ASEAN:DARI GESELLSCHAFT MENUJU GEMEINSCHAFT

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Sejak awal pembentukannya pada 8 Agustus 1967, ASEAN merupakan forum kerja sama regional yang didirikan oleh lima negara yaitu Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Tahiland. Ini sebagai upaya untuk membangun otoritas kawasan demi terciptanya perdamaian dan kemanan yang kuat. Ingat, kawasan Asia Tenggara adalah kawasan yang rawan penjajahan, terutama penjajahan dibidang ekonomi, sosial dan politik yang membuat perdamaian dan keamanan Asia Tenggara sering terkoyak.Forum kerja sama ini didirikan berdasarkan deklarasi Bangkok yang salah satu isi butirnya adalah “akan lebih mengedepankan kerja sama ekonomi dan sosial sebagai perwujudan dari solidaritas ASEAN”.

Dengan demikian, sebagai entry point solidaritas antar negara di kawasan Asia Tenggara ini, ASEAN lebih memilih prinsip economic road toward peace, berdasarkan asumsi bahwa jika negara-negara ASEAN mencapai kemamuran secara ekonomi, maka perdamaian akan terwujud di negara ini. Baru pada 27 November 1971, melalui deklarasi ZOPFAN (Zone of peace, Freedom and Neutrality Declaration), kerja sama di bidang politik secara formal mulai dirambah. Namun pada hakekatnya tidak sebatas ini. Perdamaian yang dibangun melalui otoritas ekonomi dan poplitik adalah perdamaian yang dibangun atas dasar prinsip materialisme yang tentu saja bersifat jangka pendek. Karena kerja sama yang ada di dalamnya hanya mampu membangun ikatan society (gesellschaft) dan belum mampu menciptakan wadah community (gemenschaft).

 

Go beyond society

 

Dalam buku Masyarakat Asia Tenggara Menuju Komunitas ASEAN 2015 (2008) dijelaskan tentang cita-cita ASEAN untuk meningkatkan dan mempererat ikatan solidaritasnya melalui peningkatan kualitas kerja samanya. Solidaritas yang awalnya dibangun hanya melalui kerja sama ekonomi dan sosial-politik, hanya berdasarkan pada prinsip society (gesellschaft) mulai sekarang dan selanjutnya hendak ditingkatkan ke level comunity (gemeinschaft).

Secara filosofis -linguistik ke dua term itu mempunyai perbedaan epistemoligis yang prinsipil. Seperti menurut sosiolog Jerman, Ferdinand Tonnies bahwa kalau society (gesellschaft) hanya mengakui adanya kepentingan diri sendiri sementara sebaliknya kalau community (gemeinschaft) justru menolak gagasan itu.

Namun pola pembedaan yang dibuat oleh Tonnies ini dirasa sangat dangkal. Bagaimanapun juga yang namanya kepentingan indifidu, dalam kontek dan jenis pergaulan apapun tetap tidak bisa meninggalkan kepentingan pribadi. Kalau hanya sebatas menaruh dalam kerangka prioritas itu bisa. Artinya kepentingan bersama harus dikedepankan daripada kepoentingan indifidu itu masih bisa dimungkinkan. Namun kalau kepentingan pribadi ini dinegasikan secara total, itu sesuatu yang nonsense. Karena sesuatu yang alami, kalau seseorang mempunyai atau mengakui kepentingan diri sendiri.

Maka dari itu, cara terbaik membedakan gemeisncheft dan geselschaft ini bukan tidak adanya kepentingan diri sendiri, melainkan pada derajat resiprsitasnya. Jika pada gemeinschaft kepentingannya bersifat jangka panjang, pada gesellscheft kepentingannya bersifat jangka pendek (Hlm.15).

Pola gemeinscheft atau komunitas ini memkpunyai ciri-ciri dasarnya yang mebedakan dengan pola geselscheft. Sebuah komunitas setidaknya mempunyai tiga karakteristik dasar, pertama, para anggota atau suku komunitas berbagai identitas-identitas, nilai-nilai dan pengertian-pengertian. Kedua, mereka yang berada dalam komunitas memiliki berbagai sisi dan hubungan langsung, interaksi bukan secara tidak langsung dan pada domain-domain khusus terisolasi, melainkan hubungan-hubungan yang tatap muka dan dalam berbagai keadaan atau tata cara. Ketiga, komunitas menunjukkan suatu resiprositas yang mengekspresikan derajat tertentu kepentingan jangka panjang dan mungkin bahkan latruisme (mementingkan kepentingan orang lain), kepentingan jangka panjang didorong oleh pengetahuan dengan siapa seseorang berinteraksi, dan altruisme dapat d dipahami sebagai suatu rasa kewajiban dan tanggung jawab (a sense of obligation and resposibelity).

Dengan demikian, cita-cita hubungan dan kerja sama ASEAN yang hendak dibangun ke depan (2015) ini bukan sebatas solidaritas yang dibangun dengan keputusan-keputusan legal -fisik-materialistik, tetapi lebih dari itu adalah solidaritas yang dijiwai dengan nilai-nilai kemanusiaan, kekeluargaan dan sosial yang lebih hakiki dan abadi.dengan prinsip komunitas ini, pola relasi antar negara yang asalnya hanya sebatas mitra atau rekan bisnis, nantuinya bisa meningkat menjadi sudara dan bahkan keluarga:keluarga sekawasan. Dengan demikian, ASEAN bukan hanya menjadi zona hubungan antara negara secara institusional, melainkan menjadi “rumah” bersama untuk masyarakat-masyarakat yang hidup di wilayah asia Tenggara ini.

 

Tiga Pilar Menuju Community

 

Karena spirit yang dibangun adalah bukan sekedar profite oriented tetapi juga menyangkut perdamaian abadi dan keadilan sosial dalam wadah komunitas, maka hal-hal yang menajdi bidang garapan ASEAN tidak hanya terfrokus pada sektor ekonomi dan politik, tetapi mencakup spektrum kerja yang lebih luas. Dengan tujuan inti perdamaian dan keamanan yang stabil (stable peace) dan jangka panjang untuk kawasan, maka garapan kerja sama mulai dilebarkan pada wilayah sosial, budaya, ilmu pengetahuan dan tehnologi.

Secara umum, bidang-bidang garapan ASEAN untuk meningkatkan pola relasi masyarakat ASEAN ini terangkum pada tiga program. Tiga program ini merupakan pilar berdirinya komunitas masyarakat ASEAN. Tiga pilar itu adalah pertama, masyarakat kemanan ASEAN. Pilar ini diorientasikan agar negara-negara yang berada di kawasan ASEAN bisa hidup aman, damai dan sejahtera baik dalam wilayah internal maupun eksternal. Kedua adalah masyarakat Ekonomi ASEAN. Pilar ini difungsikan sebagai penopang terhadap terciptanya masyarakat ASEAN yang sejahtera yang didukung oleh kebebasan oergerakan barang, jasa dan modal serta tenaga-tenaga berketrampilan dan berpendidikan tinggi. Ketiga adalah masyarakat Sosial-Budaya. Pilar ini berfungsi untuk mendukung terciptanya masyarakat yang saling mencintai dan menyanyangi, saling asah, asih dan asuh serta memiliki identitas regional.

Oleh karena itu, warga masyarakat regional ASEAN, khususnya Indonesia, nampaknya sekarang perlu untuk mempertimbangkan, mengoreksi dan merekonstruksi pola partnership dan solidaritas masyarakat ASEAN yang selama ini terjalin. Dalam gempuran globalisasi sekarang ini ASEAN perlu meningkatkan spirit dan basis solidaritasnya kalau tidak ingin kalah dengan masyarakat kawasan lain dalam percaturan global. Menuju solidaritras yang berbasis komunitas (gemeinscheft)adalah terobosan baru untuk meningkatkan pola relasi dan solidaritas masyarakat ASEAN. Dengan spirit komunitas ini, masyarakat ASEAN yang asalnya hanya terbangun melalui representasi lembaga negara dan terhubung berdasarkan ikatan formalitas, menjadi masyarakat yang lebih cair, antar indifidu dari berbagai bangsa bisa saling kenal, akrab dan mengasihi, bisa saling membaur menjadi satu keluarga, menyatu dalam semangat kekitaan (we feeling) dengan tetap menghormati dan menjaga karakteristik dan identitas masing-masing bangsa.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pecinta buku, aktif pada komunitas “BACA” pada Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: