DANDANGAN

Gegap gempita masyarakat kota kretek menyapa datangnya Ramadhan

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

 

Saat Ramdhan menjelang, kota Kudus sudah bisa dipastikan menjadi gegap gempita. Lautan manusia dari berbagai daerah Kudus dan sekitarnya seperti Jepara, Demak dan Pati tumplek blek memenuhi ruang-ruang dan sudut kota kretek itu. Suasana nampak ramai, riuh dan berjejal-jejal. Keramaian inilah yang populer disebut dengan Dandangan. Keramaian ini sampai sekarang masih menjadi tradisi khas masyarakat Kudus ketika Ramdhan tiba. Kenapa harus menjelang Ramdhan? Karena ritual budaya ini memang konon diproyeksikan untuk menyambut sekaligus menetapkan datangnya bulan suci Ramdhan. Ini semacam “upacara rakyat” untuk bermarhaban terhadap bulan yang di dalamnya terdapat sebuah malam dengan nilai kebaikan melebihi seribu bulan itu.

Secara historis, upacara rakyat kudus itu sudah eksis sejak berabad-abad yang lalu, tepatnya sejak Sunan Kudus Syaikh Dja’far Sodiq masih sugeng. Konon, sejak zaman Syeh Jakfar Shodiq, salah satu wali songo penyebar agama Islam di Jawa, setiap menjelang bulan puasa, ratusan santri Sunan Kudus berkumpul di Masjid Menara guna menunggu pengumuman dari Sang Guru tentang awal puasa. Para santri tidak hanya berasal dari Kota Kudus, tapi juga dari daerah sekitarnya seperti Kendal, Semarang, Demak, Pati, Jepara, Rembang, bahkan sampai Tuban, Jawa Timur.Pada hari menjelang puasa, setelah berjamaah salat ashar, Sunan Kudus langsung mengumumkan awal puasa. Pengumuman itu dilanjutkan dengan pemukulan beduk yang berbunyi “dang-dang-dang”. Suara beduk yang bertalu-talu itulah yang menimbulkan kesan dan pertanda khusus tibanya bulan puasa. Berawal dari suara dang-dang, setiap menjelang puasa, masyarakat Kudus mengadakan tradisi Dandangan.

Secara etimologis (ilmu tentang asal-usul kata) kata ”dandangan” mungkin berasal dari kata ”dandang” atau beduk yang ditabuh bertalu-talu oleh Syeh Ja’far Shadiq. Namun, kata tersebut juga bisa diasumsikan berasal dari kata ”ndang-ndang” (Bahasa Jawa) yang berarti ”cepat-cepat”. Kata cepat-cepat itu bisa dimaknai sebagai selekasnya menyiapkan makan sahur menjelang awal puasa esok hari.

Setidaknya, hal itulah yang terungkap dari sejumlah literatur lama dari berbagai perpustakaan kuno di kota Kudus terkait dengan asal usul tradisi dandangan. ”Mungkin, hanya ini yang kami punyai soal dandangan,” ujar seorang pustakawan tua, suatu hari, sambil menunjukkan fotokopi lusuh dari sebuah sudut bilik koleksi bacaan di Perpustakaan Menara. Orang tua ini nampaknya juga sudah mulai susah menggambarkan sejarah Dandangan secara holistik. Foto kopi itu sendiri sudah mulai sulit dibaca karena saking lusuhnya. Ini menandakan bahwa tradisi ini merupakan tradisi yang tergolong tua dan menghabiskan beratus-ratus lintasan generasi.

Sementara itu, dalam beberapa dasawarsa yang lampau, dandangan juga selalu dinuansai munculnya maskot gadis-gadis Kudus Kulon (seputar Desa Langgar Dalem) yang konon mempunyai wajah cantik rupawan.Biasanya, perempuan-perempuan tempo dulu itu hanya bisa menyaksikan ”dunia luar” dari balik jeruji jendela kamar pingitan mereka. Karena itu, dulu setiap rumah di Kudus Kulon selalu dilengkapi kere (tirai) di setiap sudut atau samping rumah..Namun, khusus untuk menyambut dandangan, para orang tua si gadis memperbolehkan anak perempuan mereka bermain sepuas hati di lokasi tersebut.Karena itu, pustakawan yang asli penduduk di sekitar Menara tersebut juga menuturkan, pada saat dandangan berlangsung, bermunculan gadis-gadis rupawan yang sebelumnya tidak pernah terlihat.

Melihat kondisi dandangan yang masif dan berjubel itu, mengingatkan kita pada pernyataan Victor Turner bahwa agama, dalam waktu-waktu tertentu akan mengalami kondisi liminal, yaitu, sebuah kondisi di mana praktik keberagamaan cenderung menghancurkan batas-batas ketat yang ditancapkannya sendiri. Dalam doktrin agama yang ketat, seorang perempuan dilarang keras keluar rumah dan dekat dengan laki-laki yang bukan muhrimnya. Namun pada saat tertentu seperti pada acara Dandangan ini, tiba-tiba para pemempuan bukan hanya diizinkan keluar rumah tetapi juga membaurkan dirinya dengan kerumunan orang.

Di sini terlihat, norma agama yang menjadi batas dan membentengi secara ketat antara laki-dan perempuan menjadi luruh, hancur atau mengalami liminalitas. Kondisi semacam ini terjadi, biasanya kalau ada unsur nilai yang mengatasi norma-norma agama yang legal dan kaku tersebut. Ini merupakan ekspresi kesadaran bahwa dalam hidup ini ada yang lebih dari sekedar muhrim – non muhrim, laki-laki – perempuan, hala-haram dan sebagainya. Maka dari itu, sebuah norma atau doktrin dalam agama bukan sesuatu yang mutlak, tetapi relativ tergantung ruang dan waktu.

 

Seiring perkembangan zaman

 

Kehidupan memang tidak pernah tetap. Segala sesuatu yang berada dalam himpitan ruang dan waktu akan selalu mengurai dalam hiukum perubahan. Seluruh kenyataan merupakan arus sungai yang mengalir, begitulah kata Herakleitos sang filosof dari Ephesos itu. Begitu juga Dandangan, sebagai konstruksi sosial, tradisi dan bentuk budaya yang tercipta dalam relativitas ruang dan waktu, ia selalu mengalami perubahan, perkembangan dan metamorfosis sealur dengan perkembangan kondisi dan struktur masyarakat yang membentuknya.

Perubahan itu nampak mencolok terlebih dalam pergeseran pola, bentuk dan fungsinya. Dandangan sekarang bukan lagi hanya berbentuk kumpul-kumpul di masjid sambil mendengarkan alunan bunyi Beduk. Begitu juga fungsinya bukan lagi sekedar untuk menyambut dan mengetahui awal Ramadhan. Tetapi lebih dari itu sekedar itu. Ia (dandangan) sekarang berkembang menjadi ajang kongkow-kongkow orang di jalan-jalan, trotoar, perempatan dan ruang-ruang publik lainnya. Tempatnya pun sudah bukan bukan lagi terpusat di Masjid dan sekitar Jl. Sunan Kudus hingga ke Alun-alun Kudus. Namun, sudah beralih ke halaman GOR Wergu Wetan Kudus.. Mungkin ini untuk mencegah kemacetan di pusat kota. Sebab, Jl Sunan Kudus adalah jalan utama di Kab Kudus. Tentu saja dengan memindahkan lokasi dandangan, berarti pula memindahkan kemacetan. Hal ini disebabkan saking banyaknya orang yang memadati lokasi itu dengan beragam kepentingan dan aktivitas.

Selain pola dan bentuk yang berubah, fungsi Dandangan pun juga sudah mulai mengalami pergeseran. Kalau dahulu acara ini disetting untuk acara ritual keagamaan, sekarang sudah berkembang menjadi aktifitas sosial ekonomi. Hal ini karena, satu Minggu sebelum Ramadhan, dalam acara ini digelar pasar malam. Di ruas-ruas jalan dan tempat-tempat umum banyak dijumpai stand-stand jualan dan pedagang. Barang yang ditawarkan pun beraneka ragam mulai dari makanan, souvenir, baju, cindera mata, sepatu, tas dan sebagainya. Karena fungsinya demikian, maka kepentingan para selebrities dandangan pun berubah. Mereka tidak lagi berkepentingan mengetahui dan menyambut datangnya bulan Ramadhan, tetapi bisa hanya sekedar untuk berjualan, ngisi waktu, pertemuan, makan-makan, jalan-jalan, nonton pertunjukan dan sejenisnya. Hal ini karena, di samping pola peenetapan bulan Ramdhan sudah banyak disiarkan melalui media teknologi dan komunikasi yang seksarang berkembang dengan pesatnya, di antara para pengunjung itu tidak semuanya Islam. Oleh karena itu, sebagian mereka tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan datangnya bulan Ramadhan. Jadi mereka hanya menikmati keramaiannya saja.

 

Makna dandangan yang terancam sirna

 

Melihat fenomena perubahan dan pergeseran pola dan fungsi dandangan tersebut, tentu muncul sebuah kegalauan. Kegalauan yang pertama kali miuncul adalah masihkan dandangan itu berjalan di atas makna religiusitas yang menjadi esesensinya ataukah dasar moral yang melandasinya itu justru hilang tanpa jejak dan tergantiukan oleh gegap gempita dan perayaan naluri sekulerisme, materialisme dan hedonisme.

Sebab, kalau budaya dandangan ini telah tercerabut dari aspek religiusitasnya, maka ia sam halnya kehilangan ruh eksistensinya. Sebagai aktifitas ekonomi, pasar malam secara substansial adalah bagian dari agama. Sebab agama memang bukan hanya urusan sholat ataupun puasa. Namun, dalam sejarahnya banyak aspek-aspek sosial-ekonomi yang justru bertentangan dengan nilai-nilai dasar agama. Ia tidak lagi dijiwai oleh semangat religius, tetapi oleh semangat kapitalime, hedonisme dan materialisme. Dan nalar-nalar destruktif semacam itu justru mudah merasuk secara tidak sadar ketika bersentuhan dengan yang namanya agama dan berikut aspek-aspek ritualnya. Akibatnya agama terancam mengalami distorsi, reduksi bahkan politisasi dan disorientasi. Ia hanya diorientasikan untuk mengeruk profite, memanjakan nafsu kebinatangan, merayakan kemenangan kapitalisme dan sejenisnya sehingga agama menjadi kehilangan dimensi spiritualnya.

Oleh karena itu, terjadinya pergeseran pola dan bentuk dandangan hendaknya menjadi perhatian serius dari para agamawan, budayawan, intelektual, pemerintah dan masyarakat Kudus sendiri. Perubahan dan perkembangan memang sebuah keniscayaan, namun sebagaimana kata Socrates sendiri, tidak semuanya itu berubah. Ada unsur –unsur universal yang tetap dan menjadi prinsip dasar. Dengan demikian, perubahan Dandangan ke arah ekonomi ini jangan sampai mencerabut ruh spiritual sekaten. Kasarnya, cari duit, ya cari duit, nongkrong ya nongkrong, tapi kalau waktunya terawih, waktunya puasa, bagi orang yang benar-benar Islam, ya harus tetap terawih dan puasa. Minimal menghormati orang yang sedang terawih dan puasa.

*Muhammad Muhibbuddin adalah pengamat sosial-budaya dan pegiat forum diskusi Filsafat “Linkaran ‘06” Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: