RAMADHAN: MOMENTUM KEMBALI KE HATI NURANI

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Saat ini Ramdhan kembali menyapa kita. Bulan yang di dalamnya terselip malam, yang tingkat kebaikannya melebihi dari seribu bulan (lailatul qadar) ini, datang di saat yang tepat. Sebab, saat ini kita entah merasa atau tidak, tengah dilanda krisis yang serius. Krisis yang selama ini mempunyai dampak negatif yang serius namun tak kunjung kita sadari adalah rapuhnya hati nurani. Hati nurani yang merupakan hakim tertinggi dalam diri manusia untuk menentukan baik dan buruk sekarang telah kita mampatkan, kita campakkan dan kita pasung fungsinya. Kita lebih percaya pada hawa nafsu sebagai pembimbing hidup kita.

Hati nurani seperti kata K. Bertens (2002) adalah penghayatan tentang baik dan buruk berhubungan dengan tingkah laku konkret kita. Hati nurani inilah unsur yang memerintahkan atau melarang kita untuk melakukan sesuatu kini di sini. Ia tidak berbicara tentang yang umum, melainkan tentang situasi yang kongkret. Oleh karena itu, mengingkari hati nurani sama halnya menghancurkan diri ke dalam jurang kehinaan. Sebab, ketika orang sudah tidak mendengar hati nuraninya, maka ia akan buta terhadap yang baik dan buruk. Ketika sudah mencapai tahap demikian ini, maka kehidupan seseorang menjadi tidak stabil, suka nabrak dan mudah menerabas apa saja.

Saat ini budaya suka menerabas dan menghalalkan segala macam cara tengah menjadi trend kehidupan sehari hari kita, terutama di panggung politik kita. Munculnya korupsi berjamaah adalah bukti empirisnya. Ketika rakyat banyak yang kesusahan oleh kemiskinan dan kelaparan para pejabat justru berpesta menggarong uang rakyat. Ketika sebanyak 5.660.03 orang menjadi pengangguran, karena sempitnya lapangan pekerjaan yang tersedia, para anggota DPR justru dibanjiri dana BI yang jumlahnya mencapai milyaran rupiah.

Jadi, kalau kita mau merenung sejenak, akar utama penyebab terjadinya kekacauan dan tidak menentunya kondisi bangsa dan negara kita pada hakekatnya disebabkan oleh kamtian hati nurani kita tersebut. Memang para pejabat kita sekarang ini perlu diupgrade kesadarannya. Rata-rata para pejabat kita yang berada di legislatif, eksekutif dan yudikatif adalah orang-orang yang mengalami defisit hati nurani. Mereka menjadi pejabat negara bukan atas dasar komitmen untuk memperjuangkan rakyat, tetapi justru untuk sekedar mencari kekayaan (gold) dan kekuasaan (glori). Mental seperti ini adalah sama persis mental para penjajah bangsa asing ketika pertama kali menginjakkan kakinya ke Indonesia. Karena orientasinya semacam itu, maka tidak heran banyak wakil rakyat yang tak kenal rakyat, banyak pejabat yang berubah menjadi aristokrat. Sehingga dengan mudahnya mereka menterlantarkan aspirasi dan kepentingan rakyat.

Saatnya hati nurani bicara

 

Oleh karena itu, kalau kita masih mengharapkan lahirnya sistem kehidupan yang adil, sehat dan demokratis, maka sekarang kita harus bersedia kembali ke hati nurani. Artinya, hati nurani yang lama kita kubur itu sekarang harus kita hidupakn kembali sebagai pegangan dalam mengarungi kehidupan, terutama kehidupan yang menyangkut kepentingan orang banyak.

Hadirnya bulan Ramadhan ini merupakan momentum yang tepat untuk menghidupakn kembali hati nurani kita tesebut. Faktor utama matinya hati nurani adalah kalau kita sebagai indifidu lebih suka berpihak terhadap hawa nafsu. Kemenangan hawa nafsu ini merupakan lonceng kematian hati nurani seseorang. Sementara dalam Ramadhan kita dituntut untuk sebisa mungkin mengendalikan diri melalui pengekangan terhadap hawa nafsu.

Inti puasa dalam bulan Ramadhan adalah bukan sekedar berhenti makan, minum dan melaklukan sek sehari penuh. Itu adalah metoda dan bukan tujuan, wasilah bukan ghoyah. Tujuan pokok dari pencegahan makan dan minum di siang hari itu adalah untuk mengekang hawa nafsu. Artinya seseorang yang berpuasa dituntut untuk benar-benar siap berperang melawan hawa nafsunya sendiri. Jadi, meskipun berpuasa, tapi kalau dia tidak siap untuk mengalahkan hawa nafsunya, maka puasa itu sia-sia belaka.

Karena orientasinya demikian, maka secara otomatis puasa adalah sarana efektif untuk menghidupak hati nurani. Karena dengan kalahnya nafsu, maka berarti kemenangan hati nurani dan begitu sebaliknya. Dengan demikian orang yang berpuasa secara implisit, diserukan untuk menghidupkan hati nuraninya. Seruan ini dipandang oleh agama sangat penting, karena selama 11 bulan hati nurani kita tenggelam oleh kuatnya nafsu materialisme, nafsu hedonisme, borjuisme dan sebagainya.

Kalau begitu apa tanda-tandanya hati nurani kita hidup? Karena hati nurani merupakan sesuatu yang rahasia, maka untuk mengetahuinya adalah tergantung dari masing-masing indifidu yang bersangkutan. Dalam hal ini pola atau kriteria Max Scheler (1874-1928) bisa dijadikan acuan. Kata Scheler apabila seseorang melakukan kesalahan dan kesalahan itu cukup besar, maka dalam kesadaran orang bersangkutan muncul sekurangnya tiga reaksi kejiwaan. Pada tingkat pertama, orang itu akan merasa kocar-kacir batinnya, kehilangan keseimbangan dan merasa hidupnya sia-sia. Tahap berikutnya terjadinya disharmoni ini akan membawa orang pada sesal, yaitu semacam harapan bahwa apa yang sudah yterjadi hendaknya tidak terjadi dan jangan sampai terjadi lagi.

Dengan demikian, indikasi hidupnya hati nurani kita melalui puasa Ramadhan ini adalah apabila kita yang suka korupsi, suka ingkar janji, suka menindas rakyat, suka memangkas hak-hak rakyat dan sebagainya ini merasa tidak tenang dan menyesal sehingga tidak mau mengulangi atas segala prilaku kita yang tak manusiawi tersebut. Tapi kalau kita memang tidak menyesal dan merasa tenang-tenang saja atas segala kesalahan kita tersebut, maka pertanda hati nurani kita memang mati. Dengan demikian, tidak ada gunanya kita berpuasa dan berramadhan ria. Karena semuanya ternyata tidak berpengaruh apa-apa terhadap hati nurani kita.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: