMIMPIN BERKARAKTER

Oleh:Muhaammad Muhibbuddin*

 

Dalam sambutannya pada upcara HUT Pramuka ke 47 di lapangan Gajah Mada Cibubur, Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengemukakan, manusia merupakan faktor penentu utama globalisasi. Karena itu, diperlukan pembangunan manusia yang memiliki karakter dan watak yang kuat, tidak sekedar cerdas dan menguasai ilmu pengetahuan (Kompas, 15/8/2008)

Memang harus kita sadari bersama bahwa, sampai di usia 63 tahun ini, sebagai bangsa kita masih belum berhasil melakukan pembangunan karakter (caracter building). Pada hal pembangunan karakter (caracter building) sebenarnya unsur terpenting dan fundamental dalam pembangunan bangsa, terutama dalam hal kepemimpinan. Karut marutnya pembangunan bangsa sekarang ini salah satu penyebabnya yang paling fundamental adalah karena kepemimpinan nasional banyak dikendalikan oleh orang –orang yang gagal membangun karakter.

Para pemimpin nasional dan mayoritas pejabat negara yang ada sekarang, tampil dengan karakter yang minimal. Karakter minimalis ini ditunjukkan dengan ketidakmampuan mereka untuk tampil sebagai pribadi yang jujur, cerdas, tangguh, mandiri, berkepribadian luhur, peka terhadap penderitaan rakyat dan sebagainya. Akibatnya, dalam mengurus negara mereka mudah terjebak pada pragmatisme dan kepentingan sesaat (vested interest). Hal inilah yang menjadikan mereka, para politisi itu, cenderung korup, sok elitis, sok kebal terhadap hukum, tak peduli wong cilik, bertindak sewenang-wenang dan mudah menyalahgunakan kekuasaan.

 

Kegagalan dunia pendidikan

 

Manusia berkaraker, sebagaimana yang dikatakan oleh Yudi Latif (Kompas, 20/5/2006) adalah manusia yang memiliki keunggulan khas, dapat diandalkan dan memiliki daya tahan dalam kesulitan dan persaingan. Untuk mencetak manusia yang seperti ini kncinya jelas satu:pendidikan. Jadi, pada prinsipnya pendidikan merupakan kawah penggemblengan manusia-manusia unggul, tempat penggodokan manusia-manusia bermental dan berwatak tangguh, cerdas, berbudi luhur dan terampil. Karena fungsi pendidikan sendiri sebenarnya adalah upaya mendayagunakan dan mengolah potensi intelektualitas (head), spiritualitas (heart) dan profesionalitas (hand). Pendayagunaan dan pengelolaan secara optimal tiga fakultas diri manusia itulah kunci untuk melahirkan manusia berkarakter.

Namun sayang sampai sekarang lembaga pendidikan kita sendiri masih kacau, penuh kepura-puraan, kepalsuan, citra, imagologi, pembohongan dan kedustaan. Bahkan yang terjadi sekarang justru pendangkalan pendidikan. Satu sisi pendidikan kita lebih memfokuskan diri pada hal-hal pendidikan yang sifatnya formalis-legalistik, namun sangat abai terhadap substansi pendidikan itu sendiri. Anak didik dipresur untuk meraih target nilai dalam UAN sebagai standardisasi kesuksesan sebuah pendidikan, tanpa memperhatikan potensi-potensi siswa lainnya yang lebih riil.

Faktor semacam itulah yang menyebabkan lembaga pendidikan gagal memberdayakan ketiga fakultas manusia di atas secara holistik sehingga akhirnya gagal melahirkan anak didik yang berkarakter. Pendidikan hanya mampu mencetak orang-orang yang nilai akademisnya bagus, namun moral dan intelektualnya bejat. Indikasinya adalah maraknya budaya korupsi. Para koruptor dewasa ini, menurut Abdreas Yumara (Kompas, 15/8/2008) merupakan buah yang dihasilkan oleh pohon dunia pendidikan kita yang penuh kepura-puraan. Pengaruh kepura-puraan, korupsi, kepalsuan dan kekerasan serta mutilasi, penculikan, penganiayaan, dan konflik berdarahyang dibawa oleh informasi yang begitu cepat membuat lingkungan kebanjiran informasi negatif tanpa peluang refleksi, proses edukasi dan internalisasi diri. Sementara di sisi lain, produk-produk dunia pendidikan kita tidak melek realitas dan tak mampu membrikan solusi terhadap problematika bangsa. Di balik kemegahan prestasi akademik dan formalisme citra yang mentereng justru menyimpan segudang teka-teki prihal kualitas pendidikan.

Dengan demikian artinya bahwa dunia pendidikan kita hingga sekarang tengah mengalami kegagalan untuk mencetak manusia-manusia berkarakter. Kegagalan mecetak manusia Indonesia yang berkarakter ini, pada hakekatnya, kegagalan fungsi dunia pendidikan itu sendiri.

 

Menuju kepemimpinan yang berkarakter

 

Orientasi pendidikan sebagai pencetak manusia-manusia berkarakter tidak lain adalah bertujuan untuk mengisi ruang kepemimpinan nasional. Sebuah bangsa (nation) dan negara (state) tidak akan maju tanpa ditopang oleh seorang pemimpin yang berkarakter. Seorang pemimpin yang mempunyai tingkat kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) yang memadahi. Saat ini yang dibutuhkan oleh bangsa Indopnesia dalam konteks percaturan poltik, ekonomi dan budaya di tingkat global adalah terwujudnya jiwa mandiri dan merdeka seratus persen. Sebuah kondisi, di mana kita sebagai bangsa ini mampu dan berani mengurus diri sendiri tanpa determinasi dan intervensi oleh negara asing. Untuk menuju ke arah itu jelas sangat dibutuhkan pemimpin yang berkarakter.

Fungsi pendidikan sebagai seleksi kepemimpinan yang berkarakter ini merupakan peradaban yang sudah lama berjalan. Seperti dalam negara idealnya Plato (Henry J.Schamndt:2002) seorang pemimpin harus menempuh berbagai jenjang pendidikan. Mulai dari pendidikan persiapan pada usia 18 tahun dan dilanjutkan dua tahun untuk pendidikan militer bagi mereka yang mempunyai kepemimpinan fisik. Bagi mereka yang mempunyai tingkat intelektual yang mumpuni dan lolos dalam ujian kualifikasi tertentu dalam dua tingkat pertama akan diterima sebagai calon pegawai. Selama sepuluh tahun ke depan, kelompok ini menjalani pendidikan yang lebih keras dan lebih berat tentang matematika.

Bagi yang sudah lulus masih dituntut untuk belajar filsafat selama lima tahun. Jika mereka tidak mampu mempraktikkan karakter filosofis, mereka akan diberhentikan dari pendidikan dan diterima sebagai pejabat pemerintah sesuai dengan skill dan keahliannya. Sementara bagi mereka yang sukses belajar filsafat, maka dianggap pantas dan layak memangku tugas adminsitrasi pemerintahan. Itu pun mereka masih dituntut mengabdi kepada negara selama lim belas tahun. Dalam rentang waktu inilah mereka akan menjalani ujian karakter. Jika mereka sukses dalam ujian ini dengan prediket istimewa, pada usia lima puluh tahun mereka akan menjadi pelindung penguasa negara, raja filsof, yang dipercaya untuk memimpin negara. Dalam kapasitas ini mereka menjadi legislator pemerintah, yang menetapkan kebijakan-kebijakan besar dan membuat peta jalannya negara.

Menyimak konsep idealisme Plato di atas tersirat makna bahwa sarat seorang menjadi pemimpin negara adalah harus mempunyai karakter yang benar-benar matang, mempunyai kemapanan intelektualitas maupun spiritualitas, melalui berbagai jenjang pendidikan yang berlapis-lapis. Oleh karena itu untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang tangguh, maka saatnya Indonesia mempunyai pemimpin yang berkarakter tangguh. Untuk mempunyai pemimpin yang berkarakter, maka manusia-manusia Indonesia harus terlebih dahulu berkarakter.Untuk menuju manusia Indonesia yang berkarakter ini jelas harus melalui optimalisasi pendidikan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: