TIRAKATAN, SERUAN MENUJU KEMERDEKAAN HAKIKI

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*
Sebagai bagian dari tradisi masyarakat Yogya, tiap malam menjelang HUT kemerdekaan RI, di seluruh wilayah Yogyakarata, mulai dari wilayah perkotaan hingga ke pelosok-pelosok desa, selalu diadakan acara yang bernama tirakatan. Ini adalah tradisi “wajib” masyarakat Yogya untuk menghormati kemerdekaan Indonesia.Acara ini digelar dengan cara melek semalam suntuk dan diawali dengan acara formal seperti kenduri, selametan dan sebagainya.Menurut Bagdi Sumanto–guru besar Fakultas Imu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM)– bahwa tirakatan adalah laku menolak hawa nafsu dengan tidak tidur dan mengurangi makan semalam suntuk. Tujuannya menyingkir sesaat untuk mengheningkan cipta. Sebab, lanjut Soemanto, ketika hati bening dan bersih dari hawa nafsu duniawi, maka suara hati akan terdengar (Kompas, 16/8/2008)

Sebagai kritik sosial
Dalam kerangka makna di atas, acara tirakatan ini sebenarnya bukan sekedar tradisi dengan sekian ribu ritual kosong, tetapi lebih dari itu tradisi sekaten ini juga mengandung kritik sosial yang cukup signifikan khususnya dalam kontek sosial-politik sekarang. Kita tahu bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hasil jerih payah, kerja keras dan perjuangan berat para pejuang-pejuang Indonesia. Mereka rela mengucurkan keringat dan darah demi melepaskan Indonesia dari cengkraman kaum penjajah. Para pahlawan itu telah mempersembahkan jiwa raganya demi jayanya tanah airnya. Oleh karena itu benar kata Soekarno (2005) bahwa hanya bangsa yang tahu menghargai dan menghormati pahlawan-pahlawannya dapat menjadi bangsa yang besar. Dari sini jelas bahwa para pahlawan itu berjuang bukan untuk dirinya sendiri, bukan untuk memanjakan ego dan hawa nafsunya, bukan untuk membebaskan ambisi indifidualnya. Melainkan demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sekarang persoalannya, ketika kemerdekaan itu bisa kita raih, ketika bangsa kita sudah hidup aman, lepas dari bayang-bayang bedil dan bayonet para penajajah, ketika para pahlawan itu sudah mati berkalang tanah, sementara kita yang masih hidup justru yang bisa menikmati jerih payah beliau-beliau itu, apa yang kita lakukan? Sejalankah dengan apa yang diperjuangkan para pahlawan kita itu.
Jawabnya jelas tidak. Kemerdekaan yang diwariskan oleh para pahlwan kita itu justru kita jual, kita gadaikan pada perusahaan asing. Kemerdekaan yang diraih dengan darah itu justru kita jadikan sebagai alat untuk menciptakan ketidakadilan, kita jadikan sebagai ladang untuk menanam penjajahan baru, kita jadikan sebagai senjata untuk melahirkan neoimperalisme, neokolonilaisme, neoliberalisme dan neo-neo penindasan lainnya. Tanah yang subur, kekayaan alam yang melimpah ruah hanya menjadi rayahan para elit dan orang-orang asing. Sementara para wong cilik tetap dibiarkan meradang dalam kesengsaraan, kemiskinan dan kelaparan. Kesejahteraan dan kemakmuran ekonomi hanya menjadi makanan para pejabat negara, sementara rakyat semakin tersingkir jauh dari yang namanya kesejahteraan dan kemakmuran.
Ketika banyak rakyat yang hanya bisa makan ingus, tidur di rumah kardus dan pendidikannya tergerus, para pejabat justru sibuk korupsi berjamaah, berbagi-bagi uang haram dan berpesta pora menghambur-hamburkan uang negara.
63 tahun yang lalu para pejuang Indonesia dengan heroik menyatakan bahwasannya kemerdekaan adalah hak semua bangsa maka dari itu penjajahan di dunia harus dihapuskan…. Pernyataan para founding fathers kita itu jelas merupakan kritik terhadap kaum kolonial Barat yang sedang giat-giatnya melakukan proyek imperilaismenya di dunia termasuk di Indonesia.
Namun sekarang, setelah kita mendapatkan pusaka kemerdekaan itu, justru kita jadikan kartu truf untuk menjalin kolaborasi dengan para bangsa penjajah– yang dulu dikecam keras oleh para pejuang kita itu— untuk bersama-sama menerapkan penjajahan terhadap bangsa sendiri. Maka kalau seandainya para pejuang dan pahlawan yang telah mewariskan kemerdekaan Indonesia itu sekarang hidup, mereka pasti menangis keras karena melihat ulah kita yang tak beda jauh dengan mental para penjajah itu.Kita sekarang boleh dibilang sebagai generasi pecundang, generasi pengecut dan penelikung atas jasa para pahlawan itu.
Apa penyebab semua itu? Jelas:kerakusan hawa nafsu. Ada yang salah dalam pemikiran kita dalam memahami kemerdekaan. Kemerdekaan bangsa kita tafsiri dengan kebebasan keinginan yang tanpa batas. Sehingga apapun keinginan kita, meskipun itu tidak sealur dengan spirit perjuangan dan kemerdekaan Indonesia, harus kita realisasikan. Maraknya korupsi, kapitalisasi, konglomerasi dan hedonisasi dan seterusnya adalah wujud kebebasan hawa nafsu kita yang tanpa batas. Akibat kebebasan nafsu yang tanpa batas itu melahirkan kerkausan dan ketamakan yang tanpa batas pula. Negara segede ini maunya kita jadikan sebagai harta dan kekayaan pribadi untuk diri sendiri, keluarga, kelompk dan partai politik.
Dengan kerakusan hawa nafsu kita yang super liar tanpa mengenal puas itu menandakan bahwa kita sekarang secara ontologis berada dalam perangkap penjahan baru yakni penjajahan hawa nafsu. Kita sekarang menjadi budak keinginan kita, budak ambisius kita, budak egoisme kita, budak kesenangan kita dan budak-budak nafsu lainnya. Sebagai manusia kita tidak lagi mampu mengendalikan nafsu, mengendalikan keinginan pribadi, mengendalikan ambisi dan kesenangan ego, tetapi justru dikendalikan oleh itu semua. Kita benar-benar terjajah dengan ego kita sendiri. Terperangkap dalam penjara nafsu pribadi. Tapi kita tak merasa. Bahkan itu kita yakini sebagai bentuk kebebasan.
Inilah sebenarnya relevansi dan signifikansi tirakatan. Dengan tirakatan ini kita dilecut untuk merenung, berinstropeksi diri dan menjernihkan hati untuk keluar dari jerat penjajahan nafsu sendiri. Budaya tirakatan ini secara implisit mengajari kita untuk prihatin demi untuk mencapai kemerdekaan hakiki. Mengajari kita untuk bisa mengekang nafsu, mengerem berbagai keinginan diri sendiri, mengajari bahwa kemerdekaan bukanlah bebas semau gue:bebas merampok, bebas korupsi, bebas menggarong, bebas menindas dan seterusnya.
Seperti kata Immanuel Kant bahwa kebebasan tidak berarti kemampuan untuk melakukan apa saja yang diinginkannya; kebebasan berarti bertindak menurut suara hatinya yang rasional, sumber hukum universal. Indifidu yang mengikuti nafsu dan hasratnya tidaklah bebas, ia adalah budak dari tabiatnya yang rendah. Hal inilah yang ditunjukkan oleh para pahlawan kita pada saat berjuang meraih kemerdekaan. Mereka berani hidup prihatin, berani mengekang ambisi pribadi dengan tidak mau melacurkan diri kepada kaum penjajah demi sepotong roti.
Maka dari itu, dihari kemerdekaan ini kita sejatinya tidak hanya dituntut untuk merdeka dari penjajahan bangsa asing, melainkan juga harus merdeka dari penjajahan nafsu pribadi. Kemerdekaan dari hawa nafsu inilah kemerdekaan internal yang hakiki. Oleh sebab itu, ia adalah kunci bagi kemerdekaan kita dari penjajahan eksternal:penjajahan modal, penjajahan sistem, idiologi dan penjajahan pasar. Selama kita belum bisa meraih kemerdekaan hakiki tersebut, maka jangan harap kita bisa merdeka dari penjajahan eksternal, termasuk penjajahan pasar atau kapital.
*Muhammad Muhibbuddin adalah Pengamat sosial-budaya dan pegiat Forum Diskusi “Linkaran ‘06” dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: