MENGGUGAT KADERISASI PARPOL

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*
Saat ini sedang dibuka pendaftaran calon legislatif untuk pemilu 2009. Masing-masing partai telah membuka pintu untuk masyarakat yang berminat mendaftarkan diri sebagai calon legislatif. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika parpol-parpol yang ada tidak begitu tertarik dengan kadernya sendiri tetapi lebih tertarik menggaet kader instan. Caleg instan ini merupakan caleg yang berasal dari luar parpol yang mempunyai daya tarik untuk mendulang suara di masyarakat. Caleg-caleg non kader ini berasal dari beragam latar belakang profesi:artis, tokoh masyarakat, pelawak, akademisi dan sebagainya. Pertimbangan parpol-parpol untuk mengistimewakan caleg non kader atau caleg kader instan ini jelas karena faktor popularitas. Para parpol itu banyak yang ragu dengan popularitas kadernya sendiri.
Fenomena menyerukanya para caleg nonkader tersebut, oleh sebagian orang, membuat bertanya-tanya tentang bagaimana kaderisasi parpol selama ini. Bukankah seharusnya parpol sudah mempunyai kader-kader politik yang mumpuni sehingga tidak perlu mengimpor kader instan dari luar. Kurang PD nya partai-partai politik untuk merekkrut kadernya sendiri sebagai caleg itu menunjukkan bahwa partai-partai politik tersebut tidak mampu melakukan kaderisasi politik yang baik. Hal itu, seperti menurut Direktur Lembaga Survei Indonesia Saiful Mudjani merupakan indikasi kegagalan partai politik dalam kaderissi karena tidak membangun kader dari bawah (Sinar Harapan:1/8/2008)

Partai kader vs partai massa
Salah satu faktor mlempemnya kaderisasi partai-partai politik di atas adalah karena partai-partai yang ada bukan partai kader melainkan partai massa. Mayoritas partai politik yang ada di Indonesia adalah partai massa, dan belum ada yang benar-benar mencerminkan sebagai partai kader. Karena sebagai partai massa, maka yang diutamakan oleh sebuah parpol adalah popularitas bukan profesionalitas, ketenaran bukan kemampuan, imagologi bukan realitas dan tanda buka fakta.Hal ini jelas sangat berhubungan dengan media massa. Dalam hal ini media massa merupakan faktor utama dalam dunia politik, khususnya dalam hal mempengaruhi pilihan masyarakat. Seperti kata McGinniss (1969) adanya kekuatan penting yang diperankan oleh media massa dalam pemilihan.Media massa ikut menentukan pilihan setelah sukses ikut membentuk, membangun dan merekayasa citra yang dilakukan oleh seorang kandidat atau politisi.
Meskipun seseorang tidak mempunyai kemampuan bermian politik yang mumpuni, asalkan namanya melambung di masyarakat, sering disorot oleh media—lebih-lebih yang disorot masalah kebaikannya— maka ia akan lebih berpeluang menjadi caleg atau politisi daripada kader yang membangun profesionalitas dari nol namun tak kunjung dikenal masyarakat. Dengan demikian, popularitas atau ketenaran seseorang yang dibangun lewat media massa merupakan bergaining power yang kuat dan menentukan dalam dunia politik. Hasil simulasi dan manipulasi media massa itu justru yang menjadi penentu utama bagi seseorang untuk menapaki rimba politik. Bukannya komitmen dan kemampuan riil yang dimilikinya.
Hal ini jelas sangat berpengaruh dengan kiprah partai dalam melayani masyarakat. Didirikannya sebauh parpol tidak lain adalah untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah. Dalam kontek ini, kewajiban parpol adalah merekrut para kader politik untuk menjadi politisi yang benar-benar mempunyai kepekaan sosial yang tinggi, tahu apa yang dikehendaki oleh masyarakat, bersedia memperjuangkan kepentingan rakyat dan berani membela hak-haknya wong cilik. Untuk itu, parpol berkewajiban mendidik kadernya untuk benar-tahu dan melek terhadap kondisi riel masyarakat tersebut.
Memang pada dasarnya bukan masalah kader atau non kader, tetapi orang yang benar-benar mampu mengemban amanh masyarakat. Namun, yang menjadi persoalan adalah ketika perekrutan caleg nonkader itu lebih didasarkan pada popularitas dan buka pada kapabelitas seseorang. Ini jelas menyalahi fungsi dan spirit politik.

Saatnya menuju partai kader
Matinya kaderisasi politik ini jelas mengancam terhadap pembangunan politik yang sehat. Politik sebagai ruang publik, bisa menjadi sehat dan efektif kalau memang diisi oleh para kader politik yang sehat. Kader politik yang sehat adalah kader politik yang tidak hanya bermodalkan popularitas, tetapi kader yang benar-benar mempunyai pengetahuan dan kecakapan politik yang memadahi. Untuk menuju ke arah ini, maka kuncinya adalah merubah partai massa menjadi partai kader. Ciri partai kader ini tidak memiliki terlalu banyak anggota. Biasanya hanya pengurus atau kandidat direkrut oleh partai, bukan anggota biasa. Tingkat organisasi partai kader kurang tinggi. Partai ini mementingkan sukses di pemilu, maka disebut partai pemilih. Jumlah pemilih dibanding jumlah anggota sangat tinggi, akan tetapi pada umumnya keterikatan pemilih pada partai tidak terlalu kuat. Seleksi kandidat biasanya melalui primaries (pemilu pendahuluan) yang sering melibatkan publik. Partai Republik dan partai Demokrat di Amerika adalah contoh untuk partai kader.
Keberhasilan partai kader ini, dalam sejarah sosialis pernah ditunjukkan oleh Lenin. Berawal pada Kongres Partai Ke-2 di Brussel (Juli-Agustus 1903) dan diteruskan di London, Lenin berpendapat bahwa hanya mereka yang siap untuk menjadi orang revolusioner profesional yaitu konspirator full time, yang dapat menjadi anggota partai. Dengan demikian, maka partai akan menjadi suatu partai kader yang kukuh. Namun pendirian Lenin ini ditentang oleh Martov. Ia berpendapat bahwa kader-kader tangguh hanya perlu sebagai inti partai saja. Sementara partainya sendiri tetap berbentuk luas. Menurut konsep Martov, partai akan berbentuk partai massa yang sifatnya evolusioner.
Dikatakan bahwa dalam partai kader sulit bagi para calon kader yang baik untuk masuk. Oleh alasan-alasan tertentu, untuk sementara mereka tidak mungkin menjadi konspirator full time. Namun pada akhirnya Lenin yang memenangkan pertentanagn itu. Dengan hasil voting ia menagn tipis atas Martov. Dalam kemenangan ini ia menamakan kelompoknya sebagai Bolshevic (mayoritas) dan rivalnya disebut dengan Menshevic (minoritas).Dengan partai kadernya inilah Lenin berhasil menggulirkan revolusi sosialisme yang terkenal dengan revolusi Bolshvic.
Dalam hal partai kader ini, media tetap menjadi unsur utama. Tapi media media di sini hanya difungsikan sebagai komunikasim publik. Sebab, partai kader tidak mengutamakan anggota, sehingga ia mempunyai jumlah anggota yang terbatas. Hal ini tentu berbeda dengan fungsi media dalam partai massa seperti sekarang. Dalam partai massa seperti sekarang, media dijadikan sebagai alat untuk tiket utama meraih karir politik. Sementara pada partai kader, karir politik harus diraih berdasarkan profesionalitas dan kapabelitas seorang kader.
Oleh karena itu, meskipun Indonesia sekarang dihadapkakan pada era multi partai, tetapi kalau partai-partai yang ada semuanya hanya partai massa, maka tidak akan ada pengaruhnya terhadap pendidikan dan peningkatan kualitas politik di Indonesia. Karena politik Indonesia hanya dihuni oleh badut-badut politik yang bernalar dangkal dan berselera rendah.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator Studi Filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: