PUASA DAN ETOS TANGGUNG JAWAB

Oleh: Muhammad Muhibbuddin*

 

Pada prinsipnya, selain untuk perbaikan jasmani, ibadah puasa juga diproyeksikan sebagai alat untuk perbaikan ruhani. Sebab, sebagai manusia kita sering kali lupa kalau eksisensi diri kita, pada hakekatnya ditopang oleh dua dimensi yakni dimensi jasmani dan ruhani, jasad dan ruh, fisik dan psikis, materi dan spirit. Kealpaan dan kelupaan kita itu seringkali membawa kita pada ketidakseimbangan diri. Kita di satu sisi lebih sibuk mengurusi dimensi fisik dan menterlantarkan dimensi ruh atau psikis. Akibanya kita mudah terjangkiti penyakit ruhani yang menyebabkan kehidupan kita sering tidak terkontrol. Hal ini tercermin dari pola hidup kita yang suka nabrak dan menerabas apa saja tanpa mempedulikan batas-batas norma, etika dan aturan.

Krisis Tanggung Jawab

 

Salah satu penyakit ruhani akut yang selama ini menimpa kita sebagai manusia Indonesia, terutama di kalangan para pemimpinnya adalah krisis tanggung jawab. Kita tahu, berbelit-belitnya masalah KKN, kebijakan politik yang tidak mutu, maraknya mafia peradilan, mafia parlemen, mafia perminyakan dan seterusnya adalah disebabkan oleh hilangnya rasa tanggung jawab.

Krisis tanggung jawab ini sebenarnya merupakan masalah serius yang sangat membahayakan kehidupan publik. Dalam konteks Indonesia ini merupakan penyakit yang cukup lama mengancam. Dalam catatan hariannya(1988) Ahmad Wahib pernah menyatakan, ada suatu bahaya bahwa masarakat Indonesia akan menajdi society of responsibelity shifters. Beberapa orang yang pada mulanya kelihatan sangat potent untuk berwatak penuh tanggung jawab, ternyata menjadi pelempar tanggung jawab.

Apa yang dikatakan oleh Wahib tersebut sekarang memang sungguh-sungguh terjadi. Lihat saja masalah korupsi di lembaga pemerintahan kita yang dilakukan secara berjamaah sehingga menjadi masalah yang ekstra komplek. Korupsi A menyangkut B, B menyangkut C, C menyangkut A terus begitu hingga menjadi lingkaran setan yang sulit diketahui ujung-ujungnya.Kompleksitas skandal korupsi tersebut menyebabkan kasus ini berada dalam lemparan bola-bola liar. Pejabat yang satu melemparkan kasusnya ke pejabat lainnya, pejabat yang lain melemparkan lagi ke teman berikutnya dan begitu seterusnya. Akhirnya sampai sekarang satu sekandal belum bisa dituntaskan. Pada hal jenis sekandal korupsi ini jumlahnya umbrukan.

Tanggung jawab, menurut K. Bartens (2002) berarti: dapat menjawab, bila ditanyai tentang perbuatan-perbuatan yang dilakukan. Orang yang bertanggung jawab dapat diminta penjelasan tentang tingkah lakunya dan bukan saja ia bisa menjawab—kalau ia mau—melainkan juga ia harus menjawab. Dengan demikian tanggung jawab merupakan salah satu wujud kesadaran hati nurani untuk tidak menjadi pengecut, senantiasa konsisten dan berani menjawab problematika yang muncul sebagai akibat dari perbuatannya. Apalagi kalau problematika itu akhirnya menyengsarakan orang banyak.

Kita sekarang ini sungguh sulit mencari orang atau pihak yang benar-benar bersedia menjawab problematika bangsa yang menggurita ini. Menjawab bukan hanya sebatas kata-kata melainkan dengan memberikan solusi konkrit. Selama ini tugas menjawab berbagai masalah tersebut justru ada di tangan rakyat yang tidak tahu apa-apa. Mereka tidak melakukan kesalahan tapi justru yang menanggung segala akibat yang muncul. Tidak ikut makan nangka tapi justru terkena getahnya, inilah potret masarakat kita sekarang.

Seharusnya pihak yang paling bertangung jawab terhadap berbagai macam problematika kebangsaan dan kemanusiaan di negara kita ini adalah para trouble maker yang notabene para elit penguasa: penguasa politik, ekonomi dan hukum. Tapi sampai sekarang orang-orang yang menjadi trouble maker tersebut justru kabur dan menimpakan seabrek masalah kepada masarakat. Mereka hanya pandai bersilat lidah di berbagai media masa untuk membela diri. Bukankah ini mental para pengecut?.

 

Urgensi Puasa

 

Oleh karena itu, puasa Ramadhan kali ini harus kita jadikan sebagai arena pendidikan mental dan spiritual yang bisa menanamkan etos tanggung jawab dalam hati kita. Puasa adalah media penyucian diri, media pengendapan diri, media instropeksi diri, media bermuhasabah, bukan sekedar berlapar-lapar, berhaus-haus dan beritual ria. Dalam makna yang demikian itu, kita dituntut untuk bercermin melihat kebusukan diri kita sendiri yang salah satunya adalah jiwa kepengecutan kita. Kalau kita sudah menyadari bahwa di dalam diri kita terdapat sifat pengecut, maka kewajiban kita selanjutnya adalah segera membersihkan sifat itu dan segera berlatih menjadi orang yang bertanggung jawab.

Sikap tanggung jawab yang tercermin dalam puasa ini terletak pada perlunya komitmen bagi para pengamal puasa untuk mengaktualisasikan nilai-nilai keruhanian yang terkandung dalam puasa itu sendiri. Seperti nilai kejujuran, keamanahan, kepekaan sosial dan seterusnya. Maka ketika kita berpuasa, kosekuensinya kita harus melaksanakan nilai-nilai tersebut. Konsekuensi tersebut merupakan bentuk tanggung jawab seseorang terhadap puasanya. Kalau ada orang yang berpuasa namun prilakunya buruk, maka itu pertanda orang yang tidak bertanggung jawab terhadap ritual puasa yang dikerjakan. Rasa tanggung jawab terhadap puasa ini kita kembangkan dalam kontek kehidupan yang lebih luas.

Maka dari itu, kalau memang kita terbukti melakukan perbuatan yang merugikan orang banyak, sebagai orang yang komitmen pada nilai-nilai puasa, kita harus berani menghadapi masalah tersebut secara gentle dan jujur, berusaha mempertanggung jawabkan perkara itu di hadapan publik dengan cara bersedia menyelesaikan masalah tersebut dan tidak berusaha mengulanginya. Kalau memang terbukti korupsi, maka harus berani mengakui dan menyelesaiakn secara jujur kemudian tidak mengulangi lagi. Tidak malah lari dan berupaya menutup-nutupi.

Maka, puasa Ramadhan kali ini harus bisa merangsang diri kita untuk berani tampil menyelesaikan berbagai macam persoalan kebangsaan dan kemanusiaan yang disebabkan oleh ulah kita. Siapa yang menjadi penyebab terjadinya banjir lumpur, siapa yang menjadi penyebab terjadinya kemiskinan struktural, anak-anak tak kuat sekolah, banjir bandang, illegal logging dan seterusnya itulah yang harus bertanggung jawab menyelesaikan. Hal itu sebagai bukti tanggung jawab kita kepada orang-orang yang kita rugikan. Tidak ada gunanya puasa, kalau kita tetap menjadi orang bermental bobrok, suka melempar tanggung jawab atau bahkan lari dari tanggung jawab.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” dan staf ahli Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: