RAMADHAN SEBAGAI PROYEK ENTERTAINMENT

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Ramadhan ternyata bukan hanya membawa berkah bagi orang-orang beriman yang taat berpuasa, tetapi juga orang-orang yang bergelut di dunia hiburan (entertainment). Bahkan para penghuni jagad entertainmen ini mulai dari produsernya hingga artis-artisnya, secara material mendapatkan “berkah” yang jauh lebih besar daripada orang-orang yang khusu’ berpuasa dan jam-jamnya dihabiskan untuk beribadah dan menimba ilmu semisal para santri di pesantren-pesantren salaf. Selebriti Eko Patrio misalnya, yang Ramdhan kali ini tampil di empat stasiun TV untuk memandu acara Kolak Ramadhan (Trans7), Sahur Prise (RCTI), Sambil Buka Yuk (antv) dan Dewa-Dewi Spesial Ramadhan (TPI) bisa meraup pendapatan 50-100 juta per episode atau sekali tayang. Artis –artis yang lain juga menangguk keuntungan yang hampir sama.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa Ramadhan merupakan momen “basah” bagi industri-industri TV sebagai pemasok utama acara-acara hiburan. Maka dari itu, setiap kali Ramadhan datang, masing-masing stasiun TV “berfastabiqil khoirot” untuk menciptakan acara-acara hiburan khusus Ramadhan. Jenis acaranya pun macam-macam sesuai dengan waktu tayang. Mulai dari sinetron, kuis, talk show dan seterusnya. Untuk Ramadhan kali ini misalnya muncul sinetron Aqsa dan Madina (RCTI) dan Tasbih Cinta (Indosiar). Sungguh sebuah paradoks. Ramadhan, yang oleh kebanyakan masyarakat awam dipandang sebagai bulan suci untuk meningkatkan prestasi keimanan dan pencerahan jiwa, oleh masyarakat lain yang lebih eksklusiv justru dijadikan sebagai proyek hiburan untuk meningkatkan pendapatan.

 

Media Bujuk Rayu

 

Karena sebagai proyek hiburan, maka persoalannya adalah terletak pada disfungsionalisasi Ramadhan itu sendiri. Ramadhan dalam konteks ini lebih difungsikan sebagai media bujuk rayu. Rayuan, menurut Baudrillard (Yasraf. A. Pilliang:2004) beroperasi melalui pengosongan tanda-tanda dari pesan dan maknanya, sehingga yang nampak adalah penampakan semata. Sebentuk wajah merayu yang penuh make -up adalah wajah yang kosong makna, sebab penampakan artifisial dan palsunya menyembunyikan kebenaran diri. Apa yang ditampilkan rayuan adalah kepalsuan dan kesemuan. Apa yang diinginkan melalui rasyuan bukanlah sampainya pesan dan makna-makna, melainkan munculnya keterpesonaan, ketergeiuran dan gelora nafsu; gelora seksual, gelora belanja, gelora berkuasa.

Dalam fungsinya sebagai media bujuk rayu, tujuan utama dari berbagai acara Ramadhan tersebut jelas bukan nilai-nilai esensial Ramadhan sendiri, melainkan nilai-nilai industrialisme, materialisme, konsumerisme dan hedonisme. Yang hendak disampaikan ke publik lewat acara-acara Ramadhan itu bukanlah pesan-pesan Ramadhan melainkan pesan-pesan yang sponsor yang berani membeli tayangan acara-acara tersebut. Apakah nilai-nilai, makna dan arti substansial Ramadhan sampai di masyarakat atau tidak itu bukan tujuan utama, tetapi yang terpenting adalah acara tersebut mampu mengajak masyarakat untuk terpikat dan akhirnya bersedia membeli produk-produk yang diiklankan di sela-sela jam tayang acara tersebut.

 

Imbas Masyarakat Postindustri

 

Di tengah masyarakat postindustri ini, memang segalanya bisa dijadikan komoditi. Masyarakat postindustri adalah cermin dari masyarakat konsumer. Di tengah masyarakat postindustri atau masyarakat konsumer ini bukan hanya mobil, alat-alat rumah tangga, alat kantor dan benda-benda material lainnya, tetapi hal-hal yang dulunya dianggap sakral dan suci seperti iman, spiritualitas, ritual ibadah, sek dan sejenisnya sekarang pun “halal” menjadi komoditi. Fenomena ini berangkat dari perubahan psikologis dan libido masyarakat yang cenderung menuju budaya overkonsumsi.

Dalam budaya overkonsumsi sekarang ini, masyarakat secara ekstrim meliberalisasikan libidonya untuk berkonsumsi. Artinya naluri konsumerisme masyarakat ini sudah kelewat batas hingga mencapai titik hyper. Mereka berkonsumsi sudah bukan karena faktor kebutuhan (need) melainkan lebih didasarkan pada nafsu (desire). Karena libido atau nafsu sudah sedemikian liarnya hingga mengalahkan akal sehat dalam proses konsumsi, maka masyarakat di era postindustri sekarang ini lebih gamapng tergiur, terpesona dan terpengaruh dengan segala sesuatu yang sifatnya permukaan (surface). Mereka lebih suka merayakan permainan tanda daripada makna.

Selain itu, di samping kecenderungan memuja penampakan, pencitraan, fashion dan gaya luar, kecenderungan lain masyarakat postindustri atau masyarakat konsumer adalah budaya terapis. Menurut Christoper Lisch (1979) manusia konsumer tidak tertarik akan keselamatan diri lewat perenungan atau ibadah, melainkan dahaga dan ilusi-ilusi yang bersifat sementara, hasu akan keseejahteraan, kesehatan, kebahagiaan dan keamanan psikis lewat terapi. Sinetron, komedi, lawak dan tontonan (spectacle) dalam acara-acara TV, merupakan pelarian masyarakat postindustri atau masyaraklat konsumer untuk memperoleh ketenangan batin sesaat.

Dalam Ramadhan kali ini, hal yang dipentingkan oleh masyarakat konsumer bukanlah meningkatkan makna ibadah, sholat, puasa dan riyadloh spiritual lainnya, melainkan aktifitas-aktifitas yang menghibur yang bisa memberi kebugaran ruhani yang sifatnya sementara dengan salah satunya adalah acara TV. Jadi bagi masyarakat konsumer, bukan intensitas menjalankan ritual ibadah dan perenungan yang mendalam untuk menemukan oase ditengah kehampaan nilai dan kegerssangan spiritualnya, melainkan hiburan ( entertainment) yang di antaranya adalah acara-acara TV seperti sinetron-sinetron Ramadhan.

Kecenderunga dan budaya masyarakat yang demikian itulah, nampaknya yang ditangkap oleh para pengelola stasiun TV untuk meraup keuntungan lewat tayangan Ramadhan. Acara-acara TV yang masuk kategori proyek Ramadhan itu jelas disukai oleh masyarakat sekarang yang cenderung konsumer, lebih memuja penampakaan, image dan gaya, cenderung mencari media hiburan atau kesenangan sebagai terapi, daripada sholat tarawih di masjid-masjid, tadarus al-Qur’an, berkholwat, banyak merenung dan sebagainya. Karena acara-acara TV itu jelas lebih bisa menghibur daripada sejumlah ritual-ritual ibadah tersebut.

Fenomena semacam ini jelas sangat destruktif dan merugikan bagi kehidupan masyarakat sendiri. Karena kehidupan kita akhirnya dikuasasi oleh diskurusus dan naluri sosial masyarakat yang dangkal dan lebih memuja citra yang berkolaborasi dengan nalar kapitalisme indusri TV. Spirit hidup semacam ini akhirnya menjadikan kehidupan kita kian bertambah hampa dan gersang dari nilai-nilai dan makna –makna moral, religius dan sosial-kemanusiaan dan lebih disemarakkan oleh permianan, citra, imagologi, konsumerisasi, selebritisasi dan nafsu –nafsu kebinatangan. Dalam Ramadhan sebagai proyek entertainment pihak yang beruntung jelas para industri TV dan masyarakat penghuni gua entertainment sendiri, sementara masyarakat tetap menjadi obyek penjajahan.

*Muhammad Muhibbuddin adalah koordinator studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: