NASIB RAMADHAN DI TENGAH MASYARAKAT KONSUMER

Oleh :Muhammad Muhibbuddin*

 

Lebih satu minggu puasa telah berjalan. Nuansa Ramadhan begitu terasa, minimal pada level seremoninya. Hal ini tercermin dalam beragam acara religius yang menghiasi perjalanan Ramadhan. Seperti acara buka bersama (ta’jilan). Di mana-mana, terutama di masjid-masjid, musholla-musholla, kantor dan sebagainya banyak digelar acara buka bersama. Kemudian ceramah dan kuliah agama. Hampir di setiap sudut ruang publik entah itu di masjid, kampus, TV, surat kabar selalu ada fenomena siraman ruhani yang berupa ceramah, kuliah atau tulisan yang mengusung tema-tema religius (islami). Acara-acara religi lainnya yang mewarnai Ramadhan tentu masih banyak. Seperti tadarus al-Qur’an, sholat tarawih dan sebagainya. Semua itu mewarnai dan membentuk nuansa Ramadhan. Luarbiasa indah dan membanggakan melihat semaraknya Ramadhan.

Namun kita juga harus kecewa karena Ramadhan ternyata bukan hanya dihiasi oleh acara-acara yang bernafaskan agama, tetapi juga disemarakkan oleh liberalisasi libido (nafsu) dalam bentuknya yang beragam: industrialisme, konsumerisme dan hedonisme. Dan yang lebih naif adalah liberalisasi libido di Ramadhan ini sering menunggangi ritual-ritual agama tersebut dan menjadikannya sebagai media untuk memancing syahwat konsumerisme masyarakat. Kita bisa menyaksikan liberalissasi libido tersebut, secara langsung, di acara-acara TV, mal-mal dan pusat-pusat perbelanjaan sepanjang puasa ini. Gairah liberalisme libido di situ, kalau kita cermati, di ramadhan cenderung mengalami eskalasi dari bulan sebelumnya dan sering dibungkus melalui simbol-simbol agama.

Masyarakat konsumer

 

Era postindustri sekarang ini adalah era masyarakat konsumer. Sebuah masyarakat yang asyik melakukan pemujaan (fethish) terhadap hasil-hasil produksi secara hyper, asyik dengan belanja (shopping), gaya, fashion, dan citra (image) tanpa mengenal batas. Masyarakat konsumer adalah masyarakat yang sibuk dengan permainan tanda hingga melupakan makna, masyarakat yang terperangah dan terhipnotis oleh keterpesonaan, ketergiuran dan hawa nafsu. Orang berbelanja bukan lagi karena pertimbangan kebutuhan (need) tetapi lebih dsebabkan oleh pertimbangan nafsu (desire). Pertimbangan utama dalam berbelanja bukan secara normal karena memang membutuhkan barang yang dibeli, tetapi yang terpenting adalah keasyikan dan ekstase berbelanja itu sendiri.

Di tengah budaya hiper konsumsi itu, masyarakat konsumer kini benar-benar berada pada titik ekstrim dalam menghambakan dirinya terhadap hawa nafsu. Karena lebih tergiur dan tenggelam dalam hawa nafsu, hanyut dalam gemerlapnya citra, gaya, fashion, tanda-tanda, benda-benda, makna-makna absurd dan sejenisnya maka masyarakat konsumer sekarang tengah terjangkiti amnesia terhadap nilai. Akibatnya masyarakat konsumer kini berada dalam kekosongan spiritualitas dan moralitas, hampa dari nilai-nilai kemanusiaan dan sosial yang menjadi inti kehidupan. Karena yang diraih hanya citra, tanda dan kedangkalan makna, maka apa yang didapatkan oleh masyrakat konsumer hanyalah beragam kepalsuan:kebahagaian palsu, ketenangan palsu, keluhuran palsu, keagungan palsu.

Tidak seperti para leluhur yang lebih terasah nuraninya, terlatih spiritualitasnya, manusia kontemporer di dalam masyarakat konsumer tak pernah menemukan kedalaman spiritual, kebijaksanaan, dan kebahagiaan yang sesungguhnya, di dalam dunia yang dikuasai penampakan visual;tak menemukan ilusi-ilusi dan kebijaksanaan di dalam diri dan mitos, nyanyian, tarian, di dalam dunia yang dirasuki oleh industri media massa dan tontonan;tak pernah lagi diceritakan, hikayat,pantun, kabar atau dongeng lama tentang orang suci, para nabi atau para pahlawan di dalam zaman yang diselimuti oleh kekerasan, kebrutalan dan teror; tidak lagi menmgacuhkan nasihat, pepatah dan pepitih tentang kebaikan , kebenaran dan moral di dalam era yang disarati oleh hutan rimba citraan, gambar, representasi dan tubuh-tubuh transparan yang tanpa bungkus (Yasraf :2004).

Sirnanya Makna dan nilai Ramadhan

 

Di tengah spirit zaman (zeitgeist) yang konsumeristik itulah Ramadhan kali ini hadir. Melihat geliat ruh masyarakat konsumer yang lebih dikendalikan oleh kekuatan hawa nafsu tersebut, maka hampir seluruh energi masyarakat konsumer diorientasikan dan diproyeksikan untuk memenuhi tuntutan hawa nafsu. Karena yang diidealkan oleh hasrat, nafsu dan libido masyarakat konsumer adalah materialisme dan komoditi, maka energi masyarakat konsumer habis dikuras untuk memburu nafsu dan libido-libido tersebut:kekuasaan, kekayaan, keindahan, kepuasan, ketenaran, popularitas, kecantikan, kebugaran, kesenangan dan tak pernah meluangkan sedikit energi untuk perenungan, kontemplasi, muhasabah dan pencerahan spiritual.

Gairah libidinal masyarakat konsumer tersebut jelas bertentangan dengan spirit Ramadhan. Karena spirit Ramadhan sangat menekankan perlunya mengekang hawa nafsu dan pembebasan jiwa dari beragam belenggu libido.Liarnya nafsu konsumerisme yang tak terkendali itu telah menggerus dan memusnahkan nilai dan makna Ramadhan sendiri.

Dalam spirit hawa nafsu konsumerisme itu, Ramadhan kini justru dijadikan sebagai alat bujuk rayu. Rayuan, menurut Baudrilard (1990), beroperasi melalui pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya, sehingga yang tersisa adalah penampakan semata. Sebentuk wajah merayu yang penuh make –up adalah wajah yang kosong makna, sebab penampakan artifisial dan palsunya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan rayuan adalah kepalsuan dan kesemuan. Apa yang tawarkan oleh rayuan bukanlah makna melainkan keterpesonaan, ketergiuran dan ketertarikan yang membangkitkan syahwat seseorang.

Dalam konteks tersebut, apa yang ditampilkan oleh nuansa Ramadhan sekarang ini tidak lain adalah keterpesoanaan dan ketergiuran dalam bingkai bujuk rayu. Nilai yang ada di balik bujuk rayu ritual Ramadhan itu bukan makna dan nilai Ramadhan itu sendiri, melainkan beragam komoditas dan syahwat konsumerisme. Tawaran yang ada di balik buka bersama, ceramah Ramadhan, kuliah agama, sholat terawih dan sebagainya bukan nilai-nilai spiritual dan sosial yang menjadi esensi Ramadhan tetapi kepentingan ekonomi, politik, industri, kekuasaan dan sebagainya.

Pesan dan makna asli dari ritual Ramadhan bukan lagi beribadah, instropeksi diri dan pencerahan spiritual, melainkan pesan membeli produk, memilih partai, memilih caleg, mengonsumsi ini, mencoblos itu dan seterusnya. Itulah nasib Ramadhan di tengah peradaban konsumerisme. Di tengah maraknya pencitraan, pertandaan, kedustaan dan kepalsuan masyarakat konsumer itu Ramadhan masih sering diklaim sebagai ekspresi nilai-nilai keagamaan, benarkah?

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: