PUASA RAMADHAN DAN SPIRIT KEMERDEKAAN

Oleh : Muhammad Muhibbuddin*

 

Ramadahan, yang terkenal sebagai bulan suci dan disucikan pada hakekatnya adalah momentum pembebasan. Kehadirannya selalu disambut dengan gegap gempita oleh umat Islam seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Berbagai acara dipersiapkan untuk menyambut datangnya tamu agung ini. Mulai dari masjid-masjid, pesantren-pesantren, kuburan-kuburan sampai acara di TV-TV penuh dengan nuansa religius. Meskipun begitu, sudah menjadi rahasia umum bahwa mayoritas acara tersebut, pada hakekatnya, hanya sebatas permainan citra (image) dan tanda (sign) belaka. Sehingga makna puasa sebagai kekuatan pembebas (liberating power) dari berbagai penjajahan kurang begitu bergaung.

Konteks Kemerdekaan Indonesia

 

Dalam konteks Indonesia, puasa Ramadhan ini mempunyai hubungan historis- semiotis dengan momentum kemerdekaan RI. Karena hari kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan. Belum lama ini kita telah memperingati hari kemerdekaan itu. Paska momentum kemerdekaan RI yang tak berselang lama tersebut, secara berurutan kini kita disusul dengan puasa Ramadhan. Seolah kita diingatkan oleh sejarah bahwa, dalam konteks Indonesia, antara proklamasi 17 Agustus dengan puasa Ramadhan mempunyai hubungan makna yang signifikan. Apa makna yang menghubungkan kedua momen itu? Jelas:kemerdekaan.

Baik 17 Agustus maupun puasa Ramadhan, dalam konteks Indonesia, adalah dua momentum yang bertemu pada satu titik yakni kemerdekaan. Hanya saja kontek kemerdekaan yang terkandung di dalamnya berbeda. Untuk tujuh belas Agustus, yang merupakan momen terlepasnya bangsa Indonesia dari cengkraman kaum kolonial, adalah cermin dari kemerdekaan fisik. Kemerdekaan dalam konteks ini lebih diorientasikan bagaimana kita tidak lagi ditindas dan dijajah oleh bangsa asing, bagaimana kekayaan alam kita tidak lagi dikuras oleh bangsa penjajah, bagaimana rakyat Indonesia bisa sejahtera, mempunyai papan, sandang dan pangan yang layak dan seterusnya. Semua itu adalah cermin dari kemerdekaan fisik. Meskipun sampai sekarang kemerdekaan itu masih bersifat prosedural dan belum menyentuh pada dimensi substansial.

Sejalan dengan momentum di atas, puasa Ramadhan pada hakekatnya juga mencerminkan spirit kemerdekaan. Namun kemerdekaan yang diusung oleh puasa adalah kemerdekaan jiwa, ruh dan mental-spiritual. Puasa pada hakekatnya adalah kekuatan pembebas (liberating power) dari belenggu penjajahan. Bentuk penjajahan dalam konteks puasa ini adalah hal-hal yang masuk dalam kategori penyakit ruhani, misalnya suka berbohong, berkhianat, suka korupsi, suka maling, arogan, sombong, mau menang sendiri, anarkis, suka bertindak sewenang-wenang dan sebagainya.

Tujuan puasa tidak lain adalah membebaskan jiwa atau hati (qolb) kita dari penyakit-penyakit ruhani itu. Karena dengan terjajahnya hati dari penyakit-penyakit tersebut bisa menjadikan diri seseorang berjalan tidak tabil dan kacau. Kekacauan diri ini berimplikasi pada kekacauan sistem dalam masyarakat, bangsa dan negara. Karena sebuah masyarakat, bangsa dan negara dibangun oleh indifidu-indifidu di dalamnya. Atas dasar ini kita tahu bahwa karut-marutnya kondisi negara kita dan semrawutnya tatanan politik kita sekarang ini adalah karena sistem yang ada dikendalikan oleh indifidu-indifidu yang kacau. Aturan main dan etika yang ada di dalamnya dipegang oleh para politikus yang berotak kotor, berhati busuk dan bermental comberan.

Selama ini para pejabat negara baik yang ada di level legislatif, eksekutif dan yudikatif, cenderung suka bermewah-mewah, hidup hedonis dan glamor. Meskipun rakyatnya banyak yang kelaparan, tidak kuat sekolah dan hidup di bawah kolong jembatan, mereka justru melakukan korupsi berjamaah, berbagi-bagi uang dan berfoya-foya. Eksisnya penyakit-penyakit hati tersebut merupakan indikasi bahwa hati dan jiwa kita masih terjajah.Puasa disyariatkan tidak lain adalah untuk membabat habis mental dan hati yang rusak tersebut.

Menuju Kemerdekaan Yang Kaffah

 

Dengan demikian, bisa diambil makna bahwa hadirnya Ramadhan yang bersanding erat dengan momentum 17 Agustus tersebut, merupakan seruan kepada bangsa Indonesia untuk menuju kemerdekaan yang kaffah, kemerdekaan yang sempurna dan holistik. Kemerdekaan fisik yang telah diraih itu harus disempurnakan dengan kemerdekaan ruhani. Kemerdekaan yang kaffah itu kita aktualisasikan dalam bentuk pengendalian diri. Karena pengendalian diri ini merupakan bukti bahwa seseorang mampu menguasai nafsunya dan bukan sebaliknya.

Selama ini kita gagal dalam memaknai kemerdekaan. Kemerdekaan kita artikan sebagai budaya yang serba boleh. Kemerdekaan kita pahami sebagai usaha untuk bebas menerabas tanpa kenal aturan dan norma-norma yang ada. Makna kemerdekaan kita distorsikan sebagai kebebasan yang tanpa batas: bebas korupsi, bebas menilap uang negara, bebas menggarong, bebas beringkar janji, bebas menindas, bebas menyeleweng dan seterusnya. Pada hal semua ini adalah wujud kebobrokan hati dan mental-spiritual.

Puasa sebagai pengendalian diri merupakan kekuatan pembebas (liberating power) dari kebobrokan hati dan mental tersebut. Ia pada hakekatnya adalah upaya untuk menuju kemerdekaan kaffah tersebut, kemerdekaan yang tidak hanya lepas dari penjajahan kaum kolonial, tetapi lebih dari itu juga terbebas dari berbagai jeratan penyakit hati. Kemerdekaan ini merupakan wujud kebebasan yang sejati. Kebebasan sejati, seperti kata K. Bartens (2002) mengandaikan keterikatan norma-norma. Bila tingkah laku manusia tidak secara otomatis ditentukan oleh insting (seperti halnya dengan binatang) tapi ia sendiri harus mengatur kecenderungan-kecenderungan alamiahnya, maka ia berarti membutuhkan norma-norma

Jadi kebebasan sejati itu sebenarnya adalah berupa pengendalian bukan pelampiasan. Dan norma-norma inilah yang nantinya berfungsi sebagai alat pengendali.Maka ketika seseorang bisa memenej dirinya dengan norma-norma itu sejatinya bukan berada dalam pengekangan tetapi justru berada dalam ruang kemerdekaan yang sebenarnya, karena dengan norma dan batasan-batasan itu dia bisa menguasai dirinya dan bukan sebaliknya. Karena bisa menguasai diri, maka menjadikan dia leluasa dalam membawa diri.

Maka dalam konteks Indonesia, puasa Ramadhan kali ini harus kita fungsikan untuk menuju kemerdekaan atau kebebasan sejati yakni kemerdekaan atau kebebasan yang di dasari dengan pengendalian diri.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Pegiat forum diskusi filsafat “Linkaran ‘06” dan staf ahli pada Hasyim Asy’ari Institute Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: