MENEGUHKAN KEBERSAMAAN DALAM KEBERAGAMAN

Oleh:Muhammad Muhibbuddin*

 

Seperti yang digelisahkan oleh Sumanto Al Qurtubi (Kompas,8/9/2008) bahwa mengapa meskipun lembaga-lembaga interfaith dialog menjamur di mana-mana bahkan pemerintah Indonesia juga sudah memprakarsai pembentukan Forum Kerukunan Umat Beragama atau FKUB, hubungan antar agama dan kepercayaan di negeri ini masih diselimuti ketegangan, kecurigaan dan kekerasan?. Hal ini berdasarkan hasil riset The Wahid Institute yang dilakukan dari Juli 2007 sampai Juni 2008, yang kemudian diterbitkan dalam buletin Monthly Report on Religiouse Issues, bahwa sedikitnya telah terjadi 109 kasus keagamaan di Indonesia.

Masalah konflik keagamaan Indonesia yang digelisahkan oleh Sumanto di atas pada hakekatnya adalah bagian dari masalah keberagaman (pluralisme dan multikulturalisme) bangsa Indonesia. Dalam kontek ini, kekerasan yang terjadi di Indonesia sebenarnya bukan hanya kekerasan yang berbasis agama (religious-based violence) tetapi konflik dan kekerasan yang berdasar perbedaan suku, golongan, ras, partai politik dan idiologi juga sering mengancam.

Artinya keberagaman, pluralisme dan multikulturalisme, yang secara fitrah menjadi entitas bangsa Indonesia belum bisa difungsikan sebagai “energi” positif untuk memperkokoh bangunan kebangsaan, mempererat persatuan dan kesatuan anak bangsa, tetapi masih cenderung menjadi pemicu lahirnya konflik dan perpecahan. Jelas konflik yang dipicu oleh keberagaman ini merupakan masalah krusial kebangsaan yang apabila tidak segera diatasi akan menjadi bom waktu (time bom).

 

Pluralisme dan Multikulturalisme

 

Pada hakekatnya masalah multikulturalisme dan pluralisme adalah sesuatu yang natural, grand design dan kodrat hukum alam (law nature), termasuk pluralisme dan multikulturalisme yang ada di Indonesia. Dengan demikian, siapapun di dunia tidak ada yang sanggup melawan hukum alam ini. Artinya pluralisme dan multikulturalisme selamanya tidak akan bisa dihilangkan. Hal ini sebenarnya sudah banyak disadarai oleh setiap agama manapun di dunia. Dalam Parekh (2005) juga ditegaskan bahwa multikulturalisme sudah ada sejak Montesque, Vico dan Herder, mereka menolak tentang kebenaran tunggal dalam paham monisme. Ketiganya mengakui bahwa setiap masyarakat adalah sebuah komunitas budaya yang berbeda.

Khusus di Indonesia, realitas pluralisme dan multikulturalisme ini sebenarnya bukan hanya fakta sosio-kultural-historis, tetapi lebih dari itu adalah sumber kekuatan utama bangsa Indonesia. Karena spirit kebangsaan Indonesia memang dibangun di atas keberagaman itu. Jadi yang disebut Indonesia itu ya Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu, kejawen, Jawa, Sunda, Dayak, Asmat, NU, Muhammadiyyah dan seterusnya. Artinya sebagai bangsa Indonesia, kita tidak mungkin bisa menolak kehadiran pluralitas agama, suku dan golongan itu.

Karena secara riil keberagaman, pluralisme dan multikulturalisme ini memang merupakan kodrat bangsa Indonesia, maka komitmen ini sebenarnya sudah tidak ada masalah. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia sudah terbiasa hidup dalam keberagaman ini. Mereka melakukan aktifitas –aktifitas sosial seperti ronda malam, kerja bakti, bangun jembatan, bersih-bersih lingkungan dan sebagainya dalam suasana kegotong royongan tanpa mempersoalakan perbedaan agama, suku dan golongan. Jadi secara natural, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah terbiasa dengan kehidupan pluralisme dan multikulturalisme yang tercermin dalam aktifitas sosial mereka sehari-hari.

 

Terkait Konflik di Indonesia

 

Kalau memang secara natural, keberagaman Indonesia merupakan fakta kehidupan yang tak bisa ditolak sehingga mau tidak mau masyarakat Indonesia harus hidup dalam keberagamaan, sekarang pertanyaannya adalah apa sebenarnya pemicu lahirnya kekerasan dan konflik yang berkepanjangan di Indonesia—termasuk kekerasan antar agama yang disinggung oleh Sumanto Al Qurtubi di atas?

Untuk menjawab persoalan tersebut sebenarnya ada masalah yang cukup komplek untuk kita kuak. Persoalan pertama adalah turunnya atau rendahnya kualitas pluralisme dan multikulturalisme masyarakat Indonesia. Secara kualitatif, keberagaman Indonesia cenderung bersifat normatif-apatis. Dalam bahasanya Gutomo Priyatmono, pluralisme yang hadir saat ini di Indonesia adalah multikulturalisme hidup berdampingan (nebeneinender leben) dalam legitimasi statistik; bahwa di Indonesia terdapat budaya lampung, budaya papua, budaya Sulawesi Tenggara dan lain sebagainya dengan manusia-manusia pendukungnya. Namun keberagaman asal dan latar belakang manusia-manusia yang ada di Indonesia adalah pasif, tidak saling tegur, tidak saling menyapa, tidak saling mengerti dan tidak saling memahami.

Dengan kualitas keberagaman yang demikian itu, masyarakat Indonesia cenderung menjadi masyarakat terminal, yang bergerombol dari berbagai macam latar belakang namun antara satu dengan lainnya saling cuek. Masyarakat yang berbeda-beda ini hanya sekedar bersanding dan berdampingan dan tidak ada niat atau keinginan untuk menjalin komunikasi, korespondensi atau dialog. Antara satu dengan lainnya berada dalam suasana yang dingin sehingga tidak saling kenal apalagi akrab.

Dalam kondisi yang dingin itu, tidak adanya komunikasi dan tegur sapa antar masyarakat, suku, pemeluk agama dan sejenisnya, maka spirit-spirit persaudaraan, solidaritas, sosial-kemanusiaan tidak terbangun kuat. Ketika keberagaman ini tanpa didukung oleh spirit persaudaraan dan hubungan sosial-emosional kuat maka yang terjadi adalah keberagaman tersebut justru mudah berubah menjadi api perpecahan dan konflik.

Selain dari itu, faktor lain yang memicu terjadinya konflik antar agama, suku dan golongan di Indonesia adalah karena adanya kepentingan pragmatis pihak tertentu. Hal ini seperti yang tercermin pada konflik mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Injili Arastama (SETIA) Jakarta Timur dengan penduduk setempat. Anggota Komnas HAM, Ahmad Baso—pada seminar nasional tentang keberagaman di UIN Sunan Kalijaga Yogyakartya (2/9/2008)— menyatakan bahwa konflik antara mahasiswa STIA dengan penduduk Jakarta itu lebih dipicu oleh pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sesaat (vested interest). Minimal ada 4 pihak, menurut Baso yang turut menimbulkan kekisruhan mahasiswa versus penduduk Jakarta tersebut.

Empat kelompok itu adalah pemerintah daerah, pengusaha, media dan kelompok Islam kota. Melalui konflik tersebut bisa diketahui bahwa konflik-konflik yang ada di Indonesia sebenarnya bukan sepenuhnya disebabkan oleh keberagaman itu sendiri, melainkan lebih sering disebabkan oleh faktor ekonomi dan politik. Faktor-faktor agama, suku dan golongan itu sebenarnya kebetulan saja. Sementara faktor primernya adalah ulah para penguasa politik dan ekonomi

Oleh karena itu, untuk mewujudkan Indonesia yang harmonis, dalam kerukunan, spirit kebersamaan harus dibangun secara kuat. Keragaman yang ada ini harus dibingkai dalam semangat kebersamaan. Untuk menuju ke arah ini, maka budaya keberagaman Indonesia harus ditingkatkan sisi kualitasnya dengan mengntensifkan komunikasi atau dialog demi terciptanya budaya saling memahami. Setiap pihak yang berbeda harus senantiasa membuka diri terhadap yang lain (the others) . Dengan kesadaran semacam ini, maka semangat toleransi, tenggang rasa dan hormat-menghormati akan lebih mudah dibangun.

Selain itu, masyarakat Indonesia yang berbeda ini juga harus kritis terhadap usaha-usaha pihak lain yang mencoba mengusik atau memecah belah semangat kebersamaan dan keberagaman masyarakat. Masyarakat tidak boleh mudah terhasut atau terprovokasi oleh usaha-usaha pihak-pihak bermental pragmatis-kapitalistik yang mempunyai agenda tersembunyi (hidden agenda) untuk mewujudkan ambisi sesaatnya melalui penciptaan konflik dan kekerasan antar masyarakat.

*Muhammad Muhibbuddin adalah Koordinator komunitas studi filsafat “Sophos alaikum” Fak.Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: